ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Monthly Archives: Juli 2014

Intermezzo: Girih dan Geometri Islam

    Note: Posting ringkas bertema Lebaran. Selamat Hari Raya buat yang merayakan; mohon maaf lahir dan batin. 😀

 
Di dunia sehari-hari, kita sering melihat seni ornamen yang “bercorak Islam”. Disebut seperti itu karena munculnya saat hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Bukan berarti dekorasinya religius, sih. Sebenarnya permainan geometri biasa. Hanya saja, karena berkembang di kebudayaan kuno berbasis Islam, jadinya sering dihubungkan.

Nah, posting kali ini akan sedikit membahas corak ornamen Islam tersebut.

Sebagaimana pernah disinggung sedikit di satu posting lama, sebagian penganut Islam tidak suka menggambar makhluk hidup. Oleh karena itu mereka berkarya seni lewat geometri. Dengan menggunakan jangka dan penggaris, bentuk yang menarik bisa dibuat, lalu dari situ terbentuk pola yang kompleks.

[img] Mimbar Masjid Nasir, Kairo

Salah satu corak geometri Islam: Ornamen mimbar, Masjid Nasir Kairo

(photo credit: WADE Photo Archive: Pattern in Islamic Art)

Termasuk dalam kesenian-geometri bercorak Islam itu adalah Girih. Girih adalah teknik dekorasi yang berasal dari Persia. Meskipun begitu, berbeda dengan dekorasi biasa, dia dibuat dengan prinsip teselasi alias pengubinan.

Klik untuk melanjutkan »

Membundel, Memilah, dan Menguraikan Warna

Sewaktu masih sekolah dulu, kita belajar tentang proses terbentuknya pelangi. Seberkas sinar matahari melewati butiran air di udara; sinar itu lalu dibiaskan dan terurai jadi warna-warni yang menarik.

[img] rainbow at Falera

Contoh penampakan pelangi seusai hujan

(photo credit: Wikimedia Commons)

Peristiwa itu tak lepas dari sifat dasar sinar matahari, di mana di dalamnya terdapat seluruh frekuensi cahaya tampak. Mulai dari merah, jingga, kuning, hingga biru dan ungu. Berbagai frekuensi itu saling menjumlahkan — sedemikian hingga sinar matahari yang kita lihat berwarna putih. Well, sebenarnya putih kekuning-kuningan, tapi itu kita bahas nanti. 😛

Sekarang saya mau cerita dulu tentang asal-mula sinar matahari.

Kita tahu bahwa matahari itu termasuk keluarga bintang. Adapun namanya bintang, warnanya bermacam-macam. Ada bintang merah, bintang biru; ada juga bintang coklat dan kuning. Otomatis timbul pertanyaan: mengapa sinar matahari harus berwarna putih?

Sebenarnya hal itu berhubungan dengan temperatur. Penjelasannya sendiri yang agak panjang — namun pada intinya, proses terbentuknya pelangi tak lepas dari temperatur matahari tersebut.

Klik untuk melanjutkan »

Masyarakat Terbuka dan Dunia yang Tak Sempurna

Bapak Karl Popper, filsuf Inggris kelahiran Austria, boleh dibilang sosok yang skeptis tanpa kompromi. Sebagai pemikir beliau mempunyai cara pandang yang unik: bahwasanya semua idealisme itu semu dan menyesatkan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, demikian kata Popper. Namun bukan berarti orang tak bisa berusaha — biarpun mustahil mencapai kesempurnaan, orang selalu bisa melakukan pendekatan.

Popper sendiri bukanlah pemikir sembarangan. Salah satu hasil karyanya adalah metodologi ilmiah yang kita kenal. Oleh karena itu, wajar jika dia dianggap salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah.

Karl Popper (1902-1994)

Karl Popper (1902-1994)

(photo credit: Wikipedia)

Mengapa beliau disebut “skeptis tanpa kompromi”, ini ada ceritanya lagi, dan berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

Klik untuk melanjutkan »

Fun with Math: Lingkaran dalam Lingkaran

Waktu saya masih SD dulu, ada sebuah mainan yang cukup populer, melibatkan penggaris berlubang dan roda gigi. Namanya adalah spirograf, dan fotonya bisa dilihat di bawah ini.

[img] Spirograf

Penampakan sebuah spirograf. Ada yang ingat?

(image credit: Wikimedia Commons)

Adapun cara mainnya cukup sederhana. Ujung pensil dimasukkan ke roda gigi, lalu roda gigi diputar-putar mengikuti bentuk lingkaran. Torehan pensil menggambarkan pola pergerakan di atas kertas. Dari situ terbentuk pola ornamen yang rumit.

[img] Pola spirograf

Contoh pola yang dihasilkan spirograf

(image credit: Wikimedia Commons)

Nah, proses kerja spirograf itu mempunyai padanan di dunia matematika. Sebuah lingkaran berputar dalam lingkaran, maka dia menghasilkan pola baru yang menarik. Pola itu kemudian diwujudkan berbentuk grafik.

Menariknya, semua berawal dari peristiwa yang umum: sebuah lingkaran menggelinding di garis lurus.

Klik untuk melanjutkan »

Filsafat Stoik, Eudaimonia, dan Cara Menyikapi Hidup

Dalam dunia filsafat Yunani Kuno, terdapat sebuah mazhab pemikiran bernama Stoikisme. Mazhab ini termasuk yang paling berpengaruh dalam sejarah. Bersama dengan Platonisme dan mazhab Peripatetik, berbagai ajaran Stoik mewarnai dunia pemikiran Barat.

Filsafatnya sendiri mempunyai sejarah panjang. Mazhab Stoik pertama kali didirikan di abad ketiga SM, meskipun demikian, hingga abad kedua Masehi masih banyak filsuf yang menganutnya. Tidak kurang dari Marcus Aurelius — Kaisar legendaris Romawi — termasuk di dalamnya. Dapat dibilang bahwa selama 500 tahun pengajarannya tidak putus.

Filsuf Mazhab Stoik

Filsuf Stoik dari masa ke masa: Zeno dari Citium, Posidonius, Seneca, dan Marcus Aurelius

(image credits: Wikimedia Commons)

Namanya aliran filsafat tentu punya ajarannya sendiri. Demikian juga Kaum Stoik, pemikiran mereka tersebar di berbagai area. Akan tetapi yang paling terkenal dari mazhab Stoik bukanlah filsafat yang njelimet. Justru sebaliknya: warisan utama mereka adalah cara menjalani hidup.

Dalam bahasa Inggris modern, kita mengetahui kata sifat “stoic”. Artinya sikap keteguhan mental dalam situasi apapun. Seseorang yang stoic — menurut bahasa Inggris — dapat tabah dan berpikiran jernih dalam menghadapi persoalan.

Nah, begitu juga dengan para filsuf mazhab Stoik. Ajaran mereka menekankan pentingnya keteguhan mental. Baik itu di saat senang maupun sedih.

Seperti apa ceritanya, akan segera kita lihat. Akan tetapi saya harus cerita dulu tentang konsep kebaikan umum dalam Filsafat Yunani: Eudaimonia.

Klik untuk melanjutkan »