ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung

“Orang bisa suka sekali suatu karya seni sampai bisa depresi, atau sangat bahagia, karena benda sialan buatan kita itu!”

— Richard Feynman
(dalam terjemahan Indonesia Surely You’re Joking, Mr. Feynman!, Penerbit Mizan, 2004)

 

Awal mulanya sebenarnya tidak menarik: saya sedang mengecek e-mail, lalu terbaca pemberitahuan trackback dari tulisan barunya Pak Guru Geddoe. Di situ beliau menaut tulisan saya tentang Homo religiosus tempo hari. Oleh karena itu, sebagai blogger yang bertanggung jawab, sudah tentu saya memeriksa ada apa gerangan yang dibahas di sana. (=3=)

Dan ternyata… eh ternyata… yang dibahas adalah tentang sinetron!😮

poster-koin-pyd

Poster yang dipajang di blog tersebut. Homo sinetronosus?

Baru kemudian saya paham bahwa sedang ada gonjang-ganjing di blogosphere. Permasalahannya seputar apakah sebuah sinetron tertentu layak tayang atau tidak. Di satu sisi, sebagian orang menganggap sinetron itu tak bermutu (jadi lebih baik dihentikan saja). Sementara di sisi lain, ada juga yang mengajukan pembelaan. Mulai dari yang menyebut sinetron sebagai hiburan rakyat, hingga yang mengetengahkan tema demokrasi. Bahwasanya sinetron itu bentuk kebebasan berekspresi dan didorong semangat pasar bebas. Pokoknya rame lah.

Saya sendiri sebenarnya rada cuek soal sinetron. Prinsip saya sih, silakan saja kalau orang mau lihat. ‘Kan Indonesia negara demokratis? Meskipun begitu saya jadi kepikiran juga sedikit. Bukan tentang sinetron, melainkan tentang konsep seni pada umumnya.

Sebenarnya ada apa sih di balik seni dan apresiasinya? Kok bisa sampai menimbulkan kehebohan macam tersebut.😕

Nah, tulisan ini akan mencoba mengupas topik di atas. Seperti apa uraiannya, here goes.

 
Filosofi Seni: Bermula dari Simbol
 

Bicara tentang seni, tentu sebaiknya membahas definisinya dulu. Mengenai hal ini kita akan merujuk salah satu pengertian yang terdapat di bidang filsafat.

Adalah ibu Susanne Langer, seorang filsuf wanita asal Amerika, yang punya ide menarik. Seni menurut Langer adalah serangkaian simbol yang dimaknai secara emosional oleh manusia.[1][2] Sebuah lukisan Van Gogh, misalnya, bisa dipandang sekadar tarik-tarikan kuas dan cat. Tarik-tarikan kuas dan cat itu kemudian menggambarkan bentuk benda, ruang, dan elemen komposisi.

Meskipun begitu, alih-alih sekadar simbol, yang terdapat dalam lukisan Van Gogh itu mampu membangkitkan respon emosi. Sebagai contoh gradasi gelap dan terang menimbulkan kesan dinamis. Begitu juga bentuk benda alam — biarpun sekadar coret-coret kuas tapi dapat membuat orang tergugah.😀

“Starry Night” karya Vincent Van Gogh

(via Wikipedia)

Nah, prinsip yang sama juga berlaku di bentuk-bentuk seni yang lain. Baik itu berupa musik, patung, ataupun film. Setiap produk seni pada dasarnya menampilkan simbol-simbol yang menggugah emosi. Hanya medianya saja yang berbeda.😉

 
Filosofi Seni: Belum Tentu Realistis
 

Melanjutkan dari ide di atas, Langer kemudian menetapkan satu hal. Jika seni adalah simbol, maka seniman adalah para pencipta simbol. Melalui karya seninya — simbol-simbol buatannya — seorang seniman berupaya menggugah perasaan orang.

Ibaratnya, kalau musisi bermain simbol lewat nada dan lirik, maka pematung bermain simbol lewat bentuk dan tekstur. Sementara itu, sutradara film bermain simbol lewat timing, angle kamera, dan sebagainya. Lewat simbolisasi itulah mereka menghasilkan karya seni yang dinikmati khalayak.🙂

Stanley Kubrick

Stanley Kubrick — bermain simbolisasi lewat kamera.

(via Wikipedia)

Nah, dalam proses pembuatan simbol itu, akan terjadi yang namanya pengabstrakan.[2] Para seniman tidak menyalin dunia yang mereka persepsi mentah-mentah ke dalam karyanya, melainkan, menyesuaikan menurut idealisme masing-masing. Ada yang dibumbui elemen magis; ada yang ekspresinya dilebih-lebihkan; ada juga yang diembeli pesan tertentu. Boleh dibilang bahwa karya seni mencerminkan dunia sebagaimana kehendak si seniman.

Walhasil, pada akhirnya, seni yang dihadirkan tidak lagi persis dengan kenyataan. Melainkan sekadar “semblance of reality”.[2][3]

Konsep “Semblance of Reality” inilah yang dianggap Ibu Langer sebagai elemen khas kesenian. Seorang seniman menampilkan seni yang berangkat dari kenyataan, bukan menirunya. Oleh karena itu tidak aneh kalau ada karya seni yang rada ‘ajaib’. Mulai dari lukisan kubisme Picasso; drama aneh seperti Menunggu Godot… sampai-sampai karya seni urban yang melibatkan toilet!😛

Itu juga sebabnya kenapa ada film/drama kita yang dianggap bagus biarpun super ngayal. Sebutlah misalnya Inception, Robocop, dan The Dark Knight. Apakah film-film itu realistis? Jawabannya jelas: TIDAK!:mrgreen: Tapi toh diakui sebagai karya seni mumpuni. Malah sampai diberi hadiah Oscar.

Jadi… sesuai kenyataan atau tidak? Siapa yang peduli?😉

Fountain-Duchamp

Contoh seni absurd yang tidak jelas. Apa coba maksudnya?

(via Wikipedia)

 
Penafsiran Seni Berbeda Untuk Setiap Orang
 

Sebagaimana sudah diuraikan panjang-lebar di atas, apresiasi seni itu pada dasarnya adalah mengartikan simbol. Simbol-simbol itu kemudian diterjemahkan dan bermain di hati kita. Hasilnya tentu saja reaksi emosional. Mulai dari senang, sedih, sampai marah, semua terkandung di dalamnya.😉

Akan tetapi, seperti halnya semua terkait interpretasi, apresiasi seni itu subyektif. Amat berbeda dari orang ke orang. Jika dipaksa pun tak akan bisa — sebab masing-masing punya caranya sendiri dalam mengartikan simbol.

Misalnya contoh berikut; saya ambil dari lukisan abad ke-17.

Crucifixion, by Velazquez

Ikonografi Yesus Kristus oleh Diego Velazquez (Abad Ke-17 Masehi)

(via Wikipedia)

Bagi orang beragama Kristen, gambar di atas akan menimbulkan gelora emosi tersendiri. Bisa berupa kekhusyukan; ketenangan batin; atau barangkali rasa ketundukan. Sebab memang yang digambarkan adalah Sang Firman. Boleh dibilang bahwa untuk mereka tersebut lukisan di atas bermakna religius.

Akan tetapi, lain halnya kalau lukisan itu disuguhkan pada orang Islam, Buddha, atau malah ateis. Mereka tidak akan mendapat kesan religius yang sama — sebab memang keyakinannya berbeda. Paling banter cuma akan menilai itu lukisan yang bagus. Barangkali lewat warna, komposisi, atau tekniknya. Meskipun begitu tidak akan ada elemen religius di situ. Sementara bagi pemirsa Kristen, justru religius itu adalah kesan utama.😉

***

Di sini saya ingin menekankan satu hal: yang namanya interpretasi seni itu, mustahil disamakan ke setiap orang. Sebab itu kembali pada latar belakang, level pendidikan, hingga perkara sensitif seperti agama. Dan hal-hal seperti itu sifatnya amat subyektif.

Katakanlah misalnya orang yang pendidikannya cuma sampai SMP dari keluarga menengah-bawah. Kalau dia lebih roused mendengar Wali Band daripada Vivaldi, kita bisa apa? Mau dipaksa jadi “berbudaya”, begitu? Enggak akan bisa.😆

komik-ffuu

Cara begini tidak akan mempan.

Sama halnya dengan orang yang mengagung-agungkan Inception dan The Dark Knight, tapi menyuruh orang benci sinetron. Dude, you’re doing it wrong. Itu mirip dengan mencekoki pemuda lulusan SMP di atas sampai eneg dengan Vivaldi, Beethoven, Mozart… dan SEMUA musik yang dianggap berbudaya. Enggak akan berhasil. Paling bagus kita cuma bisa mengenalkan pelan-pelan. Siapa tahu akhirnya dia suka.

Sebab yang namanya selera, itu variabelnya amat kompleks. Dia bukan barang yang sekali ada langsung jadi. Melainkan turut dibentuk oleh pengalaman, keseharian, strata sosial, hingga faktor pendidikan.😉

 
Penutup: Snobbery dan Debat Tiada Ujung
 

Jadi, apa kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian sejauh ini?

Pertama-tama adalah bahwa seni itu sekadar rangkaian simbol. Simbol-simbol dalam seni diatur sedemikian rupa agar menghasilkan respon emosional. Oleh karena itu, idealnya karya seni dapat menyampaikan emosi ke hati penikmatnya.😉

Akan tetapi dalam menilai seni itu sendiri terdapat sebuah problem. Bahwasanya suatu karya seni bisa diinterpretasikan berbeda-beda. Itu karena setiap orang memiliki selera yang berbeda. Yang mana selera itu dipengaruhi oleh latar belakang, status sosial, tingkat pendidikan… dan masih banyak lagi yang lain.

Oleh karena itulah, yang namanya selera sudah pasti amat subyektif. Tidak mungkin ada dua orang yang seleranya sama persis; dari A ke Z.:mrgreen:

***

Sekarang saya ingin bicara tentang film kartun.😉 Kalau Anda pernah nonton serial Spongebob Squarepants barangkali ingat pada sosok Squidward. Squidward dikisahkan sebagai seorang seniman yang elitis. Akan tetapi kenyataannya, seninya tidak dimengerti orang. Ketika Squidward bermain klarinet orang-orang jatuh tertidur. Begitu juga ketika dia menari balet — orang tidak paham di mana menariknya. Pada akhirnya yang paham “seni agung” Squidward cuma dirinya sendiri.[4]

Sosok seniman gagal?

Saya pikir, kisah macam Squidward di atas selalu bisa terjadi pada kita. Tidak semua rasa “selera tinggi” itu bisa dipahami orang. Apa yang kita anggap bagus belum tentu dipahami orang lain. Atau malah bukan tidak mungkin: yang kita anggap “seni agung” itu justru dianggap sampah oleh orang!:mrgreen:

***

Oleh karena itulah, saya berpendapat sebagai berikut: tidak perlulah itu yang namanya cultural snobbery. Sebab kenyataannya seni itu tidak obyektif. Mau diputarbalik bagaimanapun juga, kalau tidak suka ya tidak suka. Selera itu hal yang kompleks. Dan untuk mengubahnya, tidak bisa seperti membalik tapak tangan.😉

Lagipula, yang namanya seni itu relatif kok. Apa yang Anda anggap hebat saat ini belum tentu dihargai mereka yang “lebih berbudaya”. Sebagaimana yang diilustrasikan secara brilian oleh Pak Guru di tulisannya,

“Kalau sinetron bisa kita asosiasikan sebagai hiburan kelas pekerja (“hiburan pembantu”), maka selera sebagian besar kita bisa dikategorikan sebagai hiburan kelas menengah. Sekiranya snob-snob berselera kelas atas — yang doyan musik klasik kontemporer, sastra Rusia, filsafat kontinental, film art house/Ekspresionisme Jerman/Fellini, dan masakan-masakan yang namanya berbahasa Perancis — tiba-tiba memiliki ide serupa, mampuslah kita semuanya! Tidak ada lagi itu filmnya Nolan atau Tarantino, tidak ada lagi itu anime, tidak ada lagi itu Harry Potter, tidak ada lagi itu musik populer sampah yang kita masukkan ke iPod kita. Maka bapak-bapak itu akan berkacak pinggang: “Mau dikemanakan bangsa ini? Kok karya-karya mentah seperti ini bisa disukai?”

Jadi, yah, begitulah…😆

 

——

Catatan dan Sumber:

 
[1] ^ Langer, S. The Primary Illusions and the Great Orders of Art
(sebagaimana dipublikasikan dalam: The Hudson Review, Vol. III, No. 2, Summer 1950, 219-233)

[2] ^ Langer, S. The Principles of Creation in Art
(sebagaimana dipublikasikan dalam: The Hudson Review, Vol. II, No. 4, Winter 1950, 515-534)

[3] ^ Bissel, R. The Essence of Art
(sebagaimana dipublikasikan dalam: Objectivity, Volume 2, Number 5, 1997)

[4] ^ Saya selalu merasa bahwa sebenarnya pembuat serial Spongebob menertawakan ide “seni agung” yang diusung Squidward. Sebab kenyataannya, justru Spongebob dan Patrick (yang lebih naif) sering dipersepsi “ahli seni” di Bikini Bottom. Biarpun secara tidak sengaja.😆

(lihat juga: posting terkait tentang Spongebob)

32 responses to “Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung

  1. Pingback: Homo Sinetronosus « Banalitas.org

  2. Alex© Februari 16, 2011 pukul 12:04 am

    Benul! Benar betul!

    *ngakak baca analogi Squidward*

    Aku membayangkan sosok-sosok berkhotbah soal filosofi trilogi The Matrix atau imajinasi bukhan mhain *pake cengkok Bang Haji Oma Irama* dari film Inception soal mimpi dalam mimpi dalam mimpi dalam mimpi, di depan penikmat teater berornamen gabus (baca: sinetron -red).

    Mereka cuma akan jadi Nabi Nuh yang menyampaikan mulianya membangun kapal di atas bukit kepada kaumnya. Tak sampai akal dan minat semua orang ke situ.

    Atau seperti anak-anak band beranggapan orkes organ tunggal full dangdut di kampung-kampung mesti diganti dengan band dimana rambut Mohawk anak punk dan celana kulit ketat musisi glam rock nongol. Yang norak bukan orang kampung, tapi mereka😆

  3. Pak Guru Februari 16, 2011 pukul 12:17 am

    Awal mulanya sebenarnya tidak menarik: saya sedang mengecek e-mail, lalu terbaca pemberitahuan trackback dari tulisan barunya Pak Guru Geddoe.

    Apanya yang tidak menarik! Itu pertanda tulisan Sodara dijadikan rujukan sekelebat oleh pemikir terdepan zaman ini!

    * * *

    Saya melihatnya selama ini seperti ini: Mas Gentole dulu bilang saya “sudah nihilis” dan barangkali betul. Absurd buat saya ukur mengukur seni itu; di sudut jagad raya, di planet kecil, spesies tanpa makna, membanding-bandingkan cara mereka menyusun cat, tinta, dan kata-kata. Sejatinya, meaningless!

    Tapi tentu ada pula perspektif tradisi. Ini saya akui, walau tidak menganggap terlalu serius. Umpamanya makanan, coba nonton acara kulinernya Andrew Zimmern yang makanannya aneh-aneh. Siapa saja boleh suka makanan apa saja, ini saya kira analogi yang pas. Telur mata sapi, anggur Tuscany, sate torpedo, nasi dilumuri kecap, rautan pensil, tentu bebas menyukai. Tapi ‘kan ada teknik memasak yang secara konsensus diakui baik. Begitu pula lukisan, film, tulisan, dan seterusnya: kritikus yang nyebelin itu ‘kan melihat karya dari sudut pandang tradisi. Sah-sah saja. Menurut saya itu ya paduan artifak sejarah dan dokumentasi pola-pola yang populer dalam tradisi yang bersangkutan.

    Ini kutipan yang nyambung dari Candide-nya Voltaire. Konteksnya raba-raba sendiri.

    When the two sight-seers had taken leave of His Excellency, Candide said to Martin: “Well now, you will agree that there is the happiest of all men; for he is above everything else he possesses.”

    “Don’t you see,” said Martin, “that he is disgusted with everything he possesses? Plato said a long time ago that the best stomachs are not those which refuse all food.”

    * * *

    Tapi agak kecewa juga ternyata tak banyak membahas wacana sinetron yang sedang didiskusikan. Saya sepakat soal tak memaksakan selera, ya, tapi (advokasi syaiton dahulu😛 ) saya curiganya ini perkara “penonton suka cuma sedikit, PH mengeruk keuntungan berbukit-bukit.” Coba lihat anekdot pekerja sinetron yang dicantumkan salah satu link terkait di tulisan saya. Penonton bisa jadi kalau dikasih yang “bermutu” juga suka (Si Doel toh laris manis?), tapi lantaran tak ada pilihan, menonton sinetron yang kebetulan bisa diterima.

    Intinya begini lho. Orang suka itu ‘kan belum tentu berarti itu favorit mereka atau itu benar-benar apa yang mereka mau? Ini anekdot pribadi: ibu saya sering menawari saya untuk beli cemilan kalau sedang lewat di depan penjualnya. Saya sering menolak (“gak usah ah.”), tapi belakangan dibeli juga (“jaga-jaga.”). Nah karena laper kadang itu saya makan juga. Lalu ibu saya ngomongnya (dengan penuh kemenangan); “Nah ‘kan dimakan! Tadinya sok gak mau!”😀 Padahal saya makannya itu kesannya “Okelah… walau mendingan makanan A, atau makanan B…”

  4. sora9n Februari 16, 2011 pukul 1:36 am

    @ Alex©

    *ngakak baca analogi Squidward*

    Itu sengaja, itu sengaja!:mrgreen:

    Aku membayangkan sosok-sosok berkhotbah soal filosofi trilogi The Matrix atau imajinasi bukhan mhain *pake cengkok Bang Haji Oma Irama* dari film Inception soal mimpi dalam mimpi dalam mimpi dalam mimpi, di depan penikmat teater berornamen gabus (baca: sinetron -red).

    Mereka cuma akan jadi Nabi Nuh yang menyampaikan mulianya membangun kapal di atas bukit kepada kaumnya. Tak sampai akal dan minat semua orang ke situ.

    Betul betul betul. (=3=) Seperti juga saya tulis di atas, soal selera itu urusannya kompleks. Hanya karena suatu karya terkesan ‘wah’ bukan berarti semua orang harus suka.

    Sama seperti ada orang yang suka udang tapi nggak suka ikan, atau suka wortel tapi nggak suka kangkung. Perkara itu ya kembali ke selera masing-masing IMHO.:-/

    :::::

    @ Pak Guru

    Umpamanya makanan, coba nonton acara kulinernya Andrew Zimmern yang makanannya aneh-aneh. Siapa saja boleh suka makanan apa saja, ini saya kira analogi yang pas. Telur mata sapi, anggur Tuscany, sate torpedo, nasi dilumuri kecap, rautan pensil, tentu bebas menyukai. Tapi ‘kan ada teknik memasak yang secara konsensus diakui baik.

    Yup, begitulah. Saya pribadi memandang seni itu memiliki (minimal) dua aspek: emotional dan technical accomplishment. Kalau memenuhi satu saja dari keduanya maka bisa dianggap cukup bermutu.

    Kalau masbro ingat artikel cracked tentang makanan-makanan “kecelakaan” barangkali bisa menangkap maksudnya. Aslinya ya itu tekniknya amburadul. Ada yang kegosongan lah, salah produksi lah, dsb. Tapi orang suka. IMHO, itu sebentuk seni (masak) yang emotionally accomplished. Biarpun mungkin secara teknis dia nol.😛

    Di sisi lain ada juga yang technically accomplished tanpa nilai emosional mendalam. Sebagai contoh musik-musik pengiring seminar/kafe/dsb. Ini kan jenis yang — meminjam istilahnya Brian Eno — enjoyable while ignorable. Secara teknis, bagus, tetapi emosinya tidak “wah”. Kurang lebih seperti itu sih kalau menurut saya. ^^a

    *IMHO & CMIIW*

    Tapi agak kecewa juga ternyata tak banyak membahas wacana sinetron yang sedang didiskusikan.

    O, maaf saja, itu karena tidak sesuai dengan Garis Besar Haluan Ngeblog.😎 Bagaimanapun blog ini punya idealisme tersendiri…

    *digebuk karena sok elitis* x(

    saya curiganya ini perkara “penonton suka cuma sedikit, PH mengeruk keuntungan berbukit-bukit.” Coba lihat anekdot pekerja sinetron yang dicantumkan salah satu link terkait di tulisan saya. Penonton bisa jadi kalau dikasih yang “bermutu” juga suka (Si Doel toh laris manis?), tapi lantaran tak ada pilihan, menonton sinetron yang kebetulan bisa diterima.

    Wait, I got that. “The Only Game In Town”, right?😉

    Memang itu komplain yang sering dilontarkan IMHO. Di rumah saya sendiri, dulu ibu dan tante saya mengikuti Cinta Fitri (untungnya sekarang sudah tidak). Kalau ditanya kenapa tetap nonton — biarpun tahu bahwa ceritanya aneh — pasti jawabannya seperti itu. “Habisnya nggak ada lagi yang lain?”

    Susah memang.😐

  5. satch Februari 16, 2011 pukul 8:09 am

    habisnya nggak ada lagi yang lain

    itu dia!:mrgreen:

    sudah dicoba pake menu yang lain belum? kalo menu yang lain ada sebagai pilihan, dari situ bisa kelihatan, kan, menu mana yang lebih disukai.

    soalnya lama-lama jadi rame juga yang curhat ttg masalah ini. dan kasusnya bukan cuma sekedar selera-“pembantu”-harus-dihargai. tapi sudah masuk ke perkara pembunuhan kreatifitas atas nama rating oleh pemilik modal.

    aseek juga, sih…jadi bisa tau macam-macam tentang seluk beluk dunia sinetron di tanah air; belum lagi masalah yang mau dituntut sama marvel itu😀

  6. rifu Februari 16, 2011 pukul 9:38 am

    agak off topic karena ngga ngomongin sinetron, yang jelas tulisan ini bisa dikaitkan dengan kultur sepeda fixie yang lagi ngetren itu. *contemplating a new blog post*

  7. sora9n Februari 16, 2011 pukul 10:07 am

    @ satch

    itu dia!:mrgreen:

    sudah dicoba pake menu yang lain belum? kalo menu yang lain ada sebagai pilihan, dari situ bisa kelihatan, kan, menu mana yang lebih disukai.

