ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Xenophanes: Pemikir Bebas dari Colophon

Sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, peradaban Yunani Kuno mulai menggeliat di bidang ilmu. Di berbagai wilayahnya muncul tokoh-tokoh yang menyebarkan gagasan. Dimulai oleh Thales di kota Miletus, kemudian muncul Pythagoras dari Samos, Alcmaeon dari Croton, serta Heraclitus dari Ephesus. Detail ajaran mereka bervariasi, namun semangat intinya sama: mencoba memahami dunia lewat rasio.

Dari yang tadinya takhayulan, mempercayai ramalan dan dewa-dewi, menjadi lebih kritis dan logis. Mereka juga memperkenalkan cara berpikir naturalistik: bahwa alam semesta bersifat teratur dan mengikuti hukum sebab-akibat. Oleh karena itu, wajar jika Yunani abad ke-6 SM dipandang sebagai tempat lahirnya ilmu filsafat.

Nah, termasuk di antara tokoh yang mendorong perubahan tersebut adalah Xenophanes dari Colophon. Dia terkenal sebagai pengkritik agama Yunani Kuno, yakni penyembahan dewa-dewi di Gunung Olympus.

[img] Xenophanes engraving

Xenophanes dari Colophon (c. 570-475 SM)

(image credit: Wikimedia Commons)

Bagi kita di zaman modern, agak susah membayangkan bahwa — di satu masa — pernah ada yang menyembah Zeus dan kawan-kawan. Seolah-olah mereka hanya tokoh dunia mitologi. Pun demikian, faktanya memang mereka dulu disembah. Penggalian arkeologi menemukan reruntuhan kuil dan altar di berbagai kota. Menyebut dua di antaranya: Kuil Artemis di Ephesus serta Kuil Apollo di Delphi.

Di lingkungan seperti itulah Xenophanes hidup dan berkarir. Sebagaimana telah disebut, dia menolak politeisme, meskipun begitu yang menarik adalah argumennya. Dapat dibilang merupakan versi awal gagasan yang terkenal di zaman modern, yaitu skeptisisme dan relativisme.

Seperti apa detailnya akan segera kita lihat. Meskipun begitu, sebelum lanjut, kita akan berkenalan dulu dengan sosok pemikirnya.

 
Sang Pemikir Nomaden
 

Xenophanes dilahirkan di kota Colophon, Semenanjung Anatolia, sekitar tahun 570 SM. Sehari-harinya dia seorang penyair, termasuk di antaranya membuat karangan satir (silloi). Selama 25 tahun pertama hidupnya dihabiskan di kampung halaman.

Sayangnya malang tak dapat ditolak. Di tahun 545 SM, kota Colophon dijajah oleh Persia, membuat Xenophanes terusir. Puluhan tahun berikutnya dia hidup sebagai pengungsi, berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya tiba di Italia.

Agak menyedihkan bahwa biarpun panjang umur, Xenophanes tak pernah kembali ke Colophon. Baru di akhir hayatnya dia menetap di kota Elea — terletak di Italia Selatan.

Now seven and sixty years have tossed my cares
Throughout the length and breadth of Hellas’ land.
To these add five and twenty from my birth,
If I can know and truly speak of that.

(dikutip dalam Guthrie, 1962, hlm. 363)

Menurut filsuf Yunani, Plato, Xenophanes punya murid bernama Parmenides. Parmenides adalah filsuf pendiri mazhab Eleatik — dia meyakini bahwa alam semesta bersifat tunggal, diam, dan seragam. Di satu sisi memang ajaran mereka mirip. Meskipun begitu para ahli umumnya menganggap testimoni Plato di atas meleset/tidak mempunyai bukti yang kuat. (lihat juga: Guthrie, 1962, hlm. 363-364)

Mirip rekan sepantarannya, Heraclitus, di masa kini tak ada karya asli Xenophanes yang bertahan. Itu karena masa hidup mereka begitu kuno — 2500 tahun sebelum kita. Hanya terdapat tulisan Xenophanes berbentuk “fragmen”, yaitu kutipan oleh filsuf generasi sesudahnya. Oleh karena itu para ahli harus melakukan rekonstruksi.

Namun kita masih beruntung, fragmen yang tersisa sudah cukup menjelaskan pemikiran beliau. Melalui fragmen-fragmen inilah kita dapat “mengintip” filsafat Yunani di awal kelahirannya.

Sebagaimana telah disebut, masa hidup Xenophanes adalah masa transisi, yaitu dari berbalut legenda — termasuk penyembahan dewa-dewi — menuju cara pandang yang lebih rasional. Mengenai hal ini akan kita lihat di bagian selanjutnya.

 
Mengkritik Dewa-dewi
 

Satu hal yang menarik dari Xenophanes adalah keseriusannya mengkritik kepercayaan takhayul. Secara frontal dia menyebut penyembahan dewa di Yunani bersifat palsu — atau setidaknya, meleset dari Kebenaran.

Pandangan itu diinspirasi oleh pengalaman beliau hidup berpindah-pindah di seputar Laut Mediterania:

Ethiopians say that their gods are flat-nosed and black,
And Thracians that theirs have blue eyes and red hair.

(Xenophanes, Fragment #9, ed. Waterfield 2000 / DK B16)

Xenophanes mencatat bahwa bentuk fisik dewa-dewi mirip dengan masyarakat penyembahnya. Bangsa Ethiopia (tinggal di Afrika Utara) mempunyai kulit hitam dan hidung pesek, dewa mereka mirip seperti itu. Demikian juga bangsa Thracia: dewa mereka berkulit pucat, berambut merah, dan bermata biru.

Contoh lain yang mengena adalah bangsa Mesir Kuno. Bisa dilihat dalam gambar di bawah, mereka mempunyai sosok dewa yang khas. Namun lagi-lagi mirip dengan penampilan masyarakatnya.

[img] Egyptian afterlife

Kehidupan akhirat versi Mesir Kuno

(image credit: Wikimedia Commons)

Bisa ditebak, dewa-dewi bangsa Yunani juga mencerminkan masyarakatnya, yaitu berkulit putih dengan rambut bergelombang.

Di sinilah Xenophanes melancarkan kritikan. Menurut Xenophanes, agama-agama politeisme tidak mencerminkan kebenaran, melainkan sekadar proyeksi. Konteks suatu bangsa menentukan sesembahan yang mereka anut. Oleh karena itu: wajar jika dewa-dewi di dunia tampak berbeda.

Melanjutkan poin di atas, Xenophanes meneruskan: jika manusia menciptakan dewa manusia, tentulah hewan juga bisa, seandainya mereka cukup cerdas!😮

But mortals think that the gods are born,
Wear their own clothes, have voices and bodies.

If cows and horses or lions had hands,
Or could draw with their hands and make things as men can,
Horses would have drawn horse-like gods, cows cow-like gods,
And each species would have made the gods’ bodies just like their own.

(Xenophanes, Fragment #7-8, ed. Waterfield 2000 / DK B15-16)

Menapak lebih jauh, kultur suatu bangsa juga menentukan keyakinan mereka tentang akhirat. Bangsa Yunani misalnya percaya, sesudah meninggal orang akan naik perahu menyeberang Sungai Styx. Sementara bangsa Mesir percaya mereka harus melewati berbagai rintangan dan ditimbang perbuatannya.

Kritik utama Xenophanes adalah bahwa manusia selalu terhambat oleh bias. Di manapun berada, pandangan orang tentang Kebenaran tak akan sempurna. Selalu ada elemen subyektif yang dipengaruhi oleh — antara lain — kultur dan norma adat.

Termasuk di dalamnya adalah pandangan tentang “kebenaran” dewa dan akhirat. Sebagaimana telah kita lihat, suku bangsa yang berbeda punya versinya sendiri-sendiri.

Ibaratnya konteks suatu bangsa menjadi “lensa” yang membaurkan. Kepercayaan suatu bangsa lebih mencerminkan bangsanya daripada Kebenaran yang dicari. Kira-kira demikian kritik dari Xenophanes.

 
Meminimalkan Bias
 

Meninjau uraian di atas, cukup wajar jika Xenophanes menjadi sosok peragu. Dia menganggap bahwa manusia tak lepas dari bias dan konteks. Pada akhirnya elemen subyektif itu menghambat manusia mencapai Kebenaran.

Barangkali timbul pertanyaan, mengapa Xenophanes begitu khawatir dengan bias? Soal ini bisa dijelaskan lewat ilustrasi.

Di dunia sehari-hari kita tahu rasi bintang Scorpio, dianggap orang Yunani mirip kalajengking. Meskipun begitu berbeda dengan orang Jawa: mereka menamai rasi tersebut “kelapa doyong”. Orang Jawa hidup di negeri tropis, akrab dengan pohon kelapa, jadi mereka melihat pohon kelapa. Akan tetapi orang Yunani tidak tahu. Jadi mereka melihatnya, ya, itu mirip kalajengking (ada ekornya melengkung di belakang).

[img] rasi bintang Scorpio

(image credit: Wikimedia Commons)

Pertanyaannya sekarang adalah: jika melihat bintang saja tidak sepakat, bagaimana pula mau sepakat melihat Kebenaran?😆

Inilah sebabnya Xenophanes meragukan pendapat apapun tentang Kebenaran. Filsuf hebat sekalipun tidak bisa 100% obyektif — pemikirannya akan diwarnai oleh (antara lain) tempat dan pengalaman hidupnya. Bahkan berabad-abad kemudian, filsuf sekelas Plato dan Aristoteles dapat berlawanan, biarpun mereka guru dan murid.

Menurut Xenophanes,

Indeed, there never has been nor will there ever be a man
Who knows the truth about the gods and all the matters of which I speak.
For even if one should happen to speak what is the case especially well,
Still he himself would not know it. But belief occurs in all matters.

(Xenophanes, Fragment #16, ed. Waterfield 2000 / DK B34)

Kutipan di atas terdengar pesimistis. Pun demikian, bukan berarti Xenophanes menyerah. Sebagai seorang filsuf dia mempunyai “jalan keluar” tersendiri.

Biarpun tidak disebut secara eksplisit, Xenophanes meyakini bahwa Kebenaran Tertinggi bersifat lepas dari konteks lingkungan. Hal-hal yang diinspirasikan oleh lingkungan — seperti dewa dalam kisah Perang Troya — harus dikesampingkan. Untuk mendekati Kebenaran haruslah lewat logika yang universal.

Barangkali memang akhirnya mustahil untuk tahu. Akan tetapi setidaknya, kita punya ide yang berpotensi mendekati Kebenaran. Demikian simpul Xenophanes.

Let these things be believed as approximations to the truth.

(Xenophanes, Fragment #17, ed. Waterfield 2000 / DK B35)

 
Keyakinan Xenophanes
 

Uniknya, pemikiran Xenophanes mengantarnya pada gagasan yang — kalau boleh dibilang — mengingatkan pada monoteisme, biarpun dengan perbedaan.

Xenophanes memulai dengan klaim utama, yaitu bahwa Kebenaran Tertinggi tidak boleh mempunyai sifat manusia. Kita ingat keluhannya tentang dewa-dewi yang mirip masyarakat. Secara eksplisit dia melarang pandangan yang bersifat bias.

One god, greatest among gods and men,
In no way similar to mortal men in body or in thought.

(Xenophanes, Fragment #3, ed. Waterfield 2000 / DK B23)

Perlu dicatat bahwa biarpun Xenophanes menyebut “Tuhan”, pengertiannya berbeda dengan yang kita akrab. “Tuhan” dalam pemikiran Xenophanes adalah totalitas yang tak bisa dihubungi lewat doa. Mengacu sifatnya yang total, dia mewakili Kenyataan/Kebenaran Tertinggi. Konsep “Tuhan” ini disebut Xenophanes dalam bahasa Yunani: Theos (θεός).

Mengingat pengertiannya yang berbeda, dan supaya tidak rancu, selanjutnya kita akan menyebut “Tuhan” versi Xenophanes sebagai Theos.

Sebagaimana bisa dibaca, Xenophanes tidak percaya Theos bisa dibandingkan dengan manusia. Salah besar kalau orang menganggap Theos minta disembah, mengirim bencana, dan sebagainya. Sebab jika begitu, apa bedanya dengan dewa-dewi Yunani dan Mesir.

Poin menarik di sini adalah Theos sebagai totalitas. Karena segala sesuatu terlingkup di dalamnya, maka Theos menjadi maha tahu (omniscient).

Complete he sees, complete he thinks, complete he hears.

(Xenophanes, Fragment #4, ed. Waterfield 2000 / DK B24)

Terakhir, sebagai pamungkas, Xenophanes merumuskan Theos sebagai “selalu diam”. Sepintas ini klaim yang aneh. Meskipun begitu kita ingat: karena Theos melingkupi segala sesuatu, dia juga melingkupi semua tempat. Baik itu utara dan selatan, maupun timur dan barat. Maka tanpa bergerak pun Theos sudah ada di mana-mana. (Penjelasan kasarnya seperti itu)

He remains for ever in the same place, entirely motionless,
Nor is it proper for him to move from one place to another.
But effortlessly he shakes all things by thinking with his mind.

(Xenophanes, Fragment #5, ed. Waterfield 2000 / DK B24)

Di sinilah kita melihat perjalanan Xenophanes sebagai pemikir bebas. Menolak keyakinan tradisional, dia mengembangkan sistem filsafat yang khas, menggunakan premis dan logika yang — sebisa mungkin — bersifat universal. Hasilnya adalah serangkaian gagasan yang segar.

Tentunya bisa diperdebatkan, apakah filsafat Xenophanes itu benar atau tidak? Saya sendiri tidak percaya. Akan tetapi intinya bukan itu. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana proses beliau sampai ke sana.

Ketika diberitahu orang tidak menelan mentah-mentah; selalu berhati-hati menimbang gagasan. Sebisa mungkin menghindari bias. Biarpun Xenophanes punya keyakinan, dia sadar bahwa itu bisa salah. Xenophanes adalah sosok pemikir yang — kalau boleh dibilang — mempunyai kerendahan hati intelektual.

Menjelang akhir tulisan, kiranya cukup bagus jika kita tampilkan lagi kutipan beliau tentang skeptisisme:

For even if one should happen to speak what is the case especially well,
Still he himself would not know it. But belief occurs in all matters.

. . .

Let these things be believed as approximations to the truth.

 
(Xenophanes, Fragment #16-17, ed. Waterfield 2000 / DK B34-35)

 
Penutup
 

Ada sebuah frase menarik yang diciptakan Jacob Bronowski, peneliti sejarah ilmu berkebangsaan Inggris, ketika merujuk Yunani abad ke-6 SM. Pada saat itu beliau sedang membicarakan Pythagoras. Kutipan selengkapnya sebagai berikut; cetak tebal ditambahkan.

So there is no place and no moment in history where I could stand and say ‘Arithmetic begins here, now’. People have been counting, as they have been talking, in every culture. Arithmetic, like language, begins in legend. But mathematics in our sense, reasoning with numbers, is another matter. And it is to look for the origin of that, at the hinge of legend and history, that I went sailing to the island of Samos.

(Bronowski, 2011, hlm. 120)

Menurut Bronowski, Yunani abad ke-6 SM merupakan perpaduan yang unik. Di satu sisi bertabur legenda dan mitos, akan tetapi di sisi lain, mulai mengembangkan cara berpikir yang runtut dan logis. Contohnya adalah Pythagoras: seorang matematikawan dan filsuf, tetapi ajarannya penuh elemen mistik-religius.

Di sinilah kita melihat bahwa Xenophanes — seperti Pythagoras — adalah sosok zaman peralihan. Dunia mereka masih dikungkung mitos, tetapi perlahan-lahan mulai melepaskan diri. Memang tidak langsung sempurna, akan tetapi kita harus ingat: perubahan sehebat apapun dimulai dengan langkah kecil.

Menariknya, biarpun terpisah jauh dari kita, inti pemikiran Xenophanes dan Pythagoras masih relevan di zaman modern. Pythagoras dengan pandangan “alam semesta matematis” beresonansi dengan sains yang kita akrab. Sementara Xenophanes mengedepankan pandangan yang kritis dan skeptis.

Khusus tentang Xenophanes, ada beberapa hal bisa dipelajari dari beliau. Mulai dari menghindari bias; mengedepankan logika; tidak gampang percaya “apa kata orang”. Tak kalah pentingnya adalah sikap mental: bahwa seyakin apapun diri kita, kita masih bisa salah.

Meninjau pemikiran Xenophanes, yang lebih penting itu prosesnya — bukan kesimpulannya. Siapapun bisa punya keyakinan. Akan tetapi, bagaimana keyakinan itu dicapai, itu dia yang penting.

Meminjam peribahasa Inggris: it’s about the journey, not the destination…

 

 
——

Pustaka:

 
Bronowski, J. (2011). The Ascent of Man. London: BBC Books

Guthrie, W. K. C. (1962). A History of Greek Philosophy: Volume I: The Earlier Presocratics and The Pythagoreans. Cambridge: Cambridge University Press

Lesher, J.H. (1978). Xenophanes’ Scepticism. Phronesis 23(1), 1-21

Waterfield, R. (2000). The First Philosophers: The Presocratics and Sophists. New York: Oxford University Press

4 responses to “Xenophanes: Pemikir Bebas dari Colophon

  1. punyapista Juni 19, 2015 pukul 9:37 am

    filsuf memang punya pola pikir yang berbeda dengan pemikiran manusia lainnya🙂

  2. sora9n Juni 19, 2015 pukul 3:40 pm

    @punyapista: Begitulah.😀

  3. Aiman Yusuf September 21, 2015 pukul 9:53 am

    sora kapan menulis lagi?
    sangat merindukan tulisan-tulisan Anda..
    hehe..

  4. sora9n Oktober 1, 2015 pukul 11:53 am

    @ Aiman: Sori, kemarin lagi rehat. Baru balik sekarang.^^’

    sora kapan menulis lagi?

    Tuh, baru diposting.😛

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: