ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Intermezzo: Girih dan Geometri Islam

    Note: Posting ringkas bertema Lebaran. Selamat Hari Raya buat yang merayakan; mohon maaf lahir dan batin.πŸ˜€

 
Di dunia sehari-hari, kita sering melihat seni ornamen yang “bercorak Islam”. Disebut seperti itu karena munculnya saat hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Bukan berarti dekorasinya religius, sih. Sebenarnya permainan geometri biasa. Hanya saja, karena berkembang di kebudayaan kuno berbasis Islam, jadinya sering dihubungkan.

Nah, posting kali ini akan sedikit membahas corak ornamen Islam tersebut.

Sebagaimana pernah disinggung sedikit di satu posting lama, sebagian penganut Islam tidak suka menggambar makhluk hidup. Oleh karena itu mereka berkarya seni lewat geometri. Dengan menggunakan jangka dan penggaris, bentuk yang menarik bisa dibuat, lalu dari situ terbentuk pola yang kompleks.

[img] Mimbar Masjid Nasir, Kairo

Salah satu corak geometri Islam: Ornamen mimbar, Masjid Nasir Kairo

(photo credit: WADE Photo Archive: Pattern in Islamic Art)

Termasuk dalam kesenian-geometri bercorak Islam itu adalah Girih. Girih adalah teknik dekorasi yang berasal dari Persia. Meskipun begitu, berbeda dengan dekorasi biasa, dia dibuat dengan prinsip teselasi alias pengubinan.

 
Apa itu Girih? Ubin Berpola
 

Berbicara geometri Islam, pada dasarnya terdapat tiga elemen yang bersifat kunci, yakni tekukan garis, simetri dan perulangan. Pada awalnya terdapat garis-garis yang menekuk pada sudut tertentu. Kemudian garis-garis itu saling berinteraksi membentuk pola simetris. Sebagai penutup pola simetris itu dibuat berulang memenuhi bidang dekorasi.

Misalnya contoh berikut, dari dinding dan pilar di Mausoleum Moulay Ishmael di Maroko.

[img] Mausoleum Moulay Ishmael (Dinding & Pilar)

Dekorasi dinding dan pilar mengikuti pola geometri

(photo credit: WADE Photo Archive: Pattern in Islamic Art)

Pada sisi kiri gambar, terlihat pola garis membentuk kembang segi-16. Namun sesudah kembangnya terbentuk ternyata garisnya tidak berhenti — melainkan diteruskan hingga membentuk kembang lagi di bawahnya. Oleh karena itu motif yang ada jadi berulang.

Adapun di sisi kanan agak lebih sederhana; sekadar susun-rangkai bangun. Namun demikian dia mempunyai spirit yang sama. Ada tekukan garis, ada simetri, dan ada perulangan juga. Jadinya mencerminkan (so-called) geometri Islam dengan cara yang berbeda.

* * *

Nah, sekarang kita akan membahas pembuatan pola geometri di atas.

Berbeda dengan mural yang harus digambar tangan, dekorasi girih tidak melibatkan ahli gambar dengan kuas dan cat. Namun sebagai gantinya dekorasi dibuat secara pengubinan.

Fakta menariknya adalah, setiap pola geometri Islam bisa dipecah jadi ubin-ubin sederhana. Biarpun polanya rumit namun selalu bisa direduksi. Adapun style pengubinan ini berbeda-beda di tiap daerah.

Sebagai contoh dekorasi Maroko sangat ekstrim, bisa mencapai segi-16 atau 32. Di Alhambra (Spanyol) mengikuti angka 4, 8, 16. Sedangkan versi Persia, girih yang akan kita bahas, berpola kelipatan 5 dan 10. Perbedaan gaya itulah yang kemudian mengakibatkan perbedaan set ubin dari satu tempat ke tempat lain.

Nah, bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana sudah disebut, akan berbicara tentang versi Iran alias Persia. Secara khusus style dekorasi Persia mempunyai lima buah ubin — bentuknya dapat dilihat di bawah ini.

[img] Ubin Girih

Lima jenis ubin yang terdapat dalam girih:
Kupu-kupu, Heksagon, Wajik, Segilima, dan Dekagon (segi-10)

(image credit: Wikimedia Commons)

Ubin-ubin itu lalu dikombinasikan hingga membentuk pola yang elegan. Pengubinan menurut girih harus menyeimbangkan antara dua hal: (1) bentuk ubin, dan (2) ornamen permukaan ubin.

Pembaca mungkin tidak yakin bagaimana ubin yang sederhana bisa membentuk pola yang rumit. Oleh karena itu, di bawah ini saya tampilkan contohnya.

[img] Girih comparison

Madrasah Al-Mustansiriyya di Baghdad

(gambar dari Lu & Steinhardt, 2007b)

Di sini terlihat bahwa kerumitan girih tereduksi jadi susunan ubin berpola. Pola-pola ubin itu lalu saling berinteraksi membentuk desain baru. Ternyata mereka bisa berkoordinasi dengan mantap!πŸ™‚

 
Skala Besar dan Kecil
 

Ada kalanya dalam dekorasi girih, terdapat bentuk yang muncul di skala besar maupun kecil. Satu contoh yang bagus adalah desain langit-langit di Mausoleum Hafez, di mana pola kembang segi-n tercipta pada — setidaknya — dua level perbesaran. (gambar di sini)

Hal itu tak lepas dari sifat geometri ubin girih. Pada dasarnya ubin-ubin girih dapat bergabung membentuk ubin yang lebih besar. Jadinya… agak mirip Voltron.πŸ˜† Bedanya, kalau Voltron membuat robot besar dari robot-robot kecil, yang ini hasilnya berbentuk ornamen.

[img] Girih tiles assembly

Ubin-ubin girih dapat — secara aproksimasi — bergabung membentuk ubin besar

(gambar dari Cromwell, 2008)

Menarik untuk dicatat bahwa tidak ada aturan baku membuat ubin besar dari ubin kecil. Sebuah dekagon, misalnya, dapat dibuat lewat kombinasi satu kupu-kupu + tiga heksagon. Demikian pula heksagon besar dapat diaproksimasi lewat empat heksagon kecil + empat wajik. Oleh karena itu komponen terkecil dari kombinasi skala besar selalu bisa dibagi lebih kecil lagi.πŸ˜€

Adapun untuk ilustrasi di atas, rumus komponennya adalah sebagai berikut:

  • 1 KUPU-KUPU besar = 14 HEKSAGON kecil + 14 KUPU-KUPU kecil + 6 DEKAGON kecil
  • 1 HEKSAGON besar = 32 HEKSAGON kecil + 22 KUPU-KUPU kecil + 6 DEKAGON kecil
  • 1 DEKAGON besar = 80 HEKSAGON kecil + 80 KUPU-KUPU kecil + 36 DEKAGON kecil
  •  
    Sifat Perulangan
     

    Yang juga menarik dari girih adalah kecenderungan yang terkait perulangan. Apabila pada ubin biasa polanya cenderung reguler, maka pola girih dapat bersifat reguler maupun irreguler.

    Pola irreguler girih sendiri muncul bukan karena diatur, melainkan sebagai dampak peletakan ubin. Meskipun ubin-ubinnya sama, jika diletakkan secara berbeda, maka menghasilkan regularitas yang berbeda.

    (secara matematika disebut sifat periodik dan aperiodik)

    Ilustrasi sifat periodik dan aperiodik girih dapat kita contohkan lewat foto. Yang pertama bersifat periodik. Perhatikan bahwa, jika ditelusuri mengikuti sumbu-x, ornamennya mengalami perulangan.

    [img] Isfahan Ornaments

    Masjid Jami Isfahan di Iran

    (photo credit: WADE Photo Archive: Pattern in Islamic Art)

    Namun sebaliknya dengan pola yang bersifat aperiodik. Ornamen yang semacam ini tidak mengalami perulangan jika ditelusuri. Misalnya foto di bawah ini. Boleh ditelusuri lewat sumbu-x, sumbu-y, atau malah diagonal. Enggak bakal sama persis seperti di foto sebelumnya.:mrgreen:

    [img] Isfahan Darb-i Imam

    Tampak muka Darb-i Imam di Isfahan

    (via Physics World)

     
    Penutup
     

    Namanya olah geometri, tentu tidak cuma ada di dunia Islam. Di Italia arsitektur Renaissance banyak bermain simetri; orang Jepang punya sangaku; di Irlandia ada Celtic Knot. Sementara orang Yunani Kuno memelopori ilmunya lewat teks geometri Euclid. Di sini kita lihat bahwa kesukaan “menggambar bentuk” itu bersifat universal.

    Pun demikian, sebagaimana sudah disebut di awal: berhubung sekarang suasana Lebaran, maka bolehlah yang dibahas geometri Islam. Ibaratnya untuk meramaikan suasana.

    Jadi, singkat cerita: selamat Lebaran! Tentunya bagi yang merayakan. Bagi yang tidak merayakan, selamat berlibur; bagi warga Jakarta yang tidak berlebaran dan tidak berlibur, selamat mendapatkan gubernur baru!πŸ˜€ Dan bagi yang tidak berlebaran, tidak berlibur, dan tidak tinggal di Jakarta, bolehlah bersyukur dapat presiden baru.

    Bagi yang tidak berlebaran, tidak berlibur, tidak tinggal di Jakarta, dan tidak mensyukuri presiden baru… well, semoga lekas bahagia kembali. Walaupun itu harusnya urusan masing-masing, sih.πŸ˜†

     

    ——

    Referensi:

     
    Cromwell, P.R. (2008). The Search for Quasi-Periodicity in Islamic 5-fold Ornament. The Mathematical Intelligencer, 31(1), 36-56

    Lu, P.J., & Steinhardt, P.J. (2007). Decagonal and Quasi-crystalline Tilings in Medieval Islamic
    Architecture. Science, 315, 1106-1110

    Lu, P.J., & Steinhardt, P.J. (2007). Supporting Online Material for Decagonal and Quasi-crystalline
    Tilings in Medieval Islamic Architecture. Diakses pada 29 Juli 2014, dari http://www.physics.princeton.edu/~steinh/peterlu_SOM7_sm.pdf

    2 responses to “Intermezzo: Girih dan Geometri Islam

    1. Kimi Juli 30, 2014 pukul 7:29 pm

      Halo, Sora! Mohon maaf lahir dan batin yaaa…πŸ˜€

    2. sora9n Agustus 1, 2014 pukul 9:15 am

      Halo juga mbak Kim.πŸ™‚

      Mohon maaf lahir dan batin yaaa…πŸ˜€

      Sama-sama, terima kasih. ^^

    Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: