ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Masyarakat Terbuka dan Dunia yang Tak Sempurna

Bapak Karl Popper, filsuf Inggris kelahiran Austria, boleh dibilang sosok yang skeptis tanpa kompromi. Sebagai pemikir beliau mempunyai cara pandang yang unik: bahwasanya semua idealisme itu semu dan menyesatkan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, demikian kata Popper. Namun bukan berarti orang tak bisa berusaha — biarpun mustahil mencapai kesempurnaan, orang selalu bisa melakukan pendekatan.

Popper sendiri bukanlah pemikir sembarangan. Salah satu hasil karyanya adalah metodologi ilmiah yang kita kenal. Oleh karena itu, wajar jika dia dianggap salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah.

Karl Popper (1902-1994)

Karl Popper (1902-1994)

(photo credit: Wikipedia)

Mengapa beliau disebut “skeptis tanpa kompromi”, ini ada ceritanya lagi, dan berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

 
Berangkat dari Metodologi Ilmiah
 

Dalam sebuah posting lama di blog lama, saya pernah bercerita tentang David Hume dan Problem Induksi. Mengenai hal ini sebaiknya dibaca di posting yang di-link, meskipun begitu ada baiknya kita review sedikit di sini.

Sebagai seorang filsuf, Hume meyakini bahwa peristiwa yang terjadi esok hari tidak pasti. Sebagai dampaknya pengetahuan kita tentang kebenaran juga terpengaruh. Terkait hal ini terdapat contoh legendaris berupa angsa hitam.

Di Eropa zaman dulu, sebelum benua Australia ditemukan, tidak pernah terlihat angsa berwarna hitam. Setiap kali terdapat angsa warnanya selalu putih. Sedemikian hingga terbentuk anggapan bahwa “semua angsa berwarna putih”.

Meskipun begitu, seiring penemuan benua Australia, anggapan tersebut hancur lebur: bahwasanya terdapat angsa berwarna hitam di Australia. Oleh karena itu “kebenaran” yang tadinya diterima jadi tidak berlaku.

angsa hitam (via wikimedia commons)

Penampakan angsa berwarna hitam

(photo credit: Wikimedia Commons)

Nah, peristiwa “angsa hitam” di atas juga punya padanan di dunia ilmiah. Kalau pembaca akrab dengan fisika pasti tahu contohnya. Hukum Gravitasi Newton yang berumur ratusan tahun ternyata punya kekurangan yang terpantau belakangan. Peristiwa ini mendorong Albert Einstein merumuskan Teori Relativitas Umum yang lebih lengkap daripada versi Newton.

Oleh karena itu di masa kini statusnya berganti. Jika dulu Hukum Gravitasi yang “sebenarnya” adalah versi Newton, maka sekarang Hukum Gravitasi yang “sebenarnya” adalah versi Einstein. (kata “sebenarnya” diberi tanda kutip — bisa saja di masa depan Einstein terbukti salah)

Dapat dibilang bahwa kebenaran hari ini tidak sama dengan kebenaran minggu lalu. Demikian pula, kebenaran minggu depan belum tentu sama dengan kebenaran hari ini.

Apa hubungannya dengan Karl Popper, nah, ini segera kita bahas.πŸ˜€

Pada dasarnya Popper setuju dengan pandangan Hume. Apa yang terjadi esok hari tidak pasti; yang bisa kita lakukan hanyalah sebisa mungkin menyaring kebenaran. Popper berpendapat bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak pernah tetap — melainkan harus terus di-update.

Prinsip itu diturunkan dari metodologi ilmiah; diagramnya dapat dilihat di bawah ini.

metodologi ilmiah Popper

(ilustrasi pribadi)

Sebuah keyakinan, atau dalam bahasa ilmiahnya hipotesis, harus terus dibuktikan kebenarannya. Baik itu lewat pengalaman hidup, eksperimen di laboratorium, atau sebagainya. Apabila benar maka dapat dipertahankan. Namun apabila salah, maka harus diperbaiki atau diganti.

Di sini kesesuaian dengan realitas menjadi penting. Popper menganggap bahwa realitas tertinggi itu ada. Hanya saja, karena keterbatasan upaya, manusia takkan mengerti sepenuhnya.

Sebagaimana Hukum Newton diganti Einstein, demikian pula Einstein hampir pasti akan digusur ilmuwan lain. Dari waktu ke waktu pemahaman manusia akan dunia terus berubah, dan itu tercermin lewat sejarah.

 
Popper Menolak Kesempurnaan
 

Sebagaimana telah diuraikan, Popper memandang bahwa “kebenaran” yang dipersepsi manusia tidak tetap. Betul bahwa ada alam semesta yang nyata, akan tetapi orang takkan dapat memahami secara perfect. Yang bisa dilakukan hanyalah memperbaiki pengetahuan sambil berjalan.

Sekilas pandangannya mengingatkan terhadap Plato: bahwa kesempurnaan itu ada, cuma tidak tergapai di dunia. Namun demikian salah besar jika mengatakan Popper terinspirasi Plato. Justru sebaliknya, Popper sangat benci pada Plato. Secara khusus dia menyerang gagasan idealisme Yunani Kuno.

Filsafat idealisme mempunyai doktrin, untuk mencapai kenyataan tertinggi harus murni lewat akal-budi. Seluruh peristiwa di dunia ibaratnya sekadar “cerminan” atau “indikasi”. Adapun untuk mencapai pengetahuan sempurna orang harus melakukan jalan intelektual, sebagai contoh lewat filsafat atau matematika.

Pandangan itu ditolak oleh Popper. Dia menganggap idealisme sebagai angan-angan yang tercerabut dari kenyataan. Segala macam idealisme, menurut Popper, hanya berkutat dengan pemikiran. Sementara belum tentu pemikiran itu akurat menggambarkan dunia.

Salah satu kritik Popper terhadap idealisme terdapat dalam karya berjudul Conjectures and Refutations:

Every serious test of a theory is an attempt to refute it. Testability is therefore the same as refutability, or falsifiability. . . . If this ‘criterion of refutability’ is accepted, then we see at once that philosophical theories, or metaphysical theories, will be irrefutable by definition. . . . And this brings us to the crux of our problem: If philosophical theories are all irrefutable, how can we ever distinguish between true and false philosophical theories?

 
(Popper, 1962, hlm. 197)
(cetak tebal ditambahkan)

Dalam hal ini dia mengkritik idealisme (dan pemikiran metafisika pada umumnya) sebagai “tidak bisa dibuktikan benar-salahnya”. Metodologi ilmiah Popper mensyaratkan pengujian secara empiris. Namun metafisika berada di domain yang berbeda — maka tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Analoginya seperti permainan menebak bentuk hidung kaisar Cina. Namanya tebak-tebakan, bisa saja hasilnya akurat. Akan tetapi benar atau tidaknya tebakan itu tidak dapat diverifikasi. Alhasil di sini terjadi semacam deadlock.

 
Pun demikian, kritik Popper yang paling keras dialamatkan pada angan-angan kesempurnaan di bidang sosial. Secara khusus dia mengkritik ideologi yang mengedepankan utopia — termasuk di antaranya Marxisme dan Fasisme.

 
Tentang Utopia dan Kemelaratan Sosial
 

Popper itu skeptis garis keras. Mengenai hal itu sudah jelas; metodologi ilmiahnya sendiri seperti itu. Ditambah lagi dia juga tak suka pada idealisme. Oleh karena itu, ketika ide-ide yang mengawang diterapkan di dunia sosial, Popper menolaknya habis-habisan.

Termasuk sasaran kritiknya adalah historisisme, yakni pemahaman bahwa arah sejarah memiliki kepastian. Adapun yang (dianggap) menentukan arah sejarah itu bermacam-macam — tergantung pihak mana yang merumuskan.

Sebagai contoh, ajaran Marxis meyakini bahwa hukum-hukum ekonomi akan berkulminasi menuju satu arah: di mana kapitalisme tumbang, proletarianisme bangkit, dan pada akhirnya terbentuk masyarakat tanpa kelas. Fasisme menyatakan “takdir bangsa” untuk menjadi yang terbaik; dapat dicontohkan lewat Deutschland ΓΌber Alles yang didengungkan Hitler. Adapun di masa modern terdapat takhayul-konspirasi yang menyatakan sendi kehidupan diatur Protokol Zion, menuju pemerintahan global dan dunia baru. (lihat juga: Popper, 1962, hlm. 123-125)

Nazi Jerman

Salah satu contoh yang dikritik Popper: Nazi Jerman semasa Perang Dunia II

(image credit: Wikimedia Commons)

Pada umumnya semua ajaran itu meyakini, akan ada situasi di mana “perjuangan sudah selesai”. Boleh dibilang semacam utopia. Dunia yang akan datang ini dianggap sempurna dan tak perlu diapa-apakan lagi.

Di sinilah Popper tak setuju. Menurut Popper, klaim di atas bersifat lari dari tanggung jawab.

Alih-alih manusia menjadi aktor sejarah, yang memilih dan menentukan, mereka lepas tangan: tinggal mengikuti “jalan ideologi”. Dalam prosesnya menjadi dogmatik dan tidak kritis. Alih-alih menganalisis pandangan yang mungkin salah — seperti dalam metodologi ilmiah — orang maju tak-terkontrol hendak mengubah dunia.

Apabila terjadi penderitaan, maka harus dianggap “keniscayaan Revolusi”. Demikian pula jatuhnya korban dianggap sebagai “tumbal” atau “martir”.

Masalahnya, yang semacam ini mengandung bahaya besar.

Pada saat orang maju bersama tanpa berpikir, mereka siap berkorban ini-dan-itu. Harapannya pengorbanan itu impas saat utopia tiba. Masalahnya dalam mewujudkan utopia belum tentu mulus — bisa saja terdapat silap atau salah langkah. Di sini orang harus awas bahwa pandangannya bisa meleset.

Akan tetapi namanya “jalan ideologi”, biasanya tak bisa ditawar. Hampir pasti tak ada autokritik. Jarang ada ruang berefleksi, apalagi memperbaiki diri. Alhasil, kesalahan akan tumpuk-bertumpuk sampai masyarakatnya kolaps.

Adapun hal itu sering terjadi dalam sejarah. Mulai dari runtuhnya Uni Soviet, kejatuhan Nazi Jerman, hingga tumbangnya Imperium Romawi Barat. Semua mempunyai ciri khas: ada keinginan besar yang mau diwujudkan, tetapi dilakukan secara overkill dan totaliter. Akhirnya semua gagal: pengorbanan sudah dibuat, tapi ternyata harapan tak terwujud. Akhirnya masyarakat menderita dua kali.

Di sini terlihat tingginya resiko kegagalan. Seandainya mereka lebih terbuka barangkali akan dapat sukses. Namun namanya juga totaliter… (selanjutnya boleh diisi sendiri)

* * *

Menilik penjelasan di atas, menjadi wajar jika Popper skeptis pada perubahan sosial besar-besaran. Popper menyebut masyarakat di atas sebagai Masyarakat Tertutup. Tertutup dalam arti menolak diri dan pandangannya dikritisi, sedemikian hingga tercipta masyarakat yang stagnan, atau bahkan membusuk dari dalam. Sebagaimana sudah dijelaskan masyarakat ini susah untuk lestari.

Lebih jauh lagi Popper menilai bahwa mengejar utopia hakikatnya kebangkrutan intelektual. Sejak awal ditekankan bahwa, apabila hendak survive, orang harus mengkritisi diri sendiri. Apakah ada yang salah, dan kalau ada, maka di mana salahnya. Mengakui keberadaan utopia — di mana semuanya sempurna dan tak ada yang perlu diurus — berarti memutuskan berhenti berkembang.

Problemnya sendiri soal harga. Ketika satu bangsa sudah berkorban harta-benda dan jiwa, namun gagal mewujudkan utopia, akhirnya semua jadi abu. Dapat dibayangkan potensi kemelaratan yang terjadi.

 
Menghindari Kejatuhan Sosial: Masyarakat Terbuka
 

Bahwa Masyarakat Tertutup itu berbahaya, barangkali susah disangkal. Bukan saja potensi kerugiannya besar, dia juga mengingkari sifat dasar manusia. Manusia yang dapat berpikir dan menganalisis direduksi menjadi “sekrup” mewujudkan ideologi.

Tentunya kemudian timbul pertanyaan. Jika Masyarakat Tertutup itu berbahaya, lalu bagaimana solusinya?

Di sinilah Popper merumuskan gagasan. Alih-alih mengejar idealisme tanpa kontrol, lebih baik jika orang berpijak pada masyarakat yang sudah ada, lalu dari situ melakukan perbaikan. Popper menyebut masyarakat jenis ini sebagai Masyarakat Terbuka.

Sebagaimana ilmu pengetahuan semakin sempurna jika diuji terus-menerus, demikian pula masyarakat harus membuka diri pada pengujian. Pengujian di sini sifatnya macam-macam: mulai dari aspirasi rakyat hingga berita luar negeri bisa jadi masukan.

Sering ada pertanyaan, mengapa kok negara demokratis sering lebih maju — dan makmur — daripada yang tidak demokratis? Menurut Popper sebenarnya hal itu berhubungan. Sebuah negara yang demokratis selalu membuka diri pada masukan. Apabila terdapat kesalahan memerintah, maka kesalahan itu langsung diumumkan dan dievaluasi; apabila perlu maka langsung dibetulkan. Di sini terbentuk mekanisme pencegahan.

Akan tetapi itu tidak berlaku pada Masyarakat Tertutup. Sebuah Masyarakat Tertutup tidak punya mekanisme umpan balik menengarai kesalahan. Sebab bagaimana mau umpan balik, kalau baru protes sedikit sudah ditangkap?πŸ˜† Oleh karena itu kesalahan yang ada jadi terlewat. Sebagaimana sudah disebut: akhirnya kesalahan tumpuk-bertumpuk sampai kolaps. Yang terkena beban sudah tentu rakyatnya. Mulai dari kemiskinan, birokrasi yang rumit, hingga warisan buruk lain ikut menimpa.

Mengutip kesimpulan posting zaman dulu,

Walhasil, kalau masyarakat tertutup punya cacat, mereka akan jatuh tak tertolong. Sementara sebaliknya, kalau masyarakat terbuka punya cacat, mereka punya mekanisme perbaikan. Di sini Popper menekankan: di bidang pemerintahan pun, yang penting adalah keterbukaan untuk menyesuaikan. Inovasi tiada henti!πŸ™‚

Di sini terlihat bedanya. Alih-alih mengejar utopia, yang dilakukan oleh Masyarakat Terbuka adalah perubahan kecil-kecil tapi konstan. Alih-alih mengubah dunia secara drastis, lebih efektif jika orang mencari keburukan yang sudah ada dan mengeliminasinya.

Keburukan dalam masyarakat misalnya kemiskinan, bibit penyakit, atau minim akses pendidikan. Dengan mengurangi berbagai keburukan itu masyarakat jadi lebih maju; dalam prosesnya melakukan perbaikan diri.

Persis dengan metodologi ilmiah yang sudah dijelaskan. Sebagaimana pengetahuan bertambah sempurna dengan membuang hipotesis salah, demikian pula masyarakat menurut Popper.

Popper mengibaratkan memperbaiki masyarakat seperti memperbaiki kapal pesiar di laut. Kalau seluruh kapal dibongkar sekaligus, semua akan tenggelam. Akan tetapi jika dibetulkan perlahan-lahan — mengganti mana yang dibutuhkan — maka kita bisa melanjutkan dengan selamat.

Bagaimana mengembangkan yang sudah ada, sembari di sana-sini menghilangkan sisi buruk, di situ dia intinya.πŸ˜€ Masyarakat Terbuka versi Popper, pada akhirnya, adalah masyarakat yang terus berevolusi.

 
Penutup
 

Bapak Lao Tzu, filsuf Tiongkok yang hidup sekitar abad kelima SM, punya cara menarik menggambarkan perubahan. Kalimatnya terdapat dalam kitab Tao Te Ching, kutipannya di bawah ini.

A tree thick enough to embrace
Grows from the tiny sapling,
A tower of nine levels
Starts from the dirt heap,
A journey of a thousand miles
Begins beneath the feet.

 
(Lao Tzu, “Tao Te Ching” #64, terj. Derek Lin)

Setiap perubahan di alam, menurut Lao Tzu, tidak datang dengan tiba-tiba. Perubahan itu terjadi lewat proses kecil-kecil yang runtut.

Kaitannya dengan pembahasan kita, tentu bisa ditebak. Sejak awal tulisan sampai akhir, terdapat benang merah yang sama: perubahan kecil-kecil tapi konstan.

Demikian pula Masyarakat Terbuka adalah masyarakat yang berkembang secara evolusi. Perubahannya merupakan reaksi terhadap kekurangan yang dimiliki. Seiring jalannya waktu, semakin banyak analisis dan perbaikan, menyingkirkan keburukan yang ada. Dalam prosesnya terbentuk masyarakat yang stabil dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, siapapun yang hidup di alam demokrasi, sesungguhnya dia sangat beruntung. Barangkali memang pemerintah tidak sempurna. Akan tetapi harus diingat: bahwa pemerintah membuka diri untuk dikritisi, dan tidak sedikit-sedikit mengatakan “media brengsek” dan main bredel, itu adalah karunia yang luar biasa. Kita tidak ingin sebuah pemerintahan yang totaliter dan enggan dipertanyakan. Pemerintah yang menutup diri ibaratnya berjalan menuju kehancuran.

Hanya dengan belajar dari kesalahan, kita dapat memperbaiki diri, dari situ menjadi lebih maju. Adapun rasa jumawa berpotensi membuat kita jatuh.

“Pride goes before destruction, and haughty spirit before a fall,” begitu kata orang Kristen. Alangkah baiknya kalau pelajaran itu juga kita camkan dalam hati.πŸ™‚

 

——

Referensi:
 

Corvi, R. (1997). An Introduction to The Thought of Karl Popper (terj. Patrick Camiller). London: Routledge

Popper, K.R. (1966). Open Society and Its Enemies (5th ed., Rev.). Princeton: Princeton University Press

Popper, K.R. (1962). Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. New York: Basic Books

Suhartono, M. (1983). Karl R. Popper: Belajar dari Kesalahan. dalam Sastrapratedja, M. (ed.). Manusia Multi Dimensional (hlm. 82-100). Jakarta: Gramedia

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: