ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Kiamat dan Seni Menakuti Diri

Cerita berikut ini terjadi pada tahun 1844, dan melibatkan salah satu sekte Kristiani di Amerika Serikat. Peristiwanya sendiri boleh dibilang cukup unik. Melalui analisis kitab Bibel, pemimpin sekte bernama William Miller mengumumkan: bahwasanya Yesus Kristus akan turun ke bumi paling lambat bulan Oktober 1844. Yesus akan turun ke bumi bersama para santo, membersihkan kejahatan dan kekotoran yang ada. Lalu sesudah itu… kiamat. End of the world as we know it.

William Miller, Millerite Preacher

William Miller, sang pemimpin sekte

(via wikipedia)

Sepanjang tahun 1844, pengikut Miller — dikatakan berjumlah antara 30.000-100.000 orang[1] — bekerja keras menyebarkan lewat publikasi misionaris. Mengabari bahwa akhir zaman sudah dekat. Awalnya ditetapkan bahwa tanggal turunnya Yesus pada 22 Maret 1844, akan tetapi ketika tanggal itu lewat, dilakukan perhitungan ulang. Akhirnya ditetapkan tanggal “sebenarnya” adalah 22 Oktober.

Sebagaimana bisa ditebak, massa antusias menunggu tanggal tersebut. Semua berharap bisa naik ke surga bersama Yesus. Akan tetapi kenyataannya… 22 Oktober 1844 berlalu tanpa kejadian signifikan. Tidak ada Yesus, tidak ada Santo, dan lebih lagi tidak ada bencana pengakhir dunia. Kasar-kasarnya: bumi tetap berputar seperti biasa.

Adapun kaum Kristiani non-Miller — yang sejak awal tidak percaya — kemudian menamai “kiamat gagal” di atas sebagai The Great Disappointment. Biarpun sudah dihitung teliti lewat kitab, kiamat yang diperkirakan ternyata tidak terjadi. Boleh dibilang bahwa penantian Sekte Miller berbuah kekecewaan.

***

Sekitar tahun 1999, waktu saya masih relatif baru di internet, Indonesia dan dunia dihebohkan ramalan kiamat yang mirip. Dikatakan bahwa kiamat akan terjadi tahun 2000 — bertepatan dengan pergantian milenium dan peristiwa Y2K. Waktu itu kehebohannya sampai masuk ke media massa.

Bagaimana akhirnya tentu kita semua tahu. Hal itu tidak terjadi. Saat ini saya menulis di sini, tanggal 11 Maret 2011 — sebelas tahun selewat “waktunya kiamat”. Tidak ada pecahan komet yang katanya bakal nyasar, begitu juga Y2K berhasil dilewati dengan mulus. Hidup berjalan seperti biasa. Pada akhirnya prediksi kiamat itu sekadar heboh yang tidak pada tempatnya.

***

Kemudian dekade 2010 lewat, dan sekarang ada berita ramalan baru. Syahdan menurut versi ini, kiamat akan terjadi tahun 2012: bertepatan dengan berakhirnya siklus penanggalan Maya. Lalu peristiwa itu dikait-kaitkan dengan bencana alam. Mulai dari tsunami 2004, hewan-hewan mati mendadak, sampai yang paling fresh gempa Jepang yang baru terjadi kemarin. Tak ayal orang jadi berpikir — kali ini ada begitu banyak tanda-tanda, jangan-jangan, yang sekarang betulan!😯

Meskipun begitu, untuk saat ini, soal itu akan kita stop dulu. Akan kita bahas lagi nanti.πŸ™‚ Sekarang saya ingin membahas sisi lain di balik ramalan kiamat, yaitu, ditinjau lewat psikologi.πŸ˜‰

 
Psikologi Kiamat: Mengapa Orang Percaya, dan Selalu Memundur-mundurkan Tanggal
 

Dalam sebuah tulisan tempo hari di blog ini, saya sempat menyinggung kecenderungan orang terkait ramal-meramal (sebaiknya dibaca selengkapnya untuk lebih detail). Pada dasarnya, ketika berurusan dengan ramal-meramal, orang cenderungnya mencari kecocokan dulu. Sedemikian hingga kadang peristiwa yang tidak berhubungan jadi dihubung-hubungkan dan “sesuai ramalan”.

Prinsip itu diturunkan dari kutipan filsuf Inggris Francis Bacon. Menurut Bacon:[2]

“The general root of superstition is that men observe when things hit, and not when they miss; and commit to memory the one, and pass over the other.”

(cetak tebal dari saya)

Hal yang sama berlaku untuk segala jenis ramalan. Mulai dari ramalan bintang, sampai yang serius seperti ramalan kiamat di atas, semua tak lepas dari pengaruhnya.

Mengenai hal ini dicontohkan paling baik oleh almarhum Tan Malaka, pahlawan Pergerakan Nasional Indonesia. Dalam salah satu bukunya[3] Tan Malaka mengungkapkan pergaulan dengan teman Kristen Eropa.

Beberapa banyaknya orang Kristen ceritakan kepada saya ketika Perang 1914-1918, bahwa millieunisten, negara (surga) 1000 tahun akan datang. Karena menurut apocalypse, firman dalam Kitab Injil, Surga yang kekal, dimaksudkan dengan 1000 tahun itu mesti didahulukan oleh peperangan yang maha hebat. Pada peperangan inipun –- 1939 –- sudah cukup saya dengar cerita semacam ini dari pihak Kristen juga. […]

Jutaan Kristen Orthodok lupakan pada, bahwa sudah berlusin-lusin perang dari semenjak nujum tadi timbul, membatalkan nujum itu. Dan kalau perang inipun berlalu, dan perang lebih hebat lagi akan timbul pula, percayalah Tuan, bahwa masih jutaan Kristen Orthodok yang percaya akan datangnya Surga Kekal itu, dan melupakan 13 atau lebih peperangan yang sudah membatalkan.

 
(cetak tebal dari saya)

Di sini kita melihat bahwa orang-orang yang dicontohkan Tan Malaka bersikap persis seperti dijelaskan Bacon. Mereka tidak menalar ramalan secara kritis, melainkan, mencocok-cocokkan diri agar ramalan terasa tepat. Sementara kenyataannya ramalan itu sudah “terpenuhi” — dalam tanda kutip — sejak dulu kala.

Dalam contoh Tan Malaka menjelaskan tentang “Perang Besar” sebagai tanda menjelang kiamat. Akan tetapi pertanyaannya, perang yang mana?πŸ˜•

Sejak zaman dahulu ada banyak perang besar. Sebagai contoh Perang Salib — berlangsung hampir 200 tahun. Sebelumnya di abad ke-7 terdapat Masa Ekspansi Islam pasca meninggalnya Nabi Muhammad. Adapun di masa modern contohnya Perang Dunia I, Perang Dunia II, sampai Perang Dingin — kalau yang terakhir boleh dianggap sebagai perang. Setiap kali terjadi yang baru, selalu prediksinya dimundurkan: “Kali ini berbeda, pasti ini yang akhir zaman!” Dan begitu seterusnya. Pada akhirnya orang jadi gothak-gathik-gathuk supaya cocok.

Sementara itu di sisi lain: dunia terus berjalan tanpa peduli adanya ramalan! Surprise!:mrgreen: Cuma manusianya saja yang sibuk mendorong-dorongkan.

***

Jadi di sini Anda lihat problemnya. Awalnya orang punya keyakinan akan hari akhir. Hari akhir yang — konon — sudah diramalkan sejak jauh hari. Akan tetapi kenyataannya jauh panggang dari api: ramalan itu sering lebay dan meleset. Sebagaimana bisa dilihat dalam uraian di atas.

Sekte Miller mengatakan kiamat pada tahun 1844. Tidak terjadi. Komet Halley muncul tahun 1910, dianggap pertanda kiamat — juga tidak terjadi. Lalu ada sekte UFO menyatakan kiamat tahun 1997, tidak jadi; tahun 1999 tidak; tahun 2000 juga tidak… dan entah berapa kali lagi orang akan menetapkan waktu kiamat. Sejauh ini semua kacau, semua salah, dan setiap kali terjadi, orang selalu membikin tanggal kiamat yang baru.

Jadinya ramalan kiamat itu seperti main kucing-kucingan. Hari ini tidak terjadi, tunggu tahun depan. Kalau tidak kita bikin tanggal baru lagi. Pada akhirnya semua itu jadi tidak bermakna.😐

 
Tentang Kiamat dan Kesombongan Antroposentrik
 

Akan tetapi, mari kita coba bahas kiamat dari sudut pandang yang lain.

Bicara tentang kiamat, tentu ada baiknya kalau kita juga membicarakan korbannya. Yak tepat — siapa lagi kalau bukan manusia dan planet Bumi?:mrgreen:

Dalam berbagai versi kebudayaan, kiamat digambarkan bermacam-macam. Meskipun begitu yang paling sering sebagai berikut: Bumi mengalami kehancuran, entah lewat perang, bencana, atau sebagainya. Lalu sesudah itu kehidupan manusia berakhir. Lantas alam semesta gulung tikar — pokoknya semua hancur dan kacau. Tidak ada lagi “dunia” sebagaimana kita kenal.

Namanya keyakinan spiritual, tentu tidak aneh kalau fokus kiamatnya pada manusia dan Bumi. Hanya saja yang semacam ini mengabaikan satu hal — perkara yang akan kita bahas berikut ini.

Tapi sebelumnya saya ingin bertanya dulu pada pembaca. Tahukah Anda berapa umur planet Bumi yang kita diami di atasnya?πŸ˜‰

earth from apollo 17

Bumi dipotret dari luar angkasa

(via wikipedia)

Banyak orang tidak menyadari, akan tetapi sebenarnya, usia planet Bumi sudah cukup tua: 4.5 milyar tahun. Sebuah angka yang besar. Adapun manusia modern pertama di muka bumi — yang berbentuk Homo sapiens — diperkirakan paling awal muncul 200 ribu tahun silam.

Di sini kita lihat manusia hadir di bumi amat belakangan. Jikalau boleh dibandingkan: umur spesies kita terhadap Bumi tak sampai seujung kuku. Kita tidak menyaksikan masa-masa Bumi sebelum kita. Apa saja yang dialami? Berapa kali terjadi bencana? Mungkinkah banyak meteor dan letusan gunung berapi? Dan seterusnya, dan lain sebagainya.

Akan tetapi ajaibnya: secara absurd orang bisa yakin kapan Bumi hancur. Karena ada gempa, tsunami, badai matahari, disangka sebentar lagi kiamat. Semua bencana dikait-kaitkan ke akhir zaman. Bahwa Bumi akan hancur, umat manusia punah, lalu sesudah itu alam semesta digulung Tuhan. Kasar-kasarnya “End of the World as we know it”.

Masalahnya pandangan seperti di atas sangat naif. Sebelum ada manusia pun Bumi sudah sering dihantam bencana. Mulai dari meteor besar, gunung Toba meledak jadi danau, sampai kenaikan suhu yang mengakhiri zaman es terakhir. Tidak kurang berbagai bencana tersebut menelan spesies raksasa. Sebagai contoh, dinosaurus dan mammoth.

philosoraptor-kiamat

Kiamat sudah dekat?

Akan tetapi sampai sejauh itu Bumi tidak hancur. Tidak ada akhir zaman, tidak kiamat. Matahari tetap bersinar. Alam semesta tetap ada. Cuma Bumi saja yang bergolak. Adapun setelah pergolakan itu ada spesies yang mati dan bertahan.

Selang beberapa waktu Bumi kembali tenang, dan menjadi tempat hidup yang nyaman. Atau, kalau boleh meminjam istilah TVTropes: Life After The End.πŸ™‚

***

Sementara itu, manusia modern baru melihat bencana — tapi berpikir bahwa itu tanda akhir zaman. Bahwa bumi akan dihancurkan, lalu alam semesta digulung oleh Tuhan. Benar-benar tidak proporsional! Bumi sudah menyaksikan bencana lebih besar dan mematikan daripada yang pernah kita lihat. Cuma kesombongan manusia membuat dirinya merasa penting: jika saya punah, maka Bumi pasti hancur, lalu alam semesta juga berakhir. Padahal kenyataannya itu belum apa-apa.

Sebagaimana yang saya tuliskan di twitter sore kemarin, tak berapa lama setelah kabar tsunami Jepang meramaikan socmed:

“It is strange when Homo sapiens, 200.000 years old at best, nonchalantly say “the end is near” while living on 4.5 billion years old planet.”

 
Penutup: Seni Menakut-nakuti Diri?
 

Sejak zaman purba, manusia adalah makhluk yang sering dihantui ketakutan. Mengenai hal ini ada banyak contohnya — mulai dari takut pada kemarahan dewa, takut pada gelap, hingga takut pada kiamat yang dijelaskan panjang-lebar di atas. Di samping tentunya ketakutan yang lebih keseharian, semisal, “Saya takut besok tak bisa makan…?”:mrgreen:

Sejatinya rasa takut itu hal yang alami. Tidak ada yang salah dengan merasa takut. Cuma masalahnya, kadang rasa takut itu tidak rasional dan dilebih-lebihkan. Salah satunya urusan kiamat yang dibahas panjang-lebar di atas.

Ketika melihat bencana, orang menghubungkan dengan kiamat. Ketika melihat perang, dianggap pertanda kiamat. Sementara di sisi lain: bencana dan perang sudah terjadi puluhan hingga ratusan kali, dan semua dihubung-hubungkan pada kiamat — tapi tetap kiamatnya tidak muncul. Anehnya kok orang masih percaya.πŸ‘Ώ

Yang ironis adalah bahwa, biarpun ramal-ramalan terbukti gagal, orang tidak menarik napas lega. Justru sebaliknya: malah meyakinkan diri bahwa ramalan itu pasti benar; cuma belum terwujud saja. Dari satu ketakutan meloncat pada ketakutan lain. Benar-benar absurd!πŸ‘Ώ Kiamat dibilang tahun 1844, tidak terjadi, dimundurkan ke 1910. Tidak terjadi lagi, dimundurkan sampai “Perang Besar Perang Dunia II”. Tidak jadi lagi dinisbahkan ke Perang Dingin… tidak jadi lagi, dibikin tahun 1997. Tidak jadi lagi, dimundurkan ke tahun 2000… 2012… dan entah mau berapa kali lagi.

You got the idea. Ini bukan lagi soal ramalan, melainkan Seni Menakut-nakuti Diri. Melihat “kiamat” tidak jadi, bukannya lega malah dimundur-mundurkan. Aneh bukan?πŸ˜‰

***

Jadi saya pikir, sudah cukuplah dengan fearmongering melibatkan kiamat semacam itu. Membikin-bikin prediksi, lalu ketakutan sendiri. Akhirnya ketakutan itu jadi melumpuhkan. Padahal sesudah tanggalnya lewat… ya biasa saja.:mrgreen: This is a repeat from 1844, 1910, 1997, 1999, 2000.

Atau, kalau dalam istilah yang populer zaman saya ABG: “Capek deh, tau gak sih looo?”πŸ˜†

 

 
——

Referensi:

 
[1] ^ Mark Nickens, 2006: Y2K? What About Y1844?, Christian Timelines (website)

[2] ^ Bacon, F. 1627. Sylva Sylvarum: or A Naturall Historie. In Ten Centuries. London: William Lee

[3] ^ Malaka, T. 1943. Madilog (Materialisme Dialektika Logika). Jakarta: Widjaya
(dengan perubahan seperlunya)

 
——

Bacaan Terkait:

 
Sagan, C. 1997. Demon-Haunted World: Science as A Candle in The Dark. London: Headline Book Publishing

Shermer, M. 1998. Why People Believe Weird Things. New York: W.H. Freeman & Co.

18 responses to “Kiamat dan Seni Menakuti Diri

  1. lambrtz Maret 12, 2011 pukul 8:19 pm

    …what about Big Crunch? Atau kemungkinan-kemungkinan yang lain?πŸ˜• Saya khawatir ntar anak cucu saya gimana nasibnya😦

  2. Pak Guru Maret 12, 2011 pukul 8:47 pm

    @ lambrtz

    Kayaknya yang dibahas Masbro Sora di sini menyambung-nyambungkan antara kiamat (peristiwa besar) dengan peristiwa yang relatif kecil dan/atau personal. Kalau kiamat itu pastinya bakal datanglah.

    @ sora9n

    Setidaknya menyambungkan antara bencana besar dengan bencana kecil masih nyambung. Yang nyebelin itu kalau disambungkan dengan perkara moralitas yang arbitrer dan seenaknya.

  3. sora9n Maret 12, 2011 pukul 9:15 pm

    @ lambrtz

    Sejujurnya saya agak ragu umat manusia masih ada zaman segitu… walaupun bisa aja saya salah sih.πŸ˜† pesimis

    BTW ini maksudnya soal kiamat yang nonscientific ya. Dibedakan dong. Sia-sia you di menara gading kalo gitu aja enggak ngerti. (=3=)/

    *eaaaa*

    :::::

    @ Pak Guru

    Haha, soal moral arbitrer itu memang menyebalkan. Ironisnya ya, itu jadi mirip jeruk makan jeruk takhayul memanfaatkan takhayul. Enggak penting bangetlah.πŸ˜†

    @ lambrtz

    Kayaknya yang dibahas Masbro Sora di sini menyambung-nyambungkan antara kiamat (peristiwa besar) dengan peristiwa yang relatif kecil dan/atau personal.

    Eee… saya kok mikirnya bahwa ybs lagi iseng ngetroll dan/atau bercanda.:mrgreen: Tapi ga tahu juga kalo beneran serius.

  4. rukia^^ Maret 12, 2011 pukul 9:42 pm

    Kiamat? Sampai hari ini dan seterusnya, saya tetap percaya kiamat akan datang. Tapi, kalau ditanya kapan datangnya *lu tanya gw, gw tanya siapa dong* *plak*, yah mari tanyakan pada rumput yang bergoyang:mrgreen:

    You got the idea. Ini bukan lagi soal ramalan, melainkan Seni Menakut-nakuti Diri. Melihat β€œkiamat” tidak jadi, bukannya lega malah dimundur-mundurkan. Aneh bukan?

    hmmm… aneh sih, tapi nggak apa-apa jugalah, karena kadang-kadang seni menakuti-nakuti diri (juga orang lain) bisa membuat beberapa orang memperbaiki hidupnya.
    Dan benar atau tidaknya ramalan tentang kapan kiamat itu terjadi, marilah kita tunggu bersama-sama dan persiapkan saja diri kita untuk menyambut hari itu datangπŸ˜‰

    @ Pak Guru

    Yang nyebelin itu kalau disambungkan dengan perkara moralitas yang arbitrer dan seenaknya.

    memang lebih mudah melihat punggung orang lain daripada punggung sendiri, jadi maklumi saja.

  5. Fortynine Maret 12, 2011 pukul 9:45 pm

    Kiamat? Buat saya kiamat sudah dekat ketika;
    1. ATK di kantor saya tidak lagi hilang/berpindah ruangan secara gaib. Jadi, kalau di kantor saya pulpen, penggaris, cutter dan lain sebagainya bisa bertahan, apalagi sampai tidak pindah ruangan. Maka saya pasti bikin pengumuman; KIAMAT SUDAH DEKAT!

    2. Kalau komputer komputer kantor saya bisa bertahan, tidak kena virus selama sebulan!

    ::::

    9 September 1999. Ada badai besar di kota saya, banyak yang berdzikir waktu itu, karena ada ramalan kiamat pada tanggal tersebut. Jadi, kalau menurut saya, ada semacam sugesti massal yang menyebabkan bencana yang lantas dihubung hubungkan dengan kiamat.

    Seperti juga ramalan kiamat tanggal 12-12-2012. Bayangkan saja jika seluruh manusia di dunia punya suggesti bahwasanya tanggal segitu kiamat beneran. Atau sebut saja bumi mengalami bencana besar besaran,ya karena kekuatan sugesti itu tadi.

    BTW, ada teori yang pernah saya saksikan di televisi, bahwasanya bumi ini melakukan peremajaan. mungkin saja jutaan atau milyaran tahun lalau ada peradaban tinggi di kutub utara dan selatan, Sementara tempat terdingin adalah belahan bumi timur dan barat, yang mana peradaban tinggi tadi lantas hancur ketika Kutub utara dan selatan bergeser dari tempat paling ramah kehidupan menjadi tempat paling dingin…

  6. AnDo Maret 12, 2011 pukul 9:57 pm

    Gimana dengan prediksi Mbah Newton
    Mungkin ada harganya kalau yg bikin seorang saintisπŸ˜€

  7. Guh Maret 12, 2011 pukul 10:39 pm

    Kamu… atheis ya? *mimik serius*

    Btw, tergelitik baca komen Fortynine, apakah masbro sudah pernah bahas soal “kekuatan pikiran”? Klo belum, bahas dongπŸ˜€

  8. sora9n Maret 12, 2011 pukul 10:59 pm

    @ rukia^^

    Tapi, kalau ditanya kapan datangnya *lu tanya gw, gw tanya siapa dong* *plak*, yah mari tanyakan pada rumput yang bergoyang:mrgreen:

    Pakai versi hadis aja, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya.”:mrgreen:

    *plak*

    Dan benar atau tidaknya ramalan tentang kapan kiamat itu terjadi, marilah kita tunggu bersama-sama dan persiapkan saja diri kita untuk menyambut hari itu datang

    Yup yup. :3

    :::::

    @ Fortynine

    9 September 1999. Ada badai besar di kota saya, banyak yang berdzikir waktu itu, karena ada ramalan kiamat pada tanggal tersebut.

    Hehe, di tempat saya juga ada seperti itu. Waktu itu masih SMP. Anak-anak sekelas penasaran nunggu jam 9:09, katanya mau ada pertanda kiamat apaa gitu… Walau akhirnya ga terjadi apa-apa sih. ^^”

    *cuacanya waktu itu cerah*

    Jadi, kalau menurut saya, ada semacam sugesti massal yang menyebabkan bencana yang lantas dihubung hubungkan dengan kiamat.

    Memang sering begitu — terutama kalau tanggalnya rada aneh/unik. Berhubung tanggalnya ‘wah’ orang jadi suka menghubungkan. Padahal, belum tentu sebenarnya berhubungan. (gotak-gatik gathuk)

    :::::

    @ AnDo

    Yaa, kita lihat aja dulu. Kalau dapet umur zaman segitu saya 74 tahun. Mudah-mudahan sehat lah.πŸ˜›

  9. sora9n Maret 12, 2011 pukul 11:02 pm

    @ Guh

    Bukaaaan, saya agnostik.πŸ˜†

    Walaupun to be fair, kalau bicara agama, kadang sama kerasnya dengan mereka. Bedanya cuma saya ga ambil pusing apakah Tuhan ada/tidak. Easy going ajalah. ^^

    Btw, tergelitik baca komen Fortynine, apakah masbro sudah pernah bahas soal β€œkekuatan pikiran”? Klo belum, bahas dongπŸ˜€

    Lihat-lihat dulu yaa…πŸ˜•

  10. lambrtz Maret 13, 2011 pukul 1:48 am

    Buset dikira ngetroll. I take those Hawking’s words seriously dude, even extending it to the scope of the universe.πŸ˜†

    Anyway, tentang kiamat-kiamatan sendiri, sebagai orang yang kolom agama di KTP-nya berawal K, saya ga habis pikir sih, bisa-bisanya orang-orang menerjemahkan ayat kitab suci sampe segitunya nentuin tanggal kiamat. Mungkin mereka melupakan teks “Tuhan datang bagaikan maling.”πŸ˜†
    CTTOI, tentunya yang macam begini ndak cuma bab kiamat, tapi juga barcode lah, the number of the beast lah, whatever. Untungnya di sekitar saya jarang terdengar macam begini.πŸ™„

    @AnDo
    Tentang Mbah Ishak, sepertinya dunia mengenalnya sebagai orang yang nyentrik ya. Saya sendiri memandangnya orang sains pertengahan, dalam artian, selain membangun pondasi untuk ilmu morn macam Fisika Mekanik, sebagian dari dirinya masih ada di jaman dulu dengan pseudosainsnya. You know, macam alkimia begitu-begitulah. Jadi ya anggap saja, kalau abad 20, tengah-tengahnya Stephen Hawking dan Aleister Crowley gitu.πŸ˜†

    CMIIW

  11. sora9n Maret 13, 2011 pukul 2:53 am

    @ lambrtz

    Anyway, tentang kiamat-kiamatan sendiri, sebagai orang yang kolom agama di KTP-nya berawal K, saya ga habis pikir sih, bisa-bisanya orang-orang menerjemahkan ayat kitab suci sampe segitunya nentuin tanggal kiamat. Mungkin mereka melupakan teks β€œTuhan datang bagaikan maling.β€πŸ˜†

    Hey, I know that one! Mengingatkan waktu baca-baca eskatologi agama K. IIRC ada juga tidbits seperti “anak manusia”, “kilangan anggur” dan “meterai Tuhan di dahi”. Tapi ini seingat saya aja sih.πŸ˜›

    *orang yang kolom agamanya di KTP berawalan I*

    *other than that, not so much* (ninja)

    Tentang Mbah Ishak, sepertinya dunia mengenalnya sebagai orang yang nyentrik ya. Saya sendiri memandangnya orang sains pertengahan, dalam artian, selain membangun pondasi untuk ilmu morn macam Fisika Mekanik, sebagian dari dirinya masih ada di jaman dulu dengan pseudosainsnya.

    Dan jangan lupa bahwa beliau gosipnya terdaftar anggota Freemason. Illuminati yang diatur alien utk diam-diam menaklukkan planet bumi, membikin cikalbakal NWO demi imbalan rahasia eliksirhidupabadi. rahasia yg diketahui pemerint-

    ** CARRIER LOST **

  12. Izu Maret 13, 2011 pukul 5:22 pm

    Dulu waktu Thor, Odin, Loki, dkk sedang populer, penganutnya percaya kalau kiamat sudah dekat, bentar lagi mau ada ragnarok, jadi ayo pada repent..

    Ajaran2 lainpun seperti itu, kiamat sudah dekat, entah 2000 tahun yang lalu, 1000, dll, tapi tetap saja belum terjadi..

    Apakah kiamat sudah dekat?
    menurut saya sih, tentu saja sudah dekat, karena waktu kan berjalan maju, jadi gak mungkin kan kalau kiamat menjauh..
    jadi, tinggal debatkan “dekat”nya itu seberapa dekat.. πŸ˜›

  13. sora9n Maret 13, 2011 pukul 9:16 pm

    @ Izu

    Ya, masalahnya kalau tanggalnya sudah ditetapkan tapi ternyata gak kejadian. Itu dia yang bikin mengganjal.:mrgreen:

  14. Felicia Maret 17, 2011 pukul 12:03 pm

    waktu remaja dulu saya pernah diputarkan film mengenai akhir jaman di gereja..
    kurang lebih ceritanya tentang orang2 yang diangkat, lalu tokoh utama filmnya adalah orang yang “tertinggal” dan dikejar2 karena tidak mau menuruti penguasa dunia yang baru…
    akhir ceritanya tokoh utamanya dipenggal…
    lalu malam harinya saya malah jadi tidak bisa tidur dan terus mengecek apakah orang2 di kamar saya masih tetap ada di tempatnya sepanjang malam… πŸ˜†

  15. sora9n Maret 18, 2011 pukul 8:37 am

    @ Felicia

    Wow…πŸ˜†

    BTW, nanya mbakyu. Pernah baca seri Left Behind kah?πŸ˜›

    *sepertinya kok mirip*
    *saya cuma baca sinopsisnya sih*

  16. Pingback: 2012 ? .. 3012 aja degh .. « dragus.cn

  17. Brigita Kezia Mei 15, 2011 pukul 2:51 pm

    Aduhh ! gmana yhh buat yg blang kyak gtu ! kan kiamat tuh ya da yg tau ! gmna sihh \u/ yg blng kyak gtu tuh cma nkut-nkutin drii sndrii… *memang manusia tuh kayak gtu ! udh jlas” Tuhan kan blng “Tidak ada seorang pun yg tau akan tibanya harii kiamat”

  18. Pingback: 2012 ? .. 3012 aja degh .. | dragus.cn

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: