ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Monthly Archives: November 2014

Heraclitus: Perubahan, Pertentangan, Harmoni

Heraclitus dari Ephesus adalah seorang filsuf Yunani yang hidup di era Pra-Sokrates. Ada banyak hal diceritakan tentangnya, namun yang paling terkenal adalah reputasi sebagai “filsuf misterius”.

Mengapa disebut misterius, salah satunya karena dia jarang berargumen to the point. Nyaris semua kutipannya berbentuk paradoks atau metafora. Sedemikian mbulet-nya Heraclitus, hingga sejawatnya sesama filsuf berkomentar mengeluhkan — sebagai contoh Aristoteles menyebutnya “Sang Gelap”. (Yunani: ho skoteinos)

[img] Heraclitus by Johannes Moreelse (1630)

Heraclitus digambarkan sebagai “Sang Gelap”
(lukisan karya Johannes Moreelse, 1630)

(image credit: Wikimedia Commons)

Namun Heraclitus bukanlah berumit-rumit tanpa tujuan. Sebagaimana telah disebut, dia adalah seorang filsuf, dan sebagai filsuf dia berupaya menyampaikan idenya ke masyarakat. Dalam hal ini dia mengingatkan pada rekan sesama filsuf Pra-Sokratik, Zeno murid Parmenides: bahwa lewat paradoks dan puntiran-logika, orang bisa menunjukkan sebuah kebenaran tersirat. (Walaupun arah pemikiran mereka berbeda, tapi itu cerita lain)

Nah, dalam tulisan kali ini, kita akan sedikit berkenalan dengan sosok dan cara pandang Heraclitus. Ada beberapa topik yang dia bicarakan, termasuk tentang kosmologi dan logos (ini istilah Yunani yang susah diterjemahkan). Meskipun begitu kita tidak akan membahas seluruh pemikiran beliau, melainkan hanya tiga aspek: perubahan, pertentangan, dan harmoni.

Klik untuk melanjutkan »

Lengkung yang Menyebarkan Beban

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, terdapat beberapa penemuan yang, sekalinya ditemukan, langsung cukup sempurna, sedemikian hingga dalam ribuan tahun tidak banyak perubahan. Satu contoh yang bagus adalah roda. Sejak awal peradaban hingga kini prinsipnya sama: benda bulat yang menggelinding pada porosnya. Jikapun ada inovasi hanya pada detail, misalnya pembagian antara velg dan karet ban. (dulu tidak ada)

Contoh lain yang juga bagus adalah pena. Pena adalah padatan memanjang yang dalamnya berongga; rongga itu berfungsi mewadahi tinta sebelum ditulis. Sama dengan roda perkembangannya di zaman modern tidak prinsipil — jika dulu pakai bulu elang, sekarang logam, namun cara kerjanya tidak berubah.

Nah, di bidang arsitektur, ada juga teknologi yang seperti itu, yang dipopulerkan oleh peradaban Romawi Barat. Teknologi itu adalah bentuk struktur lengkung — dalam bahasa Inggrisnya disebut arch. Sebuah struktur lengkung mempunyai kemampuan luar biasa dalam mendistribusikan beban. Bahkan saking efektifnya, di masa kini prinsipnya masih dipakai membangun jembatan dan jalan tol.

Sehebat apa sebuah struktur lengkung? Di bawah ini satu contohnya. Didirikan di zaman Romawi, mengular sepanjang 813 meter, dan tinggi 28.5 meter, bangunan ini masuk daftar World Heritage List UNESCO. Namanya adalah Saluran Air Segovia — dan usianya sudah mencapai dua ribu tahun.

Yes, you heard that right. Bangunan yang sudah ada selama dua milenium! 😮 Peninggalan seperti ini membuat orang merasa kecil di tengah perjalanan waktu.

[img] Aqueduct of Segovia

(image credit: Wikimedia Commons)

Adapun di zaman modern, contoh penerapan struktur lengkung yang mantap terdapat di Jembatan Chaotianmen di Cina. Namun berbeda dengan Saluran Air Segovia jembatan ini mempunyai kawat baja. Sedemikian hingga di bagian tengah, struktur lengkung bersifat menarik beban — bukannya menyokong seperti era Romawi dulu.

[img] Chaotianmen Bridge

(image credit: Wikimedia Commons)

Melalui dua contoh di atas jadi terlihat kekuatan di balik struktur lengkung. Baik di zaman kuno maupun modern dia sama efektifnya. Pertanyaannya sekarang, mengapa dia begitu kuat?

Klik untuk melanjutkan »