ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Let’s Talk About Football

Peristiwa berikut ini terjadi ketika saya baru masuk kuliah, bertahun-tahun lalu, dan sedang menjalani OSPEK jurusan. Waktu itu salah satu acara yang diadakan adalah kumpul-kumpul dan bakti sosial bersama anak jalanan — atau lebih tepatnya, kumpul bersama anak-anak yang mencari nafkah di jalan. Mengapa begitu, sebab sebenarnya ada di antara mereka punya rumah dan keluarga. Hanya saja karena tuntutan ekonomi, jadi terpaksa mengasong atau mengamen.

Nah, yang hendak diceritakan di sini berhubungan dengan anak jalanan di atas.

Layaknya acara OSPEK, setelah kegiatannya selesai, para peserta dikumpulkan oleh panitia untuk melakukan review. Kemudian tiba giliran seorang teman saya — sebutlah namanya berinisal D. Sesudah diberi mikrofon ia bercerita sebagai berikut.

“Sebelumnya saya boleh dibilang tak pernah berinteraksi dengan anak jalanan. Akan tetapi, hari ini saya melihat bahwa mereka dan kita [anak kuliah] sebenarnya tak jauh beda. Contohnya tadi kita ajak main bola, kita sama-sama senang bola. Biarpun gawangnya sandal ditumpuk tapi tetap asyik.”

Untuk dicatat, teman saya di atas adalah seorang gila bola yang — kalau boleh dibilang — cukup berada secara materi. Dia sendiri sering bawa mobil ke kampus. Akan tetapi, ketika berinteraksi dengan anak-anak yang kurang mampu, dia tetap bisa nyambung. Hal yang dia atributkan pada sepakbola. Kasar-kasarnya, karena punya kesukaan yang sama, maka perbedaan sosial jadi agak terjembatani.

bola sepak

Agen perekat sosial?

(via Wikipedia)

Meskipun begitu, jelas tidak tepat kalau mengatakan bahwa aspek sosial sepakbola itu manis belaka. Sama sekali tidak. Siapapun yang serius nonton bola tahu bahwa ada banyak kejadian bentrok karenanya. Mulai dari tawuran Liga Indonesia, tendangan Kung Fu ala Cina, sampai rivalitas berbumbu SARA di Spanyol dan Skotlandia, semua ada. Tentang hal itu ada bahasannya sendiri — akan kita uraikan nanti di tengah tulisan. Untuk saat ini kita bicara dulu tentang aspek sosial bola yang lebih positif.😉

 
Bicara Tentang Bola: Melampaui Batas Sosial

 
Franklin Foer, dalam bukunya yang berjudul How Soccer Explains The World (2004) mengetengahkan tentang jangkauan sepakbola di bidang sosial. Dalam hal ini ia menyorot fenomena “cinta bola” di berbagai negara.

Dalam buku tersebut Foer berkisah tentang penerimaan sepakbola di berbagai lingkaran sosial. Mulai dari bos mafia, politisi, sampai warga nasionalis Basque dan Catalan, semua memandang sepakbola sebagai sarana mengekspresikan diri. Lebih jauh lagi Foer menyampaikan: sepakbola adalah perwujudan semangat global di dunia yang beragam. Mengikuti kebudayaan di tempat masing-masing, orang menerjemahkan sepakbola dengan cara yang berbeda.

Athletic Bilbao team (courtesy of BBC)

Athletic Bilbao, menerjemahkan Nasionalisme Basque lewat sepakbola

(courtesy of BBC)

Bahwa sepakbola memiliki dampak sosial yang besar, barangkali tidak bisa dipungkiri. Zaman sekarang bukan hal yang aneh kalau Anda melihat acara nonton bareng di kafe mewah… sementara beberapa jam kemudian, pulang naik mobil dan melihat poster Cristiano Ronaldo dipajang di rombong penjual rokok. Sepanjang gelaran Piala AFF yang baru lalu, pembantu di rumah saya cerita tentang satu RT nonton bareng. Kemudian pastinya teman yang saya ceritakan di awal sekali; orang yang sehari-harinya tajir ternyata bisa nyambung dengan anak jalanan. Sebagai hobi yang universal, bolehlah sepakbola dianggap sebagai agen perekat sosial.

Anda mungkin agak skeptis sampai sejauh ini, tetapi ada satu bukti yang menunjukkan begitu dahsyatnya pengaruh sepakbola. Tahukah Anda bahwa Didier Drogba sukses meredakan tensi perang sipil di Pantai Gading tahun 2007? Walaupun kemudian konfliknya meningkat lagi, untuk satu waktu masyarakat yang bertikai berkumpul bersama dalam stadion. Benar-benar luar biasa!🙂

Sayangnya tidak semua urusan terkait bola seindah itu. Layaknya semua hal yang populer, kadang sepakbola menjadi urusan terlalu serius yang — pada akhirnya — justru memicu permusuhan berkepanjangan.

 
Fear and Loathing In The World Football
 

Sejatinya frase di atas bukan karya saya; saya ambil dari sebuah kumpulan esai berjudul serupa (Armstrong & Giulianotti, 2001). Intinya sendiri sama seperti judulnya. Bukan saja sepakbola bisa menjadi perekat sosial, dia juga mampu jadi wahana perselisihan — lebih lagi kadang perselisihan itu melibatkan elemen politik dan SARA.

Mengenai seperti apa contoh-contohnya, akan segera kita lihat di bawah ini.

***

Untuk memulai, bolehlah kita ambil satu contoh yang paling terkenal, yakni Old Firm derby di Liga Skotlandia. Ceritanya sendiri agak panjang dan melibatkan sektarianisme.

Glasgow Celtic - Glasgow Rangers

Dua peserta Old Firm: Glasgow Rangers (kiri) dan Celtic (kanan)

Syahdan, di tahun 1887, imigran Katolik asal Irlandia mendirikan klub Glasgow Celtic, berhadapan langsung dengan Glasgow Rangers — dukungan warga lokal yang mayoritas Skotlandia-Protestan. Dengan adanya perbedaan agama dan suku, seiring waktu perseteruan ini mengkristal dan menimbulkan kekerasan.

Yang juga mempersulit adalah elemen politik dalam persaingan Celtic vs. Rangers. Sebagai persemakmuran Inggris warga Skotlandia umumnya mendukung Unionisme — politik persatuan dan/atau kerjasama antara Britania dan Irlandia. Sementara warga Irlandia pada umumnya membenci Inggris dan berhaluan politik nasionalis. Boleh dibilang bahwa perseteruan Celtic-Rangers amat kental bernuansa ideologi dan sektarianisme.

Begitu parahnya rivalitas mereka, sedemikian hingga tercatat demikian: hingga tahun 1986, tidak ada satupun pemain Glasgow Rangers beragama Katolik. Untungnya, seiring kemajuan zaman, kedua tim mulai mengembangkan iklim toleran — biarpun di sana-sini masih ada bentrok dan perbedaan.[1]

***

Contoh lain rivalitas dalam bola yang amat-serius bisa diambil dari Liga Spanyol. Di negeri Matador ini, terdapat dua klub yang amat teguh memprotes nasionalisme Spanyol, yakni Athletic Bilbao (etnis Basque) dan Barcelona (etnis Catalan).

Mengenai nasionalisme Basque dan Catalan sendiri sejarahnya cukup panjang. Di bidang sepakbola, boom-nya diakibatkan oleh penindasan di masa kekuasaan Diktator Francisco Franco. Sebagai nasionalis fanatik Franco menekan habis-habisan ekspresi kebudayaan non-Spanyol. Menghadapi tekanan sedemikian rupa, akhirnya warga Basque dan Catalan menumpahkan kebanggaan lewat klub sepakbola.

Mengenai Bilbao sendiri terdapat sebuah cerita menarik. Syahdan di tahun 1976, tak berapa lama setelah Diktator Franco meninggal, kiper José Ángel Iribar membawa bendera pergerakan Basque ke lapangan, lalu membentangkannya di lingkaran tengah. Benar-benar pertunjukan berani dari klub yang — saking keukeuh dengan ideologinya — hanya mengontrak pemain yang berasal berasal dari wilayah Basque.[2]

***

Dan masih banyak contoh lainnya, di mana sepakbola jadi sarana mewujudkan perseteruan. Mulai dari rivalitas dua klub Belgrade, hingga yang sekadar adu gengsi seperti El Clásico atau North West Rivalry di Liga Inggris. Di sini kita lihat bagaimana sepakbola menghasilkan rivalitas yang panas membara.😕

 
Kosmopolitanisme Kulit Bundar

 
Menariknya, biarpun tim bola pada umumnya bisa larut dalam rivalitas tingkat tinggi, tidak selamanya mereka keukeuh dengan tribalisme. Banyak yang cenderung kosmopolitan dalam hal merekrut pemain — tak kurang dari Celtic, Rangers, dan Barcelona di atas punya warna-warni legiun asing di skuadnya. Hanya Bilbao yang terus bertahan dengan pasukan lokal.

Mengenai hal ini tentu amat wajar. Untuk menjadi tim besar umumnya harus berburu pemain hebat dari penjuru dunia. Apabila materi pemain bagus, maka demikian juga mutu permainan tim terangkat. Hal yang kemudian berdampak pada ramainya kosmopolitanisme di lapangan hijau.

Ronaldinho, Barcelona

Ronaldinho, legenda Barcelona asal Brasil

(via Wikipedia)

Akan tetapi yang menarik: ternyata hal itu tidak cuma terbatas di level klub. Pada kenyataannya, justru di level tim nasional pun kosmopolitanisme ikut meraja!😯

Kita ambil contoh dari tulisan saya tempo hari. Timnas Jerman memiliki pemain naturalisasi Jerome Boateng dan Sami Khedira. Timnas Prancis berisi imigran dari berbagai bekas koloni — sebagai contoh Karim Benzema (Aljazair) dan Patrick Vieira (Senegal). Malah tak usah jauh-jauh: Tim Nasional Indonesia pun diperkuat warga naturalisasi seperti Gonzales dan Irfan Bachdim!:mrgreen:

Jadi di sini kita lihat betapa sepakbola itu menghadirkan nuansa kosmopolitan. Biarpun di satu sisi amat kental dengan tribalisme, ketika berurusan dengan tim, nuansanya amat pragmatis. Siapa yang bagus, maka dia main. Oleh karena itu tidak heran jika klub dan tim nasional jadinya amat “berwarna-warni”.

Sebagaimana disampaikan oleh Pelatih Arsenal, Arsène Wenger, dalam satu kesempatan:[3]

“I would like to say, ‘Listen, whether he English, South African, French or South American, he is a good football player. You say to a player, ‘you play because you are better’. I have always done that in my life.”

***

Terakhir, untuk menutup bagian ini, saya hendak sertakan satu kliping berita (format .jpg) yang pernah dibahas di blog lama. It’s the power of football! Bolehlah dibaca dan dihayati barang sebentar.😉

 
Penutup: That Thing We Like
 

Jamaknya hal yang populer, sepakbola memiliki jangkauan sosial yang luas. Sebagaimana telah disebut: pengaruhnya terasa di berbagai lapisan sosial. Kadang dia mempersatukan, tetapi, sering juga jadi memisahkan. Contoh-contohnya sudah kita lihat bersama di atas.

Adapun layaknya hal di dunia ini, sepakbola tidak selamanya indah. Di atas tadi kita sudah membahas bagaimana sepakbola jadi sarana pelampiasan SARA dan politik. Kadang pertengkaran yang diakibatkannya bisa memakan korban luka dan jiwa. Mengenai hal itu tentu kembali pada kebijakan manusianya. Ada tim yang pendukungnya sopan dan berkelas, tetapi, ada juga yang rusuh dan hooligan. Walaupun di masa kini bolehlah kita bernafas lega. Minimal keadaannya tidak separah yang dulu-dulu.😛

Hanya saja, terlepas dari keburukan di atas, ada satu hal yang harus dicatat: sepakbola itu punya kemampuan menjembatani. Ibaratnya that thing we all like. Teman saya sewaktu kuliah mencontohkan interaksi antarkelas yang dijembatani sepakbola. Lalu, Didier Drogba dan kawan-kawan mengumpulkan masyarakat bertikai di stadion — terlepas dari perbedaan ideologi dan sebagainya. Lebih lagi adalah keberhasilan timnas Irak di Piala Asia 2007: tim ragtag yang sukses jadi pemenuh harapan warga negaranya. Luar biasa dampaknya kalau kita pikirkan.🙂

Mengutip kalimat legendaris Bill Shankly, mantan manajer tim Inggris Liverpool:[4]

“Some people believe football is a matter of life and death. I’m very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that!”

 

 
——

Catatan dan Sumber:

 
[1] ^ “Cruel Britannia? Glasgow Rangers, Scotland and ‘Hot’ Football Rivalries” — R. Giulianotti & M. Gerrard
(esai dalam buku yang disebut sebelumnya; lihat Daftar Pustaka)

[2] ^ “Athletic Bilbao – Where Blood Runs Thicker Than Football” — Cyrus C. Malek (Goal.com)

[3] ^ Fifa quota proposal angers Wenger — arsip berita BBC

[4] ^ Bill Shankly in quotes — situs resmi Liverpool FC

 
——

Daftar Pustaka

  • Armstrong, G & Giulianotti, R (ed.). 2001. Fear and Loathing in World Football. Oxford: Berg
  • Foer, F. 2004. How Soccer Explains The World: An Unlikely Theory of Globalization. New York: Harper-Collins

2 responses to “Let’s Talk About Football

  1. AnDo Maret 22, 2011 pukul 1:10 am

    Aneh juga yah. Tulisan bertema olahraga paling populer seluruh dunia ini justru sepi komentator. Kemana gerangan orang2 yg mengklaim penggemar bola, glory hunter hingga angota klub pecinta Irfan Bachdim?
    PERTAMAX!!!😆

  2. sora9n Maret 22, 2011 pukul 1:53 pm

    @ AnDo

    Ndak tahu, sayanya juga bingung ini.😆

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: