ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Sunday Book Review: “The Writing Revolution”, by A.E. Gnanadesikan (2009)

A.E. Gnanadesikan - The Writing Revolution (cover)

        • Judul: The Writing Revolution: Cuneiform to the Internet
        • Penulis: Amalia E. Gnanadesikan
        • Penerbit: Wiley-Blackwell
        • Tebal: xx + 310 halaman
        • Tahun: 2009

Barangkali kalau boleh dibilang, hampir semua cerita, sejarah, dan ilmu pengetahuan kita direkam berbentuk buku. Mulai dari epik Yunani Kuno, drama Shakespeare, sampai Principia Mathematica Isaac Newton, semua dirangkum berbentuk buku. Masalahnya tinggal apakah orang bisa membaca (atau menulis) ilmu-ilmu yang berguna tersebut. Kemampuan membaca dan menulis ibaratnya kunci menuju pengetahuan yang beragam.

Nah, buku yang hendak saya review kali ini membahas topik yang disebut terakhir. Disadari atau tidak, sebenarnya kemampuan baca-tulis adalah hal yang amat signifikan. Sebagai contoh, dengan menguasai aksara orang dapat merekam perjalanan hidup, administrasi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu wajar jika orang bertanya: “Bagaimana sih ceritanya peradaban manusia berkembang, hingga bisa menemukan ilmu membaca dan menulis?”

Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh penulis A.E. Gnanadesikan — seorang ahli bahasa lulusan Universitas Massachusetts Amherst. Lewat buku ini beliau seolah mengajak pembacanya bertualang di bidang arkeologi; menelusuri perkembangan aksara dari zaman kuno hingga era modern.

 
Seperti apa ceritanya?

 
Berbicara tentang tulisan, tentu pertama kali harus ditanyakan: mengapa orang menulis? Menurut Ibu Gnanadesikan, hal ini terjadi karena orang merasa perlu mencatat berbagai hal yang dirasa penting. Sebagai contoh catatan perdagangan, nama penguasa yang aktif, dan lain sebagainya. Kasar-kasarnya: melalui tulisan orang jadi belajar untuk mengabadikan peristiwa dan ide.

Bisa ditebak, kebutuhan untuk mencatat itu kemudian menstimulasi munculnya huruf/aksara yang paling awal. Biarpun bentuknya sederhana tetapi cukup bisa mewakili kebutuhan mencatat. Sebagai contoh huruf paku Sumeria. Biarpun sekadar torehan tanah liat tetapi bisa mewakili ide-ide yang kompleks.

tablet huruf paku susa, mesopotamia

Konon isinya tentang administrasi. Benarkah?

(via Wikimedia Commons)

Munculnya huruf paku di Sumeria itu kemudian menginspirasi munculnya huruf Hieroglif di kebudayaan Mesir Kuno. Adapun di tempat-tempat yang jauh, masyarakatnya memunculkan aksara versi mereka sendiri — sebagai contoh piktogram Cina Kuno, Sanskrit, dan Hangul versi Korea.

Adapun aksara-aksara kuno itu kemudian jadi saling mempengaruhi dan berevolusi. Piktogram Cina Kuno, misalnya, berkembang jadi Hanzi (huruf Cina modern). Begitu juga dengan huruf Latin yang kita kenal sekarang — merupakan hasil evolusi dari salah satu varian huruf Yunani.

Nah, bagaimana huruf-huruf kuno itu berkembang, berinteraksi, dan saling mempengaruhi, hal itu jadi salah satu tema utama yang dibahas dalam buku. Bukan saja ditinjau dari bentuknya, melainkan juga dari cara baca dan waktu kemunculannya. Ternyata huruf-huruf itu tidak statis!😮 Tentunya di sini timbul sebuah pertanyaan, mungkinkah huruf Latin yang kita kenal nantinya akan berevolusi? Tapi itu cerita lain untuk saat ini.😉

 
Invention, Reverse Engineering, and More
 

Menariknya, biarpun di atas dicontohkan tentang huruf-huruf hasil evolusi, Ibu Gnanadesikan juga menjelaskan tentang sistem yang dibuat sendiri. Dibuat sendiri dalam artian aksara itu dirancang secara khusus untuk dipakai di masyarakat.

Sekurangnya dalam sejarah terdapat tiga sosok yang sukses merancang aksara yang dipakai secara luas. Tiga sosok tersebut adalah:

Dengan demikian bukan saja bahasa tulis itu berkembang secara natural, melainkan juga bisa dibuat dan dikodifikasikan secara manual. Benar-benar menarik!🙂

Adapun di sisi lain, aksara dibuat sendiri bukan berarti dia tidak mendapat pengaruh dari yang sudah ada. Sebagai contoh: aksara Cherokee banyak mengambil dari huruf Latin, biarpun cara bacanya berbeda. Sementara itu Hangul merupakan script alternatif untuk menggantikan pembacaan yang tadinya menggunakan huruf Cina (Hanja).

 
Kesimpulan
 

Sebuah buku yang menggugah; menceritakan tentang seluk-beluk aksara dan pernak-perniknya. Bukan saja menjelaskan sejarah perkembangannya, melainkan juga cara baca, evolusi, dan aspek linguistik yang dikandung. Gaya penyampaian yang runtut dan populer jadi nilai plus untuk buku yang satu ini.

Rekomendasi: A must have bagi yang tertarik mempelajari budaya, bahasa, dan pernak-perniknya.

Personal Verdict:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

5 responses to “Sunday Book Review: “The Writing Revolution”, by A.E. Gnanadesikan (2009)

  1. jensen99 Mei 1, 2011 pukul 9:03 pm

    Apakah ada penjelasan kenapa ada tulisan yang harus dibaca ke kanan, ke kiri, atau ke bawah?😀

  2. sora9n Mei 2, 2011 pukul 12:08 am

    @ jensen99

    Ndak terlalu dibahas sih IIRC, tapi ada sedikit penjelasannya. Umumnya kalau sebuah aksara terpengaruh aksara lain di wilayahnya. Atau bisa juga setelah diadopsi kemudian berevolusi; cara bacanya jadi berubah.😕

    Misal, contoh kasus I: Alfabet Uighur Lama awalnya kanan ke kiri mengikuti Aramaik, tapi kemudian terinspirasi Cina jadi berubah atas ke bawah.

    Kalau yang contoh kasus II: tulisan Phoenicia dibaca kanan ke kiri, tetapi evolusinya bercabang jadi Yunani (dibaca kiri ke kanan) dan Aramaik (dibaca kanan ke kiri). Pokoknya macam-macam lah.

    Mengenai kenapa satu bahasa memilih orientasi tertentu… ga terlalu disinggung. Sepertinya kembali ke selera masing-masing, sih.😛

  3. Arief Rakhman Juni 15, 2011 pukul 7:20 pm

    ada tentang Arabic sama Japanese ndak?

  4. sora9n Juni 16, 2011 pukul 10:11 am

    @ Arief Rakhman

    Ada. Hampir semua jenis aksara dibahas, sih. (o_0)”\

  5. Andre Yudi (@andreyudi_p) Januari 27, 2013 pukul 12:03 pm

    btw ebooknya ada ngga’? saya donlod di library genesis dapet sih tapi sayang ngga’ ada gambarnya..

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: