ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Di Tengah Samudra Bintang

Pada tahun 1584, seorang pastor pengembara bernama Giordano Bruno mengumumkan sebuah ide spektakuler, kalau tidak boleh dibilang amat-sangat radikal. Baru empat dekade lewat sejak Nicolaus Copernicus menerbitkan gagasan bumi bergerak mengelilingi matahari, menimbulkan perdebatan intelektual di seluruh Eropa. Meskipun demikian Bruno melangkah lebih jauh: meneruskan pendapat bahwa Planet Bumi tidak istimewa, melainkan sekadar satelit mengelilingi matahari, Bruno menyatakan bahwa terdapat milyaran bintang mirip-matahari di alam semesta, dan masing-masing mempunyai planet yang mengitarinya.

Ide itu dipaparkan dalam buku berbahasa Italia, De l’infinito universo et mondi, dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi On the Infinite Universe and Worlds.

Thus is the excellence of God magnified and the greatness of his kingdom made manifest; he is glorified not in one, but in countless suns; not in a single earth, a single world, but in a thousand thousand, I say in an infinity of worlds.

 
(Waller, 1950; cetak tebal ditambahkan)

Sebagaimana bisa dilihat gagasan Bruno amat melampaui zaman. Belum lama Copernicus menyatakan matahari sebagai pusat, kemudian muncul pendapat bahwa tatasurya ada banyak. Lebih jauh lagi hal itu dihubungkan dengan kebesaran Tuhan. Otomatis, sepak-terjang Bruno menimbulkan kontroversi.

Siapa itu Bruno, dan mengapa ia begitu berani?

Giordano Bruno - statue

Giordano Bruno (1548-1600)

(gambar diolah dari Wikipedia)

 
Sekilas Pendahuluan: Astronomi di Era Renaisans
 

Pada tahun 1543, di tahun yang sama dengan kematiannya, Nicolaus Copernicus menyetujui penerbitan buku De Revolutionibus Orbium Coelestium. Buku ini tidak lain penjelasan akan teori heliosentris buatannya. Karya yang spesial, sebab menyediakan alternatif kosmologi selain yang diakui Gereja. Apabila pendapat umum menyatakan matahari bergerak mengelilingi bumi, maka Copernicus menyatakan: justru bumi yang bergerak, sementara matahari diam di pusat.

Teori Copernicus berangkat dari ajaran ilmuwan Yunani, Aristarchus dari Samos. Lewat matematika dan perhitungan, Copernicus mengemas kosmologi gaya baru. Di kemudian hari dia akan dikenang sebagai pelopor ilmu astronomi modern.

Meskipun begitu, tidak banyak yang tahu bahwa Copernicus sebenarnya sudah selesai menulis De Revolutionibus sejak dekade 1530. Seorang temannya, Rheticus, bertahun-tahun mendorong agar buku itu diterbitkan. Copernicus sendiri awalnya enggan — barangkali karena dia sendiri tak suka berkonfrontasi. Pun demikian, sebelum meninggal, akhirnya Copernicus menyerah. Bulan Maret 1543, De Revolutionibus naik cetak, diiringi kata pengantar Andreas Osiander. Bulan Mei 1543, Copernicus meninggal dunia. Rangkaian peristiwa ini menandai dimulainya era baru bidang astronomi.

Copernicus Painting - Jan Matejko

Copernicus digambarkan dalam lukisan abad ke-19

(via Wikimedia Commons)

Terbitnya De Revolutionibus di Eropa kemudian menginspirasi generasi astronom pasca-Copernicus. Tiga sosok terkenal di antaranya Tycho Brahe, pengamat bintang asal Denmark; Johannes Kepler, yang mewarisi data-data penelitian Tycho; terakhir adalah Galileo Galilei.

Termasuk di antara yang membaca De Revolutionibus adalah pastor Dominikan bernama Giordano Bruno, yang sudah diperkenalkan di awal. Bruno sendiri bukan seorang astronom, lebih lagi, dia antipati pada matematika. Sebagai pemikir Bruno lebih suka pendekatan konsep. Hal ini membuat dia lebih terkenal sebagai filsuf.

Menariknya, biarpun Bruno hidup sepantaran dengan Kepler dan Galileo, tetapi pamornya kalah jauh dibanding mereka. Mengenai hal ini akan kita lihat di bagian selanjutnya.

 
Bruno Melanjutkan Copernicus
 

Sebagaimana sudah disebut, Bruno adalah seorang pastor. Secara natural pikirannya banyak dicurahkan ke teologi. Membaca karya Copernicus membuat dia terpikir dampaknya di bidang agama.

Copernicus telah “menggusur” posisi Bumi, dari yang tadinya pusat semesta, jadi sekadar pengiring matahari. Bagaimana jadinya jika — seandainya — matahari pun bukan pusat semesta, melainkan hanya anggota biasa? Pertanyaan ini menggelayut di benak Bruno.

Penting untuk dicatat bahwa Bruno mendapat ide di atas dari filsuf terdahulu, yaitu Lucretius dan Nicolaus Cusanus. Dalam hal ini ia mirip Copernicus: menyerap filsafat kuno untuk ide progresif. Meskipun begitu Bruno punya tambahan orisinil.

Sebagai seorang Kristen, Bruno menganggap ilmu astrologi merendahkan kebesaran Tuhan. Dia percaya bahwa alam semesta maha luas, akan tetapi faktanya, para astrolog hanya fokus pada Bumi dan tujuh benda langit. Dia bersimpati pada Copernicus yang melawan teori geosentris. Meskipun begitu, Bruno merasa tak cukup sampai di situ.

Di mata Bruno, alam semesta mestinya mencerminkan kebesaran Tuhan yang tak-hingga. Pikiran manusia mustahil menjangkaunya. Oleh karena itu: salah besar jika ada pandangan tentang “pusat” dan “batas” angkasa. Dalam hal ini teori heliosentris cuma sedikit lebih baik daripada geosentris.

It is then unnecessary to investigate whether there be beyond the heaven Space, Void or Time. For there is a single general space, a single vast immensity which we may freely call Void; in it are innumerable globes like this one on which we live and grow. This space we declare to be infinite, since neither reason, convenience, possibility, sense-perception nor nature assign to it a limit. In it are an infinity of worlds of the same kind as our own.

 
(Waller, 1950; cetak tebal ditambahkan)

Kutipan di atas, bersama dengan yang kita baca di bagian pembuka, amat gamblang menjelaskan filsafat Bruno. Bukan saja Bumi tidak unik di tata surya — tata surya pun tidak unik di alam semesta!😯

Sayangnya, meskipun punya gagasan luar biasa, Bruno tidak menulis secara keilmuan. Sebagaimana sudah disebut dia bukan astronom, oleh karena itu, tidak ada semacam scientific rigor. Ditambah lagi bahwa Bruno lebih suka berfilsafat daripada matematika. Barangkali ini juga sebabnya dia — di kemudian hari — jadi kurang terkenal dibanding tokoh sezamannya.

Sementara Tycho, Kepler, dan Galileo bergelut dengan perhitungan matematik, Bruno lebih memilih mengembangkan filsafat dan teologi. Memang dia sendiri akhirnya jadi terkenal sebagai filsuf. Pun demikian, ketenaran itu harus dibayar dengan harga mahal.

***

Perlahan tapi pasti Bruno menyebarkan gagasan. Dia sendiri punya beberapa ide radikal: di samping astronomi juga doktrin melawan Katolik. Cukup wajar jika Gereja mulai serius kepadanya.

Selama bertahun-tahun Bruno mengembara menghindari pengejaran. Sayangnya, di tahun 1592, dia tertangkap Inkuisisi. Bisa ditebak mereka tak suka pandangannya. Jika Copernicus saja membuat risih, bagaimana pula mereka memandang Bruno? Kebid’ahan Bruno ibaratnya menabur garam di luka yang masih basah.

Ada banyak dakwaan yang dialamatkan ke Bruno. Mulai dari kegiatan sihir, penyebaran doktrin sesat, hingga menolak kebenaran Trinitas. Yang juga memberatkan adalah filsafat yang sudah kita lihat: bahwasanya alam semesta tak-hingga, dan matahari serta bumi tidak istimewa. Barangkali bukan kejutan bahwa Gereja akhirnya menjatuhkan vonis mati.

Mengikuti hasil vonis, Bruno akhirnya dibakar di kota Roma pada bulan Februari 1600. Meskipun begitu ide-idenya tetap lestari hingga sekarang.

 
Di Tengah Samudra Bintang (dan Planet, dan Lain Sebagainya)
 

Bahwa perjalanan hidup Bruno cukup tragis, hal itu tak bisa disangkal. Problemnya adalah dia punya keyakinan yang nyeleneh untuk ukuran zamannya. Bukan resep bagus untuk hidup makmur dan bahagia — lebih lagi di saat kekuatan religius-dogmatik begitu besar. Meskipun demikian, tulisan Bruno memberi penyadaran akan posisi manusia di alam semesta.

We are but mote in universe’s eye.

(via NASA APOD)

Empat ratus tahun sudah berlalu. Di masa kini, orang pada umumnya sudah tahu bahwa matahari adalah bintang. Melalui reaksi nuklir matahari menghasilkan energi, lalu energi itu diradiasikan ke berbagai penjuru. Hasilnya adalah panas dan cahaya yang — dalam perjalanannya — memberi kehidupan di planet Bumi. Kalau tidak ada matahari maka planet bumi akan kosong belaka. Ibaratnya sekadar batu dingin yang mengambang di angkasa.

Menariknya adalah, Bumi bukan cuma satu-satunya planet yang mengitari matahari. Di sekolah dasar kita sudah belajar tentang nama-nama planet di tata surya: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Pembaca yang seumur saya barangkali masih ingat Pluto sebagai planet. Hanya saja, karena satu dan lain hal, akhirnya “turun pangkat” dari sebutan itu.

Di luar sembilan di atas masih ada benda serupa-planet yang mengelilingi matahari. Haumea, yang namanya dari mitologi Hawaii; Makemake dari mitos Kepulauan Fiji; terakhir adalah Eris yang memakai nama Eropa. Bersama dengan Pluto mereka mengitari matahari di ujung tatasurya. Perlu dicatat bahwa biarpun mirip planet tetapi ukuran mereka lebih kecil, oleh karena itu disebut sebagai “planet katai” (dwarf planet).

Tata surya, planet dan planet katai

Keluarga besar: Urutan orbit planet dan planet katai. (Jarak tidak sesuai skala)

(via Wikipedia)

Sebagaimana bisa dilihat tata surya kita mengandung banyak benda pengiring. Dari gambar di atas saja ada sudah sampai belasan. Apabila kita mau serius, menghitung semua benda non-planet, maka jumlahnya akan jauh lebih besar: bayangkan Anda harus mencatat semua bulan, komet, dan asteroid besar maupun kecil. Dijamin enggak bakal sanggup.:mrgreen:

Tata surya kita, yang mengacu matahari sebagai pusatnya, amat penuh dengan benda langit. Dan itu baru melibatkan satu buah bintang. Saya ingin Anda berkonsentrasi memikirkannya. Planet, planet katai, satelit, komet, asteroid. Think of everything.

Sekarang bayangkan ada berapa banyak bintang di angkasa…

Video ini akan membuat Anda merasa sangat kecil

 
Penutup: It’s A Big, Big Universe
 

Bapak Carl Sagan, penulis sains berkebangsaan Amerika, punya gambaran menarik tentang ilmu astronomi dan sejarahnya. Pendapat ini dituangkan dalam buku karya beliau — berjudul Pale Blue Dot — yang diterbitkan pada tahun 1994. Kalau hendak dirangkum dalam bahasa Indonesia, intinya kira-kira sebagai berikut.

Zaman dulu orang berkata: seandainya Bumi bukan pusat semesta, melainkan cuma mengelilingi matahari, tidak apa-apa. Minimal matahari masih jadi pusat.
…Para ilmuwan kemudian menemukan bahwa matahari cuma satu bintang di galaksi Bima Sakti.

Kemudian orang berkata: seandainya matahari bukan pusat semesta, melainkan cuma bagian dari Bima Sakti, tidak apa-apa. Minimal Bima Sakti itu satu-satunya galaksi.
…Para ilmuwan kemudian menemukan bahwa ada banyak galaksi-galaksi lain.

Kemudian orang berkata: seandainya Bima Sakti cuma salah satu galaksi, tidak apa-apa. Minimal dia di tengah alam semesta.
…Para ilmuwan kemudian menemukan bahwa tidak mungkin bisa menentukan pusat alam semesta.

Kemudian orang berkata: seandainya Bima Sakti memang tak di tengah, tidak apa-apa. Minimal cuma di sini yang ada planetnya. Sejauh ini benar. Pun demikian, bilang begitu ibaratnya pelarian. Apabila kelak ilmuwan menemukan planet di galaksi lain, klaim ini juga akan runtuh.

Sagan menamai rangkaian peristiwa di atas sebagai “Series of Great Demotions”. Dari zaman ke zaman, kemajuan sains memaksa orang untuk berpikir akan posisinya di alam semesta. Ibaratnya kita “dipaksa” untuk tidak sombong.

Ketika pengetahuan masih rendah merasa dirinya spesial. Semua-semua berpusat pada diri dan kepentingannya. Akan tetapi, seiring jalannya waktu, perlahan-lahan terungkap bahwa kesombongan itu semu. Bukan saja planet bumi tidak spesial — bahkan matahari dan Bima Sakti pun tidak spesial!😯

The more you expand the horizon, the more you realize how very small you are. Ini, kalau saya boleh menilai, adalah sebuah kebijaksanaan yang harus dimaknai. Bahwasanya kita begitu kecil di tengah semesta yang amat, sangat, benar-benar besarrrrrr.

Yang mana, kemudian membawa kita kembali pada Copernicus dan Giordano Bruno. Dua orang yang kontroversial karena gagasannya dianggap merendahkan kehormatan. Meskipun demikian, seiring perjalanan waktu, kemudian terbukti bahwa mereka itulah yang benar. Memang sulit kalau tercampur dengan perasaan, apalagi kebanggaan diri. Hanya orang yang benar-benar rendah hati yang bisa melihat fakta dan mengakui kebenarannya — biarpun mungkin rasanya pahit.

“Vanity, definitely my favorite sin.” Begitu kata Al Pacino — yang berperan jadi Setan — di salah satu film. Saya pikir itu ada benarnya!😆

 

——

Daftar Pustaka:

 
Pannekoek, A. (1961). A History of Astronomy. Ontario: General Publishing Company

Sagan, C. (1994). Pale Blue Dot: A Vision of Human Future in Space. New York: Ballantine Books

Schlager, N. & Lauer, J. (Ed.). (2001). Science and Its Times: Understanding the Social Significance of Scientific Discovery, Volume 3, 1450 to 1699 (hlm. 318-321). Farmington Hills, MI: Gale Group

Seeds, M.A. & Backman, D.E. (2011). Foundations of Astronomy, 11th ed. Boston, MA: Brooks/Cole

Waller, D. (1950). Bruno: His Life and Thoughts, With Annotated Translation of His Work
On the Infinite Universe and Worlds.
New York: Henry Schuman

12 responses to “Di Tengah Samudra Bintang

  1. Gentole Desember 6, 2012 pukul 10:15 am

    sebenernya alam semesta itu pikiran saya.😛

  2. Gentole Desember 6, 2012 pukul 10:20 am

    eh tapi agak serius; kalo baca hawking dan einstein sebenernya konsep pusat itu sangat tergantung dengan konsep ruang dan gerak, dan posisi si pengamat— yang adalah relatif. sebagai orang yang tinggal di bumi, saya kira geosentrisme itu gak terlalu salah. maksudnya, buat saya rumah di mana saya tinggal adalah pusat dari semesta.🙂

  3. sora9n Desember 6, 2012 pukul 4:55 pm

    @ Gentole

    There is truth in that. Cuma ya, seandainya saya boyongan ke Mars, sementara masbro tetap di Bumi, pusatnya jadi nggak jelas.:mrgreen:

  4. Mas Jamal Desember 10, 2012 pukul 7:02 pm

    Wah saya kira sora-kun akan melanjutkan pembahasan bahasa Jepang di blog ini. Ternyata blog ini seperti Wikipedia. Hehehe…

    何で?

    Kenapa nggak dilanjutin lagi .nulis tutorial bahasa Jepang?

  5. sora9n Desember 10, 2012 pukul 8:14 pm

    @ Mas Jamal

    Seperti ditulis di posting terakhir blog lama, lebih karena saya udah ‘pensiun’ ngikutin jejepangan. Belakangan banyak minat ke arah lain.🙂 Walaupun, kalau ada yang nanya nihongo lewat e-mail, biasanya saya tanggapi.

    Lagipula di internet udah banyak resource nihongo yang bagus — baik bahasa Indonesia maupun Inggris. Jadi harusnya nggak masalah biarpun saya pensiun. ^^a

  6. Pulau Tidung City Desember 11, 2012 pukul 1:58 pm

    Apa gak ada standarnya mas ?

  7. sora9n Desember 11, 2012 pukul 3:01 pm

    @ Pulau Tidung City

    Maksudnya?

  8. Pulau Tidung Desember 15, 2012 pukul 9:38 pm

    Pertanyaan saya buat siapa ya.
    Setiap diri adalah pusat.
    Setiap pusat harus ada yang mengiringi ( melingkari- lingkaran ) dan seimbang.
    Tapi, untuk barang grosiran biarpun ada di pojokan yang penting… tidak mesti ada di tengah- tengah.

  9. sora9n Desember 16, 2012 pukul 1:39 am

    Pertanyaan saya buat siapa ya.

    Wah, ya nggak tahu. Makanya lain kali komen yang jelas, ke mana juntrungannya, dan ditujukan buat siapa.😛

    Setiap diri adalah pusat.
    Setiap pusat harus ada yang mengiringi ( melingkari- lingkaran ) dan seimbang.

    Seperti respon saya ke mas gentole di atas, there is truth in that. Tapi pernyataan itu agak repot ditinjau secara ilmiah — sebab sains perlu kerangka acuan yang jelas dan obyektif. Kalau buat berfilsafat sih monggo saja.🙂

  10. vhl September 5, 2014 pukul 10:13 pm

    di artikel ini ditulis kalau bruno antipati pada matematika. antipati berarti benci atau nggak suka. tapi di wikipedia disebut kalau matematika adalah salah satu minatnya, diupdate 5 september 2014. jadi siapa yang benar? wikipedia mudah diedit dan diubah isinya demi perbaikan tapi saya meragukan kebenaran isinya. semoga mas sora bisa menjelaskan

  11. sora9n September 6, 2014 pukul 12:12 am

    @ vhl

    Kalau berdasarkan buku Schlager & Lauer (referensi no. 3 di atas), beberapa kali disebut bahwa Bruno tidak suka matematika, karena sering dipakai dalam astrologi & numerologi. Kutipan-kutipan:

    Scholars like John Dee (1527-1608) became interested in the occult power of numbers and symbols, assigning numerical values to letters in words to expose hidden meanings. These magical elements led some scientists, such as Francis Bacon (1561-1626) and Giordano Bruno (1548-1600), to ridicule or downplay the role of mathematics.

    (hlm. 228)

    Initially a Dominican friar, Bruno’s unorthodox views caused him trouble, so he left Italy and traveled throughout Europe. He mistrusted mathematics, preferring symbols and images, which gave his works a mystical tone. He enthusiastically supported the ideas of Nicolaus Copernicus, despite Church opposition.

    (hlm. 389)

    Bisa jadi, bukan berarti beliau tidak suka matematika sebagai ilmu — cuma asosiasi magisnya saja yang membuat dia ogah. Namun yang jelas dia sering ‘ribut’ dengan tokoh matematika di zamannya.

    Dari biografi online di Univ. Saint Andrews:

    He also attacked a young Catholic mathematician Fabrizio Mordente, publishing four dialogues which made fun of Mordente’s views. Bruno was forced to leave Paris and he went to Germany where he travelled around the universities lecturing on his beliefs, and attacking the views of mathematicians and philosophers.

    Satu-satunya referensi yang saya temukan soal Bruno sebagai matematikawan ada di link ini, tapi di situ Bruno bukan matematikawan tradisional — melainkan berusaha membuat “matematika baru” untuk menjelaskan filsafatnya.

    Bruno’s issues with mathematics led him to a certain set of obstacles and dilemmas that inspired him to create a new kind of a mathematics, a mathesis.” -Arielle Saiber, Giordano Bruno and the Geometry of Language

     
    Jadi… saya pikir Bruno mungkin punya minat matematika, akan tetapi tidak dalam sense yang tradisional. Sebab kalau iya, dia harusnya tak bentrok segitunya dengan komunitas matematika sezamannya.❓

    * * *

    Kurang lebih seperti itu yang saya tahu. Semoga membantu. ^^

  12. vhl Oktober 9, 2014 pukul 12:16 pm

    terima kasih utk penjelasannya. cukup memperjelas dan menambah wawasan soal bruno

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: