ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Filsafat Stoik, Eudaimonia, dan Cara Menyikapi Hidup

Dalam dunia filsafat Yunani Kuno, terdapat sebuah mazhab pemikiran bernama Stoikisme. Mazhab ini termasuk yang paling berpengaruh dalam sejarah. Bersama dengan Platonisme dan mazhab Peripatetik, berbagai ajaran Stoik mewarnai dunia pemikiran Barat.

Filsafatnya sendiri mempunyai sejarah panjang. Mazhab Stoik pertama kali didirikan di abad ketiga SM, meskipun demikian, hingga abad kedua Masehi masih banyak filsuf yang menganutnya. Tidak kurang dari Marcus Aurelius — Kaisar legendaris Romawi — termasuk di dalamnya. Dapat dibilang bahwa selama 500 tahun pengajarannya tidak putus.

Filsuf Mazhab Stoik

Filsuf Stoik dari masa ke masa: Zeno dari Citium, Posidonius, Seneca, dan Marcus Aurelius

(image credits: Wikimedia Commons)

Namanya aliran filsafat tentu punya ajarannya sendiri. Demikian juga Kaum Stoik, pemikiran mereka tersebar di berbagai area. Akan tetapi yang paling terkenal dari mazhab Stoik bukanlah filsafat yang njelimet. Justru sebaliknya: warisan utama mereka adalah cara menjalani hidup.

Dalam bahasa Inggris modern, kita mengetahui kata sifat “stoic”. Artinya sikap keteguhan mental dalam situasi apapun. Seseorang yang stoic — menurut bahasa Inggris — dapat tabah dan berpikiran jernih dalam menghadapi persoalan.

Nah, begitu juga dengan para filsuf mazhab Stoik. Ajaran mereka menekankan pentingnya keteguhan mental. Baik itu di saat senang maupun sedih.

Seperti apa ceritanya, akan segera kita lihat. Akan tetapi saya harus cerita dulu tentang konsep kebaikan umum dalam Filsafat Yunani: Eudaimonia.

 
Pengenalan Filsafat: Eudaimonia
 

Dalam dunia filsafat Yunani, kata ini sangat sering disebut. Secara harfiah eudaimonia berarti “kebaikan jiwa”. Secara definisi, apabila orang mempunyai eudaimonia, maka hidupnya selalu patut dan bermakna.

Adapun kebaikan jiwa versi eudaimonia bukan cuma filosofis, melainkan juga fisik dan emosional. Sewaktu sekolah dulu kita sering mendengar “mens sana in corpore sano”, dalam badan sehat terdapat jiwa yang kuat. Prinsip itu juga berlaku pada eudaimonia. Kebaikan yang dikandungnya melibatkan jasmani dan rohani.

Oleh karena itu, wajar jika berbagai mazhab filsafat berlomba-lomba mewujudkan eudaimonia. Secara garis besar dapat dibuat list sebagai berikut.

Tentunya di sini timbul pertanyaan, bagaimana dengan mazhab Stoik?

Nah, mazhab Stoik mempunyai argumennya sendiri. Mereka menilai bahwa kebahagiaan sejati — eudaimonia — diraih apabila orang hidup selaras dengan alam. Secara alami manusia adalah makhluk sosial, maka ia harus bersosial. Demikian juga manusia mempunyai sifat membutuhkan makan dan minum, maka kebutuhan itu harus dipenuhi. Apabila hasrat alami manusia tidak dipenuhi maka tidak akan bahagia hidupnya. (baca: tidak akan mencapai eudaimonia)

Adapun kaum Stoik memandang alam (kosmos) sebagai sistem yang rasional, dalam arti mempunyai ‘aturan main’ yang logis (hukum alam). Manusia dalam pandangan Stoik adalah bagian dari alam. Oleh karena itu, jika manusia ingin hidup nyaman, dia harus mampu beradaptasi di dalamnya. (Meyer, 2008, hlm. 139)

Mengenai hal ini dapat diilustrasikan lewat kutipan Marcus Aurelius:

Everything harmonizes with me, which is harmonious to thee, O Universe. Nothing for me is too early nor too late, which is in due time for thee. Everything is fruit to me which thy seasons bring . . . from thee are all things, in thee are all things, to thee all things return.

 
(Marcus Aurelius, “Meditations” IV.23, terj. George Long)

Dengan demikian kita sudah mendapat landasan eudaimonia kaum Stoik. Selanjutnya kita akan melihat perspektif kaum Stoik dalam menjalani hidup.

 
Pandangan Stoik: Saat Menerima, Saat Mengubah
 

Sebagaimana sudah diuraikan, Mazhab Stoik percaya bahwa kebahagiaan tercapai jika orang hidup selaras dengan alam. Prinsip itu kemudian diperluas memasuki ranah sosial.

Kaum Stoik memandang bahwa — hingga taraf tertentu — jalannya kehidupan tidak bisa diatur. Seseorang tidak memilih dilahirkan di mana. Begitu pula dia tidak tahu besok bertemu siapa; apakah akan tertimpa musibah; atau lain sebagainya. Betul bahwa orang dapat berusaha dan berkehendak, akan tetapi kadang terdapat situasi yang tak bisa dilawan. (Irvine, hlm. 86-89)

Dalam kalimat Epictetus,

There are things which are within our power, and there are things which are beyond our power. Within our power are opinion, aim, desire, aversion, and, in one word, whatever affairs are our own. Beyond our power are body, property, reputation, office, and, in one word, whatever are not properly our own affairs.

 
(Epictetus, “Enchiridion”, terj. T.W. Higginson)

Masalahnya kadang hal-hal yang terjadi dalam hidup membuat kita menderita. Lalu bagaimana solusinya?

Di sinilah Kaum Stoik merumuskan pandangan: ada saatnya orang harus mengubah atau menerima. Apabila peristiwa buruk bisa diperbaiki, maka harus diperbaiki. Akan tetapi jika tidak dapat diperbaiki, orang harus belajar untuk menerima. Istilahnya harus legowo. Sebab mau bagaimana lagi? Faktanya tidak bisa diubah. Mau dibawa sedih juga percuma.😆

Seorang Stoik mempunyai masalah, maka dia coba selesaikan. Akan tetapi jika sudah mentok — dia tahu bahwa dia sudah berbuat sebaik mungkin. Tak ada yang perlu disesali. Peristiwa itu kemudian dianggap sebagai ketetapan semesta. (divine providence)

Adapun prinsip di atas terpancar jelas dalam jurnal pribadi Marcus Aurelius. Namanya juga Kaisar, beliau punya banyak musuh, baik politik ataupun perang. Meskipun begitu Aurelius selalu mengingatkan diri: segala peristiwa, termasuk jalan hidupnya, adalah bagian pergerakan kosmos. Tugasnya adalah memutuskan untuk menanggapi atau menerima. Apabila hendak menanggapi maka harus jelas caranya. (Marcus Aurelius, “Meditations”, VI.19-22)

Pembaca yang religius-monoteis kemungkinan menganalogikan dengan “kehendak Tuhan”. Di satu sisi memang ada cocoknya, tetapi harus dicatat bahwa kosmos di sini bersifat impersonal — berbeda dengan Tuhan yang dihubungi lewat doa. Dalam bahasa filsafat disebut sebagai semesta yang panteistik dan deterministik. (Meyer, 2008, hlm. 138-140)

 
Stoikisme dan Manajemen Emosi
 

Menariknya, biarpun pada prinsipnya Kaum Stoik dapat disebut ‘tawakal’, mereka sadar bahwa melaksanakannya tidak mudah. Oleh karena itu mereka merancang siasat kejiwaan tersendiri — boleh dibilang trik psikologi zaman kuno.

Filsafat Stoik mengakui bahwa emosi adalah hasrat alami manusia, oleh karena itu orang tidak dituntut untuk memusnahkannya. Meskipun demikian mereka mewanti-wanti satu hal: karena dorongannya kuat, emosi bisa membawa orang pada kehancuran. Orang yang tidak dapat mengontrol emosi ibaratnya hidup dalam bahaya. (Inwood & Donini, 1999)

Meskipun demikian, entah karena apa, di masa kini orang menganggap pribadi stoic sebagai total-rasional dan tidak berperasaan. Mengenai hal ini ada banyak contohnya, dan yang cukup terkenal misalnya…

Spock-Quinto

Karikatur Stoik versi Hollywood: dikagumi pria dan disukai wanita

(image credit: Wikipedia)

Bukan berarti salah sih. Ada benarnya, tapi ya cuma begitu saja. Kepribadian Stoik yang sebenarnya agak lebih kompleks.😛

Oleh karena itu, di bagian ini kita akan sedikit meluruskan kesalahpahaman. Betul bahwa Stoikisme mengutamakan ketenangan batin, akan tetapi bukan berarti semua emosi diberangus. Lebih tepat jika disebut “manajemen emosi”.

 
With that said, sekarang kita akan bahas psikologi Kaum Stoik.

Sebagaimana sudah disebut, doktrin Stoik mengutamakan keselarasan. Keselarasan itu mencakup dua aspek: (1) ketetapan semesta (nomos), dan (2) kematangan sikap mental (prohairesis). Seorang penganut Stoik berusaha memadukannya. Apabila berhasil maka dia akan mencapai kebahagiaan (eudaimonia).

Meskipun demikian, dalam proses melakukannya, ada kendala yang mesti diwaspadai. Kendala itu adalah rasa ingin yang berlebihan. Dalam bahasa Indonesia istilahnya kira-kira “hawa nafsu”.

Nafsu yang diumbar dapat membawa kerugian, akan tetapi masalahnya, semakin dilawan justru dia semakin kuat. Padahal belum tentu kita dapat — atau boleh — memenuhi nafsu tersebut.

Menurut Epictetus,

[If] you desire any of the things not within our own power, you must necessarily be disappointed; and you are not yet secure of those which are within our power, and so are legitimate objects of desire. Where it is practically necessary for you to pursue or avoid anything, do even this with discretion, and gentleness, and moderation.

 
(Epictetus, “Enchiridion”, terj. T.W. Higginson)

Oleh karena itu Kaum Stoik merumuskan sebuah doktrin. Seseorang dikatakan bebas apabila dia tidak diperbudak oleh keinginan. Orang yang bebas, menurut Filsafat Stoik, dapat melihat godaan sambil tetap berpikir jernih.

Sebagai contoh, ketika melihat makanan yang enak dia tidak serta-merta menjadi rakus. Demikian juga saat melihat istri orang dia tidak kontan ingin merebutnya. Kebebasan tidak terletak pada pemenuhan hasrat, melainkan pada kemampuan bersikap tenang di tengah godaan. Apakah godaan itu mau diikuti atau tidak, itu diserahkan pada rasio. Inilah doktrin keutamaan Filsafat Stoik.

Bukan berarti seorang Stoik tidak boleh menikmati hidup; boleh saja bersenang-senang, asal tidak berlebihan. Lagi-lagi kita mengacu pada Marcus Aurelius.

Sebagai Kaisar Romawi, Aurelius mempunyai akses pada kekayaan. Dia pun mempunyai istri dan anak. Akan tetapi yang membedakan, Aurelius tidak hanyut dalam keduniaan. Dia adalah orang yang sangat hati-hati menjaga prohairesis.

Take care that thou art not made into a Caesar, that thou art not dyed with this dye; for such things happen. Keep thyself then simple, good, pure, serious, free from affectation, a friend of justice, a worshipper of the gods . . . Short is life. There is only one fruit of this terrene life, a pious disposition and social acts.

 
(Marcus Aurelius, “Meditations” VI.27, terj. George Long)

Manajemen emosi kaum Stoik, pada akhirnya, bukan total penihilan emosi, melainkan penyeimbangan dengan kodrat. Intinya pada bagaimana orang bisa tetap tenang, logis, dan rasional di dalam hidup. Baik itu di saat senang maupun sedih; di depan godaan ataupun musibah.

 
Penutup: Eudaimonia dan Zaman Modern
 

Di zaman modern kita sering melihat tokoh fiksi yang sangat-tenang dan selalu logis. Yang semacam ini sangat populer. Mulai dari Sherlock Holmes, Mr. Spock, hingga yang lebih lawas Phileas Fogg. Para tokoh ini diceritakan punya kecerdasan tinggi dan selalu bersikap dingin — sering disebut berkarakter stoic.

Meskipun demikian, sebagaimana sudah diuraikan panjang-lebar di atas, pandangan itu agak terlalu karikatur. Memang sih, ada proponen Stoikisme yang radikal, menganggap emosi sebagai pengganggu hidup. Akan tetapi Stoikisme sejatinya lebih luas daripada “bersikap pintar tanpa emosi”. Bagaimana filsafat bisa membantu orang hidup tenang, seimbang, dan rasional — itu dia yang dikejar.

Lalu mungkin kita harus menyebut kebebasan. Di abad ke-21 kita biasa mendengar istilah “kebebasan”, di mana prinsipnya boleh memenuhi keinginan sejauh tidak merugikan orang. Oleh karena itu orang boleh menulis buku, berdemonstrasi; orang juga boleh berpacaran atau makan di restoran serakusnya (asal bisa bayar). Kebebasan macam ini sifatnya memenuhi keinginan — baik itu lahir maupun batin.

Meskipun demikian, persepsi Stoik tentang kebebasan agak berbeda. Kaum Stoik memandang bahwa kebebasan terjadi pada saat orang mampu mengontrol diri. Ketika diprovokasi dia dapat memutuskan apakah perlu membalas atau tidak. Ketika disuguhi makanan dia memutuskan apakah sesuai dengan kondisi kesehatan; apakah dia sudah kenyang; di samping juga apakah dia mampu membayar.

Sekarang coba bayangkan: seandainya ada orang yang begitu melihat gadis cantik bawaannya ingin membawa pergi, atau ketika melihat uang bawaannya ingin korupsi. Bisakah orang macam ini disebut bebas? Saya rasa, tidak!:mrgreen:

Sebab, sebagaimana disampaikan oleh Lucius Seneca,

We are all chained to Fortune: some men’s chain is loose and made of gold, that of others is tight and of meaner metal. But what difference does this make? We are all included in the same captivity . . .

 
(Seneca, “Of Peace of Mind”, terj. Aubrey Stewart)
(dengan perubahan seperlunya)

 

 
——

Daftar Pustaka

 
Epictetus. (1890). The Works of Epictetus: His Discourses, in Four Books, the Enchiridion, and Fragments (terj. Thomas Wentworth Higginson). New York: Thomas Nelson & Sons

Inwood, B. & Donini, P. (1999). Stoic Ethics. dalam Algra, Barnes, et. al. (ed.). Cambridge History of Hellenistic Philosophy (hlm. 675-738). Cambridge: Cambridge University Press

Irvine, W.B. (2009). A Guide to Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy. New York: Oxford University Press.

L. Annaeus Seneca. (1900). Minor Dialogs Together with the Dialog “On Clemency” (terj. Aubrey Stewart). London: George Bell & Sons

Marcus Aurelius. (1914). The Meditations of Marcus Aurelius (terj. George Long). New York: P.F. Collier & Son

Meyer, S.S. (2008). Ancient Ethics, a Critical Introduction. New York: Routledge

One response to “Filsafat Stoik, Eudaimonia, dan Cara Menyikapi Hidup

  1. Cicilia Arum Sekar Rinakit Agustus 9, 2016 pukul 9:22 am

    Salam kenal!Saya sangat tertarik dengan konten blog anda…semoga saya menjadi lebih terinspirasi dan termotivasi dengan membaca blog ini… Omong – omong saya juga tertarik mempelajari dunia filsafat :))

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: