ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

The Wibbly-wobbly Tapestry of Being Human

— Tulisan bersifat umum untuk menandai kembali ngeblog

 
Ada sebuah buku yang, kalau saya boleh jujur, berperan sangat besar membentuk diri saya yang sekarang. Bukunya sendiri terbitan tahun 1983, jadi secara umur, masih lebih tua daripada saya. Membayangkannya saja membuat saya rikuh — jadi merasa kecil di tengah perjalanan waktu, begitu. But I digress.

Anyway, yang saya maksud di sini adalah sebuah pengantar filsafat, yang sampulnya bisa Anda lihat di bawah ini.

manusia-multi-dimensional-cover

“Manusia Multi Dimensional”, kumpulan esai terbitan Unika Atmajaya

Boleh dibilang bahwa ini buku filsafat pertama yang saya baca proper, dari awal sampai akhir, dan bertindak sebagai gerbang masuk saya ke sana. Dalam sekejap saya menyadari bahwa filsafat itu tidak mesti mbulet dan penuh jargon, melainkan bisa dijelaskan secara sederhana dan menarik. Kalau saja semua buku filsafat seperti ini! Barangkali saya akan tertarik ‘berkenalan’ lebih awal.

Melalui buku ini saya belajar bagaimana perjalanan Albert Camus memaknai hidup. Kemudian tinjauan Susanne Langer tentang manusia yang mempersepsi simbol dan seni; juga sejarah Karl Popper menyempurnakan metodologi ilmiah. Boleh dibilang bahwa, biarpun sekadar introduksi, buku ini berdampak besar membentuk cara berpikir saya.

Pun demikian, buku ini menjadi amat spesial bagi saya, bukan semata karena memperkenalkan ilmu filsafat — melainkan karena mengajari sebuah ide. Ide yang tertulis dengan jelas di sampulnya. “Manusia Multi Dimensional.” Manusia itu tidak pernah satu dimensi. Dia terbagi jadi bagian-bagian yang saling melengkapi.

Mengenai hal ini jelas terpapar dalam setiap babnya. Bahwa manusia adalah makhluk ilmiah (Karl Popper), tetapi di sisi lain, juga tak bisa lepas dari seni dan simbolisme (Susanne Langer). Bahwa manusia dibentuk oleh dunia dan sejarahnya (Ortega y Gasset), tetapi juga “dipipihkan” oleh modernitas (Marcuse). Pada akhirnya ialah bahwa manusia selalu berusaha memaknai hidup. Baik secara spiritual (Eliade, Jaspers) maupun rasional (Nietzsche dan Camus).

Boleh dibilang bahwa, di titik tersebut, saya menyadari betapa kompleksnya sebuah situasi “menjadi manusia”. Manusia tidak mungkin cuma punya satu sisi: apakah itu ilmiah saja, atau kesenian saja, atau malah filsafat saja! Ada banyak dimensi yang turut berperan. Pada akhirnya semua saling berinteraksi, membentuk berbagai macam pribadi. Barangkali ada benarnya sebuah kutipan, “tidak ada dua orang yang sama”. Sebab memang variabelnya cukup banyak.

“You are a member of a social world on a planet containing about 7 billion people. This social world is filled with paradox, mystery, suspense, and outright absurdity.” Demikian kata buku pengantar psikologi yang saya baca. Saya pikir, itu ada benarnya!πŸ˜›

 
Lebih Lanjut: Warisan Beragam Sisi
 

Kita tinggal di planet Bumi. Mengenai hal ini, semua sudah tahu. Yang jarang disadari adalah betapa semua hal yang timbul di atasnya saling berkait dan berkelindan. Termasuk di antaranya adalah perkara multi-dimensi yang sedang kita bahas.

Di zaman Yunani Kuno, misalnya, ilmu matematika tumbuh berkait dengan mistisisme religius. Pythagoras meyakini alam semesta berjalan harmonis, yang mana harmonisme itu terpancar lewat bilangan rasional. Mempelajari matematika ibaratnya berusaha menyatu dengan ‘jalan pikiran’ alam. Semua yang ada di alam dapat dijelaskan lewat skala rasional — sebagai contoh 2:1, 4:3, dan seterusnya. (Belakangan keyakinan ini terbukti salah)

Kemudian terdapat juga sosok Zeno dari Elea. Melalui berbagai paradoks dia mengetengahkan persoalan matematika yang berbumbu filsafat. Di kemudian hari Rene Descartes menghubungkan matematika dengan filsafat dan teologi. Lalu mungkin saya juga harus menyebut para ahli geometri era Renaissance. Bermodalkan kemampuan matematika yang mumpuni, mereka menciptakan karya seni dan arsitektur hebat yang bertahan sampai sekarang. Uniknya karya mereka banyak bertema keagamaan — hal yang lagi-lagi menunjukkan perhubungan antara matematika dan kultur.

Il Duomo di kota Firenze, Italia. Circle, circle, little square…

(via Wikipedia)

Tentu, contoh-contoh persilangan sains, kultur, dan filsafat tidak cuma terjadi di Eropa. Hampir seluruh bagian dunia punya contoh yang mewakili. Bangsa Maya, misalnya, memiliki kemampuan olah akustik luar biasa untuk keperluan penyembahan. Arsitektur Islam mempunyai corak geometri quasicrystal, sebab oleh agama dilarang menggambar makhluk hidup. Di Jepang terdapat sangaku — seni ornamen di mana lingkaran dan segitiga mengacu pada aturan matematik. Benar-benar luar biasa!πŸ™‚

Sampai di sini saya yakin Anda menangkap maksud saya. Planet Bumi, yang kita tinggali di atasnya, sangat penuh warisan multi-dimensi seperti di atas. Filsafat bertemu matematika; matematika bertemu kebudayaan; karya seni dipengaruhi agama… Semua itu menunjukkan bahwa dalam perjalanannya manusia tidak pernah satu dimensi. Selalu ada berbagai aspek — dan mana lagi petunjuk yang lebih baik selain lewat sejarah?:mrgreen:

Pada akhirnya semua saling berkait, bersilang, dan berinteraksi. Saya pikir, agak kurang tepat kalau orang lebih suka punya satu sisi saja. Apakah itu sekadar sisi ilmiah, filsafat, atau melulu bicara seni — sebab, ya, kenyataannya “menjadi manusia” itu adalah hal yang kompleks. Because from a non-linear, non-subjective viewpoint, it’s more like wibbly-wobbly, timey-wimey tapestry of… everything.

allons-y (via doctorwhospain)

Allons-y!

(via doctorwhospain)

 
Mengapa Tertarik Mempelajari?

 
Saya adalah orang yang kuliahnya di bidang teknik (biarpun teknik yang banyak fisikanya, tapi itu cerita lain). Mengenai hal ini, sebagian pembaca sudah tahu. Pun demikian saya hendak bercerita sedikit tentang latar belakang ini.

Biarpun by and large edukasi saya insinyur, saya punya kecenderungan menyukai sains in general. Jadi ada kalanya saya nimbrung debat evolusi atau membicarakan bias psikologi. Hal-hal ini tak ada hubungannya dengan teknik maupun fisika. Meskipun demikian banyak hal menarik yang saya pelajari darinya.

Misalnya, waktu seorang mbak di twitter bertanya, kenapa sih saya tertarik psikologi? Jawabannya sendiri sederhana. Bagi saya psikologi itu adalah jalan untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang lain. Sedikit-banyak belajar memetakan ketakutan dan takhayul. Memahami celah kesalahan berpikir, lalu dari situ memperbaikinya. Hitung-hitung juga belajar jadi pendengar curhat yang efisien — tapi itu sebaiknya tak dibahas di sini!πŸ˜›

Dengan cara yang sama, baca-baca cabang ilmu lain juga menarik — biarpun jelas saya takkan pernah jadi ahlinya. Lewat evolusi saya mendapat gambaran asal mula keragaman makhluk hidup di bumi. Bagaimana prosesnya, dan betapa setiap makanan yang kita makan pun dikembangkan memanfaatkan evolusi. Persilangan ayam ras, padi varietas unggul, dan tomat yang ada di pasar: for once, I can understand how it works! Dan itu adalah perasaan yang luar biasa.

There are really more things in heaven and earth than are thought of in our wildest dreams. Dan saya beruntung punya waktu, kesempatan, dan resource untuk menikmatinya.

Zaman sekarang di internet, orang bisa membaca e-book dan jurnal baik ilegal maupun legal untuk belajar. Materi kuliah seperti slide dan lecture note, bisa diunduh; jurnal open access berkualitas seperti PLoS juga ada. Arsip Royal Society bisa dibaca gratis untuk umum, dan lain sebagainya. Saya sendiri kadang beruntung ketemu mirror artikel berbayar JSTOR dan Elsevier, tapi soal ini baiknya tak dibicarakan…

 
Penutup: Sebuah Catatan Perjalanan
 

Sekitar tahun 2007, blogosphere WordPress Indonesia sempat heboh oleh debat evolusi-kreasionisme. Pada waktu itu Harun Yahya mengajukan permohonan legal agar WordPress diblok di seluruh Turki. Sebabnya beliau merasa banyak blog melakukan pencemaran nama baik, sedemikian hingga WordPress harus bertanggung jawab.

Hal ini memicu kontroversi. Sebab, di samping membungkam kebebasan berbicara, Harun Yahya punya reputasi menekan ilmuwan dan akademisi pro-evolusi dengan cara serupa. Otomatis timbul pertanyaan: apa mungkin beliau sedang berbuat serupa pada blogger WordPress?

Dalam waktu sebentar suasana panas merembet. Beberapa hari seorang rekan menulis latar belakang Harun Yahya, komentar blognya diserbu troll anti-evolusi. Bahwa Harun Yahya itu benar, penulis blognya tidak tahu apa-apa, dan seterusnya. Mengenai kelanjutannya sendiri cukup panjang — meskipun begitu, cukuplah dikatakan bahwa sejumlah posting akhirnya mendapat ratusan komen.

rqc-hy

Remember, remember, August of 2007

Ada banyak klaim yang dilempar pada waktu itu. Kalau Anda akrab dengan debat evolusi-kreasi, pasti bisa menebak. Mulai dari mengatakan “evolusi sudah runtuh”, “mengapa masih ada monyet”, dan seterusnya. Hal yang ironis. Sebab, jika orang hendak menelusuri, akan tahu bahwa keberatan itu aslinya palsu. Dibuat-buat oleh Harun Yahya dan rekannya sesama kreasionis.

Sebagaimana sudah disebutkan, saya bukan seorang pakar. Saya hanya seorang yang ‘hobi’ belajar, mencari tahu ini-dan-itu. Semua yang saya tuliskan, baik di sini maupun di blog lama ibaratnya sebuah catatan perjalanan. Saya bukan seorang guru, dan kelihatannya, takkan pernah jadi guru. Akan tetapi, apabila ada satu hal yang saya pelajari selama lima tahun terakhir: itu adalah bahwa banyak orang Indonesia bisa mengambil manfaat dari catatan yang saya buat.

Dimulai dari ribut-ribut perkara evolusi di atas, lima tahun berselang, kesan yang ditimbulkannya masih sama. Ada hal-hal yang lebih baik jika saya tulis dan bagikan. Betapapun mungkin saya malas atau berat — hal yang sering terjadi — lebih baik jika saya menuliskannya. To report me and my cause aright, to the unsatisfied.

Berapa banyak yang akan tertarik baca, saya tidak tahu. Mungkin penghuni internet lebih suka berdebat soal sepakbola dan politik; soal wasit dengan dua kartu merah dan gol offside, atau mantan walikota yang sekarang jadi gubernur. But it’s okay. I just want to share, and hopefully you can enjoy it too.

Bahwa pada akhirnya orang mungkin berkata, “kamu bukan ahlinya, tahu apa kamu” dan seterusnya, itu pun tidak mengapa. Saya di sini hanya berperan membagi beserta referensinya. Tidak semua orang suka berkeliaran membaca isi jurnal, mengunduh buku elektronik dan membacanya sampai habis. Tidak semua orang suka mengunduh majalah ilmiah dan berkeliaran di domain research blogging. Saya kebetulan beruntung suka dan bisa melakukannya. So here it is! My blog, where you can read about my journey.

Mudah-mudahan Anda menikmatinya sebagaimana saya juga menikmati mempelajarinya.

Dan dengan demikian, saya pun resmi kembali ngeblog. Hore! Untuk pembaca lama, selamat datang kembali. Dan untuk pembaca baru (kalau ada): welcome aboard!πŸ˜€

22 responses to “The Wibbly-wobbly Tapestry of Being Human

  1. Gentole November 1, 2012 pukul 8:12 pm

    Senang kalo kamu menulis lagi So. Sebenarnya banyak sekali ide yang saya mau tulis juga. Soal pandangan saya tentang sains sekarang. Atau filsafat, kebudayaan, seni, Internet, dll. Ada banyak sekali pergeseran sejak ngeblog pertama tahun 2005 (di blogspot) dan pindah ke wordpress akhir 2007/awal tahun 2008. Kecuali soal bergalau dan mengeluh. Itu sih bawaan lahir. Anyway, selamat datang kembali!

  2. cK November 2, 2012 pukul 5:24 pm

    horeee horeeee sora ngeblog lagiiiii! semacam kangen dengan teman-teman blogger angkatan 2007πŸ˜›

  3. sora9n November 2, 2012 pukul 5:38 pm

    @ Gentole

    Thanks!πŸ˜€

    BTW, saya berharap masbro lebih sering posting yang… euh, lebih tidak kriptik dibanding biasanya.:mrgreen:

    @ cK

    Anjrit, ada chika di blog gw! Hari ini bakal hujan!😯

    *kabur*

  4. lambrtz November 2, 2012 pukul 5:40 pm

    Kayanya tempo hari saya pernah komen di G+. Sebenernya saya ngidem soal manusia multidimensi ini, tapi yaa I wish we have the time Sor.😐 Menurut saya, pada akhirnya hanya beberapa dimensi yang bisa kita beri perhatian. Saya toh pingin-pingin aja belajar soal grafik, robot, AI dan perpaduannya dengan sepak bola, manga, prog rock, dan perjalanan luar angkasa. Tapi ya itu tadi. So little time, so many women much to do.😐

    *entah ini nyinyir apa curbung*πŸ˜†

  5. sora9n November 2, 2012 pukul 5:46 pm

    @ lambrtz

    Makanya, saya beruntung punya waktu, kesempatan dan resource mempelajarinya.πŸ˜›

    And then to share & report the cause aright… the rest is silence.

    keterusan ngHamlet

  6. sora9n November 2, 2012 pukul 5:49 pm

    @ lambrtz

    BTW, masbro, kapan-kapan ngeblog dikit lah tentang (at least) matematik di tempat ente. Gaya populer saja. Perkenalkan sekilas ke pembaca umum tentang quaternion, topologi, dst. I’m sure it’ll work!πŸ˜›

  7. Suluh November 2, 2012 pukul 5:53 pm

    Debat evolusinya masih ada lho, cuma udah pindah gelanggang, dari wordpress ke facebook. Dari facebook ke group-groupnya.

    Jadi ingat pernah kasih link ke situ punya blog waktu ditanya: “Ada gak sih blog indonesia yang mbahas Evolusi tapi gak ngikut itu Harun Yahya?”πŸ™‚

  8. Gentole November 2, 2012 pukul 6:16 pm

    Masalah waktu ini emang penting. Waktu sekarang jadi lebih berharga. Tidak seperti dulu. Soal postingan kriptik, ya mungkin gak bisa dihilangin. Trademark itu, blog Gentole. Adapun postingan yang lebih serius mungkin bisa diperbanyak. Mungkin bisa mulai pekan depan.

  9. sora9n November 2, 2012 pukul 6:18 pm

    @ Suluh

    Debat evolusinya masih ada lho, cuma udah pindah gelanggang, dari wordpress ke facebook. Dari facebook ke group-groupnya.

    Iya. Saya sempat lihat terakhir2 sebelum cabut dari sana (setahun lalu? CMIIW). Memang gak ada matinya, ya.πŸ˜†

    Re: blog Indonesia lain, AFAIK dulu ada blog “Fakta Evolusi” di blogspot (tapi sekarang ga ada — entah kenapa). Blog Pak Rovicky juga suka membahas. Walaupun terakhir-terakhir lebih fokus ke geologi, sih.

    @ Gentole

    Jangan kuatir, just be yourself. We’ll wait. Bagaimanapun orang nature-nya beda-beda, dan itu harus dihargai.:mrgreen:

    *halah*

  10. Gentole November 2, 2012 pukul 7:12 pm

    I have been planning to write another post about science. Beberapa waktu lalu sempat beli bukunya Dawkins (lagi, gak kapok-kapok) soal sains buat orang awam. Bukunya saya baca di pesawat. Ketiduran, jatuh dan ketinggalan.πŸ™‚ Ah, senangnya menulis tidak dibatasi 140 aksara!

  11. sora9n November 2, 2012 pukul 7:51 pm

    Ah, senangnya menulis tidak dibatasi 140 aksara!

    πŸ˜†

  12. AnDo November 3, 2012 pukul 2:38 am

    Ah, akhirnya blog tempat saya belajar ini kembali memunculkan tulisan baru. Maklumlah, rada bosan dengan isi blog sendiri yang penuh dengan tulisan ngendumel gak penting.

  13. Pak Guru November 3, 2012 pukul 2:43 am

    Saya justru gak sadar kalau sebelum ini hiatus. Kirain cuma lagi malas update.πŸ˜•

    Untuk jadi Renaissance Man seperti yang disebut agak sulit lah, seperti dikatakan Bung Lambrtz di atas. Tapi memang layak diperjuangkan. Saya kira soal beginian, seperti juga obrolan politik, memang sedikit memerlukan sikap sedikit sok tahu. Maksudnya, yaa, gimana ya, kalau mau berbicara sesuatu perlu merasa “layak” dulu ya gak jadi-jadi. Solusi penengahnya? Referensi.πŸ˜›

  14. honeylizious November 3, 2012 pukul 9:45 am

    salam kenal mas dari Pontianak, tadi nemu blognya dari blognya Kimi. numpang baca-baca siapa tahu saya bisa ikutan ngefans sama masnya

  15. sora9n November 3, 2012 pukul 1:58 pm

    @ AnDo

    Ciyus? Miapa? Jelas-jelas sering apdet blog review film, gak se-ngedumel itunya amat lah.πŸ˜›

    masbro ini merendah saja

    @ Pak Guru

    Saya justru gak sadar kalau sebelum ini hiatus. Kirain cuma lagi malas update.

    Sebenarnya memang hiatusnya tak direncanakan. Awalnya malas, malas dan kemudian… malasnya numpuk. So there.πŸ˜›

    @ honeylizious

    Salam kenal juga, selamat datang. ^^b

  16. Pingback: tentang (kembali) blogging dan lain-lain – .shards

  17. Shelling Ford November 8, 2012 pukul 12:35 pm

    masnya ini blogger baru ya? salam kenal…

  18. sora9n November 8, 2012 pukul 7:41 pm

    @ Shelling Ford

    HUSS!!!:mrgreen:

    BTW, ndak pakai website yang biasa, masbro? URL-nya kok domain kampus.πŸ˜•

  19. theo Februari 13, 2013 pukul 10:19 am

    great article. jadi refrensi mengenai buku ini. regardsπŸ™‚

    Vamostech

  20. zinny November 10, 2013 pukul 2:18 am

    great !! i like this blog~ so many knowledge >.<

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: