ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Masa Kejayaan dengan Banyak Pengaruh

Beberapa waktu sekali, jika sedang ngobrol dengan teman yang Muslim konservatif, muncul topik tentang “masa keemasan Islam”. Bukan berarti mereka radikal, sih — orangnya moderat saja, namun karena satu dan lain hal merasa punya identitas keagamaan yang kuat. Jadinya suka berkaca dan membandingkan dengan masa lalu.

Permasalahannya tentu, apakah klaim “masa keemasan” itu valid atau tidak? Nah ini yang perlu ditelusuri. Periode yang dimaksud adalah sekitar abad ke-9 hingga 12 Masehi, di mana kekuasaan Khilafah Abbasiyah mencapai puncaknya, dan menghasilkan kemajuan sains, teknologi, dan budaya.

Kaum Muslim yang religius, apalagi yang jarang baca sejarah, biasanya gampang terpancing klaim di atas. Seolah-olah semua kejayaan itu berasal murni dari Islam; tidak ada sumbangan kebudayaan lain. Kenyataan sebenarnya agak lebih rumit. Sebagaimana pernah diuraikan dalam posting tentang alkimia zaman dulu: warisan ilmiah Islam merupakan campur-baur Yunani, Romawi, India, dan Persia.

Oleh karena itu, sebagai orang yang kebetulan cukup sering baca tentang sejarah ilmu, ada baiknya kalau saya berbagi sedikit lewat posting ini. Di satu sisi, betul bahwa Islam Abbasiyah mempunyai kemajuan ilmiah yang mumpuni. Namun di sisi lain kemajuan itu dibangun oleh kontribusi lintas bangsa dan budaya.

 
Awal Mula: “Simpang Intelektual” di Mesopotamia
 

Pada tahun 762 Masehi, Khalifah Jafar Al-Mansur memindahkan ibukota pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad. Peristiwa ini penting sebab dia sedang berusaha mendirikan dinasti baru, Abbasiyah, jauh dari pengaruh lawan politik dari Dinasti Umayyah.

Masalahnya Al-Mansur naik tahta dengan berdarah-darah. Banyak fitnah, banyak pembunuhan, termasuk di antaranya yang berbau sektarian. Biarpun Damaskus kota besar namun mereka penuh loyalis Umayyah. Bisa dimengerti mengapa Al-Mansur memilih menjauh.

Al-Mansur mungkin tidak menyadari, namun lokasi ibukota yang baru sangat kondusif untuk perkembangan ilmu. Posisi Baghdad di antara sungai Tigris dan Eufrat mempertemukan pengaruh empat budaya, yaitu:

  1. Persia,
  2. Romawi Timur (Byzantium),
  3. India,
  4. Tiongkok

 
Pertemuan itu difasilitasi oleh jalur dagang yang ramai di Asia Barat, yang petanya bisa dilihat sebagai berikut.

[img] Rute dagang Islam Abbasiyah

Jalur perdagangan di era Abbasiyah

(image credit: Pearson Education)

Persilangan budaya inilah yang kemudian membawa dampak besar ke dunia Islam.

Persia dengan tradisi filsafatnya yang panjang menginspirasi pemikiran Islam yang lebih luwes dan dialektik. Di kemudian hari akan menyumbang tokoh-tokoh besar seperti Umar Khayyam, Ibnu Sina, dan Al-Biruni.

Romawi Timur, atau sering disebut Byzantium, kadang dianggap sebagai musuh. Namun interaksi dengan mereka akan memerantarai masuknya tradisi ilmiah Yunani-Romawi ke tanah Arab. (Soal ini dibahas lebih detail di bawah)

India terkenal dengan kemajuan di bidang matematika dan trigonometri, namun yang terpenting ada dua: sistem basis-10 dan angka nol. Dapat dibilang bahwa ilmu matematika Abbasiyah berdiri di atas landasan mereka. Kemajuan matematika Islam ibaratnya “anak kandung” dari India.

Adapun dari Tiongkok bangsa Arab mendapatkan teknologi penciptaan kertas. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 751 M. Adanya kertas memudahkan pengopian dan penerjemahan naskah-naskah ilmiah dari berbagai penjuru, yang kemudian dikumpulkan dalam perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad.

Tentunya yang di atas itu adalah ringkasan, dan banyak melewatkan detail. Namun kiranya cukup menunjukkan: bahwa peletakan ibukota Baghdad membawa keuntungan besar tersendiri.

Sekarang kita akan masuk pada topik yang lebih khusus, yaitu masuknya ilmu dari Byzantium.

 
Peran Kristen Nestorian
 

Uniknya, biarpun sering disebut “Peradaban Islam”, inspirasi terbesar Abbasiyah di dunia ilmu diperantarai oleh pemeluk agama Kristen. Atau lebih tepatnya: pemeluk Kristen Nestorian yang tinggal dekat Baghdad.

Mengenai kelompok ini ada baiknya diperkenalkan. Mereka adalah minoritas religius yang cukup terpelajar. Aslinya mereka dari Byzantium, namun karena perpecahan agama terpaksa mengungsi ke wilayah Persia.

Kehadiran pemeluk Kristen Nestorian bersifat kunci dalam pembahasan kita. Merekalah yang membawa pengetahuan Byzantium ke tanah Arab, dan kelak, memperkenalkannya ke dunia Islam.

[img] Konsili Ephesus (431)

Konsili Ephesus (431) yang melarang agama Kristen Nestorian.
Kaum Muslim secara tidak langsung berhutang pada peristiwa ini.

(image credit: Philippe Alès @ Wikimedia Commons)

Komunitas Kristen Nestorian terkenal sebagai penghasil dokter. Banyak anggotanya bertugas di istana bangsawan, termasuk di antaranya (kelak) jadi dokter pribadi Al-Mansur. Hal itu karena perpustakaan mereka mengandung banyak materi ilmu kesehatan Yunani, sebagai contoh karya Hipokrates dan Galen.

Pertanyaannya sekarang: seluas apa literatur yang dimiliki Kristen Nestorian? Sayangnya tidak begitu jelas. Meskipun begitu kita bisa menalar bahwa setidaknya terdapat beberapa karya matematika. Tak lama sesudah Al-Mansur naik tahta, dia mendapat terjemahan buku Elements karya Euclid. (Gutas, 1998, hlm. 30-31)

Barangkali bisa dibilang ini salah satu momen paling menentukan. Terjemahan buku Yunani milik Al-Mansur menunjukkan satu hal: bahwa literatur Yunani dapat diterjemahkan ke bahasa Arab.

Kaum Kristen Nestorian tidak dapat berbahasa Arab: apabila menerjemahkan hanya ke dalam bahasa Syriac. Namun di dataran Persia terdapat banyak orang Arab yang bisa berbahasa Syriac. Orang-orang inilah yang kemudian menghantarkan berbagai literatur Yunani ke dalam bahasa Arab.

Dan dengan demikian…

…dimulailah sebuah ombak besar menerjang dunia Arab. Buku-buku karya Euclid, Aristoteles, dan Ptolemaeus kini mengisi pemikiran Muslim. Dua peradaban yang terpisah ratusan tahun mulai berkombinasi!😯

[img] Euclid's Elements (Arab Manuscript)

Terjemahan Arab buku “Elements”

(image credit: Don Skemer @ Princeton University Library)

Bisa ditebak, arus penerjemahan itu merangsang dunia Islam. Untuk pertama kalinya mereka berkenalan dengan pengetahuan Yunani. Ibarat anak kecil diberi permen, mereka penasaran dan ingin lebih. Bagaimana kalau semua karya Yunani diterjemahkan ke bahasa Arab?

Di sinilah awal munculnya sebuah proyek. Dinasti Abbasiyah akan memfasilitasi penerjemahan skala besar: tidak tanggung-tanggung, selama dua abad dengan dukungan pemerintah.

 
Penerjemahan Abbasiyah: Lintas Agama, Kultur, Etnis
 

Orang di zaman modern biasanya menganggap politisi berpikiran sempit, malas belajar, dan tidak berilmu. Terdapat kesan bahwa politik dan intelektualitas bertolak belakang. Pun demikian, itu tidak berlaku untuk Khalifah Al-Mansur.

Bertahta di Baghdad di usia 48 tahun, Al-Mansur adalah pemimpin yang respek pada dunia ilmu. Minat utamanya adalah literatur Yunani, meskipun demikian dia juga hormat pada Persia dan India. Di bawah kekuasaannya dia memprakarsai penerjemahan buku dari berbagai negeri.

Mulai dari tabel astronomi India, kisah hikayat Persia, hingga risalah astronomi Ptolemaeus tak lepas dari pengejarannya. Begitu cintanya Al-Mansur pada buku, sedemikian hingga dia pernah meminta langsung kepada Kaisar Byzantium. (Gutas, 1998, hlm. 32)

Visi besar Al-Mansur dilanjutkan oleh penerusnya, Al-Mahdi, dan akan terus berlangsung sampai abad ke-11. Perlahan tapi pasti buku-buku asing diterjemahkan, direvisi, dan dikomentari. Rangkaian aktivitas ini adalah tulang punggung kehidupan ilmiah di Baghdad.

* * *

Menariknya, biarpun pemerintahnya teokratis, proyek penerjemahan Abbasiyah sangatlah kosmopolitan. Tidak ada ketentuan bahwa yang bekerja cuma boleh Muslim atau Arab. Sangat banyak tokoh yang beragama Kristen, Yahudi, atau bahkan pagan (!).

Penerjemah yang paling terkenal misalnya Hunayn bin Ishaq (w. 873 M). Dia adalah seorang dokter Arab beragama Kristen. Lewat kerja kerasnya Hunayn menerjemahkan 34 jilid karya Galen, 15 jilid Hipokrates, di samping beberapa karya filsafat Plato dan Aristoteles.

Anak laki-laki Hunayn, Ishaq bin Hunayn bin Ishaq (w. 901), lebih fokus pada karya non-kedokteran. Dari tangannya muncul versi Arab Elements dan Almagest — karya besar Euclid dan Ptolemaeus. Ishaq juga banyak menerjemahkan karya Aristoteles.

Al-Kindi, seorang Muslim yang belakangan menjadi filsuf, menerjemahkan dan mengomentari filsafat Aristoteles. Dia sezaman dengan tiga bersaudara Banu Musa yang menerjemahkan teks astronomi. Hanya saja karena masalah politik mereka bermusuhan dengan Al-Kindi.

Thabit Ibn Qurra adalah seorang pagan dari Irak. Dia tidak percaya agama Islam, Kristen, ataupun Yahudi, namun tidak menghambat dia berkontribusi. Bidang kerjanya adalah manuskrip matematika dan astronomi — termasuk di antaranya karya Archimedes.

Dan masih banyak sosok lainnya, sebagai contoh Sahl Ibn Rabban (beragama Yahudi) dan Yahya bin ‘Adi Al-Mantiqi (Kristen Nestorian). Lebih jauh mengenai para penerjemah dapat dibaca dalam O’Leary (1949).

Di sinilah kita melihat bahwa masuknya ilmu pengetahuan ke dunia Islam — sejatinya — merupakan kerjasama lintas batas. Sebagaimana bisa dilihat latar belakang penerjemahnya macam-macam. Agamanya berbeda, asal sukunya berbeda, bidang ilmunya pun beragam. Meskipun demikian hal itu tidak menghambat mereka bekerjasama.

 
Berdiri di Atas Bahu Raksasa
 

Seiring dengan maraknya penerjemahan, output ilmiah dunia Islam ikut terangkat. Para ilmuwan tidak lagi harus meraba-raba di tingkat rendah. Dalam waktu singkat mereka mendapat warisan ilmu tiga bangsa: Yunani, India, dan Persia.

Nah, di sinilah terjadinya kemajuan sains yang sangat terkenal. Beberapa contohnya sebagai berikut.

Di bidang matematika, Al-Khwarizmi meneliti sifat matematika angka India dan mengembangkannya. Karya pertamanya, Kitab al-Jam wal Tafriq bi Hisab al-Hind, dalam bahasa Indonesia berarti “Buku Tambah-Kurang berdasarkan Perhitungan Hindu”. Al-Khwarizmi menjelaskan beberapa terobosan:

  • penggunaan angka 1-9 beserta lingkaran sebagai angka nol,
  • metode operasi penjumlahan dan pengurangan,
  • metode operasi perkalian dan pembagian,
  • metode operasi menghitung akar
  •  
    (Katz, 2008, hlm. 268)

Inovasi Al-Khwarizmi memberinya ketenaran di Arab dan Eropa. Teknik perhitungan yang runtut membuat namanya diasosiasikan, dan di masa kini menjadi kata “algoritma”.

Selesai dengan angka India Al-Khwarizmi lalu mengembangkan konsep “aljabar”. Dia berkutat dengan pertanyaan berikut, bagaimana cara mencari akar persamaan kuadrat? (Tidak kita bahas di sini)

[img] Al-Khwarizmi statue at Khiva, Uzbekistan

Al-Khwarizmi (c. 780-850)

(image credit: Theodore Liebersfeld @ Flickr)

Bergeser ke bidang astronomi, terdapat sosok bernama Al-Battani. Terinspirasi oleh Almagest karya Ptolemaeus, dia menciptakan (antara lain) katalog bintang dan tabel pergerakan benda angkasa. Kualitas kerjanya sangat masyhur, sedemikian hingga diperbincangkan oleh Copernicus dan Kepler. (Lindberg, 2007, hlm. 177-180)

Sementara itu Ibnu Haytham dan Nasiruddin Al-Tusi merasa model angkasa dalam Almagest kurang akurat. Mereka lalu berusaha membuat penyempurnaan lewat — salah satunya — modifikasi episiklus. Mirip dengan Al-Battani karya mereka juga masyhur sampai Eropa.

Di bidang kesehatan hampir semua tokoh Muslim membaca karya Galen, dokter besar peradaban Romawi. Berangkat dari situlah mereka membuat penemuan. Ibnu Al-Nafis menjelaskan peredaran darah di paru-paru. Al-Zahrawi mengembangkan teknik dan peralatan bedah. Sementara untuk kesehatan umum tokoh besarnya adalah Ibnu Sina dan Al-Razi.

Dan tentunya masih banyak yang belum disebut. Meskipun demikian karena keterbatasan ruang terpaksa kita tinggalkan.

* * *

Melalui uraian di atas, jadi terlihat sebuah pola. Bahwasanya penemuan para tokoh Muslim tidak muncul dari nol, melainkan berangkat dari literatur asing. Baru sesudah literaturnya diterjemahkan mereka “lepas landas” — menghasilkan kemajuan yang fenomenal.

Inilah yang disebut Isaac Newton sebagai “berdiri di atas bahu raksasa”. Seiring jalannya waktu ilmu pengetahuan manusia berakumulasi. Untuk melangkah maju tidak bisa hanya bergantung diri sendiri. Harus mau terbuka dan menerima!🙂

Sebagaimana bisa dilihat, kesuksesan Islam Abbasiyah ditunjang oleh kerjasama lintas budaya. Baik pada level penerjemahan maupun penelitian. Islam menjadi besar bukan karena menutup diri, apalagi menolak yang berbeda. Islam menjadi besar karena mau menyerap dan mengakui budaya lain.

Pada akhirnya penemuan ilmiah sehebat apapun tidak muncul dalam vakum. Selalu ada fondasi yang dipakai — dan itu yang harus dihargai serta diakui.

 
Penutup
 

Pada tahun 1258, setelah bertahun-tahun dilanda perpecahan, Khilafah Abbasiyah tumbang oleh Mongol. Hampir seluruh kota Baghdad rata dan perpustakaannya dihancurkan. Sebagian penakluk Mongol kelak masuk Islam dan merekonstruksi, meskipun begitu kerusakan sudah terjadi.

Barangkali terkesan bahwa inilah tamatnya kemajuan Islam. Sebenarnya tidak juga. Sesudah Baghdad jatuh pusat pemikiran Muslim akan bergeser ke Mesir dan Andalus. Akan tetapi namanya kultur intelektual, dia tak bisa dipindah. Runtuhnya Abbasiyah menandai akhir rezim yang proaktif di bidang ilmu.

Ibaratnya tak ada lagi political will yang mendukung dunia riset. Para ilmuwan Muslim masih akan berkarya — namun dengan jumlah dan intensitas lebih kecil.

Dipandang seperti ini, kita melihat bahwa kesuksesan Islam Abbasiyah bukan sesuatu yang ajaib atau eksklusif. Dia terwujud lewat kombinasi berbagai hal: dukungan pemerintah, lokasi strategis, hingga interaksi antar budaya. Yang juga perlu digarisbawahi adalah semangat kosmopolitan di dalamnya. Mulai dari Arab sampai Persia, India sampai Yunani, bahkan penganut Kristen dan Yahudi — berbagai elemen itu berkontribusi dengan harmonis.

Islam Abbasiyah, pada akhirnya, bisa maju bukan karena membatasi “segala-gala mesti Islam atau Arab”. Justru sebaliknya: Islam Abbasiyah bisa maju karena sumbangan berbagai pihak. Ini dia detail yang sering terlewat.

Alhasil, justru meleset kalau orang membangga-banggakan diri: “Peradaban Islam, hebat semua! Lihat saja abad 9-12 Masehi.” Sementara kenyataannya… ya, begitu deh…😆

 

 
——

Pustaka:

 
Gutas, D. (1998). Greek Thought, Arabic Culture. New York: Routledge

Katz, V.J. (2008). A History of Mathematics: An Introduction (3rd ed.). Boston, MA: Addison-Wesley

Lindberg, C.D. (2007). The Beginnings of Western Science (2nd ed.). Chicago: Chicago University Press

O’Leary, D.L.E. (1949). How Greek Science Passed to the Arabs. London: Routledge & Kegan Paul

Saunders, J.J. (1965). A History of Medieval Islam. London: Routledge & Kegan Paul

Schlager, N., & Lauer, J. (Eds.). (2001). Science and Its Times: Understanding the Social Significance of Scientific Discovery, Volume 2: 700-1449. Farmington Hills, MI: Gale Group

14 responses to “Masa Kejayaan dengan Banyak Pengaruh

  1. daddymisswar April 15, 2015 pukul 3:51 pm

    Peradaban Islam, hebat semua! Lihat saja abad 9-12 Masehi. Oleh karena itu kita harus kembali kepada ajaran islam yang kaffah menurut pemahaman bla bla bla dst

    /endofciclejerk

    Ujung-ujungnya ya seperti itu. Sebagian umat islam mengira agama islam sudah siap pakai dan tinggal diterapkan saja lalu jreng…jreng… umat islam pasti maju. padahal pada masa itulah agama islam, yang didalamnya memuat sistem teologi, fikih, pemerintahan, dan lain sebagainya sedang dikembangkan. Banyak terjadi perdebatan dan dari situlah muncul banyak aliran pemikiran.

    Kebetulan saya nemu podcast bagus ( dan gratis🙂 ) tentang perkembangan dan sejarah filsafat barat. Perkembangan filsafat islam juga dibahas disitu. Toh, filsafat islam itu juga dimasukan dalam kategori “western philosophy” . silahkan akses di http://www.historyofphilosophy.net/islamic-world

  2. Aris April 15, 2015 pukul 4:59 pm

    Ada beberapa poin kecil yang perlu saya sanggah.

    Saya sebagai seorang Muslim menolak, konklusi bahwa Islam berhutang pada filsafat Persia, dan Yunani. *ini kita ambil dari sisi filsafat dulu*

    Dalam tradisi intelektual/filsafat Islam ada istilah hikmah, yang tidak ada dalam filsafat Persia maupun Yunani. Alparslan Açıkgenç mengemukakan:

    Hikmah was understood as knowledge derived rationally from a Revealed Source, as such it is both ‘ilm and fiqh at once, but different from independent speculation […]

    Konsep-konsep primer dalam al-Qur’an tentang penciptaan, alam semesta, manusia, ilmu/kalam/ra’yu, etika, kebahagiaan, fiqih, dll, adalah konsep-konsep asas dalam memahami realitas dan kebenaran. Semua itu dalam tradisi intelektual Islam tergolong dalam apa yang disebut hikmah. Sehingga sangat jelas, bahwa dalam Islam tradisi berpikir filosofis sudah ada jauh sebelum berinteraksi dengan tradisi Persia/Yunani.😎

    Maka, mengaitkan filsafat Islam dengan filsafat Persia/Yunani adalah jauh dari benar. Sumber pemikiran para pemikir Muslim yang asli adalah Al-Qur’an dan Hadits. Persia dan Yunani hanya memberi dorongan dan membuka jalan untuknya. Namun dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam semesta, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam filsafat Persia maupun Yunani😎

    Memang, tidak bisa dinafikan akan adanya hubungan antara filsasat Islam dan Yunani, namun, dari hasil hubungan tersebut (berkaca dari fakta sejarah), rasanya bisa ditamsilkan, bahwa pemikiran Islam adalah sebagai sebuah “kain”, sedangkan pemikiran Persia dan Yunani sebagai “sulaman”. Di sini, kita akan sepakat, bahwa kendati sulaman tersebut terbuat dari emas, kita tidak bisa menganggap sulaman tersebut sebagai kain😉

    Apa artinya? Artinya meskipun di dalam filsafat Islam terdapat unsur-unsur Persia/Yunani, tetapi filsafat Islam bukanlah filsafat Persia maupun Yunani, sebagaimana filsafat Barat yang juga mengandung unsur Yunani, Islam dan Kristen, namun tetap saja disebut sebagai filsafat Barat, dan dikaji menurut framework Barat😉

    O iya, satu lagi ;P

    Hasil-hasil gerakan penerjemahan kolosal di zaman Abbassiyah memiliki arti penting bagi dunia Barat, dan khususnya Renaissance-nya. Kenapa? Sebab, dengan adanya genosida besar-besaran dari karya-karya peradaban Abad Awal oleh Gereja™ pada masa Abad Pertengahan, maka yang tersisa hanyalah salinan manuskrip-manuskrip yang dimiliki oleh kaum Muslimin. Skip skip skip, karya-karya tersebut lalu diterjemahkan kembali dari bahasa Arab hasil Kebudayaan Islam masa Abbassiyah, dan menjadi sebab lahirnya Renaissance.

    So, kedudukan di sini jadi berbalik bisa dibilang, bahwa tidak musnahnya peradaban Yunani dan kelahirannya kembali pada masa Renaissance, sangat sangat sangat berhutang besar, kepada dunia Islam.😉

    []

    Pustaka:

    Açıkgenç, Alparslan. (1994). A Concept of Philosophy in the Qur’anic Context. New York: American Journal of Islamic Social Sciences
    ———————–. (1997). The Emergence of Scientific Tradition in Islam. Liège, Belgium: Proceedings of the Congress
    Ghulam Ahmad, Mirza. (1880). al-Barāhīn al-Ahmadīyyah ‘alā Haqīqatu Kitābullāh al-Qur’ān wa’n-Nabūwwatu al-Muhammadīyyah. Punjab: Safir e Hind

  3. daddymisswar April 15, 2015 pukul 5:58 pm

    –Dalam tradisi intelektual/filsafat Islam ada istilah hikmah, yang tidak ada dalam filsafat Persia maupun Yunani.–

    dualistic cosmology ( http://en.wikipedia.org/wiki/Dualistic_cosmology ) tidak ada dalam islam karena berasal dari filsafat Iran atau platonic form ( http://en.wikipedia.org/wiki/Platonic_realism ) tidak ada dalam islam karena berasal dari filsafat yunani.
    Agama Yahudi dan kristen juga meng-klaim berasal dari “Revealed Source”
    Apakah lantas islam itu “unik” hanya karena mempunyai hikmah?

    –Konsep-konsep primer dalam al-Qur’an tentang penciptaan, alam semesta, manusia, ilmu/kalam/ra’yu, etika, kebahagiaan, fiqih, dll, adalah konsep-konsep asas dalam memahami realitas dan kebenaran–

    Bagaimana cara umat islam memahami konsep-konsep primer tersebut? Siapakah yang berwenang dalam menterjemahkan konsep tersebut dari Al-Quran? Sejelas-jelasnya firman dalam Al-Quran, Ia tetap membutuhkan kerangka berfikir untuk menterjemahkannya.
    Averroes menggunakan filsafat aristoteles untuk memahami konsep-konsep tersebut. Al-Ghazali menggunakan metodenya sendiri dan berhasil mengubah arah perjalanan filsafat islam.

    –Semua itu dalam tradisi intelektual Islam tergolong dalam apa yang disebut hikmah. Sehingga sangat jelas, bahwa dalam Islam tradisi berpikir filosofis sudah ada jauh sebelum berinteraksi dengan tradisi Persia/Yunani–

    Tradisi berfikir filosofis dalam Islam bisa dibilang dimulai dari kaum mu’tazilah. lalu anda mengambil kesimpulan :

    –Maka, mengaitkan filsafat Islam dengan filsafat Persia/Yunani adalah jauh dari benar–

    Filsafat Islam yang mana? Averroes jelas tidak setuju. Ibnu Sina apalagi. Al-Ghazali jelas setuju. Ibnu Taymiyyah apalagi.

    –Sumber pemikiran para pemikir Muslim yang asli adalah Al-Qur’an dan Hadits–

    Tapi metodologinya dari mana? seperti yang saya sebutkan tadi, ada banyak metodologi dalam memahami Quran dan hadist.

    –rasanya bisa ditamsilkan, bahwa pemikiran Islam adalah sebagai sebuah “kain”, sedangkan pemikiran Persia dan Yunani sebagai “sulaman”. Di sini, kita akan sepakat, bahwa kendati sulaman tersebut terbuat dari emas, kita tidak bisa menganggap sulaman tersebut sebagai kain–

    Lantas Islam yang dipahami dengan metodologi Persia dan Yunani itu bukan Islam yang sejati dan benar? Begitu menurut anda?

    –Sebab, dengan adanya genosida besar-besaran dari karya-karya peradaban Abad Awal oleh Gereja™ pada masa Abad Pertengahan–

    Bisa minta sumber informasi tersebut?

    Sumber :

    http://www.iep.utm.edu/ibnrushd/
    http://www.iep.utm.edu/avicenna/
    http://historyofphilosophy.net/mutazilites

    N.B : Mohon maaf kalau format komentar saya berantakan. Saya masih awam dalam menggunakan wordpress.

  4. sora9n April 15, 2015 pukul 6:15 pm

    @ daddymisswar

    Sebagian umat islam mengira agama islam sudah siap pakai dan tinggal diterapkan saja lalu jreng…jreng… umat islam pasti maju. padahal pada masa itulah agama islam, yang didalamnya memuat sistem teologi, fikih, pemerintahan, dan lain sebagainya sedang dikembangkan. Banyak terjadi perdebatan dan dari situlah muncul banyak aliran pemikiran.

    Betul. Ini juga (lagi-lagi) detail yang sering terlewat. Bahkan di zaman itu tidak semua cendekiawan muslim seiring-sejalan. Banyak juga yang bentrok/saling menjatuhkan.

    Lha wong Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali saja sempat ribut, kok. Padahal dua-duanya tokoh besar yang dihargai di zaman modern.😆

    http://www.historyofphilosophy.net/islamic-world

    Wah bagus! Terima kasih sharing-nya. ^^b

    BTW, sekilas lihat; salah satu pembicaranya Dimitri Gutas. Bukunya bagus-bagus. Salah satunya saya pakai menulis posting di atas.🙂

    Toh, filsafat islam itu juga dimasukan dalam kategori “western philosophy” .

    Nah ini. Rada ironis sebab banyak kaum Muslim mendikotomikan “Barat” vs. “Islam”. Padahal aslinya mereka saling menginspirasi.

    Ibnu Rusyd itu Aristotelian. Ibnu Sina Neoplatonik. Kemudian tulisan mereka sampai Eropa dan mewarnai Renaissance. (“Averroism”, “Avicennism”)

    Jadinya bikin heran. Untuk ukuran dua kelompok yang sering ribut, justru “Islam” dan “Barat” dalam sejarahnya saling melengkapi. Gimana ini?😆

  5. sora9n April 15, 2015 pukul 6:16 pm

    @ Aris

    Saya sebagai seorang Muslim menolak, konklusi bahwa Islam berhutang pada filsafat Persia, dan Yunani. *ini kita ambil dari sisi filsafat dulu*

    Silakan diteruskan. ^^

    Dalam tradisi intelektual/filsafat Islam ada istilah hikmah, yang tidak ada dalam filsafat Persia maupun Yunani.

    Hikmah was understood as knowledge derived rationally from a Revealed Source, as such it is both ‘ilm and fiqh at once, but different from independent speculation […]

    Ya, kalau yang dicetak tebal itu sih, jelas saja cuma ada di Agama Wahyu (revealed religion), misal: Islam/Kristen/Yahudi. Sebab memang agamanya berdasar pada kitab. Sementara tradisi Yunani tidak punya kitab suci — mereka lebih ke arah “pemikir bebas”.

    Dalam hal ini para pemikir Yunani Kuno lebih cocok dibandingkan dengan (misalnya) Nabi Ibrahim. Sama-sama tidak punya kitab, namun berusaha mencari “Sang Tunggal” lewat pemikiran.

    Kalau masnya sempat, saya sarankan mencari tahu Xenophanes dan Parmenides. Mereka semacam monoteis Yunani generasi awal — boleh dibilang punya ciri-ciri hanif.🙂

    Sehingga sangat jelas, bahwa dalam Islam tradisi berpikir filosofis sudah ada jauh sebelum berinteraksi dengan tradisi Persia/Yunani.😎

    Mmm… tapi orang Persia sudah ada di sekitar Arab sejak jauh sebelum Islam, loh. Apa bukan tidak mungkin setelah Islam turun para penganutnya menyerap tradisi Persia?🙂

    Dan kalau kita ingat, ada hadis sewaktu Nabi Muhammad memuji intelektualitas orang Persia. “Seandainya agama itu berada pada gugusan bintang yang bernama Tsuraya niscaya salah seorang dari Persia atau dari putra-putra Persia akan pergi ke sana untuk mendapatkannya.” (Shahih Muslim No. 4618 6177; sori tadi salah — baru dicek)

    Tentunya bukan berarti seluruh filsafat Islam bersumber dari Persia. Namun ada indikasi mereka berpengaruh besar.

    Namun dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam semesta, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam filsafat Persia maupun Yunani😎

    Ah, ini masalah kalam versus rasio. Memang sering terjadi dalam sejarah filsafat Islam. Apakah bisa mencapai Tuhan lewat filsafat, atau mesti bersandar pada Wahyu? Masing-masing kubu punya pendiriannya…

    rasanya bisa ditamsilkan, bahwa pemikiran Islam adalah sebagai sebuah “kain”, sedangkan pemikiran Persia dan Yunani sebagai “sulaman”

    Eh, tergantung. “Pemikiran Islam” di sini dipandang dari kubu mana? Atau lebih tepatnya: mau melibatkan tokoh yang mana?:mrgreen:

    Ibnu Sina itu penganut Neoplatonisme. Ibnu Rusyd, Aristotelian. Sementara Ibnu Arabi beda lagi: dia menyandingkan filsafat, Sufisme, dan kalam sekaligus.

    IMHO, kita harus ingat bahwa “Pemikiran Islam” itu tidak pernah monolitik. Variasinya banyak — bahkan sampai ke zaman modern.

    Apa artinya? Artinya meskipun di dalam filsafat Islam terdapat unsur-unsur Persia/Yunani, tetapi filsafat Islam bukanlah filsafat Persia maupun Yunani, sebagaimana filsafat Barat yang juga mengandung unsur Yunani, Islam dan Kristen, namun tetap saja disebut sebagai filsafat Barat, dan dikaji menurut framework Barat

    Memang bukan. Kan seperti disebut di atas: “Berdiri di Atas Bahu Raksasa”. Bagaimanapun sumbernya, hasilnya ya sendiri-sendiri.😆

    Hasil-hasil gerakan penerjemahan kolosal di zaman Abbassiyah memiliki arti penting bagi dunia Barat, dan khususnya Renaissance-nya. Kenapa? Sebab, dengan adanya genosida besar-besaran dari karya-karya peradaban Abad Awal oleh Gereja™ pada masa Abad Pertengahan, maka yang tersisa hanyalah salinan manuskrip-manuskrip yang dimiliki oleh kaum Muslimin.

    NO! Ada benarnya, tapi meleset, masbro!😐 Ini perlu diluruskan.

    Sejatinya manuskrip Yunani/Latin tidak “digenosida” pasca-Romawi. Lebih tepat kalau dibilang “terabaikan”. Selama ratusan tahun banyak karya Plato/Aristoteles/Euclid disimpan biara-biara Katolik, terutama Irlandia dan Jerman.

    Dan yang disebut “Renaissance” sebenarnya merupakan “Renaissance jilid keempat”. Minimal ada tiga gelombang revival Yunani-Romawi di Eropa sebelum abad 16, yaitu:

    1. Carolingian Renaissance (abad ke-8 M),
    2. Ottonian Renaissance (abad ke-10 M),
    3. Renaissance Abad-12 (pasca Perang Salib)

    Nah, yang dari Abbasiyah itu masuknya mulai dari abad ke-12. Namun sebelum-sebelumnya sudah ada penggalangan kembali manuskrip Yunani-Romawi.

    Lebih lanjutnya bisa dibaca di sini: Medieval Renaissances

    Atau jika hendak mencari Pustaka:

    D.C. Lindberg, 2007, The Beginnings of Western Science (2nd ed.)
    C.H. Haskins, 1971, The Renaissance of the Twelfth Century

    Skip skip skip, karya-karya tersebut lalu diterjemahkan kembali dari bahasa Arab hasil Kebudayaan Islam masa Abbassiyah, dan menjadi sebab lahirnya Renaissance.

    Sebagaimana sudah disebut, ini tidak akurat. Buktinya jelas: zaman sekarang masih ada naskah Plato, Euclid, Aristoteles dalam bahasa Yunani asli. Teksnya bisa dilihat di bawah ini (baca online):

    Plato’s Republic in Classic Greek
    Aristotle’s Psychology in Greek and English
    Euclid’s Elements of Geometry

    bisa dibilang, bahwa tidak musnahnya peradaban Yunani dan kelahirannya kembali pada masa Renaissance, sangat sangat sangat berhutang besar, kepada dunia Islam.😉

    Sayangnya kenyataan tidak sesederhana itu. Percayalah, saya dulu juga menyangka demikian.😆

  6. sora9n April 15, 2015 pukul 6:24 pm

    @ daddymisswar (2)

    Eh, saya lagi nulis ternyata ada komen lagi. ^^;;

    Supaya mengutipnya rapi, pakai tag [blockquote] teksyangmaudikutip [/blockquote]. Tanda [ ] diganti dengan < dan > .

    Re: genosida, itu tidak akurat. Penjelasannya di reply komen saya untuk mas Aris.

  7. Aris April 16, 2015 pukul 9:22 am

    Dua komentar saya sebelum ini hapus saja. Ada galat kode HTML.

    Maaf, revisi.

    Menilik judul postingan, apa dengan demikian bisa juga disimpulkan, bahwa jika seseorang pernah bersentuhan dengan insert anything: klenik, tahayul, kriminalitas, makhluk gaib, etc dan dari sana ia menjadi manusia seutuhnya i.e mencapai pencapaian duniawi dan ukhrawi, maka komponen-komponen tadi bisa mengklaim bahwa mereka ikut andil dalam pencapaian tersebut?

    Si X adalah pemuda bejat (komponen setan/iblis). Setelah melewati banyak kebejatan, ia menjadi pendeta yang berpengaruh luas. Apa Iblis layak mengklaim: “Halah, kejayaan do’i kan karena kontribusi ane juga”

    Peradaban Yunani dan Persia memang memegang peranan penting. Namun tonggak sejarah baru terjadi ketika mereka diambil alih tangan para Muslim abad Abbasiyah. Coba hapus bagian terakhir: apakah peradaban intelektual Persia/Yunani bisa menjadi penerang Eropa (Renaissance).

    Saya menganggapnya begini.

    Ibarat seorang Bapak yang menemukan anak yang terbuang. Lalu anak tersebut dirawat, dan dari perawatan dan dari pengasuhannya itu, lahirlah generasi yang lebih baik. Pertanyaan saya sudah bisa ditebak: siapa yang berperan sentral dari kelahiran zaman yang lebih baik tersebut?

  8. daddymisswar April 16, 2015 pukul 12:04 pm

    @Aris

    Menilik judul postingan, apa dengan demikian bisa juga disimpulkan, bahwa jika seseorang pernah bersentuhan dengan insert anything: klenik, tahayul, kriminalitas, makhluk gaib, etc dan dari sana ia menjadi manusia seutuhnya i.e mencapai pencapaian duniawi dan ukhrawi, maka komponen-komponen tadi bisa mengklaim bahwa mereka ikut andil dalam pencapaian tersebut?

    Anda menganalogikan filsafat yunani dan persia dengan klenik, tahayul
    dan kriminalitas. Dan secara tidak langsung, anda menyebut filsafat non-islam tersebut inferior. karena sepertinya kita bertiga bisa sepakat bahwa klenik, tahayul, dan kriminalitas itu sesuatu yang rendah atau inferior. Kalau menganggap sumber selain islam ( itupun menurut versi anda) adalah inferior, itu hak anda.

    Sayangnya anda argumen anda untuk meng-unggulkan sumber yang berasal dari Tuhan ( hikmah ), menurut saya sangat lemah. Argumen anda cuma berkutat pada :

    1. Hikmah hanya ada dalam islam

    2. Hikmah tidak ada dalam sistem keyakinan lain

    3. dari (1) dan (2) disimpulkan bahwa Islam lebih baik dari keyakinan lain

    Sekali lagi, penyataan mengenai iman itu hak anda. tetapi untuk diskusi seperti ini, menurut hemat saya, kurang berguna dan tidak mencerahkan

    Si X adalah pemuda bejat (komponen setan/iblis). Setelah melewati banyak kebejatan, ia menjadi pendeta yang berpengaruh luas. Apa Iblis layak mengklaim: “Halah, kejayaan do’i kan karena kontribusi ane juga”

    Bahkan anda membuat membandingkan filsafat non-islam dengan sesuatu yang menurut agama islam sangat buruk, yaitu setan.

    Peradaban Yunani dan Persia memang memegang peranan penting. Namun tonggak sejarah baru terjadi ketika mereka diambil alih tangan para Muslim abad Abbasiyah. Coba hapus bagian terakhir: apakah peradaban intelektual Persia/Yunani bisa menjadi penerang Eropa (Renaissance).

    tonggak sejarah baru yang anda maksudkan itu seperti apa? apakah sebuah kemajuan teknologi? filsafat? atau yang lain? Barat yang saat ini dengan fondasi filsafat kristen dan berlanjut ke filsafat analitik dan kontinental yang sangat kuat bisa maju ( setidaknya maju menurut definisi anda ). lantas maukah anda menganggap agama kristen lebih superior dibandingkan agama islam? kesimpulan itulah yang didapat dengan memakai logika anda.

    Ibarat seorang Bapak yang menemukan anak yang terbuang. Lalu anak tersebut dirawat, dan dari perawatan dan dari pengasuhannya itu, lahirlah generasi yang lebih baik. Pertanyaan saya sudah bisa ditebak: siapa yang berperan sentral dari kelahiran zaman yang lebih baik tersebut?

    Maaf, bisakah anda berargumen tanpa menggunakan analogi?

    Islam memang diakui sebagai bapak angkat ilmu filsafat. kemudian si anak ( ilmu filsafat ) tersebut diasuh lagi oleh seorang guru bernama Filsafat Kristen. Dan anak tersebut kini diasuh oleh banyak aliran filsafat. anda masih bisa beranggapan Si Bapak bernama Islam berperan paling sentral?

    Saran dari saya, tolonglah anda sedikit charitable terhadap pendapat pihak-pihak yang anda tidak setujui. itupun juga demi kebaikan anda dan agama yang anda anut juga.

    @sora9n

    terimakasih sekali atas penjelasannya. terimakasih juga buat source link dan buku2nya. bahan bacaan yang bagus. klo sempat baca. haha.

  9. sora9n April 16, 2015 pukul 3:52 pm

    @ Aris

    Dua komentar saya sebelum ini hapus saja. Ada galat kode HTML.

    Sudah dilakukan. ^^

    Menilik judul postingan, apa dengan demikian bisa juga disimpulkan, bahwa jika seseorang pernah bersentuhan dengan insert anything: klenik, tahayul, kriminalitas, makhluk gaib, etc dan dari sana ia menjadi manusia seutuhnya i.e mencapai pencapaian duniawi dan ukhrawi, maka komponen-komponen tadi bisa mengklaim bahwa mereka ikut andil dalam pencapaian tersebut?

    Lho, ini bukan soal klaim-mengklaim. Ini soal fakta sejarah.

    Jadi begini. Dalam membaca sejarah itu, kita harus bisa memisahkan antara “fakta” dan “interpretasi”. Fakta misalnya peninggalan arkeologi, manuskrip, dan sebagainya. Interpretasi adalah sudut pandang si ahli sejarah: berdasarkan data-data ini, seperti apa penjelasannya?

    Yang mas Aris sebutkan itu adalah interpretasi. Ini tentu saja ranahnya (lebih) subyektif. Kalau orangnya anti-Islam, dianggapnya semua Eropa. Kalau orangnya Muslim anti-Barat, dibilangnya semua karena Islam. (Dua-duanya terlalu menyederhanakan)

    Faktanya adalah, Islam Abbasiyah itu maju karena mewarisi ilmu Yunani/India/Persia. Banyak manuskrip Arab merujuk nama Yunani dengan huruf Arab. “Euclid” jadi “Uqlidisi”, “Ptolemaeus” jadi “Batlamyus”, dst. Fakta-fakta, bukti arkeologis — ini dia yang penting.

    Sejujurnya buat saya pribadi, urusan klaim-mengklaim ini relatif enggak penting. Yang penting itu fakta. Fakta menunjukkan Yunani/India/Persia bersumbangsih di pemikiran Muslim. Maka mereka ikut andil.

    Peradaban Yunani dan Persia memang memegang peranan penting. Namun tonggak sejarah baru terjadi ketika mereka diambil alih tangan para Muslim abad Abbasiyah. Coba hapus bagian terakhir: apakah peradaban intelektual Persia/Yunani bisa menjadi penerang Eropa (Renaissance).

    Begini, cara pandang di atas itu agak meleset. Dalam sejarah ilmu, kalau kita mau menyebut “penerang” atau “pemicu”, sudah tentu yang menerangi muncul persis di era sebelumnya.

    Abbasiyah muncul sebelum Renaissance. Tentu saja ilmu Renaissance jadi dipengaruhi Islam. (Contoh: buku-buku Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dipakai Universitas Eropa)

    Renaissance muncul sebelum Abad Pencerahan. Tentu saja ilmu Pencerahan dipengaruhi oleh Renaissance. (contoh: humanisme Erasmus, heliosentrisme Copernicus)

    Namun sebaliknya juga berlaku. Yunani-Romawi sudah ada sebelum Abbasiyah. Maka Abbasiyah jadi ikut dipengaruhi Yunani-Romawi.

    Peradaban Mesopotamia sudah ada sebelum Yunani. Maka Yunani juga ikut dipengaruhi Mesopotamia.😀 (contoh: teorema Pythagoras sudah ada di zaman Babilonia)

    * * *

    Jadi kesimpulannya, soal pengaruh-mempengaruhi ini, murni masalah urut-urutan. Abbasiyah itu penting. Akan tetapi sama pentingnya dengan generasi sebelum dan sesudahnya.🙂

     
    BTW, menyoal analogi…

    Si X adalah pemuda bejat (komponen setan/iblis). Setelah melewati banyak kebejatan, ia menjadi pendeta yang berpengaruh luas. Apa Iblis layak mengklaim: “Halah, kejayaan do’i kan karena kontribusi ane juga”

    Sebenarnya lebih cocok disebut begini. Misalnya ayah saya anggota DPR yang korup. Lalu saya benci sama beliau. Namun betapapun bencinya saya tak bisa lari dari kenyataan: bahwa dia ayah biologis, DNA saya sebagian dari beliau.

    Dengan cara yang sama, Kaum Muslim tak bisa menyangkal sejarah ilmu. Mau membenci Yunani, Romawi, Persia? Terserah. Namun Muslim tak bisa lari dari kenyataan, bahwa sumbangsih itu ada.

    Masalahnya itu seperti DNA dalam badan. Mau dilawan juga percuma.😆

  10. sora9n April 16, 2015 pukul 3:53 pm

    @ daddymisswar

    sedikit charitable terhadap pendapat pihak-pihak yang anda tidak setujui

    Hehe, ini salah satu pelajaran penting yang saya dapat zaman dulu. Bersikap charitable pada opini itu semacam soft skill. Kadang sudah naik darah, pengen berantem… tapi sesudah ditelusuri, ternyata arah pemikirannya mirip. Cuma berbeda sudut pandang.😆 jadi selama ini berantem buat apa?

    terimakasih juga buat source link dan buku2nya. bahan bacaan yang bagus. klo sempat baca. haha.

    Sama-sama. ^^

  11. asam April 28, 2015 pukul 7:06 am

    Mungkin yang membuat umat islam bangga dan agak mengabaikan peradaban sebelumnya adalah bahwa agama ini menjadi tonggak “memurnikan” segala informasi (ilmu, teknologi, gosip, dongeng, notabene peradaban itu sendiri), dalam sebuah kitab yang mungkin terlalu tipis untuk menjelaskan segala hal.
    Apa itu bisa dibandingkan dengan sesuatu yang lain?
    Hasil pemurnian atau mengembalikan fitrah inilah yang akhirnya menciptakan cabang/ tafsir baru.

  12. sora9n April 28, 2015 pukul 4:46 pm

    @ asam

    Kalau bicara “memurnikan” sih, setahu saya, itu bukan praktek yang khas Muslim juga. Di abad ke-4 M Santo Agustinus berusaha memasukkan filsafat ke agama Kristen. Sementara di abad ke-12, banyak pendeta bingung terhadap Aristoteles: Lha, filsafatnya bagus, tapi dia menentang Penciptaan? Akhirnya diadaptasi jadi Aristotelianisme Kristen.

    Terkait Abbasiyah, mungkin lebih cocok disebut “Mengislamkan peradaban kuno”. Dalam artian inspirasinya berbagai bangsa — namun diadaptasi supaya tidak bertentangan dengan akidah.

    Toh pemikir Muslim juga sempat geram dengan Aristoteles. Akan tetapi karena memang ajarannya bagus, ya diadaptasi. Akhirnya mewarnai filsafat Islam yang kita kenal.

  13. asam April 30, 2015 pukul 6:50 am

    Iya, ya..? Jadi timbul pertanyaan, filsafat itu muncul dari agama atau dari luar agama? Kalau di islam, filsafat menjadi cabang dari tafsir. Kalau di kristen berarti dari luar kristen? Itukah sebabnya di eropa, gereja disingkirkan?

    Kalau “mengislamkan…” aku lebih suka istilah mengembalikan fitrah peradaban. Jadi pola pikirnya adalah saat menemukan suatu ilmu/ teknologi atau apalah apalah🙂 maka harus diposisikan atau disaring melalui mainstream agama.
    Terlihat ‘kolot’ memang. tapi jika bisa menyelamatkan bumi, kenapa tidak? Doktrin isu global warming atau penyelamatan lingkungan bisa diterima bukan?

    Satu hal lagi, meski terkesan konyol, jika masa kejayaan islam tidak ada, kearah mana dunia akan bergerak?
    Tapi jangan dibalik ya, jika romawi/ yunani tidak ada dan islam hanya berdiri sendiri. Karena nabi-nabi sudah membawa ajarannya pada masa nya masing-masing.

    Salam

  14. sora9n April 30, 2015 pukul 6:45 pm

    @ asam

    Jadi timbul pertanyaan, filsafat itu muncul dari agama atau dari luar agama?

    Dalam konteks Kristen dan Islam, filsafat itu datang dari luar dan diinkorporasi untuk kepentingan teologi. Di agama Kristen namanya Filsafat Skolastik; kalau di agama Islam sebutannya Ilmu Kalam.

    Kalau dalam konteks agama secara umum, batasnya lebih kabur. Filsuf Yunani seperti Heraclitus, Xenophanes, dan Parmenides percaya pada Entitas Tertinggi. Namun keyakinan mereka beda dengan Tuhan agama Islam & Kristen — tidak bisa dihubungi lewat doa dan tidak minta disembah.

    Kalau di islam, filsafat menjadi cabang dari tafsir. Kalau di kristen berarti dari luar kristen?

    …Enggak juga. Gimana ya? ^^;;

    Jadi begini. Baik agama Kristen maupun Islam, dalam sejarahnya menyerap filsafat Yunani untuk kepentingan teologi. Ide-ide Plato, Aristoteles, dsb. dipakai untuk menjelaskan agama.

    Misalnya doktrin emanasi dan transendensi, dua-duanya ada di teologi Kristen dan Islam. Asalnya dari filsafat Neoplatonisme. Di agama Kristen pelopornya Santo Agustinus; di agama Islam Al-Kindi dan Ibnu Sina.

    Pendekatan Aristotelian juga banyak mewarnai agama Islam & Kristen. Sebagai contoh teleologi dan unmoved mover.

    Bisa dibilang bahwa baik dalam Kristen maupun Islam filsafat itu datang dari luar — tapi dimanfaatkan untuk memperkuat keagamaan.🙂

    Ada istilah yang bagus dari Santo Agustinus, “Philosophy as handmaiden of theology”. Pendekatan ini populer juga di kalangan Muslim. Kecuali Al-Ghazali dan Ibnu Taymiyah — tapi itu cerita lain.😛

    Kalau “mengislamkan…” aku lebih suka istilah mengembalikan fitrah peradaban. Jadi pola pikirnya adalah saat menemukan suatu ilmu/ teknologi atau apalah apalah🙂 maka harus diposisikan atau disaring melalui mainstream agama.

    IMHO sih, itu masalah perspektif. Sudut pandang kita menentukan apa yang kita lihat.

    Kalau orangnya Muslim, dia memandang ilmu sebagai penguat agama Islam.

    Kalau orangnya Kristen, dia memandang ilmu sebagai penguat agama Kristen.

    Sementara kalau orangnya ateis, dia memandang ilmu juga menguatkan: bahwa Tuhan tidak ada/Tuhan tidak perlu.

    Jadinya agak lucu. Secara obyektif ilmu ya begitu saja, ada soal tata surya, hukum Newton, dsb. Namun di mata orang yang berbeda pemaknaannya jadi berbeda.😆

    Pandangan suatu umat tentang ilmu lebih mencerminkan umatnya daripada ilmu itu sendiri…

    Terlihat ‘kolot’ memang. tapi jika bisa menyelamatkan bumi, kenapa tidak?

    Ya, itu kan masalah kepraktisan. Lebih baik orang religius dan go green, daripada gak religius dan merusak lingkungan.😆

    (Sebenarnya suku/bangsa/keyakinan apapun harus go green juga sih)

    Satu hal lagi, meski terkesan konyol, jika masa kejayaan islam tidak ada, kearah mana dunia akan bergerak?

    Ha, saya tahu pertanyaan ini arahnya ke mana. Kita bahas pelan-pelan, ya.🙂

    Jadi begini. Di dunia sejarah, ada area yang disebut counterfactual history. Seperti bisa ditebak intinya tentang “sejarah versi lain”. Bagaimana kalau yang terjadi X, dan bukan Y?

    Counterfactual history sedikit beda dengan sejarah biasa. Biarpun sama-sama mengacu fakta namun lebih dominan pada interpretasi. (Tentang perbedaan “interpretasi” dan “fakta”, cek reply komen saya ke mas Aris)

    Oleh karena itu setiap pendekatannya harus disertai disclaimer: tergantung pada perspektif si ahli sejarah. Elemen subyektifnya besar. (To be sure, saya bukan sejarahwan profesional, tetapi disclaimer tetap berlaku)

     
    Kembali pada pertanyaan…

    Saya mengasumsikan bahwa di sini peradaban Islam tetap ada, tetapi kemajuan ilmiahnya tidak signifikan (mohon dikoreksi kalau salah). Dalam skenario ini Eropa tidak mendapat kemajuan ilmu/teknologi yang dikembangkan Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dkk.

    Satu hal yang perlu dicatat adalah sbb. Seandainya pun tidak dikembangkan Islam, ilmu pengetahuan Yunani tetap tersimpan di Byzantium. Sementara ilmu pengetahuan Romawi (bahasa Latin) tersebar di berbagai perpustakaan biara di Irlandia, Prancis dan Jerman.

    Lalu, bagaimana kalau peradaban Islam tidak mencapai masa keemasan?

    Jika peradaban Islam tidak mencapai masa keemasan, maka Eropa takkan mendapat angka nol, model dan tabel astronomi pasca-Ptolemaeus (terutama dari Observatorium Maragha), serta penemuan Tiongkok seperti kompas dan kertas. Eropa juga akan terpisah dari Aristoteles — biarpun filsuf Yunani namun dia terabaikan sampai abad ke-12. Baru lewat interaksi dengan Andalus para pemikir Eropa kembali menyerap pemikiran beliau.

    Namun bukan berarti Eropa bakal tamat secara intelektual. Sebagaimana saya menulis di satu komen, sejak abad ke-8 sudah ada penggalangan kembali naskah kuno. Masalahnya cuma satu: orang Eropa Barat saat itu tak bisa berbahasa Yunani, dan mereka ‘berantem’ dengan Byzantium. Ini membuat mereka terisolasi dari naskah Plato/Euclid/dsb. di perpustakaan Byzantium.

    Pada akhirnya Eropa akan sangat terhambat mencapai Renaissance. Jikapun berdamai dengan Byzantium, dan mendapat kembali pengetahuan Yunani, masih ada elemen vital yang hilang. Tidak ada kertas untuk mesin cetak Gutenberg; tidak ada kompas untuk navigasi; tidak ada konsep angka nol dari India.

    Di sini kita melihat peran Islam sebagai ‘jalan pintas’ Eropa mendapat pengetahuan Timur Jauh.

    Bisa saja Eropa mendapat pengetahuan India dan Tiongkok lewat jalur lain, misalnya perdagangan. Namun ini spekulatif dan — in any case — tak semudah menerjemahkan kitab dari Andalus.

    * * *

    Kesimpulannya bisa diringkas: Jika Islam tidak mencapai kejayaan, Eropa akan tetap mendapatkan ilmu pengetahuan Yunani/Romawi, tetapi kehilangan teknologi kertas, kompas, dan angka nol, dan sebagai akibatnya Renaissance akan tertunda.

    Kaum Muslim sering berkoar, bahwa jika tidak ada Islam, Eropa akan tenggelam di “zaman kegelapan”. Sebenarnya tidak juga. Kenyataannya agak lebih kompleks.

    Kita harus ingat bahwa sebelum ada Islam, Imperium Romawi berkuasa sangat hebat: dari Spanyol sampai Laut Kaspia, dari Inggris sampai Mesir. Teknologinya sudah bisa membuat semen, gelas kaca, dan drainase kota segala. Jikalau semua pengetahuan Romawi ini didapat kembali, apa iya Eropa tetap akan jeblok? Saya kok ragu.😛

     
    ——

    Referensi (untuk yang tertarik menelusuri):

     
    George Saliba, 2007, Islamic Science and the Making of the European Renaissance (MIT Press)

    David C. Lindberg, 2007, The Beginnings of Western Science (2nd ed.) (Chicago University Press)

    L.D. Reynolds & N.G. Wilson, 1991, Scribes and Scholars: A Guide to the Transmission of Greek & Latin Literature (3rd ed.) (Oxford University Press)

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: