ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Tag Archives: legenda

Hukuman untuk Arachne

Dewi Athena, atau nama Latinnya Minerva, sering digambarkan sebagai sosok bijaksana dan penolong. Bagaimanapun memang “profesinya” Dewi Pengetahuan dan Kebijaksanaan. Banyak pahlawan Yunani pernah merasakan welas asihnya.

Satu contoh yang terkenal melibatkan Hercules, hasil hubungan Zeus dengan wanita bumi Alcmene. Menyadari dirinya akan dikejar Hera, Alcmene meninggalkan bayi Hercules di alam liar, meskipun demikian Athena menemukan dan mengadopsinya. Di kemudian hari Athena menjadi dewi pelindung Hercules di saat dia melaksanakan 12 Tugas Maut.

Cerita lain tentang Athena agak lebih alegoris. Konon ketika dunia masih muda, Athena dan Poseidon menawari hadiah pada penduduk kota tepi pantai. Poseidon menghujam dengan tombaknya menciptakan mata air. Athena di sisi lain menumbuhkan pohon zaitun — sebagaimana umum diketahui, simbol perdamaian, namun juga banyak manfaat dan bisa diperdagangkan. Penduduk yang terkesan kemudian memilih hadiah Athena, dan sebagai penghargaan, menetapkan nama kota “Polis Athena”.

Dapat dibilang bahwa dibandingkan dewa-dewi Yunani lain, Athena cenderung simpatik. Dia tidak ‘hobi’ mempermainkan manusia (seperti Hera), atau melampiaskan nafsu cinta (seperti Zeus). Athena adalah dewi yang senantiasa tenang dan teguh; tidak menikah atau punya kekasih; mempunyai kecerdasan dan rasa keadilan yang tinggi. Sosoknya mewakili spirit Yunani zaman kuno: mengutamakan akal di atas kesenangan semu.

[img] Painting by Joseph-Benoit Suvee (1771)

Athena (Kebijaksanaan) digambarkan mengungguli Ares (Perang) dan Aphrodite (Cinta)

(lukisan karya Joseph-Benoît Suvée, 1771)

(image credit: Wikimedia Commons)

Pun demikian, layaknya dewa-dewi Yunani, Athena juga tak sempurna. Beberapa kali ia menunjukkan kemarahan yang kejam dan tidak pada tempatnya. Salah satunya menimpa Arachne — gadis penenun dari Colophon.

Klik untuk melanjutkan »

From Public Domain: “Stories from the Arabian Nights”, by Housman & Dulac (1907)

Hampir semua orang, baik di Indonesia maupun luar negeri, pernah mendengar tentang Kisah Seribu Satu Malam. Disebut seperti itu karena — konon — kisahnya diceritakan berantai selama 1001 malam.

Setiap hari menjelang subuh, Permaisuri Syahrazad akan membangunkan suaminya, Sultan Syahriar. Syahrazad lalu akan menuturkan berbagai cerita fantastis. Ada yang melibatkan jin, monster, penyihir… pokoknya, mengandung elemen ajaib. Meskipun demikian ada ketentuannya. Jika matahari sudah terbit maka Syahrazad akan berhenti dan melanjutkan cerita malam besoknya.

Mengapa begitu? Karena Syahrazad aslinya berusaha menyelamatkan nyawa. Syahriar diceritakan sebagai Sultan yang benci pada wanita; dia dikhianati oleh mantan istrinya yang berselingkuh dengan budak. Karena dibutakan dendam Syahriar memutuskan: setiap hari dia akan menikahi seorang gadis, lalu esok harinya, gadis itu akan dieksekusi. Begitu terus hingga Syahrazad — putri seorang Wazir — mengajukan diri jadi istri Sultan. Dia berencana mengalihkan perhatian Sultan selama mungkin sambil melindungi perempuan negerinya.

Nah, dengan latar belakang itulah, kisah Seribu Satu Malam dimulai. Syahrazad yang cerdas mengatur agar cerita berakhir menggantung setiap malam. Sultan yang tertarik kemudian menunda eksekusi Syahrazad selama satu hari. Lalu di malam berikutnya Syahrazad akan menutup cerita, memulai yang baru, dan membuatnya menggantung lagi. Demikian seterusnya hingga tercapai angka “Seribu Satu Malam”.

Alhasil, tidak aneh jika versi lengkap, total jenderal, jumlah-jamleh dari Kisah Seribu Satu Malam luar biasa tebal. Terjemahan Richard Burton misalnya terdiri atas 10 volume (!!). Akan tetapi yang akan kita review bukan versi lengkap — melainkan versi ringkas untuk pembaca umum.

arabian nights housman & dulac (cover)

  • Judul: Stories from the Arabian Nights
  • Penulis: Laurence Housman (penyunting), Edmund Dulac (ilustrasi)
  • Penerbit: Hodder and Stoughton, Ltd.
  • Tebal: 319 halaman
  • Tahun: 1907

Klik untuk melanjutkan »

Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna

Ada hal menarik yang saya temukan kalau sedang baca-baca kisah legenda, baik yang asalnya dari sekitar sini (Indonesia) maupun luar negeri. Bahwasanya banyak pahlawan yang digambarkan sakti mandraguna — pandai bertarung, punya kekebalan tubuh, dan sebagainya — meskipun begitu, karena satu kelemahan, akhirnya terpaksa meregang nyawa. Kelemahannya sendiri kadang ‘ajaib’. Ada yang di punggung; di selangkangan; tumit… malah ada juga yang mati karena dilempar semak! :mrgreen: Lucu juga kalau dipikir-pikir.

Adapun tipe macam ini biasanya jadi pahlawan di kisah yang banyak aksi/melibatkan perang. Sebagai contoh misalnya dalam hikayat Mahabharata atau Iliad. Pokoknya yang berkesan macho lah. Saya sendiri tak tahu kenapa. Mungkin karena orang pada umumnya malas melihat pahlawan yang menang terus, jadi terpaksa diberi kelemahan fatal. Biar rame, begitu. But I digress…

 
Seperti apa contohnya? Dari Jerman…
 

Salah satu yang paling saya ingat dan sempat diadopsi jadi nickname berasal dari kebudayaan Jerman Pra-Kristen. Di dunia mitologi ini terdapat sosok yang disebut Ksatria Siegfried. Dalam versi Norse ia bernama Sigurd, akan tetapi di luar itu, kisah hidup mereka sama persis.

Klik untuk melanjutkan »