ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna

Ada hal menarik yang saya temukan kalau sedang baca-baca kisah legenda, baik yang asalnya dari sekitar sini (Indonesia) maupun luar negeri. Bahwasanya banyak pahlawan yang digambarkan sakti mandraguna — pandai bertarung, punya kekebalan tubuh, dan sebagainya — meskipun begitu, karena satu kelemahan, akhirnya terpaksa meregang nyawa. Kelemahannya sendiri kadang ‘ajaib’. Ada yang di punggung; di selangkangan; tumit… malah ada juga yang mati karena dilempar semak!:mrgreen: Lucu juga kalau dipikir-pikir.

Adapun tipe macam ini biasanya jadi pahlawan di kisah yang banyak aksi/melibatkan perang. Sebagai contoh misalnya dalam hikayat Mahabharata atau Iliad. Pokoknya yang berkesan macho lah. Saya sendiri tak tahu kenapa. Mungkin karena orang pada umumnya malas melihat pahlawan yang menang terus, jadi terpaksa diberi kelemahan fatal. Biar rame, begitu. But I digress…

 
Seperti apa contohnya? Dari Jerman…
 

Salah satu yang paling saya ingat dan sempat diadopsi jadi nickname berasal dari kebudayaan Jerman Pra-Kristen. Di dunia mitologi ini terdapat sosok yang disebut Ksatria Siegfried. Dalam versi Norse ia bernama Sigurd, akan tetapi di luar itu, kisah hidup mereka sama persis.

Sebagai ksatria sendiri Siegfried digambarkan berkemampuan sakti. Legenda mengatakan bahwa kulitnya tak tembus senjata manusia maupun hewan. Itu karena dia pernah berendam darah naga bernama Fafnir, yang sebelumnya dia taklukkan dan bunuh. Darah naga yang ajaib membuat Siegfried menjadi kebal; melengkapi kemampuan fisik yang sudah hebat.

Ksatria Siegfried & Kriemhild

Siegfried digambarkan bersama sang istri, Kriemhild

(via Wikipedia)

Sayangnya, ketika sedang berendam darah naga, selembar daun linden jatuh ke punggung Siegfried. Jatuhnya daun mencegah darah naga meresap — menjadikan titik lemah di badan Siegfried.

Adapun kelemahan ini kelak menjadi fatal. Suatu hari Siegfried mendapat musuh dalam selimut, Hagen, yang mengetahui titik lemah itu. Hagen yang culas mengajak Siegfried berburu bersama dan — di saat Siegfried hendak minum dari sungai — menombaknya dari belakang, persis di titik maut. Pembunuhan yang tidak hormat ini menewaskan Siegfried. Diperlakukan macam hewan buruan, Siegfried akhirnya meregang nyawa di atas rumput.

 
Dari Yunani…
 

Kisah yang mirip juga terdapat dalam legenda Yunani, melibatkan sosok prajurit bernama Achilles. Mirip dengan Siegfried, Achilles mempunyai berkah berupa kekebalan. Dan juga seperti Siegfried: Achilles mempunyai titik lemah yang akan berbuah maut.

Achilles-Hector

Achilles (berkuda di depan) usai duel melawan Hector

(via Wikipedia)

Achilles diceritakan terlahir pada ibu bernama Thetis. Syahdan, ketika Achilles masih bayi, Thetis memandikannya di aliran sungai Styx. Sebagai sungai yang menjembatani dunia orang hidup dan mati, aliran Styx membuat Achilles terlindung dari Bahaya Maut.

Akan tetapi malang tak dapat ditolak. Ketika memandikan bayinya, Thetis memegangi tumit Achilles, sedemikian hingga bagian tumit itu tidak terkena air. Di satu sisi Achilles berhasil mendapat kekebalan. Akan tetapi di sisi lain, tumitnya tetap seperti biasa.

Bisa ditebak, kelemahan itu akhirnya jadi pemungkas nyawa Achilles. Dalam hal ini Paris (prajurit Troya) menjadi biangnya. Dengan bantuan dewa, Paris menembakkan panah beracun tepat ke tumit Achilles, membunuhnya secara instan. Tak beda dengan Siegfried, biarpun kebal Achilles akhirnya harus meregang nyawa.

 
Dari Irlandia…
 

Sementara itu, lain lagi dengan Cú Chulainn, pahlawan legendaris Irlandia. Berbeda dengan Siegfried dan Achilles, dia tidak pernah mandi cairan sakti. Kemampuan miliknya didapat lewat pantangan spiritual dalam kultur Celtic (geis).

Cu Chulainn in Battle

Cú Chulainn bersama sais (Láeg) dan kudanya (Liath Macha)

(via Wikipedia)

Sepanjang hidupnya Cú Chulainn adalah prajurit yang aktif. Banyak orang tewas menjadi korbannya. Oleh karena itu, tidak heran sosoknya ditakuti sekaligus dibenci.

Termasuk yang membenci Cú Chulainn adalah Lugaid putra Cú Roí. Adapun Lugaid menyimpan dendam karena ayahnya dibunuh Cú Chulainn di masa lalu.

Lugaid kemudian mengumpulkan orang-orang yang senasib untuk balas dendam. Sayangnya ada satu masalah; Cú Chulainn punya daya fisik dan magis yang hebat. Dalam satu pertempuran dia pernah mengalahkan 300 orang. Tidak mungkin bisa dibunuh kalau tidak tahu kelemahannya.

Melihat ini Lugaid mencari tahu kelemahan Cú Chulainn. Ketemu: bahwasanya Cú Chulainn punya pantangan memakan daging anjing. Apabila pantangan ini dilanggar maka akan lemah tajinya. Lugaid kemudian mengatur agar Cú Chulainn bertemu teman lama. Teman ini kemudian akan menjamu Cú Chulainn dengan daging anjing.

Perlu diketahui bahwa — menurut kultur era tersebut — keramahtamahan tuan rumah adalah keramat, tak boleh ditolak. Akhirnya rencana tersebut berhasil. Cú Chulainn terpaksa memakan daging anjing, dengan demikian dia telah mematahkan geis.

Adapun tak lama setelah geis Cú Chulainn patah, Lugaid dan kawan-kawan datang menyerbu. Terjadi pertarungan sengit: pahlawan legendaris Irlandia tidak menyerah walau dikepung banyak orang. Pada akhirnya Cú Chulainn kalah, akan tetapi dia tewas dengan gagah. Di saat terakhir Cú Chulainn mengikat tubuh ke sebuah batu, berdiri di atas kaki hingga maut menjemput. Dia menolak untuk mati terkapar atau berlutut.

 
…dan lain-lain.
 

Dan masih banyak contoh sosok pahlawan supersakti yang akhirnya tewas. Walaupun awalnya disangka tak bisa mati, mereka sering diam-diam punya kelemahan. Pada akhirnya kelemahan itu dimanfaatkan secara maksimal oleh musuh.

Dalam epos Mahabharata terdapat karakter Duryudhana; ia memiliki kekebalan kecuali di bagian selangkangan. Sementara dalam mitologi Norse, terdapat kisah Baldur — ibunya dewi Frigg meminta semua benda dan makhluk bersumpah takkan pernah melukai putranya. Sepertinya semua beres… kecuali ada semak mistletoe yang entah bagaimana lupa dimintai tolong. Bisa ditebak: keduanya akhirnya mati setelah diserang titik lemahnya.

Adapun di zaman modern, kita punya sosok ekuivalen berupa Superman. Superman yang antipeluru dan bisa terbang ternyata punya kelemahan, batu hijau bernama kryptonite. Menariknya Superman belum pernah mati karena kryptonite. Mungkin nanti di masa depan?😛

*ditimpuki penggemar Superman*

The Death of Superman (comic cover)

And after three days, he was resurrected. This doesn’t count.

(via Wikipedia)

 
Even Heroes Have Right To Bleed (?)
 

Jadi… begitulah. Saya sendiri bingung kenapa mesti seperti itu. Maksudnya, ya, kita tahu kalau pahlawan terlalu sakti itu tidak seru — enggak menarik kalau tinggal muncul terus menang. Meskipun begitu tetap saja aneh melihatnya. Sebab kadang kelemahannya ajaib dan tidak biasa. Coba, ada pahlawan bisa mati gara-gara makan daging anjing? It’s stuff of legend!:mrgreen:

Bisa jadi, itu karena sosok “pahlawan” di atas memang — in a sense — tidak bermaksud realistis. Dalam bidang kesenian ini disebut Semblance of Reality. Pokoknya segala sudah masuk tataran ide, boleh diaduk-aduk sesuka si penutur. Aneh tidak aneh, urusan belakangan! Yang mana akhirnya mengingatkan soal sinetron. Tapi itu tak usah dibahas di sini…

Adapun kenapa pahlawan mesti punya kelemahan, saya pribadi merasa bahwa alasannya soal penerimaan. Yang namanya pemirsa selalu butuh kemelekatan (attachment) pada tokoh cerita. Memang benar sosok ksatria ideal punya daya tarik yang khas. Akan tetapi, itu melanggar satu hal: orang perlu bisa mengidentifikasi diri dengan pahlawan cerita. Mereka perlu sosok pahlawan yang punya masalah; yang bisa tewas; yang terlibat dalam konflik. Yang mana, elemen nomor dua dicerminkan oleh kelemahan-kecil-tapi-fatal yang diuraikan di atas…

…mungkin begitu. Mungkin lho. Saya kan bukan ahli mitologi.😛

Barangkali itu juga sebabnya sosok anti-hero seperti Peter Parker dan Tony Stark saat ini cukup populer. Sebab biarpun superhero mereka punya kelemahan: hidupnya tidak serba mulus. Hal yang akhirnya justru menghasilkan daya tarik tersendiri.

So… do heroes have right to bleed? Well, I think we like them to!😆

 

 
——

Referensi Mitos:

 
Nibelungenlied
versi ringkas @ TimelessMyths.com
versi lengkap @ Penn State University (format .pdf) (771 kb)

Iliad
versi lengkap (HTML) @ Perpustakaan MIT

Cuchulain of Muirthemne: The Death of Cuchulain
Chapter XX @ sacred-texts.com

24 responses to “Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna

  1. nurrahman18 Maret 29, 2011 pukul 10:02 pm

    karena juga dalam sebuah cerita dibutuhkan sebuah kelemahan,dan semacam tokoh yg kurang baik/jelek/jahat. karena representasi dlm kehidupan ini bahwa semenjak dr bangun tidur hingga malam mau tidur,banyak hal yg di luar pikiran kita dan banyak hal yg tidak sesuai dgn yg dibayangkan karena keterbatasan akal manusia :)…CMIIW

  2. sora9n Maret 29, 2011 pukul 10:16 pm

    @ nurrahman18

    karena juga dalam sebuah cerita dibutuhkan sebuah kelemahan,dan semacam tokoh yg kurang baik/jelek/jahat.

    Hehe, iya. Saya juga terpikirnya seperti itu. Bagaimanapun, namanya cerita pasti butuh keseimbangan. Jadi yang semacam itu pasti ada. ^^a

  3. AnDo Maret 29, 2011 pukul 11:32 pm

    Ngomong Mahabaratha, jadi teringat dengan kakek buyutnya para pandawa dan kurawa yaitu Bhishma. Bhishma tak punya kelemahan apapun juga. Biarpun seorang wanita bernama Amba yg terlahir kembali sbg Srikandi dinilai punya andil dalam membunuh Bhishma, tetapi kematian Bhishma hanya bisa terjadi kalau dia sendiri memilih untuk mati. Kalaupun mau dan bisa disebut kelemahan, hanya ada satu hal: Bhishma hanya bisa mati jika dia sendiri ingin mati:mrgreen:

    Oh ada satu lagi, Kresna titisan Wisnu. Kalau titisan (avatar) dianggap manusia, Kresna juga tak punya kelemahan, toh Baldur juga anaknya dewa Odin ternyata masi dilempar ke semak😀

  4. jensen99 Maret 30, 2011 pukul 12:19 am

    Ngomong Mahabaratha, menurut saya kematian Gatotkaca yang paling memprihatinkan. Mati karena sarung senjata yang tertinggal di perutnya?😆

  5. Takodok! Maret 30, 2011 pukul 10:20 am

    kalau pahlawannya ga bisa mati ya cerita (seri)nya ga tamat-tamat. Penulisnya capek. Akhirnya bikin plot aneh yang penting selesai.:mrgreen:

    Tapi sekarang yang lagi ngetrend pahlawan-penjahatnya beda tipis. Mungkin karena akses penonton/pembaca/pendengar ke cerita makin terbuka lebar jadi ada kepuasan tersendiri kalo para tokoh punya banyak kemiripan dengan mereka. Halah.

  6. Pak Guru Maret 30, 2011 pukul 11:28 am

    Tadinya saya kira ada hubungannya dengan The Hero with a Thousand Faces. Ternyata bukan. Pernah baca itu? Harusnya sih topik ini ada terbahas…

  7. Oseng" Maret 30, 2011 pukul 12:37 pm

    pahlawan sempurna sih ,, steven seagal,,, setiap akting hampir tak terluka parah,, paling mulutnya doank berdarah,,, tidak pernah kalah,, @_@ hahahaha

  8. sora9n Maret 30, 2011 pukul 12:54 pm

    @ AnDo | jensen99

    Sejujurnya sih saya baca Mahabharata cuma versi abridged. Itu juga loncat-loncat, jadi banyak detail yang lewat.😆

    Krisna, ya, sudah tentu supersakti. Wong aslinya dia itu Tuhan.😛 Kematian Gatotkaca saya kurang tahu — katanya ada perbedaan antara versi Jawa dan India, gitu? *CMIIW* (o_O)”\

    *balada orang yang cuma jawa di luar sahaja*

    :::::

    @ Takodok!

    kalau pahlawannya ga bisa mati ya cerita (seri)nya ga tamat-tamat. Penulisnya capek. Akhirnya bikin plot aneh yang penting selesai.:mrgreen:

    Ndak, lebih buruk lagi, jadinya serial tiada ujung. Lah itu Superman dari awal abad 20…😄

    #eaaaa

    Tapi sekarang yang lagi ngetrend pahlawan-penjahatnya beda tipis.

    Sebentar, ini menarik. Iya juga ya?😕

    :::::

    @ Pak Guru

    Belum pernah baca… tapi tahu nama pengarangnya sih (ada e-book ybs yang “Power of Myth”). Sepertinya menarik.😀

    :::::

    @ Oseng”

    Kalau James Bond?:mrgreen:

  9. rukia Maret 30, 2011 pukul 4:07 pm

    @ om Jensen

    …kematian Gatotkaca yang paling memprihatinkan. Mati karena sarung senjata yang tertinggal di perutnya?

    hmm… Bukannya Gatotkaca mati gara-gara menggantikan Arjuna memimpin Perang dan akhirnya tertusuk senjata Konta milik Karna yg dia dapat dari Dewa Indra ya (thinking) *keknya kemarin bacanya gitu deh*

    dan Krishna mati juga kok, walau dengan keinginannya sendiri. Dia mati dipanah di telapak kaki kirinya justru oleh pemanah biasa yg tidak mempunyai kekuatan apapun. Btw, ada yang punya buku kisah hidup Krishna dari kecil sampe besar ga? Soalnya punya temen2ku dsini semuanya Purana yang ga bisa dibaca sembarangan dan bahasanya itu bukan bahasa Indonesia tapi Sansekerta😦

  10. jensen99 Maret 30, 2011 pukul 6:50 pm

    @ rukia

    Somehow, konon katanya senjata kontawijaya itu (sekali dilepaskan -dan cuma bisa sekali-) bergerak seperti guided missile mencari sarungnya yang tertanam di perut Gatotkaca.:mrgreen:
    Rukia baca kisahnya dimana? Kalo tidak ingat kenapa sarung kontawijaya ada di Gatotkaca, versi ringkasnya ada disini.🙂

  11. sora9n Maret 30, 2011 pukul 9:33 pm

    @ Rukia

    dan Krishna mati juga kok, walau dengan keinginannya sendiri. Dia mati dipanah di telapak kaki kirinya justru oleh pemanah biasa yg tidak mempunyai kekuatan apapun.

    Seperti Achilles?😛 *plak*

    BTW, saya barusan baca e-book versi full. Sepertinya yang mbakyu bilang di atas versi India? Barangkali itu bedanya dengan yang dibilang mas Jensen. Yang ybs bilang seperti diceritakan Pakde saya soale.😛

    *selanjutnya bisa dibaca di bawah*

    Btw, ada yang punya buku kisah hidup Krishna dari kecil sampe besar ga? Soalnya punya temen2ku dsini semuanya Purana yang ga bisa dibaca sembarangan dan bahasanya itu bukan bahasa Indonesia tapi Sansekerta😦

    AFAIK di sacred-texts.com ada terjemah Inggris kitab2 Hindu. Coba search aja. Siapa tahu ada. ^^a

    :::::

    @ jensen99

    Entahlah, barangkali yang masbro bilang versi Jawa?:-/ Saya ada cek e-book versi full (India, terj. C. Rajagopalachari). Menurut di situ senjata maut Karna niatnya buat lawan Arjuna. Cuma berhubung didesak Duryudhana akhirnya dipakai ke Gatotkaca — waktu itu dia sedang menggila bantai pasukan Kurawa.😕

    Kalau di versi abridged nggak ada penjelasan detailnya sih. Sekadar diceritakan Karna ujug-ujug datang, trus membunuh Gatotkaca.😛

  12. rukia Maret 30, 2011 pukul 10:02 pm

    @ om Jensen & om Sora

    Rukia baca kisahnya dimana?

    Sepertinya yang mbakyu bilang di atas versi India?

    Saya baca versi Nyoman S. Pendit terbitan 1981, versi C. Rajagopalachari (ga tw tahun terbitnya, buku rampokan soalnya) & versi Komiknya RA. Kosasih
    cuma di versinya S. Pendit memang ga disebut nama senjatanya, tapi saya rasa senjatanya sama, karena di sana disebutkan senjata itu didapat dari Dewa Indra setelah Dewa Indra meminta baju besi milik Karna & kalo di RA. Kosasih senjata Konta itu gambarnya tombak, makanya agak ragu kalo senjata itu bersarung🙄

  13. rukia Maret 30, 2011 pukul 10:14 pm

    dan om Sora, tolong betulkan itu kalimat quote saya, hape saya sedang tidak bisa diajak kerjasama buat meng-copy & mem-paste.

    Tapi yang paling kasihan di cerita Mahabaratha itu ya kematiannya Abimanyu (walaupun saya nggak suka bapaknya) saya nggak terima dia mati dikeroyokin, kalo saya ada di sana pengen banget gitu pentungin yang ngeroyok Abimanyu.
    Oh ya soal link e-booknya, semoga dsna lengkap *walo lebih enak baca bukunya* bahkan para pengikut ajaran Krishna pun ga punya buku kisah hidupnya.

  14. rukia Maret 30, 2011 pukul 10:50 pm

    Seperti bakal bikin hetrik😆
    *plak*

    @ om Jensen
    sudah saya baca link-nya, dan banyak yang beda *bingung*
    di link yang om kasih disebutkan kalo Gatotkaca bayi = Jabang Tetuka, Karna bertapa untuk mencari senjata pusaka (konta), & anak Gatotkaca benama Sasikirana.
    Kalau menurut 3 buku yang sudah saya baca :
    1. di sana ga ada cerita tentang Gatotkaca bayi (Jabang Tetuka) *jd saya baru tau soal ini*
    2. Karna tidak mencari senjata pusaka, tapi Konta di dapat karena bisikan Dewa Surya yang bilang kalau akan datang seorang Rsi (Dewa Indra yang menyamar) yang akan meminta baju besi Karna (karena Karna lahir dalam keadaan menggunakan baju besi Dewa Surya) dan Karna harus meminta Pusaka paling hebat dari Rsi itu sebagai gantinya.
    3. Anak Gatotkaca yang akhirnya jadi panglima di Hastina pada masa Parikesit benama Bangbangkaca dan bukan Sasikirana.

    Nah lo, saya jadi pusing bacanya, kok bisa beda-beda ya *thinking*

  15. jensen99 Maret 31, 2011 pukul 10:37 am

    @ sora9n | Rukia

    Ah, maaf membingungkan. Cerita yang saya kutip sepertinya memang versi Jawa sih. Di versi India memang gak ada kisah bayi Gatotkaca (Tetuko) dan kasus tali pusarnya.:mrgreen:
    Kebetulan Rukia dan Sora sudah baca banyak soal Mahabharata, apa mungkin tautan ini bisa membantu? Bagian soal Gatotkaca kalo gak salah mulai paragraf 20. Tentu soal Karna dll juga ada. (saya belum baca semua sih)🙂

  16. adit Maret 31, 2011 pukul 7:31 pm

    kali di indonesia ada si pitung … sakti mandraguna… tapi akhirnya mati karena kelamahannya ketauan, jimatnya dicuri

    http://id.wikipedia.org/wiki/Si_Pitung

  17. sora9n Maret 31, 2011 pukul 8:36 pm

    @ jensen99 | rukia

    Sudah cek, dan sepertinya memang begitu sih. Saya sendiri nggak baca kitab Jawa, cuma diceritakan Pakde saya saja. Jadi tak bisa dibilang ahli.:-/

    Barangkali ada baiknya ditanya ke yang lebih mendalami — e.g. Mas Joe atau Mas Gun.😛

    :::::

    @ adit

    Iya, legenda Pitung juga termasuk. Mengenai kelemahannya saya dengar banyak versi, sih. Ada yang bilang kalau dilempar telur busuk; ada yang bilang ditembak peluru emas; ada juga soal jimat yang mas sebut.

    Soal mana yang benar, saya juga nggak tahu. Namanya juga legenda, ya… enggak jelas.😆

    /Wallahu a’lam

  18. AnDo Maret 31, 2011 pukul 9:45 pm

    @Rukia dan Sora

    dan Krishna mati juga kok, walau dengan keinginannya sendiri.

    Betul. Namanya juga dewa, kalau Wisnu udah bosen jadi Krishna dan pengen pindah avatar, begitulah jadinya:mrgreen:

    Seperti Achilles?😛 *plak*

    Mirip sih, walau dalam kasus Krishna bagian kaki bukan kelemahan, tapi emang dia pengen mati doang😈
    Oh iya, ada kisah Krishna dikutuk oleh ibunya para kurawa Gandhari yg mengutuk agar seluruh keluarga Krishna bakalan bernasib seperti Kurawa. Sebenarnya Krishna bisa saja menolak kutukan, tapi entah kenapa dia menyetujui kutukan Gandhari. Jadilah seluruh kaum Yadava musnah bersama matinya Krishna.

    Itulah akibatnya, kalau dewa udah bosen jadi manusia😆

    yang paling kasihan di cerita Mahabaratha itu ya kematiannya Abimanyu

    Bagiku, kisah hidup paling tragis dan menyedihkan itu kisah Karna. Dari lahir hingga dewasa ntah kenapa nasibnya sial melulu, padahal orangnya hampir selalu mengikuti dharma. Mulai dari dibuang sejak kecil, dihina banyak orang, sampai berkali-kali kena kutuk (aku sampai ngakak dgn beberapa kutukan aneh yg diperoleh Karna), hingga akhirnya mati ketika sedang mendorong kereta perangnya yg rodanya terjerumus kedlm lumpur, dan yg membunuh adiknya sendiri.

    Anak Gatotkaca yang akhirnya jadi panglima di Hastina pada masa Parikesit benama Bangbangkaca dan bukan Sasikirana

    Koq saya jadi bingung, baru tau kalau orang India ada yg bernama Bambang😆
    Jangan2 itu cm versi cerita jawa doang? Kalaupun ada anak Gatotkaca yg ada di berbagai versi adalah Barbarika.

  19. gunawanrudy Maret 31, 2011 pukul 11:21 pm

    *terpanggil*

    saya nggak begitu mendalami sastra jawa kok yaa.😐

    kebetulan banget baca ini habis nyelesain tugas tentang “culture heroes” tepatnya nulis tentang bias gender dalam konstruksi pahlawan kebudayaan tiap sukubangsa. jadi ini otak makin dipenuhi oleh pahlawan, pahlawan, dan pahlawan… u_u

  20. joesatch yang legendaris Maret 31, 2011 pukul 11:39 pm

    ahahaha, versi jawa sama versi india memang beda kok. bahkan di jawanya sendiri, gagrag jawa timuran, surakarta, yogyakarta, atau banyumasan juga beda. itu belum kalo ngomongin daerah di pulau jawa yang disebut sunda. yang lain lagi? versi bali juga ada perbedaan cerita. bahkan, di srilanka, rahwana adalah pahlawan, sementara rama cuma satria pengecut.

    karna sendiri, kapan dia dapat panah kuntawijayadanu juga beda-beda versinya. umumnya di versi jawa dia dapatnya sewaktu lakon “gatotkaca lahir” dari batara narada yang salah ngira karna sebagai arjuna (ceritanya mukanya mirip), tapi di komiknya ra kosasih, yang mahabarata, karna dapat kunta menjelang baratayuda dari batara indra, hasil barter sama anting plus rompi pemberian batara surya yang melekat sejak di badannya sejak dia bayi. konon malah ada versi di mana karna mencabik2 kulitnya sendiri buat melepas rompinya.

    bambangkaca juga gitu. di komiknya kosasih memang dia patihnya parikesit. tapi bisa saja bambangkaca adalah sebutan umum buat anaknya gatotkaca di daerah sunda untuk menggantikan nama sasikirana yang ngepop sebagai patihnya parikesit di jawa bagian tengah dan timur, seperti halnya cepot dan dawala di sunda untuk bagong dan petruk di jawa. bisa saja begitu, sih:mrgreen:

    dan, anaknya gatotkaca – kalo di versi jawa – bukan cuma sasikirana. dia punya anak lagi tapi nggak satu ibu sama sasikirana. namanya jayasumpena🙂

    well, memang kalo duluan mbaca karya aslinya yang dari india baru kemudian tau versi jawanya maka bakal timbul banyak pertanyaan. wajar, di jawa sudah banyak modifikasi, sih. ini erat kaitannya dengan akluturasi budaya jawa-hindu dan islam pas jamannya walisanga. makanya di versi jawa, puntadewa punya jimat yang namanya jamus kalimasada, yang asal katanya adalah kalimat syahadat.

    btw, di buku sejarah mesjid demak justru ada cerita kalo puntadewa tidak akan bisa berpisah roh dan badan kasarnya kalo belum ketemu sama orang yg bisa menjabarkan isi dari jamus kalimasada. dan tebak dengan siapa akhirnya dia ketemu? yak, jawabannya adalah sunan kalijaga:mrgreen: sebagai balasannya, sama puntadewa, sunan kalijaga diwarisi baju antakusuma, caping basunanda, sama terompah padakacarna yang dulu selalu dipakai sama gatotkaca

    yang jelas kita nggak bakal nemu cerita tentang “pandawa gugat”, “aji narantaka”, atau “mustakaweni maling”, dsb di cerita yang versi india🙂

    btw, ini kok malah jadi ngomongin wayang gini, sih?😈

  21. rukia April 1, 2011 pukul 7:47 am

    @ om Ando

    Koq saya jadi bingung, baru tau kalau orang India ada yang bernama Bambang

    oh kalau yang itu versi Jawa dari komiknya RA. Kosasih di legenda Parikesit😆

  22. sora9n April 1, 2011 pukul 1:17 pm

    @ AnDo | joesatch

    Terima kasih banyak para suhu untuk pencerahannya… ^:)^

    #eaaaa

    btw, ini kok malah jadi ngomongin wayang gini, sih?😈

    Ya itulah, pertamanya mulai dari mbahas pahlawan (Gatotkaca) yang susah mati. Lalu…

    …ceritanya panjang.:mrgreen: *plak*

    :::::

    @ gunawanrudy

    Lho, salah ya? ^^; Habis sepertinya mas Gun suka ngurus pernak-pernik kejawaan. Jadi mungkin ada sedikit tahu.😛

  23. joesatch yang legendaris April 1, 2011 pukul 9:35 pm

    wayang india itu wayang wahhabi!😆

  24. ronny santoso Februari 24, 2014 pukul 10:29 pm

    nek aku seneng Togog karo mBilung……………..

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: