ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Monthly Archives: Agustus 2014

Astronomi Open Source Lewat Stellarium

Waktu saya masih SD dulu, ada sebuah alat peraga IPA yang menarik, yang sering ada kalau kita main ke perpustakaan. Fungsinya menunjukkan pergerakan matahari dan planet — bentuknya seperti di bawah ini.

[img] Orrery

(image credit: Wikimedia Commons)

Mengapa menarik? Sebab, kalau kita menggerakkan satu planet, maka planet yang lain akan ikut bergerak juga. Itu karena di dalamnya terhubung dengan roda gigi. Sebagaimana tata surya aslinya bergerak teratur, begitu pula versi maketnya. Keteraturan itu diaproksimasi secara mekanik.

Tentunya bisa dibayangkan bagaimana rumitnya membuat alat seperti itu. Berapa pula harganya kalau dijual? 😐 Meskipun demikian kita cukup beruntung.

Seiring kemajuan teknologi, di masa kini simulasi astronomi tidak lagi harus mekanik, melainkan bisa secara digital. Tentu saja di baliknya ada perhitungan matematika. Asalkan mempunyai komputer — atau bahkan ponsel — kita bisa bermain dengan “miniatur alam semesta”. 😀

Nah, salah satu simulator astronomi yang cukup bagus adalah Stellarium. Aplikasi ini bersifat open source dan tersedia untuk Windows, Linux, dan Mac.

Stellarium screenshot

 

    Website: Stellarium.org
    Spesifikasi Minimum:

  • Windows XP / OS X 10.7.4 / Linux
  • 3D graphics card with OpenGL 2.1
  • 256 MB RAM
  • 150 MB disk space

Klik untuk melanjutkan »

Iklan

Fun with Math: Ubin dan Bidang Berulang

Dalam tulisan beberapa waktu lalu, kita sedikit mengulas teknik pengubinan geometri Islam, atau lebih tepatnya, yang berasal dari Iran/Persia. Dengan menggunakan satu set ubin pola yang rumit dapat dibuat. Pola itu lalu diteruskan sehingga dapat memenuhi ruang.

[img] Girih comparison

Madrasah Al-Mustansiriyya di Baghdad

(gambar oleh Lu & Steinhardt, 2007)

Biarpun sekilas rumit tetapi bisa dipecah jadi komponen-komponen sederhana. There’s something intriguing about that.

Soal pengubinan sendiri tak lepas dari matematika. Ahli matematika Keith Devlin pernah menulis bahwa “Mathematics is the science of patterns”. Maksudnya matematika bisa dipakai menjelaskan pola apapun di alam. Mulai dari pola geometri, pola statistik, hingga yang rada abstrak seperti pola pikir bisa dimodelkan dengannya. Kemudian tentu kita bertanya, karena pengubinan juga mempunyai pola, dapatkah dijelaskan dengan matematika?

Jawabannya… ya, bisa. 😆 Malah lebih hebat lagi. Percaya tidak percaya, ada satu area matematika yang khusus membahas pengubinan, yaitu teselasi.

Layaknya bidang ilmu, teselasi mempunyai istilah dan aturan main tersendiri. Sebagian akan kita singgung di tulisan ini. Meskipun begitu, harus diingat bahwa tulisan ini bersifat pengenalan, populer, dan tidak membahas dalam-dalam — atau dengan kata lain cuma sekilas info. 😛 Ya iyalah. Kalau mau komplit harus baca buku

Sekarang saya mau masuk ke pokok bahasan.

Biasanya, kalau menyebut ubin, yang terlintas adalah bentuk. Sering ada ubin segitiga atau segiempat; seorang tukang lalu mengombinasikan keduanya. Meskipun demikian ada juga cara pandang lain. Tidak hanya fokus pada bentuk, ahli matematika juga bisa menganalisis lewat titik temu antar-ubin. Atau dalam bahasa teknisnya disebut vertex.

Eh tapi tunggu dulu. Sebenarnya, apa itu vertex?

Klik untuk melanjutkan »

Hamlet, Dunia Kapal Pecah

Hampir semua orang, baik di Indonesia maupun luar negeri, pernah mendengar tentang William Shakespeare. Nama beliau sangat masyhur sebagai penyair-dramawan asal Inggris. Bahkan saking masyhurnya, orang Indonesia pun ikut akrab.

Sebagai contoh, kita biasa menyebut kisah cinta tak sampai “bagai Romeo dan Juliet” (bukan Siti Nurbaya! 😛 ). Ada juga monolog bimbang yang terkenal: “to be or not to be, that is the question”. Walaupun, kalau boleh jujur, agak miris bahwa jarang ada terjemahan Shakespeare versi Indonesia, tapi itu cerita lain.

Nah, berbicara tentang Shakespeare, maka harus menyebut salah satu karya besarnya: “Tragedi Hamlet, Pangeran Denmark”. Berhubung judulnya agak panjang maka sering disingkat sebagai “Hamlet“. Drama ini pertama kali dipentaskan sekitar tahun 1601.

Galibnya karya besar, drama “Hamlet” mempunyai alur cerita yang kompleks. Namun Shakespeare tidak berhenti sampai di situ. Alih-alih berpuas diri dengan sekadar cerita, Shakespeare membumbuinya dengan psikologi karakter yang kuat dan dialog bersajak.

Salah satunya, jelas, “to be or not to be” yang sudah disinggung. Meskipun begitu banyak juga contoh lain — sebagian akan dicuplik di tulisan kali ini.

[img] Hamlet Manuscript Cover

Manuskrip Hamlet, Edisi Quarto, 1604 (Q2)

(image credit: Wikimedia Commons)

Hamlet dianggap sebagai salah satu drama Shakespeare yang paling hebat dan termasyhur, oleh karena itu, cukup layak dibahas secara detail. Sinopsisnya sebagai berikut — sedikit komentar menyusul di bagian akhir.

Klik untuk melanjutkan »