ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Emile Durkheim: Memetakan Bunuh Diri

“There is but one truly serious philosophical problem, and that is suicide. Judging whether life is or is not worth living amounts to answering the fundamental question of philosophy.”

Albert Camus

 

Bapak Emile Durkheim (1858-1917), pelopor ilmu sosiologi asal Prancis, boleh dibilang seorang pemikir yang komplet. Sepanjang hidupnya ia menulis karya-karya berpengaruh terkait kehidupan bermasyarakat: mulai dari perkara religiusitas, perburuhan, hingga teknik penelitian sosial, semua tak lepas dari pengaruhnya.[1]

Adapun di Indonesia, nama Durkheim paling terkenal lewat pelajaran sosiologi SMA. Dalam buku pelajaran biasanya nama beliau disebut bersamaan dengan pelopor ilmu sosiologi sezamannya: Auguste Comte dan Max Weber.

Emile Durkheim

Emile Durkheim (1858-1917)

(courtesy of Wikipedia)

Meskipun begitu, dalam tulisan kali ini, kita tidak akan membahas Durkheim sebagaimana umum dijumpai di buku sekolah. Yang akan dibicarakan di sini adalah gagasan Durkheim yang agak lebih ‘gelap’ dan serius, yaitu “bunuh diri sebagai gejala sosial”.

Mengapa Durkheim tertarik membahas tentang bunuh diri, nah, ini ada ceritanya lagi.

Sebagai seorang sosiolog, Durkheim menilai bahwa peristiwa bunuh diri tidak terjadi hanya dipicu kondisi mental. Barangkali benar bahwa orang tertentu punya kecenderungan bunuh diri lebih kuat daripada orang lain. Akan tetapi, Durkheim menambahkan: bahwasanya terdapat variabel eksternal yang berpotensi memicu orang bunuh diri. Entah itu berupa tuntutan sosial, perubahan zaman, atau lain sebagainya. Hal ini disebutnya sebagai “faktor kosmis” pemicu bunuh diri.[2]

Nah, premis di atas kemudian menjadi tulang punggung karya beliau yang berjudul Suicide: A Study in Sociology. Dalam buku tersebut Durkheim menelusuri ada apa di balik kejadian bunuh diri, dan — yang tak kalah pentingnya — mengapa orang terpicu melakukannya?😕

 
Menelusuri Bunuh Diri: Empat Skenario Durkheim
 

Sebagai seorang sosiolog, Durkheim meletakkan faktor sosial sebagai elemen penting pendorong orang bunuh diri. Oleh karena itu ia menarik kesimpulan: apabila orang melakukan bunuh diri, maka pemicunya takkan jauh dari faktor komunitas dan stabilitas sosial.

Secara sederhana dapat digambarkan idenya sebagai berikut:

chart tipe bunuh diri (emile durkheim)

Empat tipe bunuh diri menurut Durkheim

 
Skenario Bunuh Diri I — Bunuh Diri Egoistis
 

Skenario pertama menurut Durkheim adalah bunuh diri egoistis. Dalam hal ini orang melakukan bunuh diri karena ia merasa terpisah dari masyarakat. Orang macam ini menjalani hidupnya cenderung menyendiri, sebab memang dia tidak punya ikatan yang kuat ke masyarakat. Ibaratnya seperti layang-layang putus: dia hidup dengan mengacu cuma dirinya sendiri (“ego-is”).

Orang yang detached dari masyarakat ini cenderung bertindak soliter. Akan tetapi sebenarnya, itu mengingkari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Perlahan-lahan ia akan mengalami tekanan batin — hal yang, sebagaimana bisa ditebak, bisa berujung ke bunuh diri.

Dalam hal ini Durkheim menyorot bunuh diri sebagai sarana pelarian. Orang yang tercerabut dari masyarakat mengabaikan kecenderungan sebagai makhluk sosial, maka dia menderita. Akan tetapi ia tidak punya alasan untuk tinggal di dunia — dirasanya tidak ada orang yang akan sedih atau kecewa jika dia meninggal. Oleh karena itu orang jenis ini mudah terdorong mengakhiri hidupnya sendiri.😕

 
Skenario Bunuh Diri II — Bunuh Diri Altruistik
 

Berbeda dengan sebelumnya, yang satu ini terjadi karena rasa sosial yang kuat, dan umumnya berkonotasi positif. Orang yang melakukan bunuh diri altruistik dianggap telah berkorban untuk kepentingan orang lain. Sedemikian hingga pengorbanannya jadi nilai plus tersendiri.

Contoh yang bagus di sini adalah orangtua yang mengorbankan diri untuk keselamatan anak. Namanya orang tua, sudah pasti tidak ingin anaknya terluka. Katakanlah misalnya sang anak hendak tertabrak mobil, maka orangtua akan mendorong anak supaya menjauh. Akan tetapi justru ini mengakibatkan orangtua tertabrak dan meninggal — secara teknis orangtua telah bunuh diri, akan tetapi, bunuh diri di sini dipandang sebagai suatu kemuliaan.

Seorang yang melakukan bunuh diri altruistik adalah orang yang bunuh diri untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Dalam kasus ekstrem misalnya pilot Kamikaze atau aktivis bom bunuh diri. Biarpun tahu akan tewas, mereka percaya pengorbanannya tidak sia-sia — dan masyarakat yang dibela pun menghormati. Pada akhirnya bunuh diri di sini jadi bersifat utilitarian dan pragmatis.

 
Skenario Bunuh Diri III — Bunuh Diri Anomik
 

Manusia adalah makhluk yang menginginkan kontrol. Orang pada umumnya gentar menjalani hidup yang tidak pasti. Oleh karena itu, diusahakan agar hidup dapat dikontrol untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagai contoh, orang bekerja untuk mendapatkan keamanan finansial (= kontrol keuangan). Sama halnya dengan orang membangun rumah untuk mengamankan dari marabahaya — umpamanya perampok atau hewan liar (= kontrol keselamatan diri).

Problemnya adalah ketika kontrol yang biasa dimiliki itu tiba-tiba hilang. Dalam sekejap rasa aman yang sudah dibangun hancur berantakan. Di sini akan timbul sebuah gejala psikologis yang disebut anomi — rasa gentar di mana orang takut tidak mampu mengatur jalan kehidupannya. Tanpa kemampuan regulasi orang merasa tidak berdaya. Di sinilah kecenderungan untuk bunuh diri itu mengintai.

Anomi terjadi manakala orang tak siap menghadapi perubahan sosial. Sebagai contoh orang yang mengalami post-power syndrome. Dia yang sebelumnya berpangkat mendadak tak punya orang untuk disuruh. Pada akhirnya dia terjangkit stres.[3]

Begitu pula dengan veteran perang yang mengalami PTSD, atau orang kaya yang mendadak jatuh miskin. Pada dasarnya orang yang tak siap menerima perubahan berpotensi terkena anomi. Dan dari situ, jadi cenderung terdorong untuk mengakhiri hidup. (cf: bunuh diri egoistis di skenario I)

 
Skenario Bunuh Diri IV — Bunuh Diri Fatalistik
 

Yang terakhir adalah skenario bunuh diri keempat, yakni bunuh diri fatalistik. Durkheim menyebut bunuh diri fatalistik ini sebagai kebalikan bunuh diri anomik — dalam artian, hidup orang dikacaukan regulasi eksternal yang ketat.

Orang yang melakukan bunuh diri fatalistik pada umumnya adalah orang yang merasa kalah dalam hidup. Setiap kali dia berusaha, selalu gagal. Cita-citanya untuk maju selalu terhambat; ke mana pun dia pergi selalu dihantui nasib buruk. Singkat cerita orang ini merasa bahwa dunia selalu kejam padanya. Sebab memang menurutnya semua yang dialami buruk-buruk terus.

Dalam hal ini orang tersebut telah mengambil posisi fatalistik. Ia tidak lagi hendak berusaha, melainkan menyerahkan saja apa yang akan terjadi nanti. Dia memiliki ekspektasi buruk pada dunia. Oleh karena itu orang jenis ini jadi terdorong untuk pergi saja — dengan kata lain, mengakhiri hidup di dunia yang kejam.

Ada banyak contoh orang yang melakukan bunuh diri fatalistik. Barangkali kalau boleh dibilang, hampir semua orang bunuh diri yang masuk berita melakukan bunuh diri jenis ini. Menyerah pada himpitan ekonomi; menyerah karena tak kunjung tamat kuliah; atau lain sebagainya. Kasar-kasarnya: orang yang sudah menyerah dalam hidup jadi terdorong untuk bunuh diri; dia ingin secepat mungkin mengakhiri penderitaannya.😮

***

Singkat cerita, demikianlah Durkheim merumuskan empat tipe bunuh diri ditinjau secara sosial. Menurut Durkheim orang bunuh diri tidak melulu dipengaruhi bawaan psikologisnya — melainkan juga oleh faktor sosial.

Hanya dengan mengamati dinamika sosial di sekelilingnya, maka kita dapat memahami rasa frustrasi orang yang hendak mengakhiri hidup. Demikian kira-kira kesimpulan tersirat Durkheim.🙂

 
Penutup: Bunuh Diri dan Lingkungan Sosial
 

Sebagaimana telah kita lihat bersama, pada dasarnya gagasan Durkheim akan bunuh diri cukup simpel: bunuh diri itu diakibatkan oleh tekanan batin akibat situasi sosial. Dua hal yang krusial mempengaruhinya yakni faktor komunitas dan stabilitas.

Seorang yang memiliki ikatan baik ke masyarakat akan jauh dari kemungkinan bunuh diri. Adapun di sisi lain, bunuh diri itu juga bisa dipicu oleh perubahan landscape sosial. Ketika orang tidak siap menghadapi perubahan sosial, maka di situlah stres menyergap. Pada akhirnya itu berpotensi mendorong orang melakukan bunuh diri.

Barangkali, kalau saya boleh menafsirkan seenaknya, sebenarnya Durkheim hendak menyampaikan satu hal: bunuh diri itu adalah gejala sosial, oleh karena itu, pemecahannya juga harus bersifat sosial. Orang tidak mengentaskan dirinya dari depresi atau anomi dengan seorang diri. Problem itu harus diselesaikan secara sosial: melalui interaksi dengan masyarakat, maka orang terhindar dari suatu rasa frustrasi dan alienasi.[4]

Adapun bunuh diri itu sendiri akhirnya tereduksi jadi pergulatan antara pribadi melawan persepsinya akan dunia. Apakah dunia ini layak dijalani? Atau lebih baik kalau ditinggalkan saja? Kenyataannya tidak ada jawaban mutlak untuk itu. Yang ada hanyalah seberapa penting dunia dan lingkungan sosial itu berarti di mata orang.😉

 
Jadi, singkat cerita…

Selamat akhir pekan Kisanak. Sudahkah Anda merenungi hidup dan kualitas hubungan sosial hari ini?:mrgreen:

 

——

Catatan:
 

[1] ^ Sebagai contoh karya beliau: The Elementary Forms of Religious Life ; The Divisions of Labor in Society ; Rules of the Sociological Method

[2] ^ Dalam Suicide: A Study In Sociology, Buku I, Bab 3.

[3] ^ Sebenarnya anomi tidak cuma terjadi pada perubahan bersifat negatif; bisa saja perubahan bersifat positif tapi menimbulkan anomi. Sebagai contoh orang kaya baru atau bintang pop yang ketenarannya melejit — dalam sekejap status dan kekayaan membubung. Apabila tidak siap, maka hal itu dapat menimbulkan rasa disorientasi (i.e. anomi).

[4] ^ Secara menarik, data sensus yang diolah Durkheim menunjukkan kecenderungan: orang yang aktif secara politik, ikut komunitas religius, atau menikah dan punya anak adalah golongan yang paling jarang bunuh diri. Barangkali benar bahwa hubungan sosial dapat meminimalisir efek depresi dan anomi?:-/

 

——
 

Daftar Pustaka:

 
Durkheim, E. 1857. Suicide: A Study in Sociology (terj., 1952). London: Routledge.

8 responses to “Emile Durkheim: Memetakan Bunuh Diri

  1. gunawanrudy Maret 5, 2011 pukul 2:41 am

    ngomongin bunuh diri, pikiran langsung terlintas ke gunung kidul.:mrgreen:
    daerah satu itu tingkat bunuh dirinya tinggi puluhan tahun belakangan ini. bukan kota besar yang padat dan hiruk pikuk, cuma daerah pedesaan pinggiran yang tandus. kenapa menarik? karena ada balutan mitos pulung gantung. apa itu, gugling sajalah. :p

    kebanyakan orang gunung kidul percaya kalau rumah yang didatangi pulung gantung biasanya mesti terjadi kasus gantung diri. kalau dilihat secara garis besar, ya begitu. polanya: kedatangan pulung gantung, lalu mati gantung diri, mayat menghadap ke salah satu arah mata angin, dan penampakan pulung gantung muncul di arah mata angin yang dihadapi mayat terakhir. apapun alasannya –putus cinta, tekanan ekonomi, penyakit yang nggak sembuh-sembuh– tetap pulung gantung yang menjadi pembenaran selama puluhan tahun, bahkan ratusan mungkin.

    secara nggak sadar kepercayaan akan pulung gantung ini memberi rasa was-was tertentu kepada penghuni rumah yang kedatangan penampakan ini. sedikit depresi, pulung gantung ini bisa jadi semacam katalis buat bunuh diri. tapi bisa jadi nggak cuma sekadar katalis, untuk kasus-kasus tertentu mitos seperti itu (hidup anomali!) bisa jadi penyebab utama. pendapat semena-mena: toh orang gunung kidul itu mayoritas abangan.

    jadi kepikiran dusun [updated: nama dihilangkan] tempat riset tahun lalu. di sana juga tingkat bunuh dirinya cukup tinggi, padahal ya daerah hulu sungai, dusun ter-ujung di sungai buayan (anak sungai kapuas) dengan penduduk yang tak banyak. tapi diceritakan kapan-kapanlah. *cek catatan lapangan*

    *relativis*

  2. Xaliber von Reginhild Maret 5, 2011 pukul 12:08 pm

    Jadi ingat pas pertama masuk kuliah. Salah satu materi yang dibawakan.😀

    Gara-gara komennya mas Gun saya jadi keingetan. Kalo ndak salah teorinya Durkheim ini kurang bisa diaplikasikan secara universal. Soale, pengamatan yang ia lakukan cenderung terbatas pada negara industri di zamannya (dan datanya kebanyakan cuma tersedia di negara semacam itu) dan kehidupan masyarakat urban. Skenario 1, 3, dan 4 kurang sesuai dengan kehidupan rural yang, katanya punya kinship lebih kuat daripada urban.😕

    Dan di kehidupan rural ada faktor kepercayaan lokal kayak yang mas Gun sebutkan😕 Tak tereksplor oleh Durkheim

  3. gunawanrudy Maret 5, 2011 pukul 5:35 pm

    ^^^ nah ini simpelnya yang mau disampaikan tadi malam. cuma ngetiknya jadi berbelit-belit.😎

    saya sih kembali menyembah mbah hegel, kebenaran itu kontekstual.

    dan sosiologi itu cenderung pukul rata saja. *plak*

  4. sora9n Maret 5, 2011 pukul 7:38 pm

    Euh, sori baru baca + bales. Seharian ini online pakai HP, ga sempat ngecek blog.😛

     
    @ gunawanrudy

    [berbagai cerita di lapangan]

    Wah, menarik. Baru tahu ada corak kehidupan rural seperti itu.😕 Saya sedikit-banyak baca sosiologi urban, tapi rural benar-benar nol. ^^;

    *merasa katro sebagai orang kota*

    polanya: kedatangan pulung gantung, lalu mati gantung diri, mayat menghadap ke salah satu arah mata angin, dan penampakan pulung gantung muncul di arah mata angin yang dihadapi mayat terakhir.

    Ya, ini ga masuk ke empat pola di atas. Bunuh diri didorong rasa takhayul? *CMIIW*

    Tapi saya kok terpikirnya begini. Jangan-jangan sebenarnya mereka awalnya sudah punya tendensi bunuh diri (terlepas apa latar belakangnya ekonomi, percintaan, dst). Hanya saja, karena komunitasnya kuat, jadi ada keengganan melakukan.

    Akan tetapi ketika pulung gantung itu muncul, mereka seolah dapat “alasan” untuk melakukannya. Barangkali di bawah sadar atau bagaimana. Jadi kehadiran pulung gantung itu membuat orang terimpuls untuk bunuh diri — tapi ini IMHO aja sih. ^^;

    /am I doing it right?
    //bukan orang sosial, maap kalo metodologi kacau xP

    tapi diceritakan kapan-kapanlah. *cek catatan lapangan*

    Dibagi dong kisah-kisah penelitian lapangannya. Sepertinya kok menarik.:mrgreen:

    *duduk manis menunggu dongengan*

    :::::

    @ Xaliber von Reginhild

    Gara-gara komennya mas Gun saya jadi keingetan. Kalo ndak salah teorinya Durkheim ini kurang bisa diaplikasikan secara universal. Soale, pengamatan yang ia lakukan cenderung terbatas pada negara industri di zamannya (dan datanya kebanyakan cuma tersedia di negara semacam itu) dan kehidupan masyarakat urban.

    Iya, saya juga langsung terpikir begitu habis baca komen ybs. Sepertinya memang gagasan Durkheim rada urban-oriented.:-/

    Tapi yaa, Durkheim sendiri data penelitiannya lewat sensus. Sedikit banyak pasti ada bias ke perkotaan. Susah menangkap nuance dunia rural kalau metodenya seperti itu.

    *IMHO & CMIIW*

  5. gunawanrudy Maret 6, 2011 pukul 12:36 am

    metode mbah durkheim ndak bisa disalahkan. era segitu memang konsentrasi ilmu sosial ya ke masyarakat industri eropa. sementara kecenderungan masyarakat rural di luar eropa, ya dicap “primitif”. di mana yang dipelajari terbatas pada artefak-religi-mitos dan segala macam itu.

    oyaaa bisa sensor nama dusun di komen pertama? rada ndak enak nulis nama dusunnya soalnya. makasih dan maaf merepotkan. :p

    sayangnya fokus riset waktu itu lebih ke pola perubahan kehidupan petani peladang ke kepala sawit, ketimbang konflik-konflik sosial, jadi data tentang bunuh diri kurang dalam. lima tahun terakhir banyak kasus bunuh diri terjadi di dusun itu. sebelumnya memang ada, tapi cukup jarang (beberapa tahun sekali).

    cara bunuh dirinya serupa: menggantung diri. dan biasanya lokasi gantung diri itu di pondok mereka di tengah hutan (dekat dengan ladang berpindah mereka), bukan di rumah di perkampungan. kata beberapa orang, bunuh diri di pondok di tengah hutan itu agar mereka yang berniat bunuh diri nggak dihentikan oleh orang.

    kalau begini, dari yang saya lihat ya niat bunuh dirinya benar-benar serius. beda dengan yang mau loncat dari gedung, misalnya. yang seperti itu kan masih ragu-ragu, dan bisa diselamatkan orang. matinya juga mencari sensasi dan kemegahan. lah kalau di pondok di tengah hutan? mati dalam kesunyian. serem.

    cerita yang paling sering saya dengar tentang penyebab bunuh diri di sana, ialah soal penyakit yang nggak sembuh-sembuh. baik yang diderita oleh diri sendiri atau keluarga terdekatnya. suami seorang informan saya, misalnya, bunuh diri karena nggak tahan melihat kondisi anaknya yang lemah sejak kecil (jantung bocor, ujar si informan). kakek seorang informan saya yang lain, gantung diri karena bertahun-tahun nggak sembuh dari penyakit. saya belum dapat benang merahnya. delapan kasus yang terjadi dalam lima tahun ini, tujuh di antaranya dilakukan oleh laki-laki. kesemuanya soal penyakit. kecuali satu yang oleh perempuan, karena dilarang berpacaran lalu dipukul oleh orangtuanya. fatalis semua, sepertinya.

    tapi kok saya merasa janggal. saya hampir ndak pernah mendapat data soal bunuh diri di jaman dahulu. protestan dan katolik baru masuk daerah ini di medio 1980-an. sebelumnya masih menganut agama lokal, menyembah duata/duwata (yang bahkan sampai saat ini masih ada 5% penduduk yang belum ‘beragama’). bunuh diri banyak terjadi di era 2000-an, di mana agama-agama menguat di masyarakat ini. kalau dikaitkan dengan ekonomi juga agak kurang pas. toh kebanyakan yang mati bunuh diri lebih ke persoalan penyakit, di mana kondisi ekonomi rumahtangganya nggak miskin-miskin banget, bahkan ada yang bisa dibilang menengah ke atas. mungkin saya terlalu sinis pada agama, sehingga sempat bilang “di sini agama gagal mencegah orang bunuh diri…”:mrgreen:

  6. gunawanrudy Maret 6, 2011 pukul 12:40 am

    oyaaaa ada yang lupa.

    menteri adat di dusun itu bilang, bahwa nggak ada hukum adat yang secara spesifik mempersoalkan kematian orang akibat bunuh diri. pembayaran adatnya sama dengan yang mati ‘alamiah’. cuma ada pengecualian apabila ada ‘faktor luar’ yang menyebabkan seseorang bunuh diri. saya sulit menerjemahkan apa yang dimaksud oleh si menteri adat dengan ‘faktor luar’ itu. mungkin bisa jadi ada paksaan atau tekanan dari orang lain, sengaja atau nggak sengaja. ujarnya, jika ada ‘faktor luar’ maka keluarga yang ditinggalkan akan mendapat beban adat yang besar.

    *menyesal nggak fokus ke soal ini tempo hari*😦

  7. sora9n Maret 6, 2011 pukul 3:44 pm

    @ gunawanrudy

    Sudah dibetulkan. ^^v

    *duduk manis mendengarkan dongengan*

    tapi kok saya merasa janggal. saya hampir ndak pernah mendapat data soal bunuh diri di jaman dahulu. protestan dan katolik baru masuk daerah ini di medio 1980-an. sebelumnya masih menganut agama lokal, menyembah duata/duwata (yang bahkan sampai saat ini masih ada 5% penduduk yang belum ‘beragama’). bunuh diri banyak terjadi di era 2000-an, di mana agama-agama menguat di masyarakat ini. kalau dikaitkan dengan ekonomi juga agak kurang pas. toh kebanyakan yang mati bunuh diri lebih ke persoalan penyakit, di mana kondisi ekonomi rumahtangganya nggak miskin-miskin banget, bahkan ada yang bisa dibilang menengah ke atas.

    Barangkali ada hubungannya dengan edukasi/modernisasi/kontak dunia luar? Maksudnya karena semakin terpelajar, paham tentang kompleksitas dunia dsb. Jadi akhirnya mulai terpapar pada wacana “bunuh diri”.😕

    IIRC ada riset tentang korelasi tingkat pendidikan & urbanisasi dengan level bunuh diri. Salah satunya Durkheim di atas, tapi ada lagi yang lebih modern. Kaitannya bahwa yang lebih modern/teredukasi lebih gampang kena existential angst dan bunuh diri. CMIIW though.

    Atau barangkali agama yang masuk belakangan membuat orang jadi tercerabut dan/atau anomik. Tapi ini pendapat amatir saja sih. ^^a

    oyaaaa ada yang lupa.

    menteri adat di dusun itu bilang, bahwa nggak ada hukum adat yang secara spesifik mempersoalkan kematian orang akibat bunuh diri. pembayaran adatnya sama dengan yang mati ‘alamiah’.

    Hoo, jadi memang tidak ada social inhibitor-nya ya. Barangkali dianggapnya dengan bunuh diri itu semua pihak nothing to lose? ^^;

  8. Pingback: Emile Durkheim | Muara Parit

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: