ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Pygmalion dan Galatea

Dalam literatur mitologi Yunani-Romawi, terdapat sebuah buku berjudul Metamorphoses. Buku ini ditulis oleh pujangga bernama Ovid. Sebagaimana tersirat dari judulnya, isinya tentang tokoh-tokoh yang mengalami metamorfosis — dengan kata lain, berubah secara fisik. Perubahannya sendiri bermacam-macam. Ada manusia berubah jadi batu, dewa menyamar jadi hewan, dan lain sebagainya.

Nah, yang hendak dibahas di tulisan ini adalah salah satu cerita di dalamnya, dengan tokoh seorang lelaki muda. Dia dikatakan bernama Pygmalion dan berprofesi sebagai pemahat.

Pygmalion diceritakan sebagai sosok yang — pada awalnya — tidak peduli pada wanita. Fokus utama dalam hidupnya adalah berkarya seni: apapun yang dia buat harus memiliki mutu yang tinggi. Oleh karena itu dia berkembang jadi seniman yang ahli. Patung-patung buatannya selalu tampak hidup dan menyerupai manusia.

Pygmalion knew these women all too well;
Even if he closed his eyes, his instincts told him
He’d better sleep alone. He took to art,
Ingenious as he was, and made a creature
More beautiful than any girl on earth,
A miracle of ivory in a statue

 
(Ovid, “Metamorphoses” ; terj. Horace Gregory, 1958)

Ironisnya, biarpun dia seniman yang cuek, karya besar Pygmalion justru berbentuk seorang wanita. Barangkali memang dia sial, sebab patung wanita buatannya itu jadinya amat cantik. Begitu cantiknya sedemikian hingga Pygmalion mulai berubah pikiran.

More beautiful than any girl on earth,
A miracle of ivory in a statue,
So charming that it made him fall in love.

 
(Ovid, “Metamorphoses” ; terj. Horace Gregory, 1958)

Sekian lama bekerja dan menatap patung, tanpa sadar Pygmalion jatuh cinta. Memang itu cuma patung, akan tetapi, penampilannya sangat hidup. Hati Pygmalion tergugah melihat kecantikannya.

Seniman yang membentuk karya seni berbalik dibentuk oleh karyanya. Hati Pygmalion yang dingin menghangat. Dia kini terbakar oleh asmara.

pygmalion & galatea by j-b regnault

Pygmalion mengagumi patung hasil pahatannya.

(Lukisan karya Jean-Baptiste Regnault, 1786)

(image credit: Wikimedia Commons)

Mengenai patungnya sendiri Ovid tak memberi nama. Meskipun begitu penulis di kemudian hari menyebutnya “Galatea”.

Bisa ditebak, Galatea akhirnya mengisi kehidupan Pygmalion. Perlahan-lahan Pygmalion terobsesi. Mengamati kecantikannya saja tidak cukup: Pygmalion ingin lebih. Dia lalu mendandani Galatea dengan baju dan perhiasan indah.

He whispered at her–look, he brought her toys,
Small gifts that girls delight to wear, to gaze at,
Pet birds and shells and semi-precious stones,
White lilies, flowers of a thousand colours,
And amber tears wept by Heliades.

 
(Ovid, “Metamorphoses” ; terj. Horace Gregory, 1958)

Akan tetapi Galatea tetaplah sebuah patung. Dia tidak dapat bereaksi. Betapapun Pygmalion menghujani dengan perhatian, itu ibaratnya berbicara pada sebuah tembok: hanya berdampak bagi dirinya sendiri. Cuma dia saja yang senang. Sementara dunia di sekitarnya tidak peduli.

Obsesi Pygmalion seolah menunjukkan sisi tragis. Meskipun begitu cerita ini belum selesai.

* * *

Selama beberapa waktu Pygmalion mengagumi Galatea. Dalam hatinya dia menyebut Galatea sebagai “pengantin” dan “istri”. Namun bagaimanapun Pygmalion seperti orang haus meminum air laut: semakin dia melampiaskan, semakin kerinduannya bertambah. Memang salahnya mencintai sosok yang terlalu cantik, yang tidak ada di bumi, yang cuma bisa hadir dalam bentuk patung.

Selisih antara harapan dengan kenyataan membuat Pygmalion galau. Kegalauan itu akhirnya mendorong dia untuk berdoa di altar Venus, Dewi Cinta dan Keindahan.

Pada awalnya Pygmalion gagap — merasa malu dengan kehendaknya. Akan tetapi akhirnya dia mampu mengucapkan.

‘Give me the girl I made.’ He stammered,
Then went on: ‘But someone like–‘

He cleared his throat, then said, ‘Give me a lady
Who is as lovely as my work of art.’

 
(Ovid, “Metamorphoses” ; terj. Horace Gregory, 1958)

Namun Venus adalah Dewi yang tahu isi hati penyembahnya. Biarpun Pygmalion hanya meminta “gadis yang secantik karyanya”, Venus paham dan akan memberikan lebih.

Ketika Pygmalion tiba di rumah,

Then he ran home to see, to touch again
The ivory image that his hands contrived,
And kissed the sleeping lips, now soft, now warm,
Then touched her breasts and cupped them in his hands;
They were as though ivory had turned to wax
And wax to life, yielding, yet quick with breath.

 
(Ovid, “Metamorphoses” ; terj. Horace Gregory, 1958)

Venus telah meniupkan roh pada Galatea. Patung gading yang keras dan dingin kini bertransformasi menjadi hidup. Bukan lagi sekadar tampak hidup — melainkan benar-benar bernafas dan berdenyut. Doa Pygmalion terkabul sepenuhnya.

pygmalion & galatea by j-l gerome

Pygmalion menemukan bahwa Galatea kini hidup dan bernafas

(Lukisan karya Jean-Leon Gerome, 1890)

(image credit: Metropolitan Museum of Art)

Singkat cerita, Pygmalion dan Galatea kemudian menikah dan berketurunan. Pada akhirnya semua berakhir bahagia, cinta mengalahkan segalanya, hidup berjalan lancar, tidak ditemukan pelanggaran, dan status wajar tanpa pengecualian™.

(Kalimat terakhir tak usah diseriusi)

 
Tentang Beku
 

Mas Fertob, rekan blogger dari zaman dulu sekali, punya frase unik tentang idealisme yang terlalu tinggi. Istilahnya diturunkan dari kutipan almarhum dosen beliau, dan dapat dirangkum sebagai berikut: bahwasanya orang yang terlalu idealis itu “beku dalam dunianya sendiri”.

Maksudnya adalah bahwa idealisme itu tak ada yang bisa diterapkan 100% di bumi. Sedikit-sedikit pasti ada kompromi. Oleh karena itu orang yang tak bisa berkompromi akan teralienasi: dalam benaknya harus begini, tetapi dunia begitu. Karena masing-masing tak hendak menyesuaikan akhirnya tidak terjadi apa-apa.

Hubungannya dengan Pygmalion, tentu, karena dia termasuk orang seperti itu. Dia adalah sosok yang beku dalam dunianya sendiri.

Pygmalion dalam karya Ovid digambarkan sebagai pria yang memandang rendah wanita. Dalam sebuah terjemahan public domain,

Pygmalion saw women waste their lives
in wretched shame, and critical of faults
which nature had so deeply planted through
their female hearts, he lived in preference,
for many years unmarried.

 
(Ovid, “Metamorphoses”, terj. Brookes More, 1922)

Dalam hal ini dia orang yang a priori terhadap kualitas wanita. Hal itu membuat dia menyepi dan berkonsentrasi dalam membuat patung.

Akan tetapi takdir berkata lain. Justru patung yang dia buat begitu cantik, begitu sesuai dengan bayangan idealnya. Sedemikian hingga Pygmalion jadi jatuh cinta teramat-dalam.

Masalahnya Pygmalion tahu bahwa mencintai patung bukan hal yang tepat. Dia sendiri gagap ketika hendak berdoa pada Venus. Akan tetapi dia tak punya pilihan lain. Gadis lain di dunia tak ada yang cocok dengannya. Cuma Galatea yang cocok — tak lain karena Galatea sosok yang dibuat Pygmalion sendiri.

Pada akhirnya Pygmalion jadi sosok yang “beku dalam dunianya”. Sebagai laki-laki hasratnya ingin mencintai wanita, tetapi hasrat itu tak tersalurkan, tak lain karena dia ogah “turun standar” dari Galatea. Tidak aneh bahwa akhirnya dia menderita. Kehendak yang tinggi tidak dibarengi perwujudan di bumi.

Namun Pygmalion tetap beruntung. Dalam cerita ini Venus dikisahkan merasa iba, oleh karena itu, dia menolong Pygmalion. Masalahnya itu bukan solusi yang bagus — problem Pygmalion selesai bukan karena dia menyelesaikan, melainkan karena ada kekuatan menolongnya. Bagaimana jika tak ada Venus? Hampir pasti Pygmalion akan terus depresi karena cinta.

* * *

Pada akhirnya, biarpun happy ending, kisah Pygmalion dan Galatea dapat menjadi pengingat. Filsuf Yunani Plato meyakini bahwa, di ranah ide, terdapat hal-hal yang secara definisi sempurna. Akan tetapi ranah itu bukan di bumi: Dunia Forma tidak sama dengan dunia sehari-hari. Kesempurnaan ide itu takkan bisa turun ke dunia materi. Akan selalu ada pergesekan dan kompromi.

In a way, Pygmalion hampir mati beku dalam dunianya. Mudah-mudahan kita — atau saya — tidak semalang itu… ^^;;

 

——

Referensi:

 
(buku)

    Ovid. (1958). The Metamorphoses (H. Gregory, terj.). New York: New American Library.

(online, public domain)

3 responses to “Pygmalion dan Galatea

  1. yud1 Juni 20, 2014 pukul 1:18 pm

    Pada akhirnya semua berakhir bahagia, cinta mengalahkan segalanya, hidup berjalan lancar, tidak ditemukan pelanggaran, dan status wajar tanpa pengecualian™.

    *lirik link: wikipedia/Auditor#Opini_Auditor*

    KUAMPREEEETTTT😆😆

    ahem. iya. benar. makanya ini dongeng mitologi, jadinya macam sinetron Yunani sekali. pesan moral —if any, what do you expect from the Greek— idealisme sampai apriori itu gak sehat lah. in related context saya kok lebih cenderung Popperian soal cari pasangan… yah, tapi itu cerita lain untuk saat ini™.:mrgreen:

  2. sora9n Juni 20, 2014 pukul 3:13 pm

    @ Rihan Musadik

    Sama-sama.🙂

    ——

    @ yud1

    Saya tak mengerti apa yang salah dengan kutipan itu… Sungguh mati saya bingung. Kalau Bapak merasa tidak fair panggil saja auditor Bapak ke sini.❓

    sinetron Yunani sekali

    (LOL)

    cenderung Popperian

    Hehe. For some reason, beliau itu filsuf ‘kesayangan’ orang IPA & teknik. Gak mengejutkan sih.😛

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: