ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Category Archives: Philosophy

Martin Buber: Antara Aku, Kau, dan Dia

Bapak Martin Buber, teolog dan filsuf asal Austria, adalah sosok pemikir yang unik. Dalam hidupnya dia menyerap banyak ide, baik dari pemikir religius maupun ateis, sebagai contoh Kierkegaard, Nietzsche, dan Feuerbach. Dia juga suka mempelajari agama Asia seperti Hindu dan Taoisme. Dapat dibilang bahwa beliau pemikir yang berwawasan luas.

[img] Martin Buber (1878-1965)

Martin Buber (1878-1965)

(image credit: Wikimedia Commons)

Ditinjau dari ide-idenya, Buber sering dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Dia berkutat dengan pertanyaan berikut: bagaimana manusia dapat hidup dengan bermakna di zaman modern?

Tema itu didorong oleh pengalaman Buber menyaksikan industrialisasi di Eropa, yang disusul pecahnya Perang Dunia I dan II. Di satu sisi modernitas membawa banyak kebaikan, termasuk di antaranya ilmu kesehatan, transportasi, dan komunikasi. Akan tetapi di sisi lain kemajuan itu datang dengan harga mahal. Alih-alih makmur dan bahagia, justru masyarakat porak-poranda dan dilanda kegalauan eksistensial.

Namun biarpun seorang teolog, Buber tidak lantas bicara akhirat dan agama. Kita ini hidup di dunia, demikian kata Buber. Oleh karena itu jawaban masalah-masalah kita juga harus dicari di dunia.

I possess nothing but the everyday out of which I am never taken. The mystery is no longer disclosed, it has escaped or it has made its dwelling here where everything happens as it happens. I know no fulness but each mortal hour’s fulness of claim and responsibility.

 
(Martin Buber, “Dialogue”, terj. Ronald Gregor-Smith)

Nah, berangkat dari situlah Buber merumuskan gagasan filsafat. Secara unik idenya bersandar pada tiga kata yang familiar, yaitu Aku (“I”), Kau (“You”), dan Dia (“It”).*

    *) Buber aslinya menulis dalam Bahasa Jerman. Penerjemahan di atas mengikuti versi Inggris oleh Walter Kaufmann (1970)

Klik untuk melanjutkan »

Xenophanes: Pemikir Bebas dari Colophon

Sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, peradaban Yunani Kuno mulai menggeliat di bidang ilmu. Di berbagai wilayahnya muncul tokoh-tokoh yang menyebarkan gagasan. Dimulai oleh Thales di kota Miletus, kemudian muncul Pythagoras dari Samos, Alcmaeon dari Croton, serta Heraclitus dari Ephesus. Detail ajaran mereka bervariasi, namun semangat intinya sama: mencoba memahami dunia lewat rasio.

Dari yang tadinya takhayulan, mempercayai ramalan dan dewa-dewi, menjadi lebih kritis dan logis. Mereka juga memperkenalkan cara berpikir naturalistik: bahwa alam semesta bersifat teratur dan mengikuti hukum sebab-akibat. Oleh karena itu, wajar jika Yunani abad ke-6 SM dipandang sebagai tempat lahirnya ilmu filsafat.

Nah, termasuk di antara tokoh yang mendorong perubahan tersebut adalah Xenophanes dari Colophon. Dia terkenal sebagai pengkritik agama Yunani Kuno, yakni penyembahan dewa-dewi di Gunung Olympus.

[img] Xenophanes engraving

Xenophanes dari Colophon (c. 570-475 SM)

(image credit: Wikimedia Commons)

Bagi kita di zaman modern, agak susah membayangkan bahwa — di satu masa — pernah ada yang menyembah Zeus dan kawan-kawan. Seolah-olah mereka hanya tokoh dunia mitologi. Pun demikian, faktanya memang mereka dulu disembah. Penggalian arkeologi menemukan reruntuhan kuil dan altar di berbagai kota. Menyebut dua di antaranya: Kuil Artemis di Ephesus serta Kuil Apollo di Delphi.

Di lingkungan seperti itulah Xenophanes hidup dan berkarir. Sebagaimana telah disebut, dia menolak politeisme, meskipun begitu yang menarik adalah argumennya. Dapat dibilang merupakan versi awal gagasan yang terkenal di zaman modern, yaitu skeptisisme dan relativisme.

Seperti apa detailnya akan segera kita lihat. Meskipun begitu, sebelum lanjut, kita akan berkenalan dulu dengan sosok pemikirnya.

Klik untuk melanjutkan »

Pemuda Sederhana Naik Tahta

Pada tahun 161 Masehi, Imperium Romawi tengah berjaya di seantero Eropa, membujur dan melintang berpusat di Italia. Batas baratnya Semenanjung Iberia, yang di masa kini wilayah Spanyol dan Portugis. Di ujung timurnya Jazirah Arab dengan kota besar Palmyra dan Antioch, berbatasan dengan Persia. Dengan armada kapalnya mereka menyeberang laut, sedemikian hingga setelah berabad-abad, Inggris yang dingin hingga Mesir yang terik ikut jatuh ke tangan mereka.

Imperium Romawi — bisa ditebak — adalah bangsa penakluk tanpa ampun. Di laut mereka jaya, dan di darat mereka menggila. Bahkan seluruh Laut Mediterania mereka lingkupi. Dari pantai Gibraltar ke Italia, hingga Balkan dan Asia, juga sisi seberangnya di Afrika Utara: semua milik Romawi.

Mare Nostrum, begitu bangsa Romawi menyebut Laut Mediterania. Dalam bahasa Latin berarti “Laut Kami”. Zaman dulu banyak peradaban kuno menyisirinya, namun sekarang semua milik Kaisar.

[img] Roman Map around time of Antoninus

Peta wilayah Romawi sekitar tahun 161 M

(adapted from: Wikimedia Commons)

Dengan konteks seperti itu, wajar jika dalam sejarah banyak orang ingin jadi Kaisar, bahkan jika perlu saling membunuh. Meskipun begitu selalu ada pengecualian.

Ketika Marcus Aurelius naik tahta, dia melakukan terobosan radikal: menunjuk saudara angkatnya, Lucius Verus, sebagai Kaisar Pendamping. Untuk pertama kalinya Imperium Romawi dipimpin oleh “Kaisar Kembar” — di mana yang satu berdiri setara dengan yang lain.

Secara resmi Marcus mengambil nama gelar “Imperator Caesar Marcus Aurelius Antoninus Augustus”, sementara Lucius “Imperator Caesar Lucius Aurelius Verus Augustus”.

[img] Marcus Aurelius & Lucius Verus

Dua Kaisar Romawi: Marcus Aurelius (kiri) dan Lucius Verus (kanan)

(image credit: Wikimedia Commons [1], [2])

Untuk dicatat, dalam sejarah Romawi terdapat beberapa Kaisar yang menunjuk dua pewaris untuk naik tahta bersama, tapi tidak pernah terwujud. Meskipun begitu yang dilakukan Marcus tetap spesial, sebab dia sendiri yang membagi tahta miliknya.

Peristiwa ini jelas mengejutkan. Alih-alih merengkuh tahta seperti umumnya para raja, Marcus justru enggan dan berbagi. Pertanyaannya adalah, mengapa?

Klik untuk melanjutkan »

Heraclitus: Perubahan, Pertentangan, Harmoni

Heraclitus dari Ephesus adalah seorang filsuf Yunani yang hidup di era Pra-Sokrates. Ada banyak hal diceritakan tentangnya, namun yang paling terkenal adalah reputasi sebagai “filsuf misterius”.

Mengapa disebut misterius, salah satunya karena dia jarang berargumen to the point. Nyaris semua kutipannya berbentuk paradoks atau metafora. Sedemikian mbulet-nya Heraclitus, hingga sejawatnya sesama filsuf berkomentar mengeluhkan — sebagai contoh Aristoteles menyebutnya “Sang Gelap”. (Yunani: ho skoteinos)

[img] Heraclitus by Johannes Moreelse (1630)

Heraclitus digambarkan sebagai “Sang Gelap”
(lukisan karya Johannes Moreelse, 1630)

(image credit: Wikimedia Commons)

Namun Heraclitus bukanlah berumit-rumit tanpa tujuan. Sebagaimana telah disebut, dia adalah seorang filsuf, dan sebagai filsuf dia berupaya menyampaikan idenya ke masyarakat. Dalam hal ini dia mengingatkan pada rekan sesama filsuf Pra-Sokratik, Zeno murid Parmenides: bahwa lewat paradoks dan puntiran-logika, orang bisa menunjukkan sebuah kebenaran tersirat. (Walaupun arah pemikiran mereka berbeda, tapi itu cerita lain)

Nah, dalam tulisan kali ini, kita akan sedikit berkenalan dengan sosok dan cara pandang Heraclitus. Ada beberapa topik yang dia bicarakan, termasuk tentang kosmologi dan logos (ini istilah Yunani yang susah diterjemahkan). Meskipun begitu kita tidak akan membahas seluruh pemikiran beliau, melainkan hanya tiga aspek: perubahan, pertentangan, dan harmoni.

Klik untuk melanjutkan »

Cermin Republik dari La Boétie

Ada sebuah observasi menarik yang dibuat oleh Etienne de La Boétie, ahli hukum berkebangsaan Prancis, yang dimuat dalam esai terbitan tahun 1576. Esainya berjudul Discourse on Voluntary Servitude, dan mengandung kutipan di bawah ini.

For the present I should like merely to understand how it happens that so many men, so many villages, so many cities, so many nations, sometimes suffer under a single tyrant who has no other power than the power they give him; who is able to harm them only to the extent to which they have the willingness to bear with him; who could do them absolutely no injury unless they preferred to put up with him rather than contradict him. Surely a striking situation!

 
(La Boétie, “Discourse On Voluntary Servitude”, terj. Harry Kurtz)

Yang dibicarakan oleh La Boétie adalah berbagai peristiwa dalam sejarah. Pada awalnya terdapat masyarakat yang menunjuk seorang pemimpin, meskipun demikian pemimpin itu ternyata berkhianat — dalam prosesnya menjebloskan rakyat ke dalam tirani.

Klik untuk melanjutkan »

Masyarakat Terbuka dan Dunia yang Tak Sempurna

Bapak Karl Popper, filsuf Inggris kelahiran Austria, boleh dibilang sosok yang skeptis tanpa kompromi. Sebagai pemikir beliau mempunyai cara pandang yang unik: bahwasanya semua idealisme itu semu dan menyesatkan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, demikian kata Popper. Namun bukan berarti orang tak bisa berusaha — biarpun mustahil mencapai kesempurnaan, orang selalu bisa melakukan pendekatan.

Popper sendiri bukanlah pemikir sembarangan. Salah satu hasil karyanya adalah metodologi ilmiah yang kita kenal. Oleh karena itu, wajar jika dia dianggap salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah.

Karl Popper (1902-1994)

Karl Popper (1902-1994)

(photo credit: Wikipedia)

Mengapa beliau disebut “skeptis tanpa kompromi”, ini ada ceritanya lagi, dan berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

Klik untuk melanjutkan »

Filsafat Stoik, Eudaimonia, dan Cara Menyikapi Hidup

Dalam dunia filsafat Yunani Kuno, terdapat sebuah mazhab pemikiran bernama Stoikisme. Mazhab ini termasuk yang paling berpengaruh dalam sejarah. Bersama dengan Platonisme dan mazhab Peripatetik, berbagai ajaran Stoik mewarnai dunia pemikiran Barat.

Filsafatnya sendiri mempunyai sejarah panjang. Mazhab Stoik pertama kali didirikan di abad ketiga SM, meskipun demikian, hingga abad kedua Masehi masih banyak filsuf yang menganutnya. Tidak kurang dari Marcus Aurelius — Kaisar legendaris Romawi — termasuk di dalamnya. Dapat dibilang bahwa selama 500 tahun pengajarannya tidak putus.

Filsuf Mazhab Stoik

Filsuf Stoik dari masa ke masa: Zeno dari Citium, Posidonius, Seneca, dan Marcus Aurelius

(image credits: Wikimedia Commons)

Namanya aliran filsafat tentu punya ajarannya sendiri. Demikian juga Kaum Stoik, pemikiran mereka tersebar di berbagai area. Akan tetapi yang paling terkenal dari mazhab Stoik bukanlah filsafat yang njelimet. Justru sebaliknya: warisan utama mereka adalah cara menjalani hidup.

Dalam bahasa Inggris modern, kita mengetahui kata sifat “stoic”. Artinya sikap keteguhan mental dalam situasi apapun. Seseorang yang stoic — menurut bahasa Inggris — dapat tabah dan berpikiran jernih dalam menghadapi persoalan.

Nah, begitu juga dengan para filsuf mazhab Stoik. Ajaran mereka menekankan pentingnya keteguhan mental. Baik itu di saat senang maupun sedih.

Seperti apa ceritanya, akan segera kita lihat. Akan tetapi saya harus cerita dulu tentang konsep kebaikan umum dalam Filsafat Yunani: Eudaimonia.

Klik untuk melanjutkan »

Di Tengah Samudra Bintang

Pada tahun 1584, seorang pastor pengembara bernama Giordano Bruno mengumumkan sebuah ide spektakuler, kalau tidak boleh dibilang amat-sangat radikal. Baru empat dekade lewat sejak Nicolaus Copernicus menerbitkan gagasan bumi bergerak mengelilingi matahari, menimbulkan perdebatan intelektual di seluruh Eropa. Meskipun demikian Bruno melangkah lebih jauh: meneruskan pendapat bahwa Planet Bumi tidak istimewa, melainkan sekadar satelit mengelilingi matahari, Bruno menyatakan bahwa terdapat milyaran bintang mirip-matahari di alam semesta, dan masing-masing mempunyai planet yang mengitarinya.

Ide itu dipaparkan dalam buku berbahasa Italia, De l’infinito universo et mondi, dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi On the Infinite Universe and Worlds.

Thus is the excellence of God magnified and the greatness of his kingdom made manifest; he is glorified not in one, but in countless suns; not in a single earth, a single world, but in a thousand thousand, I say in an infinity of worlds.

 
(Waller, 1950; cetak tebal ditambahkan)

Sebagaimana bisa dilihat gagasan Bruno amat melampaui zaman. Belum lama Copernicus menyatakan matahari sebagai pusat, kemudian muncul pendapat bahwa tatasurya ada banyak. Lebih jauh lagi hal itu dihubungkan dengan kebesaran Tuhan. Otomatis, sepak-terjang Bruno menimbulkan kontroversi.

Siapa itu Bruno, dan mengapa ia begitu berani?

Giordano Bruno - statue

Giordano Bruno (1548-1600)

(gambar diolah dari Wikipedia)

Klik untuk melanjutkan »

The Wibbly-wobbly Tapestry of Being Human

— Tulisan bersifat umum untuk menandai kembali ngeblog

 
Ada sebuah buku yang, kalau saya boleh jujur, berperan sangat besar membentuk diri saya yang sekarang. Bukunya sendiri terbitan tahun 1983, jadi secara umur, masih lebih tua daripada saya. Membayangkannya saja membuat saya rikuh — jadi merasa kecil di tengah perjalanan waktu, begitu. But I digress.

Anyway, yang saya maksud di sini adalah sebuah pengantar filsafat, yang sampulnya bisa Anda lihat di bawah ini.

manusia-multi-dimensional-cover

“Manusia Multi Dimensional”, kumpulan esai terbitan Unika Atmajaya

Klik untuk melanjutkan »

“Mengintip” Hakikat Lewat Nasrudin Hoja

    Catatan: Referensi untuk kisah Nasrudin tersedia di bagian akhir tulisan

 

Sepanjang sejarah dunia, ada banyak tokoh yang diceritakan sebagai “tukang bercanda” — atau kalau boleh dibilang, “tidak pernah serius”. Mengenai hal ini ada banyak contohnya. Misalnya, di Jerman terdapat Till Eulenspiegel. Kalau di Arab yang terkenal Abu Nawas, sementara di budaya Yahudi Hershel Ostropol. Orang-orang semacam ini digambarkan hobi mengusili masyarakat sekitar. Saking hobinya, sedemikian hingga mencapai status legendaris… oleh karena itu tidak heran jika di masa kini pun banyak kisah diceritakan tentang mereka.

Nah, salah satu sosok “tukang bercanda” yang masuk dalam sejarah itu adalah Nasrudin Hoja. Beliau digambarkan sebagai guru Sufi yang hidup di Turki pada abad 13 Masehi. 😀

nasruddin hodja

Nasruddin Hoja digambarkan sedang menunggang keledai

(via Wikipedia)

Klik untuk melanjutkan »