    Kalau di rumah saya sih, akhirnya jadi nonton DAAI TV; stasiun yang asal Taiwan itu.😛 (cuma ada di Jakarta/kota lain juga ada? CMIIW)

    Isinya lumayan bagus IMHO. Jikapun ada drama paling banyak mengupas kehidupan kelas bawah. Daripada sinetron jauh lebih membumi lah. (o_0)”\

    dan kasusnya bukan cuma sekedar selera-”pembantu”-harus-dihargai. tapi sudah masuk ke perkara pembunuhan kreatifitas atas nama rating oleh pemilik modal.

    Iya, saya juga sempat baca yang soal itu. Sepertinya memang sistemnya udah kacau.^^’

    IIRC Raam Punjabi dulu juga sempat bilang hal senada. Bikin sinetron idealis ga ada yang nonton, akhirnya ya balik ke menjual mimpi.

    belum lagi masalah yang mau dituntut sama marvel itu😀

    Hoh? Memang ceritanya kayak gimana masbro?😕

    *baru tahu*
    *kuper*

    :::::

    @ Rifu

    Sebenarnya tulisan ini tentang kesenian in general, sih…^^’

    Cuma karena blogosphere ribut aja jadinya kayak ngomongin sinetron

    BTW, silahken idenya dikontemplasikan.😛 *halah*

  8. Herman Saksono Februari 16, 2011 pukul 10:09 am

    Tapi tapi tapi, kalau kita lihat sinetron, mereka tidak terlihat kalau berniat abstak atau bersimbolisme. Mereka adalah pertunjukan realis dengan setting realis. Jika plotnya ngawur, yaaa minimal penggarapannya realis lah.😀

  9. sora9n Februari 16, 2011 pukul 10:46 am

    @ Herman Saksono

    Soal itu tentu kembali ke selera masing-masing. Ada jenis orang yang suka realis; ada yang suka ‘ajaib’; ada juga yang biar absurd tapi terus ditonton. Dan ada juga yang menikmati seni biarpun gak jelas maknanya — macam toilet yang ditulis di atas. Kita ya nggak tahu. Menariknya di mana coba?😆

    Saya sendiri prinsipnya, ya, seni itu tergantung kepuasan yang didapat dari menikmatinya. Seperti halnya Squidward main klarinet/nari balet. Biar orang nggak ngerti toh dia tetap menghayati. Apa perlu yang semacam itu digugat? IMHO sih justru tindakan macam itu tidak bijak.😉

    BTW, salam kenal mas.😀 Sori kalau telat; udah bertahun-tahun lihat di blogosphere tapi nggak pernah ngobrol. ^^;

  10. cK Februari 16, 2011 pukul 11:15 am

    saya pribadi gak ada masalah dengan sinetron tersebut. *toh jam segitu saya masih kelayapan di luar* cuma ya kasihan sama orang rumah yg ingin menikmati tontonan lain selain sinetron. biasanya jam 8-9 nyokap udah kelar nonton dan masuk kamar, eh ini sampai jam 11 malam masih mantengin sinetron. alhasil orang rumah lainnya (baca: bokap, kakak, kakak ipar) gak bisa nonton film lainnya (karena gak boleh membantah orang tua, apalagi nyokap).

    solusinya sih satu, beli tv lagi. tapi apakah semua orang mau untuk beli tv lagi? gak semua pasti mau dong. saya sih menyarankan agar durasi sinetron ini diperpendek sehingga tidak ada lagi monopoli televisi di antara kita. #eaaa

    kalau durasi sudah pendek, dijamin suara sumbang itu akan mulai berkurang. mungkin.

  11. yud1 Februari 16, 2011 pukul 12:46 pm

    entah kenapa kepikiran. in for xkcd reference: http://xkcd.com/546/

    ~bukan nyampah lho ya:mrgreen:

  12. sora9n Februari 16, 2011 pukul 2:12 pm

    @ cK

    [keluhan soal durasi]

    Iya. Kesannya kok overkill betul. ^^;;

    *tiga jam gitu loh*

    :::::

    @ yud1

    http://xkcd.com/546/

    Hedoooop!!! \m/:mrgreen:

  13. choro Februari 17, 2011 pukul 5:10 pm

    tapi kan tapi kan tapi kaaaaaaaaaaaan

    durasi tiga jam itu gak masuk akaaaaaaaaalll!!!

    *ngotot maslaah durasi pokoknya tetep*

  14. sora9n Februari 17, 2011 pukul 5:53 pm

    @ joesatch

    Owalah, ternyata Supergirl-nya Manohara toh. =))

    Tadinya saya kira mau nuntut “Superhero Kocak” yang di GlobalTV. Ada memparodikan tokoh Hulk dan Spiderman soalnya.😛

    :::::

    @ choro

    Yaa, gimana ya? ^^;; Kalau katanya mas gentole sih,

    kenapa sih dengan durasi satu jam atau tiga jam? TV gitu. gratis. kagak bayar. kalo gak suka ya matiin. *kepala penat liat blog sendiri

    Saya pribadi melihatnya ya, TV itu ibaratnya warteg menyajikan menu ikan/ayam/empal dsb. Orang yang suka boleh datang, kalo nggak suka boleh ke warung lain. Kurang lebih seperti itu.😉

    Walaupun kalau boleh jujur — saya merasa bahwa tiga jam itu overkill. Tapi namanya orang jualan masa dilarang? Itu kan ibaratnya melarang mbak-mbak warteg jualan sayur yang kita benci. ^^a

    *IMHO & CMIIW*

  15. Pingback: Elegi Argumentasi Sinetron Yang Ditukarkan « Rahmad Hidayat's Blog

  16. jensen99 Februari 18, 2011 pukul 2:34 am

    Inception dan Robocop emang ceritanya gak realistis, tapi yang jelas konflik dan penyelesaiannya (bisa dibilang) realistis. PyD, OTOH, ceritanya realistis, tapi konflik dan dan penyelesaiannya yang gak realistis. U know what I mean lah😉 #IMHO

  17. sora9n Februari 18, 2011 pukul 11:48 pm

    Bukannya saya mbelain sinetron sih, tapi seni tetap seni biarpun absurd dan ga realistis. Dan selama masih ada yang menikmati… ya itulah dia dihargai.😆

    *lirik-lirik contoh Godot dan toilet yang disebut di tulisan*

  18. Alex© Februari 19, 2011 pukul 5:33 am

    Footnote #4 itu, haha, persis sama. Aku pun menilai-nilai ada begitu terselip. Macam orang-orang di balik kisah Spongebobs Yellowbutt itu mau bilang “seni itu macam air seni, buanglah pada tempatnya. seni di kalangan ‘rakyat’ Bikini Bottom ya seni serderhan, norak dan tidak njelimet macam kreasi Patrick dan Spongebobs”.😀

    Tapi entahlah. Kasihan saja melihat Squidward. Untung orang macamku atau Gentole belum sampai dibikin gigit klarinet…

  19. Pak Guru Februari 19, 2011 pukul 1:09 pm

    BTW contoh Duchamp yang “gak jelas” itu bukannya maksudnya memang itu, ya? Bahwa “seni berkelas tinggi” itu cuma label, dan “seni” itu cuma apa-apa yang manusia memilih untuk meletakkannya di museum, galeri, dan tempat sejenis? Selama ini saya menganggapnya lebih ke statement ketimbang seni nyentrik.

    Tapi ya ini pandangan awam sih.

  20. sora9n Februari 19, 2011 pukul 7:41 pm

    @ Alex

    Makanya itu, biarpun kartun janganlah direndahkan. Sesungguhnya Spongebob itu serial yang amat dalam dan alegoris jika kamu termasuk kaum yang berpikir™. (u_u)

    *plak*

    Tapi entahlah. Kasihan saja melihat Squidward.

    Barangkali masbro melihat cerminan diri sendiri di situ?😕

    Oh wait…

    :::::

    @ Pak Guru

    Kurang tahu. Saya gak ahli dunia seni, je. Cuma tahu dikit-dikit. Barangkali Mas Gentole bisa kasih masukan?:-/

    IIRC Paduka Brian Eno juga bilang begitu. Walaupun entah itu memang benar, atau cuma interpretasi dia saja.😛

  21. Pak Guru Februari 19, 2011 pukul 9:26 pm

    Oh dia juga ada bilang demikian? Kalau begitu pasti benar. Berhubung Paduka Eno maksum adanya.😛

  22. sora9n Februari 19, 2011 pukul 11:11 pm

    @ Pak Guru

    The citation goodness, hasil search dan nyasar ke GoogleBooks: link. Halaman 183-184.😛

    Ceritanya lumayan lucu sih. Konon disarikan dari memoar ybs.😆

  23. Pak Guru Februari 19, 2011 pukul 11:52 pm

    Yah barangkali kuratornya hendak menampilkan bukan karyanya sebagai karya seni/statement, melainkan untuk nilai historisnya.😛 Kalau begitu ‘kan valid-valid saja menggunakan yang asli.

    The kicker? That thing, I’m quite certain, is a replica of the lost original, a replica which was made ‘official’ some time ago. I could be wrong though, and they may have recovered it.

  24. Pingback: DNA – Untuk Tes Paternitas | Time Capsule

  25. Pingback: Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna « ZENOSPHERE

  26. Pingback: Triquetra dan Celtic Knot « ZENOSPHERE

  27. Grance Oktober 1, 2011 pukul 7:20 am

    Nanya donk…, kalo lukisannya Van Gogh yang berjudul “The Stary Night” ikon, indeks sama simbolnya apa yah? kalau bisa dijelaskan…… Gomaweo.

  28. sora9n Oktober 4, 2011 pukul 8:15 pm

    @ Grance

    Anu… itu maksudnya membicarakan semiotika? Kalau soal itu saya kurang ahli; lebih baik ditanya ke yang kuliah filsafat atau seni. ^^;;

    *cuma pembaca filsafat amatiran, aslinya orang teknik*

  29. seniberpikir Januari 24, 2012 pukul 2:03 pm

    Se-nggak realistis-nggak realistis-nya Inception atau The Matrix, tetap punya ‘suspension of disbelief’ yang bagus, juga sinematografi dan kualitas akting yang memukau. Film-film bagus banyak yang impossible(alien, robot, zombie, sihir, dsb.), tapi tidak improbable. imposible itu ‘can’t be happening. no one can do it. it’s beyond reality’. sedangkan improbable itu ‘very unlikely to happen’.

    Mungkin saya adalah salah satu cultural snob yang anda maksudkan dalam tulisan ini, tapi saya benar-benar tersinggung dengan sintetron yang tiap adegannya seperti menyatakan bahwa, ‘kamu orang bodoh, percaya saja dengan hal ini’.

    IMO, selera yang baik dan layak dianggap ‘tinggi’ berasal dari ‘pengetahuan’. Kalau ada yang benci sinetron dan dapat mengartikulasikan kenapa sinetron itu jelek, maka pendapatnya layak diapresiasi. Kalau ada yang membenci karena ‘gak suka aja’, itu yang salah. kebanyakan, orang yang suka barang jelek, MENGERTI kenapa itu jelek, sedangkan mereka yang gak suka barang bagus, TIDAK MENGERTI apa bagusnya barang tersebut. ini agak rancu, tapi memang begitulah kenyataannya.

    selera itu subyektif, saya setuju, tapi seni itu sendiri obyektif. ada yang memang bagus, dan ada yang fail. parameternya pun bisa dipahami kalau punya ‘rasa’ yang cukup halus dan peka. IMO, subyektivitas hanya absah ketika karya yang dibandingkan memang berada di level yang sama, misalnya The Matrix vs Inception, atau Putri Yang Ditukar vs Cinta Fitri. yang pertama sama-sama bagus, dan yang kedua sama-sama jelek. tapi, membandingkan film Hollywood dengan sinetron? yang benar saja.

  30. sora9n Januari 25, 2012 pukul 12:54 pm

    @ seniberpikir

    tapi saya benar-benar tersinggung dengan sintetron yang tiap adegannya seperti menyatakan bahwa, ‘kamu orang bodoh, percaya saja dengan hal ini’.

    Barangkali Anda orangnya terlalu serius. Santai saja, saya juga gak suka sinetron. Tapi karena gak suka, ya, saya gak ambil pusing.😆

    selera itu subyektif, saya setuju, tapi seni itu sendiri obyektif. ada yang memang bagus, dan ada yang fail. parameternya pun bisa dipahami kalau punya ‘rasa’ yang cukup halus dan peka.

    Err… di atas itu Anda menyatakan “obyektif”, tapi kriteria memahaminya bersifat opini. Pitfall lho itu. ^^;;

    Saya sendiri berpendapat bahwa seni itu ada mixture subyektif dan obyektif, tetapi, bukan begitu mendekatinya. “Cukup halus dan peka” itu pendapat pribadi. Kalau ingin menjelaskan “obyektif” sebaiknya hindari memakai kata sifat — sebab di benak orang pengertiannya lain-lain.🙂

    IMO, subyektivitas hanya absah ketika karya yang dibandingkan memang berada di level yang sama, misalnya The Matrix vs Inception, atau Putri Yang Ditukar vs Cinta Fitri. yang pertama sama-sama bagus, dan yang kedua sama-sama jelek. tapi, membandingkan film Hollywood dengan sinetron? yang benar saja.

    Ah, ya. Ini ibaratnya Anda bilang Wali Band dan ST12 gak ada apa-apanya dibanding Linkin Park (sbg contoh). Tapi saya juga bisa bilang Linkin Park ga ada apa-apanya dibanding Jean Michel Jarre. Jadi gimana dong?😆

    Satu lagi, kalau memang seni itu obyektif, coba deh kita kumpulkan anak-anak alay buat dengerin Beethoven. Logikanya Beethoven itu teknik dan penyajiannya lebih bagus. Tetapi, apakah sesudah mendengar Beethoven, anak-anak alay pasti bakal suka? Ya belum tentu.:mrgreen:

  31. Pingback: Elegi Argumentasi Sinetron Yang Ditukarkan | My Blog

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: