ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Ötzi and The March of Medicinal Science

Suatu hari di tahun 1991, dua orang pendaki gunung asal Jerman menemukan sosok manusia terperangkap dalam es. Peristiwanya terjadi ketika mereka sedang mendaki dekat perbatasan Italia-Austria, dan langsung dilaporkan pada otoritas setempat. Lokasinya sendiri termasuk dalam rangkaian Pegunungan Alpen. Sebagai salah satu yang tertinggi di Eropa, pegunungan ini sering memakan korban.

Dengan latar belakang demikian, petugas polisi menduga sosok tersebut pendaki kecelakaan. Skenario umumnya: pendaki yang kurang ahli mengalami terpeleset, lalu jatuh ke dalam gletser dan meninggal. Akan tetapi dugaan itu cuma separuh benar. Sesudah melakukan pemeriksaan mereka sampai pada kesimpulan mencengangkan: sosok itu adalah mayat pendaki berusia 5300 tahun. Selama ribuan tahun jasadnya terawetkan dalam lapisan es.

Oleh petugas yang memeriksa, jasad manusia purba ini kemudian diberi nama “Ötzi“.

Oetzi the Iceman

Ötzi, yang kadang-kadang disebut juga “The Iceman”

(via Wikipedia)

Bahwa terdapat manusia purba yang jasadnya awet sampai sekarang, itu saja sudah luar biasa. Akan tetapi ada lagi yang lebih menarik: barang-barang yang dibawa oleh Ötzi menunjukkan cara hidupnya. Terdapat berbagai perlengkapan seperti kapak sederhana dan pisau. Yang juga menarik adalah bahwa Ötzi (kemungkinan) telah memiliki pengetahuan obat-obatan sederhana, memanfaatkan jamur dan arang.[1][2]

Mengapa si manusia purba harus berobat dengan jamur dan arang? Nah, ini ada ceritanya lagi. Dan boleh dibilang sangat menarik — jadi akan kita uraikan di bagian khusus tersendiri.🙂

 
The Iceman’s Medicinal Kit
 

Sebagaimana telah disinggung di atas, Ötzi si manusia purba diduga punya pengetahuan medis, biarpun sangat minim dan kasar. Dia dikatakan membawa kantong berisi jamur dan arang. Pertanyaannya adalah: untuk apa?

Jawaban untuk ini diberikan oleh ilmuwan Luigi Capasso, dalam artikel jurnal kedokteran The Lancet.[3] Berdasarkan pemeriksaan saluran pencernaan Ötzi, ditemukan kehadiran parasit cacing Nematoda, mengakibatkan gangguan sakit perut. Spesies jamur yang dibawa Ötzi (Piptoporus betulinus) memiliki sifat antibiotik dan bersifat purgatif — kasar-kasarnya semacam obat pencahar. Hal ini mensugestikan bahwa Ötzi memanfaatkan jamur tersebut sebagai pertolongan pertama.

Oetzi's mushroom

Roncean jamur yang dibawa Ötzi.

(via South Tyrol Museum of Archaeology)

Mengenai arang sendiri, ceritanya agak mirip. Selama berabad-abad arang dimitoskan sebagai suplemen pembantu pencernaan. Yang menarik adalah bahwa, ketika lambung dan usus Ötzi diperiksa, di dalamnya terdapat elemen arang![1]😯 Mungkinkah si manusia purba sadar dan hendak mengobati sakit perutnya? Mengenai hal ini mungkin akan tetap jadi misteri.

Satu lagi yang tak kalah menarik, biarpun tidak sekokoh dua sebelumnya, terkait dengan berbagai tato/marka tubuh di badan Ötzi. Peletakan berbagai tato ini kemudian dianalisis oleh tujuh peneliti dari Universitas Graz. Hasil yang didapat: berbagai tato yang terdapat di badan Ötzi letaknya bersinggungan dengan titik-titik syaraf dan akupunktur.[4] Sama dengan temuan Capasso tentang jamur, penelitian ini diterbitkan dalam jurnal The Lancet.

***

Bisa ditebak, hadirnya petunjuk bahwa ilmu pengobatan sudah ada di zaman Ötzi memberikan insight segar tentang sejarah manusia. Di satu sisi tekniknya amat kasar dan sederhana. Akan tetapi di sisi lain, juga menunjukkan salah satu titik awal perkembangan sains kita.

 
Estafet
 

Pastinya, kalau dibandingkan dengan zaman sekarang, “ilmu pengobatan” yang dimiliki Ötzi amat jauh dari mumpuni. Malah kalau boleh jujur: terlalu sederhana dan pas-pasan. Akan tetapi, justru itu menunjukkan seberapa jauh kita sudah melangkah. Seiring kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi bertambah. Pada akhirnya hal itu berbuntut ke dunia medis.

Ada banyak hal yang sudah terjadi sesudah Ötzi meninggal. Misalnya, pada era Yunani Kuno. Pada era ini muncul sosok dokter seperti Hipokrates. Hipokrates lewat pemikirannya meletakkan dasar ilmu kedokteran. Dialah yang pertama menyatakan bahwa penyakit manusia bersumber dari alam dan dapat disembuhkan secara logis. Lebih jauh lagi, Hipokrates menetapkan prinsip dasar mengatur kesehatan: apabila orang hendak sehat, maka dia harus menjaga kualitas makanan, minuman, dan gaya hidup.[5]

Kemudian, tak berapa lama setelah peradaban Yunani digusur Romawi, muncul lagi sosok dokter jenius bernama Galen. Galen dikatakan sebagai penyembuh yang memiliki kepahaman lengkap: mulai dari anatomi, fisiologi, sampai sistem syaraf dipelajari olehnya. Karena itu dia dianggap sebagai dokter terbaik di seluruh Romawi. Begitu kuat ajaran dan pengaruhnya sehingga dia digelari “Paus Ilmu Kesehatan Eropa”.[5]

Adapun setelah Romawi runtuh, ajaran Hipokrates dan Galen tidak hilang, melainkan disimpan dan dipelajari oleh peradaban Islam Abbasiyah. Melalui warisan itulah ilmu kedokteran Islam — yang diujungtombaki oleh Ibnu Sina dan Ar-Razi — dapat maju dan berkembang. Kecemerlangan medis zaman ini tercermin lewat karya besar Ibnu Sina, Qanun fi At-Tib. Buku yang luar biasa, sebab hingga abad ke-16 Masehi, masih populer sebagai teks kedokteran universitas Eropa.[8]

Galen, Hippocrates, Avicenna

Plakat Eropa yang mewakili tiga generasi dokter.

Kiri ke kanan: Galen, Ibnu Sina, Hipokrates

(courtesy of TUMS)

Bisa dilihat bahwa proses transmisi ilmu kedokteran di atas begitu luar biasa. Melampaui tiga generasi peradaban. Jarak waktunya terentang dua ribu tahun: dari Yunani Kuno, kemudian Romawi, dan akhirnya Islam. Masing-masing mempunyai sosok dokter yang berpengaruh besar. Apabila orang hendak meringkas sejarah kedokteran, maka tidak mungkin tanpa menyebut nama tiga serangkai: Hipokrates, Galen, dan Ibnu Sina. Sebab memang sumbangsih mereka tak terbantahkan.

 
Menuju Zaman Modern
 

Memasuki abad ke-12 Masehi, peradaban Islam mulai menurun, namun pengetahuannya akan dilanjutkan Eropa. Perlahan tapi pasti sarjana Eropa mulai menerjemahkan (dan mempelajari) karya dokter Muslim. Salah satunya kitab Ibnu Sina yang terkenal, Qanun fi At-Tib. Melalui catatan Arab itulah pelajar Eropa mendapatkan kembali insight kedokteran Yunani dan Romawi. Sebagai bonusnya adalah nilai-nilai orisinil yang dikembangkan para dokter Muslim.

Kembalinya ilmu kedokteran ke pangkuan Eropa turut mendorong terjadinya Revolusi Ilmiah di era Renaissance — membuka jalan menuju zaman modern. Langkah besar dilakukan oleh Andreas Vesalius, dia adalah dokter Eropa yang melakukan bedah mayat dan mengkritik anatomi Galen. Hasil pengamatan Vesalius kemudian dituangkan dalam buku De Humanis Corporis Fabrica.[6]

vesalius fabrica

Cuplikan karya Vesalius; digambar tahun 1543

(courtesy of NIH)

Kemajuan ilmu fisika, terutama optik, ikut berperan mendorong majunya ilmu kedokteran. Melalui mikroskop generasi awal, ilmuwan seperti Hooke dan Leeuwenhoek belajar mengamati sel dan bakteri. Keberhasilan mereka sekaligus mendorong perkembangan ilmu kedokteran tentang kuman — yaitu bahwa penyakit disebabkan oleh organisme mikro kasatmata.

Oleh karena itu, tidak heran bahwa pahlawan kedokteran era berikutnya banyak yang mengurus bibit penyakit. Di tahun 1796, Edward Jenner menemukan bahwa penyakit cacar bisa dilawan dengan vaksin. Bibit penyakit yang sudah dilemahkan dimasukkan ke dalam tubuh dan menghasilkan kekebalan. Prinsip itu kemudian dikembangkan untuk mencegah polio dan campak.

Yang juga menarik adalah kiprah Louis Pasteur. Di sekolah dulu kita belajar tentang penemuan beliau yang disebut Pasteurisasi. Makanan dan susu yang dipanaskan hingga suhu tinggi ternyata dapat bebas dari bakteri. Demikian pula jika alat logam direbus akan menjadi steril. Penemuan itu menjadi amunisi baru melawan bibit penyakit.

Lebih jauh lagi, Pasteur menemukan wadah steril kedap udara dapat mencegah kontaminasi. Dia juga berperan merumuskan metode vaksinasi rabies dan anthrax.

Kemudian memasuki abad 20, Alexander Fleming menemukan antibiotik. Benar-benar kemajuan yang pesat!🙂 Bolehlah dibilang bahwa, memasuki era modern, teknik pengobatan yang kita miliki sudah begitu maju. Bukan lagi tergantung pada jamur dan obat alami, melainkan lewat sintesis ilmiah di laboratorium.[2][5]

***

Tentunya, kalau hendak diteruskan, kemajuan dunia medis tidak berhenti sampai di situ. Masih banyak terobosan yang lain. Mulai dari alat diagnosis seperti Röntgen, MRI; lalu pengobatan berbasis nuklir seperti Radioterapi. Bahkan hal sederhana seperti sanitasi pun punya dampak besar — begitu banyak penyakit bisa dicegah lewat hal ‘sepele’ seperti air bersih dan sabun.[7]

Dulu penyakit TBC tak bisa disembuhkan; sekarang sudah ada tablet dan vaksinnya. Dulu penyakit kolera, sifilis, lepra begitu mengerikan — tetapi sekarang bisa ditangani. Semakin maju ilmu kesehatan, semakin banyak penyakit yang kita tundukkan. Dan kita beruntung dapat menikmati kemajuannya.🙂

 
Penutup: Our Own Charcoal and Mushrooms
 

Akhir Juni lalu, saya menjalani opname di rumah sakit. Mengenai penyakitnya sendiri tidak usah dibicarakan di sini, meskipun begitu, cukuplah kalau dibilang bahwa penyembuhannya makan waktu berbulan-bulan. Dan dapat bonus juga: sempat ‘berkenalan’ dengan alat tes canggih seperti MRI dan EMG.😛

tabung MRI

Ini alat langka, tidak semua orang pernah masuk situ!

(via Vassar College)

Bagusnya, keadaan saya saat ini sudah jauh membaik. Obatnya sudah hampir habis, dan jadwal ketemu dokternya tinggal satu kali lagi. Meskipun begitu pengalaman di rumah sakit itu menimbulkan suatu kesan tersendiri.

Seandainya penyakit saya dialami oleh orang yang hidup di abad 17, bagaimana jadinya? Tanpa listrik, apalagi MRI. Dan lebih jauh lagi tidak ada obat modern yang menyembuhkan. Bukan saja penyakitnya tak bisa disembuhkan — untuk mendiagnosisnya saja mustahil!😮

Pada akhirnya, fakta bahwa kita hidup di zaman yang (relatif) merdeka dari gangguan penyakit adalah hal yang harus disyukuri. Di masa kini kita mempunyai alat-alat canggih yang membantu kehidupan, termasuk di antaranya bidang kesehatan. Yang mana, hal ini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan ilmu pengetahuan.

Apabila Ötzi si manusia es terpaksa bergantung pada jamur dan arang, maka kita di masa kini punya pilihan jauh lebih luas. Kita punya rumah sakit; kita punya obat dan vaksin; kita punya alat canggih seperti sinar X dan CT Scan. Lewat perjalanan ribuan tahun, kita telah belajar untuk menaikkan taraf hidup, bersama-sama menghadapi rintangan — perlahan-lahan, kita menjadi masyarakat yang tangguh dan resourceful.

Meminjam kalimatnya xkcd,

xkcd - sickness

——

Referensi:

 
[1] ^ Dickson, J.H., et. al. The omnivorous Tyrolean Iceman: colon contents (meat, cereals, pollen, moss and whipworm) and stable isotope analyses. Phil.Trans. R. Soc. Lond. B (2000) 355, 1843-1849

[2] ^ Facklam, M., Facklam, H. & Grady, S. (2004). Modern Medicines: The Discovery and Developments of Modern Drugs. New York: Facts on File

[3] ^ Capasso, L. (1998). 5300 years ago, the Ice Man used natural laxatives and antibiotics. Lancet, 352, 1864

[4] ^ Dorfer M., Moser, M., et. al. A medical report from the stone age?. Lancet, 354, 1023–25

[5] ^ Magner, L. (2005). A History of Medicine (2nd ed.). Boca Raton, FL: Taylor & Francis

[6] ^ Vesalius, A. (1543). De Humani Corporis Fabrica. Basel: Joannis Oporini

[7] ^ Esrey, S.A., Potash, J.B. et. al. (1991). Effects of improved water supply and sanitation on ascariasis, diarrhoea, acunculiasis, hookworm infection, schistosomiasis, and trachoma. Bulletin of the WHO, 69 (5): 609-621

[8] ^ Schlager, N. & Lauer, J. (Eds.). (2001). Science and Its Times: Understanding the Social Significance of Scientific Discovery, Volume 2, 700-1449. Farmington Hills, MI: Gale Group

11 responses to “Ötzi and The March of Medicinal Science

  1. AnDo September 27, 2011 pukul 9:04 pm

    Denmas sora, saya dulu pernah baca mengenai teknik penyembuhan dengan pendekatan yang berbeda oleh dua dunia kedokteran, timur (benua asia) dan barat (eropa).
    Dokter dari timur cenderung menghadapi penyakit dengan pendekatan obat2an herbal dan metode manipulasi jalan darah (seperti akupuntur dan bekam). Sedangkan para dokter dari barat lebih trampil menggunakan pisaunya dengan cara pembedahan.

    Ada cerita tambahan tentang hal ini gak denmas?

  2. sora9n September 27, 2011 pukul 10:40 pm

    @ AnDo

    Hoh, saya malah baru dengar.😛 Sepertinya ada benarnya sih. Kemarin baca-baca, ada referensi menarik tentang itu — mungkin masbro bisa coba mencari unduhannya:

    Medicine across cultures: history and practice of medicine in non-Western cultures (Selin, 2003) (googlebooks)

    Menariknya dari yang dibahas di situ, kultur yang termasuk Old World (Eropa/Timteng) memang lebih terbuka soal pembedahan. Sementara yang di Timur (Cina/India/Thailand) agak menghindari; lebih suka herbal dsb.

    Kebudayaan Mesoamerika juga menarik; tercatat lumayan ‘hobi’ melakukan bedah. Mungkin memang ada faktor bawaan budaya di situ.

    Saya pribadi nggak ngambil kesimpulan apa-apa, tetapi bukan mustahil pengelompokan yang masbro bilang itu cukup berdasar. CMIIW though. ^^

  3. Felicia September 29, 2011 pukul 8:57 am

    Wah berasa nostalgia jaman kuliah tingkat satu…hehe…
    Kalo soal obat2an herbal yang ditanyakan Ando-kun, mungkin ada hubungannya juga dengan keberagaman tumbuhan yang lebih kaya dan kalau tidak salah pembedahan itu dulu dianggap tabu jadi perkembangannya agak terlambat di Asia…
    Orang2 jaman dulu konon suka menghubungkan bentuk suatu tumbuhan dengan penyakitnya. Misalnya ada tumbuhan yang daunnya berbentuk seperti hati yang diujicoba untuk penyakit hati. Kalau beruntung bisa benar sembuh tapi kalau sedang sial malahan bisa mengancam nyawa..
    Sekarang ini di Indonesia dunia pengobatannya sedang mengarah untuk pengembangan obat2 herbal juga.. Yang jaman dulu cuma dipakai berdasarkan pengalaman saja, mulai diteliti secara ilmiah untuk pembuktian khasiat dan keamanannya..
    Lalu soal arang, jadi ingat cerita dosen dulu… Waktu dia masih kuliah katanya dia pernah sakit perut sewaktu sedang ospek lalu karena tidak ada obat akhirnya dia makan arang deh.. Salah satu cerita dosen yang tidak terlupakan 😆

  4. christin September 30, 2011 pukul 8:13 pm

    Kalo kata kakek saya, orang jaman dulu penyakitnya gak sekompleks orang-orang jaman ini karena makanan dan gaya hidupnya pun dulu tidak terlalu kompleks. Benar atau tidak, saya gak tau pasti sih😆
    Btw, saya udah pernah di-MRI! Yay! #eh

  5. sora9n September 30, 2011 pukul 8:59 pm

    @ Felicia

    Sekarang ini di Indonesia dunia pengobatannya sedang mengarah untuk pengembangan obat2 herbal juga.. Yang jaman dulu cuma dipakai berdasarkan pengalaman saja, mulai diteliti secara ilmiah untuk pembuktian khasiat dan keamanannya..

    Semacam suplemen botol yang mahal-mahal itu?😛 #eh

    *teringat berbagai slogan ‘Back to Nature’*

    :::::

    @ christin

    Barangkali, ya.😆

    saya udah pernah di-MRI! Yay!

    Selamat Anda termasuk manusia langka! \m/

  6. Xaliber Oktober 4, 2011 pukul 12:12 am

    Seandainya gak ada pengobatan modern, mungkin saya gak hidup sampai sekarang😛 *penyakitan*

    Kepikiran, lifespan zaman sekarang yang katanya meningkat ada hubungannya sama kemajuan ilmu pengobatan nggak ya?😕 Padahal katanya hidup zaman dahulu tidak sekompleks sekarang (dan tidak serentan penyakit dibanding sekarang?)

  7. sora9n Oktober 4, 2011 pukul 8:08 pm

    @ Xaliber

    Yang saya tahu, ada dua pandangan berbeda soal itu, tetapi saling melengkapi.

    Yang pertama: bahwa angka harapan hidup orang dulu itu sebenarnya cukup lumayan, tapi ter-offset oleh angka kematian bayi/balita yang tinggi. Jadinya rata-ratanya tertarik ke bawah. (link terkait + data WHO)

    Yang kedua: bahwa memang kehadiran obat dan teknologi modern signifikan membantu naiknya angka harapan hidup. Gampangnya sih, dulu banyak orang mati muda oleh penyakit yang sekarang dianggap ‘sepele’ (contoh: kolera, cacar, sifilis). Tetapi semakin ke sini pengobatan semakin maju, jadinya makin sedikit yang meninggal karena penyakit ‘sepele’ itu.😛

    Mengenai yang nomor dua sendiri ada caveat-nya. Umumnya penyakit ‘maut’ seperti kolera/sifilis terjadi melibatkan kondisi yang kurang umum (baca: sumber air tercemar, penularan seksual). Kalau memang orang hidupnya genah dan bersih — katakanlah seperti kakek-nenek kita pada umumnya — harusnya cukup terhindar dari penyakit seperti itu. (o_0)”\

    (CMIIW though)

  8. Aldiaz Oktober 9, 2011 pukul 9:15 pm

    BTW dengar-dengar juragan-komputer-masyarakat-urban yang kemarin berpulang itu sempat mencari kesembuhan melalui jalur alternatif, ya?

  9. sora9n Oktober 10, 2011 pukul 7:58 pm

    @ Aldiaz

    Haha, iya, saya juga dengar. Dan sempat terlihat beberapa pihak (aktivis skeptis) mempertanyakan keabsahan pamor beliau.😛

    Mengenai alternative medicine sendiri statusnya cenderung abu-abu sih. AFAIK ada beberapa RS dan FK sini yang penelitian akupunktur/herbal/dsb (mbak Felicia mestinya lebih tahu). Tapi ya itu; masih antara maybe useful atau utter tosh.

  10. Felicia Oktober 25, 2011 pukul 11:14 am

    Kalau soal alternative medicine, sekarang ini sudah lumayan banyak juga loh postgraduate studies yang menawarkan spesialisasi di bidang itu. Coba saja google “Master in Chinese Medicine” misalnya, pasti ada beberapa link dari universitas yang menawarkannya.
    Menurut pendapat pribadi sih kalau dipelajari mungkin sebenarnya ada banyak juga hal-hal menarik yang bisa dipelajari dari pengobatan alternatif karena toh penggunaannya berdasarkan pengalaman turun temurun, mirip lah dengan uji klinik tapi tidak sistematis dan kurang ilmiah😛

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: