ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Monthly Archives: Februari 2011

Sunday Music File: Loreena McKennitt, “The Book of Secrets” (1997)

Loreena McKennitt - The Book of Secrets

                • Album: The Book of Secrets
                • Musisi: Loreena McKennitt
                • Label: Warner Bros/Quinlan Road
                • Tahun: 1997

                Loreena McKennitt, penyanyi merangkap komposer berkebangsaan Kanada, boleh dibilang punya asal-usul bermusik yang khas. Sebagai putri pasangan berdarah Irlandia-Skotlandia, di masa mudanya ia tergugah mempelajari musik Celtic. Di kemudian hari pengaruh Celtic ini membuatnya jadi pemain harpa dan akordionis yang handal.

                Meskipun begitu, memasuki dekade 1990-an, ia mulai merambah elemen Timur Tengah dan memadukannya dengan background Celtic. Hasilnya? Sebuah fusion unik yang bisa dibilang “khas McKennitt” — irama dan instrumen khas padang pasir berkombinasi dengan Celtic folk. ๐Ÿ˜€

                Klik untuk melanjutkan »

                Hal-hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Anda Percaya Riset Statistik

                  Catatan: Semua data yang disajikan bersifat fiktif untuk kepentingan ilustrasi

                 

                Salah satu iklan yang menarik perhatian saya, kalau sedang nonton TV, adalah iklan shampoo Pantene. Iklan tersebut mempunyai slogan unik sebagai berikut: “Dalam pengujian tanpa memberitahu mereknya, 91% wanita hendak memakai lagi.”

                Sayangnya, walaupun sudah ngubek-ngubek YouTube, saya tidak berhasil menemukan videonya. Jadi, sebagai pengganti, berikut ini saya tampilkan iklan still image versi Bahasa Inggris. ๐Ÿ˜›

                pantene-iklan

                Balada gagal nyari di YouTube — tiada rotan, akar pun jadi

                Menariknya adalah bahwa iklan tersebut menyinggung dua elemen penting pengujian ilmiah, yakni statistik dan pengujian buta (blind test). Jadi bolehlah dibilang termasuk promosi yang berkualitas. :mrgreen:

                Meskipun begitu, yang namanya iklan, sudah pasti ada kepentingannya. Oleh karena itu pemirsa harus membacanya dengan agak skeptis. Memang benar itu data riset, akan tetapi, benarkah cuma segitu?

                Nah, tulisan kali ini bertujuan untuk mengenalkan beberapa konsep di balik penyajian statistik. Ada hal-hal yang perlu diketahui sebelum Anda terjebak mempercayai riset statistik, dan berikut ini adalah uraiannya. ๐Ÿ˜€

                Klik untuk melanjutkan »

                Karl Popper: Inovasi Tiada Henti

                Bukan, ini bukan tentang iklan sepeda motor yang sangat terkenal itu. Yang hendak dibicarakan di sini adalah dalil filsafat yang diungkapkan seorang filsuf terkenal. :mrgreen:

                Percayakah Anda kalau saya bilang slogan “Inovasi Tiada Henti” itu punya landasan yang paralel di bidang filsafat? ๐Ÿ˜‰

                Karl Popper

                Karl Popper (1902-1994). Bukan CEO Suzuki

                (via Wikipedia)

                Klik untuk melanjutkan »

                Review: “The Origin of Humankind” by Richard Leakey

                asal-usul manusia, richard leakey

                              • Judul: The Origin of Humankind (Indonesia: Asal-usul Manusia)
                              • Penulis: Richard Leakey
                              • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
                              • Tebal: 189 halaman
                              • Tahun: 2003

                              Klik untuk melanjutkan »

                              Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung

                              โ€œOrang bisa suka sekali suatu karya seni sampai bisa depresi, atau sangat bahagia, karena benda sialan buatan kita itu!โ€

                              — Richard Feynman
                              (dalam terjemahan Indonesia Surely You’re Joking, Mr. Feynman!, Penerbit Mizan, 2004)

                               

                              Awal mulanya sebenarnya tidak menarik: saya sedang mengecek e-mail, lalu terbaca pemberitahuan trackback dari tulisan barunya Pak Guru Geddoe. Di situ beliau menaut tulisan saya tentang Homo religiosus tempo hari. Oleh karena itu, sebagai blogger yang bertanggung jawab, sudah tentu saya memeriksa ada apa gerangan yang dibahas di sana. (=3=)

                              Dan ternyata… eh ternyata… yang dibahas adalah tentang sinetron! ๐Ÿ˜ฎ

                              poster-koin-pyd

                              Poster yang dipajang di blog tersebut. Homo sinetronosus?

                              Klik untuk melanjutkan »

                              Sunday Music File: Jean Michel Jarre, “Revolutions” (1988)

                              Jean Michel Jarre - Revolutions (album cover)

                                              Musisi: Jean Michel Jarre
                                              Album: Revolutions
                                              Label: Disques Dreyfus
                                              Tahun: 1988

                                            Apa yang terbayang tiap kali mendengar kata “Orkestra”? Kalau bagi saya, kata tersebut identik dengan serombongan musisi berbaju formal yang bermain di atas panggung. Di bawah arahan seorang konduktor, para musisi ini — dengan alat musik yang berbeda-beda — akan bergabung memainkan komposisi yang rumit. Di satu bagian ada yang memainkan piano; lalu ditingkahi oleh biola dan sebagainya. Boleh dibilang bahwa sebuah musik orkestra memiliki penyajian yang ‘wah’.

                                            Akan tetapi, lain halnya dengan pendapat Jean Michel Jarre. Ia adalah musisi dengan pengaruh klasik yang kuat. Ayahnya sendiri, Maurice Jarre, seorang komposer pemenang Academy Awards.[1] Meskipun begitu Jean Michel punya jalannya sendiri. Apabila sang ayah menyalurkan jiwa klasik lewat orkestra tradisional, maka sang putra sebaliknya. Ia mengekspresikan gaya klasik orkestra lewat synthesizer. ๐Ÿ˜€

                                            Klik untuk melanjutkan »

                                            Ada Berapa Banyak Agama di Dunia Ini? (Sebuah Renungan Filosofis)

                                              Catatan: Ditulis oleh seorang pemikir bebas berhaluan agnostik (Skala Dawkins 4, if that helps ๐Ÿ˜‰ )

                                             

                                            Ada sebuah pertanyaan yang pertama kali terlintas bertahun-tahun lalu, kurang lebih ketika saya masih SMA. Waktu itu saya bertanya dalam hati seperti ini: “Sebenarnya, ada berapa banyak agama di dunia ini?”

                                            Sebenarnya ada cerita di balik munculnya pertanyaan di atas. Gara-garanya waktu itu, saya baru selesai membaca buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Ini buku menarik yang mengetengahkan tentang sejarah perjalanan agama-agama di dunia — terutama agama Abrahamik seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Boleh dibilang bahwa buku ini mengenalkan saya pada macam-ragam keyakinan pada Tuhan yang ada di dunia.

                                            Perkara perbedaan agama sendiri bukan hal yang asing bagi saya. Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan multikultur pinggiran Jakarta, saya terbiasa melihat agama dan keyakinan yang berbeda. Teman-teman SD saya dulu boleh dibilang mewakili berbagai agama di Indonesia. Yang Katolik ada; Protestan ada; Hindu juga ada. Mengenai Islam tentu tak usah ditanya — sebagaimana bisa ditebak, statusnya bersifat mayoritas di wilayah tersebut.

                                            Klik untuk melanjutkan »

                                            Soundscape Engineering

                                            Waktu masih kuliah dulu, salah satu bidang keahlian yang tersedia di jurusan saya adalah Fisika Bangunan. Boleh dibilang bahwa ini pekerjaan teknik yang bersilangan dengan arsitektur. Apabila arsitek merancang bangunan secara garis besar — semisal tata ruang dan eksterior — maka insinyur Fisika Bangunan membahas aspek fisika dari bangunan tersebut. Sebagai contoh di antaranya adalah properti akustik dan pencahayaan.

                                            MIT Kresge Auditorium

                                            Bagaimana caranya supaya auditorium menghasilkan kualitas musik yang optimal?

                                            (via Wikimedia Commons)

                                            Sebagaimana umum diketahui, kualitas pencahayaan (lighting) dan akustik berperan besar dalam mengatur suasana. Sebuah kafe yang bagus, misalnya, tidak akan memasang lampu neon putih 40-watt di ruang pengunjung. Begitu pula dengan auditorium dan teater — akustiknya harus diatur sedemikian rupa agar pengunjung merasakan suasana yang ‘wah’. ๐Ÿ™‚ Boleh dibilang bahwa Fisika Bangunan berurusan dengan “bagaimana mengoptimalkan aspek fisika dalam ruangan”.

                                            Nah, yang hendak dibicarakan di tulisan ini adalah sekilas tentang sisi akustik bangunan. Melalui prinsip-prinsip fisika seperti pemantulan, penyerapan, dan difusi, para ahli berusaha mendesain agar suatu ruang memiliki kualitas akustik yang mumpuni.

                                            Klik untuk melanjutkan »

                                            Sunday Music File: Various Artists, “Allez! Ola! Ole!” (1998)

                                            Allez! Ola! Ole! - album cover

                                             

                                                            Musisi: (various)
                                                            Album: Music of The World Cup: Allez! Ola! Ole!
                                                            Label: Sony BMG
                                                            Tahun: 1998

                                                          Saya pertama kali tahu album ini sekitar 13 tahun silam; di tengah-tengah berlangsungnya Piala Dunia 1998 di Prancis. Sebenarnya ini hal yang wajar — namanya ada acara besar, sudah tentu produk pengiringnya ikut dipromosikan. Mulai dari iklan terang-terangan sampai penggunaan lagu di acara highlight dan kuis. Oleh karena itu, tidak aneh kalau banyak orang jadi familiar dengan isi albumnya. ๐Ÿ˜›

                                                          Klik untuk melanjutkan »

                                                          Plato dan Gua (alias: Menanam Kerendahan Hati Intelektual)

                                                          Secara kebetulan melanjutkan tema Yunani Kuno. Setelah minggu lalu Zeno, sekarang Plato. ๐Ÿ˜›

                                                           

                                                          Barangkali kalau boleh dibilang, Plato (428-348 SM) adalah filsuf Yunani Kuno yang paling terkenal. Lewat karya besar seperti Republik dan berbagai dialog gagasannya membentuk fondasi peradaban Barat. Mulai dari bidang pemerintahan, etika, hingga ilmu logika, semua tak lepas dari pengaruh pemikirannya.

                                                          Plato sebagaimana digambarkan dalam sebuah lukisan Renaissance

                                                          (courtesy of Wikipedia)

                                                          Layaknya filsuf Yunani sezamannya, Plato sering menggunakan analogi dan ilustrasi untuk menjelaskan ide-idenya. Tujuannya tentu supaya orang lebih mudah memahami maksudnya. Lewat analogi dan ilustrasi inilah orang-orang awam — yang tidak terlatih ilmu filsafat — dapat membayangkan argumen Plato.

                                                          Klik untuk melanjutkan »