ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Pedang Damocles, Racun Mithridates

Di dunia Yunani Kuno, terdapat sebuah kisah semi-legenda yang disebut “Pedang Damocles”. Disebut semi-legenda karena melibatkan tokoh sejarah, meskipun demikian tidak jelas apakah benar-benar pernah terjadi. Ceritanya disampaikan oleh Cicero, anggota senat sekaligus orator besar Republik Romawi.

Syahdan, Penguasa Syracuse Dionysius II dikenal sebagai pemimpin yang lalim. Meskipun demikian dia mempunyai kekuasaan yang hebat: Syracuse di masa itu adalah kota pelabuhan yang terletak antara Yunani, Italia, dan Afrika Utara. Lokasi yang strategis, ditambah arus perdagangan yang ramai, membuat perannya sangat penting di kancah politik-ekonomi Mediterania.

Oleh karena itu, wajar jika banyak orang menganggap jadi Penguasa Syracuse berarti hidup senang. Salah satu yang berpikir seperti itu adalah Damocles — pelayan Dionysius di Istana Syracuse. Dalam satu kesempatan dia memuji Raja sebagai orang paling beruntung di dunia.

Mendengar ini Raja lalu bertanya: jika benar demikian, maukah Damocles mencoba sehari menjadi raja?

Singkat cerita Damocles mengiyakan. Dengan segera dia didandani pakaian mewah dan didudukkan di singgasana. Makanan pun disiapkan untuknya. Namun anehnya Raja belum selesai.

Tepat di atas singgasana Raja menggantungkan sebilah pedang — dihubungkan ke langit-langit oleh sehelai rambut ekor kuda. Kemudian Raja bersabda bahwa Damocles akan dilayani sepuasnya, asalkan dia tetap duduk di singgasana.

[img] Sword of Damocles by Richard Westall (1812)

Damocles duduk di singgasana Raja
(lukisan karya Richard Westall, 1812)

(image credit: Ackland Art Museum)

Sebagaimana bisa ditebak Damocles mulai ketakutan. Dengan segera makanan dan minuman dihidangkan, akan tetapi dia tidak dapat menikmati. Begitu pula disuguhi musik dan tarian dia tidak terhibur. Bagaimana jika benang yang menahan di atasnya putus? Tentu dalam sekejap dia akan mati.

Tidak sampai sehari Damocles akhirnya menyerah. Kini dia sadar maksud Raja: kehidupannya tidak tenang. Di balik kemewahan terdapat orang-orang yang ingin membunuhnya. Bisa ditebak, Damocles kini ogah menjadi raja. Segera dia memohon-mohon supaya perjanjiannya dibatalkan.

Mendengar permohonan itu, Dionysius akhirnya melepaskan Damocles, dan menyuruhnya kembali jadi pelayan.

 
Menarik dicatat bahwa, dalam sejarah, Dionysius II adalah raja yang jalannya tidak mulus. Dia pernah dikudeta oleh pamannya, Dion, yang mengusirnya ke pulau seberang. Meskipun begitu dia dapat kembali ke Syracuse dan merebut tahta. Adapun berkat kelicikan juga dia akhirnya menang. Melalui surat palsu, Dionysius menghasut warga Syracuse melawan Dion, yang akhirnya tewas oleh konspirasi. Rangkaian peristiwa ini memuluskan jalannya menuju tahta.

Mungkin itu juga yang terlintas ketika Dionysius ‘mengerjai’ Damocles dengan pedang tergantung. Bagaimanapun pengalaman adalah guru terbaik, dan pengalaman buruk adalah guru paling galak.😆

* * *

Sementara itu, berabad-abad kemudian, lain lagi ceritanya dengan Mithridates VI. Dia diceritakan sebagai penguasa Pontus, Anatolia, yang ‘kerjanya’ bermusuhan dengan Republik Romawi.

Selama bertahun-tahun dia menjadi sumber ketakutan. Bahkan jenderal besar Romawi, Lucius Sulla dan Pompey, susah mengalahkannya. Kehadiran Mithridates ibaratnya seperti duri dalam daging, semut dalam gulali, atau kelabang dalam selimut.

[img] Mithridates VI coin

Mithridates digambarkan dalam sebuah koin

(image credit: Livius.org)

Sejarah hidup Mithridates sendiri mirip Dionysius. Sewaktu kecil dia diusir oleh ibu dan saudara-saudaranya yang culas. Butuh tujuh tahun sebelum dia kembali ke Pontus, menjadi raja, dan mengirim semua musuh politik ke penjara. Meskipun begitu dia masih punya welas asih. Ketika anggota keluarganya meninggal di penjara, mereka semua dimakamkan dengan penghormatan penuh.

Dengan latar belakang tersebut, bisa dimaklumi jika Mithridates paranoid. Beberapa sejarawan menyebut bahwa Mithridates biasa meminum racun dosis rendah. Tujuannya untuk membentuk kekebalan. Dapat dibilang bahwa Mithridates sangat tekun melindungi dirinya.

Namun memang takdir susah ditebak, dan jalannya sejarah tak terduga.

Memasuki tahun 63 SM, pasukan Romawi yang dipimpin Pompey merangsek ke Anatolia, memaksa Mithridates kabur ke Colchis. Jadi makin rumit sebab diplomasinya gagal di sana-sini. Sementara itu, Mithridates terdesak dan kekurangan tentara.

Entah gila atau kehabisan akal, Mithridates mengambil pilihan ekstrim. Dia membunuh putranya sendiri, Machares Raja Bosphorus, dan merebut tahta. Namun rencana itu gagal: putranya yang lain, Pharnaces II, memberontak. Bersama dengan rakyat dia mencoba menjatuhkan Mithridates.

Seiring mendekatnya Pompey dari arah Barat, ditambah dengan perlawanan Pharnaces, Mithridates merasa akhir sudah dekat. Dia memutuskan untuk bunuh diri.

Namun di sinilah terjadi semacam komedi gelap: luar biasa ironis dan, kalau bukan menyangkut nyawa, mungkin bisa dibilang lucu.

Bagaimana caranya bunuh diri? Mithridates bertekad minum racun dengan dosis tertinggi yang pernah ada. Dua orang putrinya, melihat sang ayah bulat tekad, berniat membantu: biar mereka minum lebih dulu untuk membuktikannya. Bagaimanapun lebih baik mati daripada jadi tawanan Romawi.

Sekejap seusai minum, kedua putri Mithridates terkapar. Tewas seketika. Namun demikian Mithridates tidak merasa apa-apa.

Ke sana-kemari dia berjalan untuk mempercepat penyebarannya. Namun ternyata… racunnya tidak berdampak. Selama bertahun-tahun Mithridates telah membangun kekebalan — dan kini kekebalan itu mementahkan racun yang dia inginkan.

Pasrah dengan nasibnya yang gagal mati, Mithridates berdiskusi dengan Bituitus, pengawal yang berkebangsaan Gaul. Dalam dialog yang dikutip sejarawan Appian:

“I have profited much from your right arm against my enemies. I shall profit from it most of all if you will kill me, and save from the danger of being led in a Roman triumph one who has been an autocrat so many years, and the ruler of so great a kingdom, but who is now unable to die by poison because, like a fool, he has fortified himself against the poison of others.”

(Appian, “Roman History”, terj. Horace White)

Daripada takluk dan dipermalukan oleh Romawi, lebih lagi setelah bertahun-tahun berperang, lebih baik menjemput maut. Mithridates akhirnya meminta Bituitus mengakhiri hidupnya.

Dan demikianlah akhir hidup Mithridates: niatnya memperkuat diri ternyata berujung ironis.

Adapun di pihak Romawi, ketangguhan Mithridates membuat Pompey merasa hormat. Oleh karena itu dia memerintahkan: biarpun Romawi menang, jenazah Mithridates harus diperlakukan dengan hormat, dan dikubur di mausoleum bersama raja-raja pendahulunya.

Tak lama sesudah Mithridates meninggal, Republik Romawi akan runtuh, berganti menjadi Kekaisaran yang terkenal dalam sejarah. Meskipun demikian soal itu takkan kita bahas di sini.

 
Penutup: “In Antiquity, where we lay our scene”
 

Bapak William Shakespeare, yang karyanya sempat saya review bulan lalu, punya kutipan bagus untuk menggambarkan prasangka dan rencana yang meleset. Kalimatnya sebagai berikut, terdapat dalam drama berjudul “Hamlet”.

Our wills and fates do so contrary run
That our devices still are overthrown;
Our thoughts are ours, their ends none of our own

(Shakespeare, “Hamlet”, Act III scene 2)

Shakespeare sendiri tidak asing dengan tema tersebut. Sebagai dramawan dia sangat ahli merancang motif dan niat karakter. Pun begitu, seiring jalannya cerita, semua akan diputar, diaduk, dibenturkan dengan situasi — sedemikian hingga jadi meleset dan berantakan.

Dua contohnya misalnya tragedi Hamlet dan Macbeth. Meskipun begitu ada juga yang komedi seperti A Midsummer’s Night Dream.

Apa hubungannya dengan topik kita, tentu bisa ditebak. Baik kisah Damocles maupun Mithridates mempunyai benang merah: prasangka yang meleset dan berujung kacau. Adapun dalam kasus Mithridates, hal itu ditimpali perencanaan paranoid, sedemikian hingga hasilnya ikut berantakan dengan spektakuler.

Kadang ada kesan seolah “langit menertawakan”. Atau kalau menurut Bapak Shakespeare di atas, “wills and fates do so contrary run”. Bagaimanapun yang semacam itu sering terjadi, dan saya yakin, pembaca juga pernah mengalami.:mrgreen:

Tentunya bukan berarti orang tak bisa berencana dan berkehendak, sebab kalau iya, hidup takkan berjalan. Namun intinya bukan itu. Bahwa rencana-rencana terbaik pun bisa berujung gawat, maut, atau bahkan lucu — itu dia yang perlu diperhatikan.

Adakalanya dalam hidup, alam semesta seolah punya kemauan sendiri. Menanggapinya dengan tenang, logis, dan hati-hati adalah pilihan terbaik.😉

 

 

——

Referensi:

(buku)

    Holland, T. (2003). Rubicon: The Last Years of the Roman Republic. London: Hachette Digital

 
(online: classics public domain)

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: