ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Melestarikan Kenangan

Dalam literatur mitologi Yunani-Romawi, terdapat sebuah epik yang berjudul Aeneid. Epik ini berkisah tentang Aeneas, bekas prajurit Troya yang memimpin rakyatnya mencari tempat tinggal baru setelah kota mereka dihancurkan. Selama bertahun-tahun mereka berlayar dan mengembara, menjalani berbagai petualangan, sebelum akhirnya mendarat di tanah Latium (sekitar Italia modern).

Ada sebuah episode yang memorable di dalamnya, ketika Aeneas sedang berjalan-jalan di sebuah kota dan merasakan deja vu. Dia melihat kemiripan dengan kampung halaman yang telah lama ditinggalkan:

Proceeding on, another Troy I see,
Or, in less compass, Troy’s epitome.
A riv’let by the name of Xanthus ran,
And I embrace the Scæan gate again.

(Virgil, “Aeneid” Book III, terj. John Dryden)

Kota itu dibangun oleh pengungsi Troya yang lain — yang Aeneas tidak tahu juga selamat.

Syahdan, ketika kota Troya digasak Yunani, seluruh warga di dalamnya dibunuh atau dijadikan budak. Termasuk di dalamnya adalah Andromache, istri Pangeran Hector yang gugur dalam perang. Biarpun berstatus ningrat namun ia tak dianggap; dijadikan budak oleh Neoptolemus.

Agak menyakitkan sebab Neoptolemus adalah putra dari Achilles, ksatria yang membunuh Hector. Selanjutnya Andromache dijadikan selir dan melahirkan seorang anak dari Neoptolemus. Pun demikian, karena suatu intrik, Neoptolemus akhirnya terbunuh, membuat Andromache terlempar ke dalam petualangan, sebelum akhirnya bertemu dan menikah dengan pengungsi Troya bernama Helenus.

Berusaha meninggalkan kenangan buruk, Andromache dan Helenus kini menetap di Epirus. Mereka mendirikan kota tempat tinggal baru yang — sedapat mungkin — mencerminkan sisa-sisa kebudayaan Troya.

Namun Andromache tidak bisa melupakan Hector. Dalam hatinya hanya ada satu pria yang ia cintai, yang dapat mengisi hatinya, bahkan setelah melewati berbagai cobaan berat. (Helenus memahami perasaan ini; lagipula Hector sudah bagaikan dewa di mata rakyat)

Dengan latar belakang seperti itu, cukup mengena bahwa Aeneas bertemu Andromache sedang berdoa untuk Hector. Secara miris ia melihat sang putri menyiapkan persembahan di altar cenotaph (makam kosong).

By chance, the mournful queen, before the gate,
Then solemniz’d her former husband’s fate.
Green altars, rais’d of turf, with gifts she crown’d,
And sacred priests in order stand around,
And thrice the name of hapless Hector sound.
The grove itself resembles Ida’s wood;
And Simoïs seem’d the well-dissembled flood.

(Virgil, “Aeneid” Book III, terj. John Dryden)

Akan tetapi pertemuan itu tidak mulus. Andromache, menyaksikan Aeneas berseragam ksatria Troya, bereaksi seolah melihat hantu:

She faints, she falls, and scarce recov’ring strength,
Thus, with a falt’ring tongue, she speaks at length:
“ ‘Are you alive, O goddess-born?’ she said,
‘Or if a ghost, then where is Hector’s shade?’
At this, she cast a loud and frightful cry.

(Virgil, “Aeneid” Book III, terj. John Dryden)

 

[img] Aeneas meets Andromache, engraving by Wenceslas Hollar

Andromache bertemu dengan Aeneas

(ilustrasi karya Wenceslas Hollar, 1607-1677)

(image credit: Wikimedia Commons)

Bukan hantu, jawab Aeneas, melainkan hidup dan bernafas — biarpun dengan nestapa.

All of me that remains appears in sight,
I live, if living be to loathe the light.

(Virgil, “Aeneid” Book III, terj. John Dryden)

Menyadari perjodohan takdir, sesama warga terbuang di negeri asing, Andromache dan Helenus menerima rombongan Aeneas sebagai tamu. Dengan segera makanan dan minuman dihidangkan: selama dua hari mereka menginap dan dijamu.

“Troya Baru” Andromache, kalau boleh dibilang, adalah wujud kenangan lama. Di dalamnya terdapat hal-hal yang telah lewat — sedapat mungkin disarikan di masa kini. Barangkali tidak sempurna, tapi setidaknya tetap bermakna.

Sampai di sini mungkin timbul pertanyaan. Mengapa Aeneas dan rombongan cuma tinggal dua hari, alih-alih menetap di “Troya Baru” versi Andromache? Bukankah mereka sama-sama pengungsi yang mencari tempat tinggal baru?

Masalahnya Aeneas, biarpun juga pengungsi, mempunyai jalannya sendiri. Ia ditakdirkan oleh dewa memimpin rakyatnya menciptakan sebuah dinasti. Dinasti yang terletak jauh di masa depan. Aeneas akan melanjutkan Troya, bukan dengan mengawetkan, tetapi menjadikannya titik tolak menuju sesuatu yang baru.

Sebagaimana Virgil, penyair yang menulis Aeneid, mengumandangkan dari baris awal:

Arms, and the man I sing, who, forc’d by fate,
And haughty Juno’s unrelenting hate,
Expell’d and exil’d, left the Trojan shore.
Long labors, both by sea and land, he bore,
And in the doubtful war, before he won
The Latian realm, and built the destin’d town;
His banish’d gods restor’d to rites divine,
And settled sure succession in his line,
From whence the race of Alban fathers come,
And the long glories of majestic Rome.

(Virgil, “Aeneid” Book I, terj. John Dryden)

Troya baru Aeneas, singkatnya, bukan Troya lama yang dipanjang-panjangkan. Jika ibaratnya Troya pohon besar yang dikapak Yunani, maka Aeneas — beserta rombongannya — sedang membawa tunggul dan akar untuk ditanam di tanah yang baru. Cikal-bakal itu kelak akan tumbuh menjadi Romawi: imperium yang besar dan terkenal dalam sejarah.

Andromache, dengan kenangannya yang kuat, berusaha mempertahankan. Aeneas, dengan gambaran masa depan, berusaha mencipta situasi baru. Bahwa dua-duanya ingin menyarikan peradaban Troya, itu tak bisa disangkal — namun arah mereka berbeda.

Bukan berarti mereka berselisih, sebab masing-masing memahami pendirian yang lain. Akhirnya Andromache dan Helenus melepas Aeneas pergi berlayar. Beberapa tanda persahabatan disampaikan oleh mereka yang memilih tinggal:

Bounteous of treasure, he supplied my want
With heavy gold, and polish’d elephant;
Then Dodonæan caldrons put on board,
And ev’ry ship with sums of silver stor’d.
A trusty coat of mail to me he sent,
Thrice chain’d with gold, for use and ornament;

. . .

And large recruits he to my navy sends:
Men, horses, captains, arms, and warlike stores;
Supplies new pilots, and new sweeping oars.

(Virgil, “Aeneid” Book III, terj. John Dryden)

Masih bertahun-tahun sebelum takdir Aeneas terwujud. Dia tidak akan menyaksikan kejayaannya — hampir tiga abad terpisah antara dia dan kembar legendaris, Remus dan Romulus, pendiri kota Roma. Hanya keturunannya yang akan menikmati. Akan tetapi itu tidak masalah.

Aeneas telah pergi berlayar, meninggalkan yang lalu dan takkan balik berulang. Pangkalnya jauh, dan ujungnya belum tiba — namun di situ ada harapan menciptakan sejarah yang baru.

 

——

Referensi Mitos:

 
Euripides, “Andromache”, terj. E.P. Coleridge (1891)
(public domain)

Homer, “Iliad” Bk. XXII, terj. Samuel Cowper (1791)
(public domain)

Virgil, “Aeneid” Bk. III, terj. John Dryden (1697)
(public domain)

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: