ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Hal-hal yang mendorong saya jadi internasionalis…

      in·ter·na·tion·al·ism (noun)

       
      1 : international character, principles, interests, or outlook

      2
      a : a policy of cooperation among nations
      b : an attitude or belief favoring such a policy

       
      — dari Merriam-Webster Dictionary

 

Barangkali kalau boleh dibilang, saya adalah orang yang menganggap bahwa batas negara itu semu (penjelasan lebih lanjutnya bisa dibaca di posting lama: [1], [2]). Bukan berarti saya bilang bahwa negara itu tidak penting, sih. Sebagai seorang libertarian saya menilai bahwa negara itu dibutuhkan sebagai suatu badan administrasi (state) — tidak realistis kalau masyarakat diharapkan mengatur dirinya sendiri.

Akan tetapi, tidak perlulah yang namanya nasionalisme itu digadang-gadang berlebihan. Apalagi sampai menyatakan bahwa negara lain mesti diganyang atau sebagainya.

malingsia vs indonsial

Misalnya contoh di atas

Sebagaimana bisa dibaca di tulisan yang di-link, saya selalu bingung dengan konsep negara berbasis suku-budaya (nasion). Apakah negara itu? Indonesia terdiri atas berbagai suku, mulai dari Aceh, Batak, Jawa, Ambon, Papua… di samping juga keturunan Arab/Tionghoa/dsb. Bahasa dan genetiknya beda-beda, tapi toh satu negara. Sementara di sisi lain: Indonesia dan Malaysia sama-sama mayoritas Melayu beragama Islam, tapi negaranya beda tuh. Hanya karena yang satu dijajah Inggris, sementara lainnya dijajah Belanda, akhirnya jadi begitu. Jadi kesannya batas-batas itu dibuat manusia sahaja. (=3=)

Nah, sehubungan dengan itulah, saya jadi orang yang berjiwa internasionalis. Maksudnya begini: Saya tidak membedakan apakah sesuatu itu asalnya dari mana. Apakah dari dalam atau luar negeri? Apakah dari tetangga, atau malah luar benua? Dari manapun tidak masalah. Pokoknya, asalkan berkualitas, maka saya akan suka.😉

Meskipun begitu, belakangan ini saya terpikir juga. Sebenarnya, ada apa sih di kehidupan saya yang mendorong saya jadi segitunya? Jangan-jangan sebenarnya ada peristiwa masa lalu atau sebagainya.😕

Dan setelah diselidiki… ternyata memang ada!😄 Saya sendiri awalnya tidak terlalu memperhatikan. Meskipun demikian, sesudah ditinjau lagi, ternyata ada hal-hal kecil di masa lalu yang membuat saya jadi seperti itu. (u_u) *tsaaah*

Seperti apa poin-poinnya, bisa dilihat sebagai berikut.

 
a) Lingkungan multikultur
 

Yang ini boleh dibilang bukan berita — kalau Anda sudah mengikuti tulisan saya sejak di blog lama. Saya adalah orang yang tumbuh besar di pinggiran Jakarta tahun 1990-an. Sekitar masa ini, perluasan ibukota mengakibatkan pinggiran Jakarta jadi wilayah sasaran pendatang, terutama dari luar daerah. Walhasil, teman-teman SD saya dulu jadi berbagai suku dan agama.

Adapun orangtua saya sendiri juga berstatus pendatang. Saya dilahirkan pada pasangan berdarah Jawa, akan tetapi karena besar di Jakarta, akhirnya justru lebih bisa ngomong Betawi daripada ngapak atau kromo inggil

 
b) Filateli (alias: hobi mengumpulkan perangko)
 

Sebenarnya ini hobi turunan. Ibu dan tante saya sewaktu mudanya adalah pengumpul perangko amatir, jadi saya dan adik saya ikut diajari. Mulai dari trik melepas perangko dari lemnya, bedanya perangko surat dengan yang edisi peringatan, sampai dibelikan album kecil-kecilan. Sampai sejauh itu koleksinya perangko lokal.

Meskipun demikian, waktu saya kelas 4 atau 5 SD, guru bahasa Inggris saya mendengar bahwa saya hobi mengoleksi perangko. Walhasil ketika saya ulang tahun… saya dikirimi satu set perangko luar negeri. Benar-benar perangko luar negeri — sampai cap suratnya saja ada. Saya ingat waktu itu sampai gemetar.😄

    (Note: Belakangan rasa kagetnya berkurang, setelah saya tahu ada dealer yang menjual perangko luar negeri bekas di Jakarta. Sepertinya dulu beliau beli dari situ sih)

koleksi perangko (wikimedia)

Bayangkan anak SD mendadak ketiban koleksi macam di atas

(gambar diambil dari Wikimedia Commons)

Lewat koleksi pemberian ibu guru tersebut, saya jadi belajar banyak tentang negara-negara di dunia. Misalnya, saya baru tahu ada negara bernama Djibouti dan Senegal. Kemudian saya juga belajar sedikit-sedikit tentang nama berbagai negara di bahasa aslinya: “Magyar” untuk Hungaria, “Deutsch” untuk Jerman, “Sverige” untuk Swedia… dan lain sebagainya.

Meskipun begitu ada satu yang paling berkesan: sebuah perangko dari Yugoslavia bergambar kodok (gambar di sini). Di perangko tersebut ada tulisan Rana ridibunda. Selama bertahun-tahun kata itu nempel di benak, tidak tahu maksudnya apa. Baru belakangan saya ngeh lewat internet: ternyata itu nama latin kodok yang dimaksud!😆

***

Jadi kurang lebih begitulah dampaknya filateli pada saya. Gara-gara koleksi pemberian ibu guru, saya jadi belajar banyak tentang keragaman berbagai belahan dunia. Barangkali ketika memberikannya dulu beliau tidak menyangka. Akan tetapi sejatinya, koleksi tersebut turut berperan membentuk weltanschauung saya di masa kini.🙂

 
c) Asal-mula keragaman manusia (dan merapat kembali)
 

Kalau yang ini terkait dengan ilmu pengetahuan. Seiring bertambah dewasa, saya mulai belajar tentang mekanisme di balik keragaman manusia. Ternyata pada awalnya, semua manusia itu bersaudara — muncul dari suatu tempat di Benua Afrika. Baru belakangan mereka bermigrasi dan menjalani rute adaptasi yang berbeda.

Akan tetapi di masa kini, suku-suku yang berbeda mulai bercampur. Sedemikian hingga batas genetik yang tadinya jauh jadi mengerut. Orang Amerika menikah dengan Afrika, orang Tiongkok dengan Jawa, dan lain sebagainya. Di sini saya melihat bahwa umat manusia itu — biarpun tampak luarnya berbeda — sebenarnya tidak berbeda segitunya amat.:mrgreen:

Pemahaman di atas memiliki dampak yang profound di benak saya. Ternyata, istilah “persaudaraan antarmanusia” itu dikokohkan oleh sains!😎

peta migrasi homo sapiens

Tsamina, tsamina eh, eh~ Waka waka eh, eh~ We’re all from Africa~

(courtesy of San Diego State University)

 
d) Kutipan Bapak Clarke
 

Bapak Arthur C. Clarke adalah seorang penulis fiksi ilmiah berkebangsaan Inggris. Dalam salah satu bukunya, ia pernah menulis kalimat sebagai berikut:

“It is not easy to see how the more extreme forms of nationalism can long survive when men have seen the Earth in its true perspective as a single small globe against the stars.”

 
—Arthur C. Clarke (“The Exploration of Space”, 1951)

Nah, kutipan di atas memberikan perspektif baru yang tidak biasa. Di masa kini, manusia telah mampu memotret galaksi dan bintang-bintang. Matahari tidak ada apa-apanya di hadapan semua itu — apalagi bumi! Sementara di sisi lain masih banyak orang masih ribut-ribut tentang “negara”. Sepetak tanah dan air di muka bumi. Luar biasa dampaknya kalau kita pikirkan.

Apalah artinya sepetak tanah di bumi, kalau matahari kita saja cuma setitik debu di tengah galaksi. Pada akhirnya bukan saja “batas negara” itu pembagian buat-buatan orang. Dia juga meaningless di tengah kebesaran alam.😕

 
e) Musik Etnik
 

Kalau yang ini hobi saya jika sedang mendengarkan musik. Pertama kali berkenalan lewat album resmi Piala Dunia 1998 di Prancis — biarpun waktu itu belum terlalu suka. Baru belakangan ketika sudah kuliah, saya melongok lagi ke genre itu. Dan langsung suka. Jadi boleh dibilang agak mirip renaissance.😛

Seiring dengan majunya koneksi internet, banyak lagu dari musisi berbagai negara yang mampir ke harddisk saya. Ada yang berasal dari Irlandia, Spanyol, hingga Afrika Selatan dan Jepang. Saya sendiri paling suka mendengarkan genre Celtic. Tidak tahu kenapa, pokoknya suka saja. Jadi, yah begitulah…

The Corrs - In Blue

Saya menyalahkan tiga mbak (dan satu mas) di atas yang bikin gara-gara (=3=)

 
f) Sepakbola
 

Syahdan, tim yang saya dukung di Liga Inggris punya kebijakan untuk merekrut pemain muda dari luar negeri. Manajernya sendiri, Pak Arsene Wenger, pernah terang-terangan menyampaikan kutipan berikut:

“I would like to say, ‘listen, whether he English, South African, French or South American, he is a good football player. You say to a player, ‘you play because you are better’. I have always done that in my life.”

 
(sumber)

Walhasil, tim Arsenal sendiri saat ini jadinya amat bercorak internasional. Kaptennya orang Spanyol, wakilnya orang Belanda; belum lagi barisan pemain mudanya yang dari Turki sampai Brasil. Pokoknya rame lah.

Bagaimanapun, orang tidak memilih lahir pada orang tua berdarah apa di negara mana. Di sini kalimat Pak Wenger beresonansi dengan hal yang saya amini. Kalau memang orang itu jago, biarpun asalnya dari seberang samudra, kenapa tidak? Sudah enggak zaman lagi yang namanya primordialisme. Kasar-kasarnya: nilailah orang dari yang dia perbuat, bukan dari asal-usulnya.

 
g) Internet
 

Sebenarnya alasan yang ini self-explanatory. Namanya internet, sudah tentu isinya campuraduk dari berbagai negara. Situs buatan orang Amerika ada; Jerman ada; Indonesia dan Malaysia juga ada. Oleh karena itu, siapapun yang terhubung pada internet, pada dasarnya sudah membuka diri pada dunia luas.

Nah, salah satu alasan yang mendorong saya jadi internasionalis tidak lain adalah internet yang sedang kita nikmati ini. Dengan internet semua orang jadi duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah — tak peduli dia dari mana atau keturunan suku mana. Yang dinilai cuma apakah pembicaraan orangnya bermutu.🙂

Di sisi lain, internet juga membantu menyebarkan produk budaya mancanegeri pada siapapun yang berminat. Mulai dari mengunduh e-book, mendengar musik, hingga jalan-jalan keliling museum virtual. Orang yang hidup di zaman internet sebenarnya amat beruntung: barang dari manapun, asalkan ada versi digitalnya, maka hampir pasti bisa didapat!:mrgreen:

Saya pribadi sering jalan-jalan di YouTube untuk mendengarkan koleksi world music. Dan memang banyak musisi yang saya ‘temukan’ di sana — malah ada yang sampai jadi favorit. Jadi di sini saya bertanya: budaya? Budaya apa? Wong generasi internet semuanya sudah terpapar. Mulai dari musik tradisional Mali sampai new age Jepang, semuanya ada.😆

Dengan semakin tipisnya batas yang dijembatani internet, masihkah perkara “beda negara” itu relevan? Saya rasa, tidak!:mrgreen: Tapi tentunya orang punya pendapat sendiri-sendiri. Saya sih tidak bisa memaksa.😉

***

Jadi, yah, kira-kira seperti itulah uraiannya. Saya sendiri membuat tulisan ini iseng saja; aslinya ada tema yang lebih serius tapi kemudian mandek. Walhasil kemudian dialihkan membuat tulisan di atas.😛

Intinya sendiri berbagi cerita saja. Sekaligus numpang menjelaskan ideologi pribadi, sih.😆

Anyway, that’s all for this time. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.😀

16 responses to “Hal-hal yang mendorong saya jadi internasionalis…

  1. lambrtz Maret 1, 2011 pukul 11:47 pm

    Sebelum tanya lebih jauh, tanya pendahuluan dulu.

    Jadi di sini saya bertanya: budaya? Budaya apa? Wong generasi internet semuanya sudah terpapar.

    Ini kok saya ga begitu paham, maksudnya gimana ya. Apa terbatas pada aspek musik saja atau budaya secara keseluruhan?😕

    *siap-siap tanya tentang sekat*:mrgreen:

  2. sora9n Maret 1, 2011 pukul 11:58 pm

    @ lambrtz

    Maksudnya kalau saya ditanya soal heritage/pengaruh budaya mana dsb. Lah, budaya apa? Wong tumbuhnya di internet. Bacaannya dari penulis Barat sampai Timur; dengar musiknya juga Barat sampai Timur di YouTube dan 4shared. Jadi ya… susah dijelaskan.😛

    BTW, ini bukannya pernah didiskusikan panjang-lebar di blog lama, ya?😕 *IIRC*

  3. lambrtz Maret 2, 2011 pukul 12:18 am

    Barusan dari blog lama, sepertinya yang dibahas di blog lama sekat negara sih. Yang saya maksud tadinya sekat budaya, seperti saya tulis di postingan saya yang [ini], tapi kayanya ndak begitu nyambung ya, karena yang dibahas di sini negara.😕 Ya sudah lain kali saja.:mrgreen:

    OK deh sebagai gantinya ini saja.

    Maksudnya begini: Saya tidak membedakan apakah sesuatu itu asalnya dari mana. Apakah dari dalam atau luar negeri? Apakah dari tetangga, atau malah luar benua? Dari manapun tidak masalah. Pokoknya, asalkan berkualitas, maka saya akan suka.

    You fall in love (which is one category of “suka”) to an Israeli girl. Imagine the resistance from your and her surroundings. Now, what will you do. Elope?:mrgreen:

    Entahlah, sepertinya saya agak ke tengah sekarang, setelah sebelumnya ada lebih di kiri. Saya sih masih bukan nasionalis dan lebih ke internasionalisme, tapi sepertinya ada beberapa opini yang saya mesti koreksi.😐

    Anyway, kalau tim sepakbola merekrut pemain internasional dan jadi jagoan itu ya wajar.😕 Tapi kalo [klub] yang bisa bertahan di divisi utama hanya dengan mengandalkan anak-anak dari wilayahnya, itu baru keren. \m/

  4. sora9n Maret 2, 2011 pukul 12:28 am

    You fall in love (which is one category of “suka”) to an Israeli girl. Imagine the resistance from your and her surroundings. Now, what will you do. Elope?:mrgreen:

    Unfortunately for you, I have learnt the philosophy of non-attachment. So the answer to that question is: why bother? (haha)

    /fun fact: that’s also one reason I disagree with nationalism
    //see the “makelar tanah air” post😛

    Entahlah, sepertinya saya agak ke tengah sekarang, setelah sebelumnya ada lebih di kiri. Saya sih masih bukan nasionalis dan lebih ke internasionalisme, tapi sepertinya ada beberapa opini yang saya mesti koreksi.😐

    Well, aren’t we all learning?😉

    Anyway, kalau tim sepakbola merekrut pemain internasional dan jadi jagoan itu ya wajar.😕 Tapi kalo [klub] yang bisa bertahan di divisi utama hanya dengan mengandalkan anak-anak dari wilayahnya, itu baru keren. \m/

    Woo, itu tim paling menyebalkan buat dilatih di FM. Situ pernah main FM ndak??👿

    *ga berhubungan*
    *although that means kudos for the manager & board* ^:)^

  5. Ai Maret 2, 2011 pukul 1:35 am

    wow :O internationalisem (hmm) apa ini artinya gak ada rasa nasionalis sama sekali ya ??😕

  6. Gentole Maret 2, 2011 pukul 12:28 pm

    Setahu saya internasionalis pertama-tama itu Nabi Muhammad dan kedua Marx.🙂

  7. sora9n Maret 2, 2011 pukul 4:58 pm

    @ Ai

    Tentang internasionalisme, sebenarnya dosisnya beda-beda sih. Ada yang merasa diri sebagai world citizen tapi tetap cinta negeri. Ada juga yang menolak nasionalisme habis-habisan. Jadi ya, sebenarnya itu kembali ke masing2 orang.😛

    Saya sendiri sebenarnya masih ada penghargaan pada Indonesia sebagai negara (cerita panjang, tapi salah satunya Bhinneka Tunggal Ika😛 ). Pas Piala AFF kemarin juga masih support timnas sih.😆

    :::::

    @ Gentole

    Now that you mention it, benar juga. Salah dua pemikir paling awal yang melampaui batas negara.😛

    Dengar-dengar Alexander Agung juga orangnya rada begitu (baca: mempromosikan intermingle/kawin campur/dsb). Walau sepertinya dia cuma buat pragmatis sih.:-/ *CMIIW*

  8. Amd Maret 2, 2011 pukul 8:18 pm

    Saya kok jadi penasaran dengan definisi dari internasionalisme itu sendiri ya?

    Maksudnya gini, yang dipaparkan Masbro Sora di sini kalo saya tangkap mah, lebih sekadar “point of view” saja, dengan berlandaskan pada selera dan wawasan, saya ragu kalau kadar internasionalisme-nya bisa lebih besar dari ini…

    Unfortunately for you, I have learnt the philosophy of non-attachment. So the answer to that question is: why bother? (haha)

    Beh, "mencintai tak harus memiliki" rupanya prinsipnya… #abaikan

  9. Amd Maret 2, 2011 pukul 8:19 pm

    Lupa nutup quote, mohon diperbaiki…:mrgreen:

  10. sora9n Maret 2, 2011 pukul 8:45 pm

    @ Amd

    Saya kok jadi penasaran dengan definisi dari internasionalisme itu sendiri ya?

    Maksudnya gini, yang dipaparkan Masbro Sora di sini kalo saya tangkap mah, lebih sekadar “point of view” saja, dengan berlandaskan pada selera dan wawasan, saya ragu kalau kadar internasionalisme-nya bisa lebih besar dari ini…

    Lha itu definisinya saya cantumkan di awal, dari Merriam-Webster.😕 IMHO sih sudah cukup mewakili: “international character, principles, interests, or outlook” ; “a policy of cooperation among nations” ; “an attitude or belief favoring such a policy”.

    Walaupun memang, kalau ditinjau dari uraian posting, semangatnya lebih dekat ke -isme yang [ini]. “Internasionalisme” itu konotasinya agak lebih politis sih.:-/

    Saya sendiri men-support ide politik internasionalis seperti Uni Eropa atau PBB biarpun sekarang ompong. Tapi yaa, saya ndak bisa dibilang aktivis. Paling banter barangkali disebut “internasionalis” level simpatisan sahaja.😛

    *IMHO & CMIIW*

    Beh, “mencintai tak harus memiliki” rupanya prinsipnya…

    Sebenarnya lebih tepat disebut “mencintai tak harus mempertahankan”, tapi, yah, intinya rada mirip lah. (=3=)

    *wait, what?*

  11. Pak Guru Maret 2, 2011 pukul 9:41 pm

    Betul, betul. Membajak memang melebarkan cakrawala berpikir kita. *elus-elus janggut* #pembenaran

  12. sora9n Maret 2, 2011 pukul 10:54 pm

    memang melebarkan cakrawala berpikir kita.

    ^^^ This. :ngacir:

  13. Megallica Juli 22, 2014 pukul 7:36 am

    Akhirnya aku menemukan juga di Indonesia ini yang memiliki sense “universalism”.
    sayapun sama seperti anda, karena tumbuh bersama banyak pengaruh budaya luar, konsekuensi di era global. namun hal yg terpenting adalah ketika saya mencintai antropologi, dimana saya menenemukan dan mempelajari berbagai budaya, sejarah dan ras berbagai bangsa di dunia.

    saya juga sdh membaca-baca beberapa tulisan anda di blog lama anda. masihkah sang blogger aktif sampai hari ini? hehe.

    sebagai orang yg berpandangan humanisme universal, adakah buku atau karya filsuf yang anda rekomendasikan untuk dibaca?

  14. sora9n Juli 22, 2014 pukul 8:56 am

    @ Megallica

    Hore, ada yang sehaluan.😀 Salam kenal mas/mbak, terima kasih sudah main. ^^

    saya juga sdh membaca-baca beberapa tulisan anda di blog lama anda. masihkah sang blogger aktif sampai hari ini? hehe.

    Kalau blog lama, sudah tidak lanjut, sekarang ngeblognya di sini.😛 Terakhir posting hari Sabtu kemarin.

    sebagai orang yg berpandangan humanisme universal, adakah buku atau karya filsuf yang anda rekomendasikan untuk dibaca?

    Soal nasionalisme/internasionalisme, yang terlintas sbb:

    • Spencer, P. & Wollman, H. (2001). Nationalism, A Critical Introduction. London: SAGE Publishing
    • Anderson, Benedict. (1991). Imagined Communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. New York: Verso

    Tapi yang terakhir saya belum baca sampai habis — baru download & baca dikit karena omongan teman. Sejak itu belum lanjut.😛

    Saya sendiri berangkatnya bukan dari sospol, melainkan pemikiran utilitarian & liberal. Humanisme versi John Stuart Mill cukup berpengaruh buat saya. Tidak strictly bicara nasionalisme, sih.

  15. anti-fascism libertarian November 25, 2014 pukul 10:08 am

    setuju dengan anda, saya mengakui pluralitas terdirinya macam suku/bangsa, okay that’s awesome!. namun apakah, saya rasa.. adakalanya sebuah perbedaan itu tidak berarti ‘pembatas-batas’ di antara kita, suku/bangsa pun lebih kepada konstruksi artifisial dan ia bersifat ‘cair’. proses berbangsa dan bersuku-suku juga merupakan hasil dari persilangan antar kaum dan budaya yang berbeda, karena kita semua umat manusia juga berasal dari moyang yang sama, berasal dari sekumpulan yang mini hingga menjadi berbanyak-banyak, lalu sebagian lagi karena egonya dan merasa tidak cocok terhadap sesamanya.. akhirnya memisahkan diri dari sekaumnya sendiri dan merekonstruksi kekelompokannya bersama pengikut-pengikutnya, memang begitu kok sebagian dari faktanya, orang Bali dan Jawa misalnya. atau orang-orang Turki misalnya, sudah menjadi pengetahuan umum, mayoritas orang Turki sebenarnya adalah “Turki” karena produk Turkifikasi masa lampau terhadap suku-suku kuno anatolia rumpun bahasa Indo-eropa (pre-islamic), namun ketika invaders penutur bahasa Turkic rumpun altaic dari asia tengah yang kekerabatannya masih dengan kaum Mongol ini mendarat di tanah Anatolia (Turki sekarang); Seljuk then Ottoman, maka terjadilah penaklukan, dominasi elit and of course “Turkified anatolians”. lalu sebagian orang Mongol yang muallaf di asia tengah, karena hegemoni islam asia tengah dinaungi para Turkic tribes, walhasil orang-orang mongol tersebut naturally assimilated dan jadilah mereka bertutur bahasa Turkic dialek kelompok Turkic-Kipchak, dan hari ini kita kenal mereka sebagai penduduk republik federasi Tatarstan di Russia, fisiknya sudah campuran bule-asiatic, haluannya sudah berbeda dengan Mongol asal, berbeda Jati Diri, lalu apakah mereka harus dipersalahkan karena sebuah transformasi yang dilaluinya?, kebhinekaan itu eksis tidak terjadi dengan sendirinya, namun karena juga adanya kebebasan manusia-manusianya dalam mengisi ragam perbedaan itu sendiri that each person or group of people has the right to live his life in any way he chooses so long as he respects the equal rights of others, bukankah begitu arti sebuah kebhinekaan?. menurut saya hanya orang egois yang tidak bisa melihat perbedaan apalagi ketika itu di dorong ego nasionalisme dan tribalisme yang sebetulnya ingin menjurang perbedaan di tengah perbedaan.
    yang disebut melayu pun juga demikian, samar bung, terkadang yang bukan melayu malah di klaim melayu, yang originally nya non-melayu malah memelayukan diri, yang katanya melayu itu etnis tapi dibilang ras (malayan mongoloid), yang katanya melayu itu bangsa tapi dibilang sebatas lingua-franca (sejak conquest sriwijaya), walhasil (dari pengamatan antropologi) orang dayak, orang aceh, orang jawa, orang bugis yang merupakan murni sebuah etnis di klaim melayu hanya karena kita ngobrol dg bahasa melayu sehari-hari ya seperti tulisan saya ini, ditengah debat klaim-klaim ambigu ini
    Mustafa Kemal Ataturk juga tidak pernah menitik beratkan rakyat turkinya secara rasialistik, karena mungkin ia sadar sejarah, bahwa Turki sendiri adalah hasil pembauran berbagai suku/bangsa, ia hanya memberi statement yang samar nan inklusif tentang apa & siapa itu Turkish: “siapapun yang cinta Turki, merasa Turki dan berbicara bahasa Turki”, sifatnya konstruktif, tidak rasial-eksklusif. bahkan komunitas keturunan negro afrika dari era ottoman (sejarah slave-trade) juga dianggap Turkish people hingga hari ini, julukannya aja Afro-Turks, dari mulai politician, atlit hingga seniman/entertainer akan anda temukan mereka ini di Turki, tidak ada perlakuan khusus atau pembedaan dari warga Turki lainnya.

    nikmati dan hargai seadanya saja kebhinekaan hidup ini, tidak perlu di dogmai primordialisme sehingga ada sekelompok orang yang ingin meng-absolutisme kesukuan/bangsa/ras sbg sebuah hal yang final nan abadi, biasanya sikap seperti ini saya temukan pada kalangan konservatif yang tidak ramah terhadap kemajuan zaman, perubahan tata kehidupan dan xenophobic terhadap kebebasan hubungan antar manusia yang berlandaskan nilai murni humanis memahami manusia sebagai manusia.
    Tom Nairn, antropolog, pernah berkata bahwa nasionalisme berwajah janus, memiliki orientasi yang ambigu, yakni ke depan dan ke belakang. Nasionalisme merupakan jiwa dari institusi bernama negara, tetapi ironisnya, romantisme masa lalu yang mengendap dalam hasrat tersebut menyebabkan sakralisasi dari satu versi komunitas terbayang (imagined communities) tertentu. Hal ini dianggap Nairn menghambat kemajuan peradaban karena proses kemajuan menuntut universalisasi nilai-nilai kemanusiaan.

    ikatan yang ambigu dari sejarah yang tidak pasti (sejarah yang dimunculkan dari berbagai kepentingan dan manipulasi untuk kepentingan politik-rasial, saya temui banyak semacam ini, atau dari yang hanya ingin “ngemis kehormatan”), solidaritas itu penting, hanya saja tidak usahlah dikotak-kotakan, mengapa kita tidak berfikir dari apa yang rill nan faktual untuk sesama, toh sama saja kok, yg beda hanya ada orang yang baik dan buruk di dunia ini. penilaian anda dari orang lain akan tercermin sendirinya dari attitude dan tindakan anda, tidak perlu berkoar atau membawa-bawa ‘Ethnic pride’, sayapun tidak peduli.
    saya teringat pd seorang yang berkata “funny how so many weak people like to hide behind labels instead of stand up as individuals for themselves only. People are people, not labels representing any group of people”.

    sekian dari saya, maap gan jadi kepanjangan, jujur aja, saya punya uneg2 bgt soal ini.
    semoga generasi manusia modern seperti anda (yg positif tentunya) tidak pernah habis dan semakin mendominasi, biar saja kalangan kolot-konservatif koar-koar bebusa, ia tidak akan bisa menampik realita zaman serta kemajuan-cerdas manusia dalam membangun dunia ini.

  16. sora9n November 27, 2014 pukul 4:24 pm

    @ anti-fascism libertarian

    Sori, komentarnya tertelan program anti spam. Barusan saya cek & bebaskan.🙂

    adakalanya sebuah perbedaan itu tidak berarti ‘pembatas-batas’ di antara kita, suku/bangsa pun lebih kepada konstruksi artifisial dan ia bersifat ‘cair’. proses berbangsa dan bersuku-suku juga merupakan hasil dari persilangan antar kaum dan budaya yang berbeda

    Saya pribadi memandangnya memang cukup kompleks: ada elemen fisiknya (biologi/genetik); ada elemen sejarah; ada konstruksi sosialnya juga. Jadi tidak bisa ditinjau cuma satu sisi.

    Gimana ya? IMHO sih, keberagaman manusia itu cair, tapi juga ada elemen ‘keras’-nya yang bersifat given.😛 *mudah-mudahan cukup jelas*

    nikmati dan hargai seadanya saja kebhinekaan hidup ini, tidak perlu di dogmai primordialisme sehingga ada sekelompok orang yang ingin meng-absolutisme kesukuan/bangsa/ras sbg sebuah hal yang final nan abadi

    Yup, setuju.

    maap gan jadi kepanjangan

    Ga apa-apa, komennya nyambung kok. ^^b

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: