ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Seni Mencocok-cocokkan Diri

Suatu hari di tahun 1940-an, ahli psikologi Bertram Forer melakukan sebuah eksperimen dalam kelas. Ia menyatakan pada murid-muridnya bahwa ia sedang mengembangkan metode baru analisis kepribadian. Oleh karena itu diharapkan agar mereka turut berpartisipasi mengujinya.

Singkat cerita para murid pun diberi kuesioner. Setelah beberapa hari hasilnya akan diberikan, lalu mereka diminta menilai seberapa akurat hasilnya. Skor ditentukan antara 0 (“tidak akurat”) sampai 5 (“sangat akurat”).

Hasil akhirnya? Tercatat bahwa 87% siswa memberikan nilai 4 (“akurat”) atau 5 (“sangat akurat”). Luar biasa bukan? Meskipun begitu cerita ini belum selesai.πŸ˜›

***

Beberapa hari sebelum melakukan tes, Forer telah membaca berbagai buku astrologi. Dia mengambil kalimat dari berbagai tanda horoskop, lalu mencampuraduknya sedemikian rupa sehingga jadi laporan seperti berikut.

You have a need for other people to like and admire you. You have a tendency to be critical of yourself. You have considerable unused capacity that you have not turned to your advantage. While you have some personality weaknesses you are generally able to compensate for them. Disciplined and self-controlled on the outside, you tend to be worrisome and insecure on the inside. At times you have serious doubts as to whether you have made the right decision or done the right thing. You prefer a certain amount of change and variety and become dissatisfied when hemmed in by restrictions and limitations. You pride yourself as an independent thinker, and do not accept others’ statements without satisfactory proof. But you have found it unwise to be too frank in revealing yourself to others. At times you are extroverted, affable, and sociable, while at other times you are introverted, wary, and reserved. Some of your aspirations tend to be rather unrealistic.

Kemudian sesudah pelaksanaan tes, dia mengabaikan semua jawaban para siswa. Benar-benar tidak diperiksa. Akan tetapi sebagai gantinya, dia memfotokopi tulisan di atas, lalu membagikannya pada mereka. Hasil itulah yang kemudian diminta untuk dinilai.

Akan tetapi, sebagaimana sudah disebut di awal: hasil fotokopi itu dianggap “akurat” menjelaskan kepribadian siswa!😯 Padahal jelas isinya sama untuk setiap orang. Boleh dibilang tidak ada elemen apapun yang membedakan.[1]

Hasil percobaan di atas kemudian diberi nama Efek Forer. Tentunya kemudian timbul pertanyaan, mengapa bisa begitu?

 
Validasi Subyektif, atau, Seni Mencocok-cocokkan Diri
 

Hasil percobaan Forer kemudian diumumkan lewat jurnal ilmiah.[2] Melihat hasil tak lazim tersebut, para ahli psikologi kemudian mencoba menganalisis penyebabnya.

Kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut: karena Forer menulis laporan yang kabur dan bersifat umum, maka kecocokannya pada setiap orang juga besar. Peserta tergiring percaya bahwa kepribadiannya dianalisis secara tepat. Sementara kenyataannya, yang disampaikan itu sekadar garis besar.

Inilah yang disebut sebagai subjective validation (“pencocokan subyektif”). Ketika disuguhi data yang bersifat luas, orang cenderung mencari kesamaan dan mencocokkan dengan yang sudah diketahui. Sedemikian hingga banyak orang merasa analisis yang vague itu akurat — biarpun sebenarnya tidak.

Dalam kasus Forer yang diajukan adalah data yang bersifat umum. Namanya data bersifat umum, tentu saja kemungkinan benarnya besar. Oleh karena itu para siswa yang “dikerjai” Forer terjebak percaya — biarpun aslinya itu cuma fotokopian campuraduk ramalan bintang!:mrgreen:

 
Lebih Lanjut Mencocok-cocokkan Diri: Selective Thinking
 

Di bagian sebelumnya, kita membahas bagaimana Forer mengelabui murid-muridnya dengan pernyataan benar yang bersifat umum. Meskipun begitu itu baru sebagian kenyataan. Ada juga gejala psikologi di mana orang tetap percaya takhayul biarpun jarang akuratnya.

Hal ini pertama kali diungkapkan oleh filsuf Francis Bacon. Bacon menilai bahwa,

    “The general root of superstition is that men observe when things hit, and not when they miss; and commit to memory the one, and pass over the other.” [3]
     
    (cetak tebal dari saya)

Contoh yang bagus di sini adalah praktek ramalan. Pada dasarnya, ketika orang berurusan dengan ramal-meramal, fokus ingatannya adalah ketika berhasil. Apabila sebuah ramalan gagal maka cenderung dikesampingkan dengan alasan, “Namanya juga ramalan, percaya tidak percaya.” Jadi ketika sukses diingat, sementara ketika gagal ditoleransi. Pada akhirnya orang jadi mencocok-cocokkan diri dengan ramalan tersebut.

Nah, yang diceritakan di atas itu adalah teknik “berpikir selektif” (selective thinking). Di bawah sadar kadang kita cuma mengingat yang tepat sasaran — sementara yang salah-salah terlupakan. Sedemikian hingga penilaian akhirnya jadi tidak berimbang.πŸ™‚

Barangkali kalau boleh dibilang, selective thinking itu adalah “Seni Mencocok-cocokkan Diri” tahap dua setelah Efek Forer di atas. Bukan saja diakui karena banyak benarnya — malah yang salah-salah pun diabaikan!:mrgreen:

 
Penutup: Karena Manusia Makhluk yang Mencari Pola
 

Dari zaman ke zaman, manusia adalah makhluk yang selalu mencari pola dan penjelasan. Di zaman purba dulu orang berusaha menjelaskan bencana lewat kemarahan dewa. Ketika melihat bintang di langit, dihubung-hubungkan jadi bentuk hewan: mulai dari kepiting, kalajengking, sampai kambing gunung. Hubung-hubungan itu kemudian dikaitkan dengan hidup manusia di bumi.

Akan tetapi di masa kini, ilmu pengetahuan semakin maju. Perhubungan yang dibuat manusia purba kini mulai ditinggalkan. Meskipun demikian hasrat dasar manusia itu tidak hilang. Justru sampai kini pun hasrat mencari pola dan penjelasan itu masih ada dan diwariskan.

Sebagai contoh misalnya gambar berikut:

    blocks-1

Sekilas tidak ada yang menarik; cuma dua bulatan dan garis-garis saja. Meskipun begitu kalau kita rangkai ulang…

    blocks-2

…kita mengartikannya sebagai sesuatu yang amat lain. Itu karena otak kita punya kecenderungan mencari pola dari data sesederhana apapun.πŸ™‚

Demikian juga ketika orang disuguhi data seperti Percobaan Forer, orang cenderungnya mencari pola kecocokan dulu. Apalagi sebelumnya diberitahu bahwa mereka akan diberi tes kepribadian. Maka semakin kuatlah dorongannya.:mrgreen:

Hal yang sama juga menjelaskan kenapa banyak orang percaya pada peramal di layar TV. Sebab di bawah sadar kadang ada pola yang ingin dicocokkan (i.e. “dulu pernah berhasil, barangkali sekarang juga iya”). Lalu dorongan itu diperkuat karena yang bicara di TV adalah “peramal terkenal”.[4] Dan seterusnya, dan lain sebagainya.

Barangkali boleh dibilang bahwa pikiran kita sebenarnya ingin dapat melihat dan memahami keterhubungan antarhal. Sedemikian hingga kadang pola yang tidak ada diada-adakan. Yang macam ini adalah kecenderungan alamiah. Meskipun begitu, galibnya kecenderungan alamiah, tidak semuanya bagus — dan mengada-adakan pola termasuk di antaranya. Apalagi kalau pola itu dibuat sekadar untuk dicocok-cocokkan.πŸ˜‰

 
Jadi, singkat cerita…

Selamat hari Selasa kisanak. Sudahkah Anda berpikir hati-hati hari ini?:mrgreen:

 

—–

Catatan:

 
[1] ^ Sebagaimana disarikan dalam Quirkology karya Richard Wiseman (Basic Books Publishing, New York, 2007).

[2] ^ Forer, B.R. “The fallacy of personal validation: a classroom demonstration of gullibility”

Journal of Abnormal & Social Psychology, Volume 44, issue 1 (January 1949), p. 118-123.
ISSN: 0096-851X DOI: 10.1037/h0059240

[3] ^ Bacon, F. Sylva Sylvarum (A Natural History in Ten Centuries). 1627

[4] ^ Untuk dicatat, saya tidak bilang bahwa semua peramal itu palsu — bisa saja ada satu-dua orang yang benar-benar diberkahi ilmu precognition. Saya sendiri terbuka saja. Cuma masalahnya, kadang orang terlalu mudah percaya… sedemikian hingga klaim bombastis sering mendapat perhatian berlebih. Sementara di sisi lain buktinya cenderung minim.πŸ˜‰

10 responses to “Seni Mencocok-cocokkan Diri

  1. Pak Guru Januari 19, 2011 pukul 1:26 am

    Kalau mulai dari horoskop, ingatnya tentu langsung ke Sagan, Cosmos.:mrgreen: Hebatnya di situ bukan sekadar memperhatikan bahasanya yang generik, Sagan menemukan ramalan lain yang sama generiknya tapi kontradiktif.

    Lebih menarik yang pemikiran selektif itu, misalnya ramalan berupa mimpi. Saya lupa baca di mana (besok kalau sempat saya cari-cari lagi), katanya tema besar mimpi-mimpi itu kurang dari dua ratus. Bisa konfirmasi? Jadi secara statistik saja memang beberapa peristiwa yang menarik bagi satu keluarga, misalnya, akan ada 1-2 anggota yang kemarin malamnya memimpikan yang nyerempet-nyerempet mirip. Jadi kalau kebakaran, boleh jadi kemarin malamnya si Bapak memimpikan api, walau apinya cameo.:mrgreen: Sedangkan mimpi si Ibu yang bertema puting beliung, tidak dinyatakan sebagai meleset, melainkan diabaikan.

  2. Gentole Januari 19, 2011 pukul 6:15 am

    Yang paling menyedihkan dari seni mencocok-cocokkan ini adalah saat ketika seseorang menganggap pasangannya memiliki segala kualitas sebagai cinta sejatinya. Orang memang harus puas hidup dalam serangkaian kebohongan, kebohongan yang dibuat pikirannya sendiri.:mrgreen:

  3. sora9n Januari 19, 2011 pukul 10:16 am

    @ Pak Guru

    Kalau mulai dari horoskop, ingatnya tentu langsung ke Sagan, Cosmos.:mrgreen:

    E itu Cosmos yang versi TV atau bukunya?πŸ˜› Saya baca versi buku ndak khatam soalnya; cuma loncat-loncat. Kalau versi TV sama sekali belum lihat.

    *kembali ngubek2 buku ybs*

    Lebih menarik yang pemikiran selektif itu, misalnya ramalan berupa mimpi. Saya lupa baca di mana (besok kalau sempat saya cari-cari lagi), katanya tema besar mimpi-mimpi itu kurang dari dua ratus. Bisa konfirmasi?

    Well, saya sendiri baru dengar soal itu, jadi nggak bisa konfirmasi. Tapi dipikir-pikir cukup masuk akal sih.:-/

    Jadi secara statistik saja memang beberapa peristiwa yang menarik bagi satu keluarga, misalnya, akan ada 1-2 anggota yang kemarin malamnya memimpikan yang nyerempet-nyerempet mirip. Jadi kalau kebakaran, boleh jadi kemarin malamnya si Bapak memimpikan api, walau apinya cameo.:mrgreen: Sedangkan mimpi si Ibu yang bertema puting beliung, tidak dinyatakan sebagai meleset, melainkan diabaikan.

    Dan jangan lupa juga dengan proses menghubung-hubungkan — membikin permutasi jadi lebih kompleks. “Kemarin saya mimpi beli tabung gas, lalu tadi kebakaran! Tabung berhubungan dengan kompor! Ini pasti pertanda!”:mrgreen: πŸ˜†

  4. sora9n Januari 19, 2011 pukul 10:17 am

    @ Gentole

    Uhuks… curcol detected >8D

    Ya, memang demikianlah kalau sudah terpola terhanyut bujuk rayu cinta. Semua-semua mesti dicocokkan ke situ. Ya?:mrgreen:

    BTW, obligatory quote: “Susah memang kalau menyangkut perasaan”.πŸ˜‰

  5. Pak Guru Januari 19, 2011 pukul 8:12 pm

    @ sora9n

    Ada di dua-duanya kok. Versi TV juga saya lihat sepotong-sepotong, semua dari youtube. Cobalah cari “sagan+astrology” kalau penasaran, pendek juga.πŸ˜›

  6. rukia Januari 23, 2011 pukul 5:11 am

    aq sih ga terlalu percaya ramalan. Gegara beberapa kali orang-orang yg katanya bisa meramal nggak bisa kasih jawaban spesisfik utk sesuatu yg udah lewat, walaupun memang ga semua peramal itu palsu. Terlalu percaya ramalan bs bikin hidup jd aneh, ada beberapa yg nglakuin smua hasil ramalannya tanpa mikir agar selalu beruntung *lirik temen*. Ngapa2in musti liat ramalan dulu, capek deh. Lagian dasar yg dipake orang buat ngeramal itu apa ya? *ga ngerti*

  7. sora9n Januari 24, 2011 pukul 9:07 pm

    @ Pak Guru

    Yup, yup. :3

    @ rukia

    Ya, begitulah…πŸ˜†

  8. Arm Kai Januari 25, 2011 pukul 2:41 pm

    zodiak…
    cosmo…
    Saint Seiya!!! \m/
    πŸ˜›

    karena manusia percaya apa yang dia pengen percayaπŸ˜› hehe… tapi kadang-kadang bagus juga sih percaya apa yang pengen dipercaya buat sekedar memotivasi diriπŸ˜‰

  9. Pingback: Kiamat dan Seni Menakuti Diri « ZENOSPHERE

  10. Muhammad Yusuf November 24, 2013 pukul 3:58 am

    artikel yang sederhana, mudah dipahami, namun padat informasi. terima kasih udah nambah wawasan aku.

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: