ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Karl Popper: Inovasi Tiada Henti

Bukan, ini bukan tentang iklan sepeda motor yang sangat terkenal itu. Yang hendak dibicarakan di sini adalah dalil filsafat yang diungkapkan seorang filsuf terkenal.:mrgreen:

Percayakah Anda kalau saya bilang slogan “Inovasi Tiada Henti” itu punya landasan yang paralel di bidang filsafat?๐Ÿ˜‰

Karl Popper

Karl Popper (1902-1994). Bukan CEO Suzuki

(via Wikipedia)

Bapak Karl Popper, yang fotonya saya pajang di atas, adalah orang yang berjasa menyempurnakan metodologi ilmiah sebagaimana kita kenal sekarang. Prinsipnya sendiri cukup sederhana, dan dapat digambarkan lewat flowchart di bawah ini.

metodologi-ilmiah

Popper berpendapat bahwa kebenaran ilmiah dapat dicapai lewat prinsip testabilitas. Sebuah ide diuji apakah dia dapat dibuktikan benar atau salahnya. Apabila pengujian menyatakan “benar”, maka dapat dipertahankan. Akan tetapi jika pengujian menyatakan “salah” — maka ide tersebut gugur, tidak dapat dipertahankan.

Contoh ilustrasinya kira-kira seperti berikut. Misalnya ada seekor ayam di ranch peternak. Ayam ini kita asumsikan bisa berpikir sederhana.

Lalu kita bayangkan skenario sbb:

  1. Ayam di atas setiap hari diberi makan oleh peternak.
  2. Ayam berpikir bahwa si peternak sangat menyayanginya.
  3. Selama berminggu-minggu diperlakukan begitu, keyakinan si ayam makin teguh.
  4. Kemudian di suatu hari, ayam dibawa keluar kandang. Karena sudah yakin akan diperlakukan baik, maka dia berjalan sukarela.
  5. Akan tetapi: ternyata hari itu ia akan disembelih! Dalam perjalanan ia melihat bangkai teman-temannya yang telah dipotong. Tinggal dia saja yang tersisa.
  6. Maka: ayam memperbaiki kesimpulannya selama ini. Ternyata selama ini ia dibuat gemuk untuk disembelih!๐Ÿ˜ฎ
  7. Akhir cerita: ayam berusaha kabur untuk menghindari nasib buruk. Berhasilkah dia? Ataukah dia akan menjemput maut? Ada dua cara mengetahuinya. Menjadi peramal, atau tunggu minggu depan!

 
Lewat skenario di atas kita melihat salah satu contoh penerapan metodologi ilmiah, biarpun mungkin contohnya agak sadis. Bahwasanya ayam yang mengira dirinya disayang peternak mendapat bukti sebaliknya. Oleh karena itu keyakinan yang salah harus diperbaiki. Hanya dengan mengakui kesalahan, maka nyawa ayam dapat diselamatkan.

***

Maka demikianlah, menurut Bapak Popper, ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang berevolusi. Ketika dihadapkan pada bukti baru yang bertentangan, maka hal yang tadinya (dianggap) benar harus diganti. Harus bisa membuat penjelasan baru dengan bukti yang baru. Tidak boleh saklek!๐Ÿ™‚

Jadi di sini kita lihat: upaya mencari kebenaran itu adalah proses terus-menerus. Kebenaran yang kita yakini hari ini belum tentu sama dengan esok hari. Boleh dibilang mirip slogan “Inovasi Tiada Henti” — semakin hari, semakin diuji, justru pengetahuan kita bertambah bagus. Pengetahuan itu tambah sempurna kalau diuji, bukan dikunci-kunci!:mrgreen:

 
Bagaimana dengan Masyarakat? Juga Sama!
 

Nah, melanjutkan dari ide di atas, Popper melanjutkan: sebuah masyarakat yang ideal haruslah bersikap terbuka pada pengujian. Pengujian dalam hal ini berbentuk umpan balik. Baik itu berupa keluh-kesah masyarakat maupun politik luar negeri. Dalam hal ini ia berbicara tentang demokrasi.

Popper mengetengahkan argumen berikut: Mengapa masyarakat demokrasi umumnya lebih maju dan makmur daripada yang totaliter? Menurut Popper, itu karena kebijakan pemerintah demokratis selalu terbuka untuk digugat dan dipertanyakan. Dengan dibukanya jalur pertanyaan (cf. “pengujian”), kebijakan pemerintah yang salah/kurang tepat selalu bisa disaring. Pada akhirnya ini berujung pada kualitas kebijakan yang terdongkrak.

Akan tetapi hal itu tidak terjadi pada pemerintahan totaliter. Pemerintahan macam ini tertutup; tidak membiarkan dirinya dikritik atau diberi masukan. Popper menilai masyarakat seperti itu tidak sehat: mereka terpaku pada janji-janji masa depan dan utopia, sementara kenyataannya, belum tentu prakteknya sempurna. Bisa saja dalam mengejar utopia itu ada salah langkah atau sebagainya. Di sini masyarakat tertutup takkan mampu memperbaiki diri. Kesalahan akan tumpuk-bertumpuk sampai kolaps — kurang lebih seperti Uni Sovyet di tahun 1991.

Walhasil, kalau masyarakat tertutup punya cacat, mereka akan jatuh tak tertolong. Sementara sebaliknya, kalau masyarakat terbuka punya cacat, mereka punya mekanisme perbaikan. Di sini Popper menekankan: di bidang pemerintahan pun, yang penting adalah keterbukaan untuk menyesuaikan. Inovasi tiada henti!๐Ÿ™‚

 
Bagaimana dengan Dunia Bisnis? Juga Sama!
 

Yang ini tentunya tidak usah diceritakan panjang-lebar. Kalau Anda pernah baca satu-dua buku tentang bisnis, kemungkinan bisa menebak maksud saya.๐Ÿ˜‰

Dalam menjalankan bisnis, salah satu syarat terpenting adalah membuka diri pada masukan konsumen. Entah itu bisnisnya di bidang kuliner, elektronika, ataupun yang terkait dengan kendaraan bermotor. Yang namanya bisnis selalu harus mengandalkan umpan balik dari konsumen.

Di sini bisnis harus selalu siap berperan seperti masyarakat terbuka: harus menerima masukan, mengolahnya, dan — jika perlu — melakukan perubahan dan inovasi. Bisnis yang tertutup, yang tidak terbuka pada masukan, dipastikan akan hancur. Sebab bagaimana menanggapi konsumen kalau mendengar saran saja tidak.

Hanya dengan mencocokkan selera konsumen (pengujian) maka suatu bisnis dapat maju. Dan yang namanya selera konsumen tentu saja sangat cepat berubah. Di sini kita lihat betapa universalnya gagasan Mbah Popper di atas: setiap ide bisnis harus selalu diuji dan terbuka untuk berubah.๐Ÿ™‚

 
Dan begitu juga di dunia akademik…

Teori lama bisa digusur oleh yang baru asalkan buktinya kokoh. Contoh legendarisnya tentu saja hukum Newton dirombak oleh Einstein. Lalu ada juga yang cukup terkenal — misalnya hipotesis kupu-kupu Vladimir Nabokov yang awalnya diabaikan. Meskipun begitu belakangan ilmu genetika menunjukkan kebenarannya. Maka pada akhirnya ide Nabokov itu diakui — biarpun orangnya sudah meninggal bertahun-tahun.๐Ÿ™‚

 
Dan interaksi sosial…

Saya yakin, siapapun yang pernah dimarahi orang tua/saudara/teman/pacar, pasti paham maksudnya. (u_u)

 
Dan masih banyak lagi…

Mulai dari evolusi hewan di alam, bisnis waralaba, sampai memilih jualan warung, semua memiliki filosofi yang sama dengan di atas. Semua tunduk pada pengujian dan perubahan. Apabila cenderung menutup diri, maka akan jadi lemah; mustahil bisa maju dan berhasil.

Apabila seleksi alam di bidang biologi menakzimkan bahwa “hanya yang cocok yang bertahan”, maka filosofi Popper menunjuk tema yang mendahuluinya: justru sesuatu itu harus terbuka untuk diuji jika ingin berkembang. Hanya dengan pengujian kita mengetahui kesalahan, memperbaiki diri, dan jadi lebih sempurna sesudahnya.๐Ÿ˜‰

***

Jadi, singkat cerita…

Selamat tengah minggu, Kisanak. Sudahkah Anda mawas diri untuk belajar dan berkembang hari ini?:mrgreen:

 

——

Daftar Pustaka:

 
Popper, K. 1959. The Logic of Scientific Discoveries. London: Hutchison & Co

Popper, K. 1966. The Open Society and Its Enemies, 5th Edition. London: Routledge

6 responses to “Karl Popper: Inovasi Tiada Henti

  1. secondprince Februari 23, 2011 pukul 8:29 am

    yup yup harus begitu, btw kalau dalam “Teologi” gimana? apakah prinsip di atas masih bisa berlaku?๐Ÿ™‚

  2. sora9n Februari 23, 2011 pukul 11:21 am

    @ secondprince

    Uh… tergantung dari aspek mana dulu. Kalau bicara secara ilmiah, teologi itu tidak testable, je. Mau mengujinya bagaimana? ^^;

    Kecuali kalau “pengujian” dalam konteks seperti masyarakat terbuka. Teologi yang membuka diri untuk diperbaiki — i.e. tidak dogmatik — akan terdorong untuk berevolusi. Jadinya semacam tafsir progresif, atau liberal, atau sebagainya.

    *CMIIW though*

  3. jensen99 Februari 23, 2011 pukul 11:59 am

    Mestinya ada contoh dari bidang militer juga. Pengembangan UAV misalnya..:mrgreen:

    *gak penting*

  4. galeshka Februari 24, 2011 pukul 7:20 am

    koq tulisan ini barengan sama seskab dipo alam yang mau boikot media yang ngritik pemerintah? hmmm …

  5. sora9n Februari 24, 2011 pukul 11:13 am

    @ jensen99

    Ya, pokoknya yang semacam itulah. Sila ditambahken™.๐Ÿ˜›

    @ galeshka

    Cuma kebetulan, jangan terlalu dipikirkan.:mrgreen:

  6. ze Juni 27, 2016 pukul 2:45 pm

    Pertnyaannya Apa semua masukan harus kita lakukan?

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: