ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Meme dan Fosil Budaya

Ada sebuah pertanyaan yang terlintas di benak saya sejak minggu lalu, yang kemudian dituangkan jadi tulisan di bawah ini. Seberapa dekatnyakah antara ilmu biologi dan humaniora?

Beberapa pembaca yang kebetulan tahu konsep meme, barangkali akan menjawab “sangat dekat” dan mereferensikan buku Richard Dawkins. Soal itu akan kita bahas nanti. Untuk saat ini, saya hendak membicarakan tema yang agak lain.😛

linear b (huruf kuno yunani)

Prasasti Linear B ini akan mengantar kita masuk ke pokok bahasan

(via Wikimedia Commons)

Biasanya di bidang biologi, untuk menelusuri jejak makhluk hidup, para ilmuwan menggunakan rekaman fosil. Misalnya fosil mammoth; dia memiliki kesamaan bentuk tubuh dengan gajah (sama-sama punya gading; kaki datar dsb). Oleh karena itu diperkirakan bahwa mammoth memiliki kekerabatan genetik dengan gajah.

Mengapa begitu, sebab yang namanya penampakan tubuh (fenotip) ditentukan oleh DNA. Bentuk tulang ditentukan oleh DNA; struktur morfologi juga demikian. Maka apabila fosil makhluk terlihat identik — ada kemungkinan mereka berdua kerabat dekat.😀

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa prinsip yang sama juga berlaku di bidang arkeologi? Bukan saja dalam menganalisis budaya kuno terdapat “fosil”, melainkan juga “DNA”, “mutasi”, dan “seleksi alam”. Kasar-kasarnya kalau boleh dibilang: ternyata ilmu humaniora benar-benar mirip dengan biologi!😯

Seperti apa detailnya, nah ini ada ceritanya lagi. Off we go…

 
Berawal dari Biologi: Analogi DNA Manusia
 

Dalam bukunya yang terkenal, The Selfish Gene, Dawkins (1976) memulai dengan bercerita tentang DNA. DNA menurut Dawkins mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu:

  1. Selalu menyebar dan memperbanyak diri (replikasi dan reproduksi)
  2. Dari waktu ke waktu mengalami mutasi, dan
  3. Penyebarannya amat tergantung pada kemampuan makhluk hidup untuk survive

 
Contoh yang mewakili di sini misalnya DNA manusia. Semenjak Homo sapiens pertama muncul di Afrika 200.000 tahun silam, manusia selalu berusaha menyebarkan keturunan (reproduksi). Kemudian mereka berangkat menyebar di muka bumi. Akan tetapi, dari sumber DNA yang sama itu, seiring waktu mengalami mutasi. Sedemikian hingga manusia ada yang berkulit putih bermata biru (Kaukasus); berkulit merah mata coklat (Indian); hingga yang kulit coklat dan bermata hitam (Mongoloid).

out of africa, courtesy of NatGeo

Tsamina tsamina eh, eh~ waka waka eh, eh~ We are from Africa~ *plak*

(courtesy of National Geographic Magazine)

Nah, keragaman data genetik itu kemudian dapat menyebar — atau menghilang — tergantung survival makhluk hidupnya. Apabila satu kelompok masyarakat terkena bencana, atau tewas dalam perang, maka informasi genetiknya akan hilang.

Sebagai contoh di masa kini hanya sedikit orang mempunyai DNA suku Aztec. Itu karena sebagian besar (90% populasi) terbunuh dalam perang melawan Spanyol. Demikian juga dengan suku Inca; nyaris seluruh populasinya disapu oleh penyakit sifilis dan cacar. Peristiwa macam ini mengakibatkan data genetik mereka gagal tersarikan. (Diamond, 1997).

 
Menghubungkan Genetik dengan Budaya: Meme
 

Setelah menjelaskan seluk-beluk DNA, Dawkins kemudian mengetengahkan sebuah konsep bernama meme. Nama ini diambil dari kata bahasa Yunani mneme (“meniru”). Dalam pengertian Dawkins, meme adalah sebuah unit budaya — bisa diibaratkan gen di tubuh manusia.

Menurut Dawkins, sama halnya dengan genetika, kebudayaan manusia menyebar mengikuti tiga aturan utama. Tiga aturan tersebut adalah:

  1. Kebudayaan selalu berupaya untuk menyebar (replikasi)
  2. Namanya kebudayaan tidak pernah tetap, dari waktu ke waktu akan mengalami evolusi (mutasi)
  3. Penyebaran budaya amat tergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk survive

 
Sepintas lalu terlihat kemiripan mencolok dengan dalil DNA di atas. Akan tetapi, kalau sekadar teori, tentu saja akan kering. Oleh karena itu segera kita lanjutkan dengan contoh.🙂

Berhubung di bagian sebelumnya kita menyebut contoh suku asli-Amerika, ada baiknya kita kembali ke analogi tersebut.

Ketika bangsa Spanyol mendarat di Amerika Latin, mereka bukan saja datang untuk menguasai wilayah, melainkan juga untuk menyebarkan kebudayaan. Di pelajaran sekolah dulu kita ingat mendengar semboyan Gold, Gospel, Glory. Dengan menyebarkan budaya Spanyol — termasuk di dalamnya agama Kristen — maka akan timbul suatu kejayaan (Glory). Ini adalah semangat meluaskan pengaruh di muka bumi. (poin 1 — meme berusaha melakukan replikasi)

Meskipun begitu, budaya Spanyol yang hendak menyebar itu adalah budaya Spanyol yang sudah berevolusi. Agama Kristen yang dianut aslinya berasal dari Timur Tengah. Teknologi perkapalan dan navigasi sedikit-banyak dipengaruhi peradaban Cina. Bahkan bahasa mereka pun warisan peradaban Islam Andalus. Seiring jalannya waktu, budaya Spanyol mengalami perubahan terus-menerus. (poin 2 — meme mengalami mutasi)

Kemudian budaya Spanyol ini datang ke Amerika Latin. Tanpa disangka ternyata di Amerika Latin terdapat kerajaan-kerajaan besar dengan budayanya sendiri. Di antaranya adalah Inca, Aztec, dan Maya. Semua punya bangunan hebat dan mampu melakukan baca-tulis. Di sini meme Spanyol berhadapan dengan meme asli Amerika Latin.

Sayangnya malang tak dapat ditolak. Sebagaimana telah disebut budaya asli Amerika akhirnya takluk. Masyarakatnya hampir musnah disapu kedigdayaan Spanyol. Produk budaya seperti manuskrip dan bangunan dihancurkan, sebab dinilai tak sesuai ajaran Kristen. Sedemikian hingga akhirnya cuma sedikit orang tersisa yang paham kebudayaan Aztec/Maya/Inca. (poin 3 — meme tergantung pada kemampuan masyarakatnya untuk survive)

Chichen Itza, peninggalan budaya maya

Chichen Itza, peninggalan warisan budaya Maya

(courtesy of wikipedia)

***

Singkat cerita, demikianlah ilustrasi keselarasan prinsip genetika dan meme. Memang benar terlihat bahwa persebaran genetik amat paralel dengan kebudayaan. Di satu sisi harus diakui bahwa contohnya tidak indah — akan tetapi di sisi lain, rangkaian peristiwa di atas amat cocok menjelaskan ide meme yang diutarakan Bapak Dawkins.

 
Sang Penyelamat Meme: Fosil Budaya
 

Untungnya, sebagaimana halnya di bidang biologi, kepunahan suatu kultur bukan berarti mereka benar-benar hilang. Masih ada data sekunder yang bisa diraih untuk mempelajari kultur tersebut.

Kalau di bidang biologi, para ilmuwan mempelajari fosil hewan untuk menganalisis kehidupannya. Apakah suatu makhluk itu pemakan daging atau rumput? Apakah makhluk laut, darat, atau amfibi? Apabila fosilnya lengkap maka sifat-sifatnya dapat diperkirakan. Gigi pemakan rumput, misalnya, beda dengan gigi pemakan daging. Begitu pula alat gerak makhluk darat berbeda dengan makhluk perairan.🙂

Nah, demikian juga halnya dengan meme. Biarpun suatu kebudayaan sudah punah, bukan berarti mereka tak bisa dipelajari. Asalkan terdapat “fosil” budayanya maka kita dapat melakukan penelitian. Fosil ini bisa berupa peninggalan arsitektur, batu bertulisan, atau barang remeh seperti koin tembaga. ^^

parthenon

Parthenon di atas adalah fosil budaya; mengandung meme dari peradaban yang telah punah.

(courtesy of wikipedia)

Di masa kini orang belajar tentang peradaban kuno lewat peninggalannya. Mulai dari Yunani Kuno, Norse, Cina Kuno, Maya, Inca… Biarpun masyarakatnya sudah punah, tetapi masih banyak yang bisa digali. Itu karena kita punya “fosil” budaya mereka. Perlahan tapi pasti, peninggalan seperti bangunan, senjata, dan barang pecah-belah menunjukkan identitas kultur yang pernah eksis.

Salah satu bentuk fosil tersebut misalnya bahasa tertulis (Gnanadesikan, 2009). Menurut Bu Gnanadesikan, bahasa tulis adalah alat rekam budaya yang luar biasa. Serangkaian huruf ditulis di atas berbagai media — tanah liat, kayu, daun papirus. Kemudian ribuan tahun kemudian, orang menyingkapkan makna dari tulisan tersebut. Berkat “fosil” itulah sejarah kerajaan, catatan perang, dan cerita legenda dapat tersampaikan ke masa kini.

tablet huruf paku susa, mesopotamia

Konon isinya tentang administrasi kota. Benarkah? Tidak tahu, saya tak bisa baca😛

(via Wikimedia Commons)

 
Penutup: Fosil Budaya ada di Mana-mana
 

Sebagaimana sudah diceritakan di atas, terdapat paralel yang menarik antara bidang ilmu biologi dan kebudayaan. Akan tetapi terdapat perbedaan yang mencolok: apabila ahli biologi dapat melakukan analisis genetik di lab kimia, tidak demikian halnya dengan memetika. Penyebabnya karena meme itu bersifat abstrak. Dia cuma bisa mewujud kalau ada medianya.

Misalnya begini. Sebuah nada lagu adalah meme. Akan tetapi kalau tidak dimainkan, nada itu tidak ada yang tahu. Oleh karena itu meme nada lagu perlu media alat musik untuk memainkannya. Misalnya lewat gitar atau piano.🙂

Nah demikian juga dengan meme lain pada umumnya. Cerita legenda seperti Epik Gilgamesh adalah meme, tetapi kalau tidak diceritakan orang tak akan tahu. Maka cerita itupun disebarkan lewat berbagai cara. Di antaranya lewat tulisan tanah liat. Ribuan tahun kemudian, catatan itu ditemukan dan dianalisis oleh ahli arkeologi… dan tanpa disadari, catatan itu telah menjadi fosil. Di masa kini, tulisan bangsa Sumeria menjadi jendela kita melongok kehidupan mereka.

Hal yang sama terjadi kalau kita jalan-jalan di kota tua. Kadang suka terlihat ada bangunan yang bergaya Belanda. Nah, itu adalah fosil budaya dari era kolonial. Terlihat dari arsitektur dan bentuk kusennya. Dalam sekejap kita tahu bahwa itu berasal dari zaman silam.😀

Dan masih banyak contoh lainnya. Piringan hitam The Beatles, misalnya, juga bisa dianggap fosil budaya. Novel kuno terbitan Balai Pustaka — yang ejaannya masih pakai ‘oe’, ‘dj’ dan ‘tj’ — juga termasuk fosil budaya. Itu karena mereka merekam sebuah kultur dari masa yang telah lewat. Kultur yang, apabila orang menghendaki di masa depan, bisa dinikmati lagi dengan mudah. Persis seperti Epik Gilgamesh yang disebut di atas.

Sebagaimana sebuah fosil makhluk hidup bercerita tentang kehidupannya, begitu pula sebuah peninggalan budaya bercerita tentang masyarakatnya. Barangkali kelak di masa depan, buku-buku kita yang sekarang juga akan dianalisis dengan cara yang sama. Atau jangan-jangan, internet dan chat room kitalah yang akan dibegitukan. Siapa yang tahu?:mrgreen:

 
——
 

Referensi:

  • ^ Dawkins, R. The Selfish Gene, 30th Anniversary Edition. Oxford University Press, Oxford, 2006
  • ^ Brodie, R. Virus of The Mind. Hay House, London, 2004
  • ^ Gnanadesikan, A.E. The Writing Revolution: Cuneiform to The Internet. Wiley-Blackwell, Sussex, 2009
  • ^ Diamond J. Guns, Germs, and Steel. W. W. Norton & Co., New York, 1997

5 responses to “Meme dan Fosil Budaya

  1. Amd Januari 12, 2011 pukul 12:04 am

    Looo…lolololooo….lololoooo…looooloooo….

  2. Pak Guru Januari 12, 2011 pukul 1:01 am

    Atau jangan-jangan, internet dan chat room kitalah yang akan dibegitukan. Siapa yang tahu?

    Nah belum tentu. Dulu (di kelas yang awal sekali) ada disodorkan wacana yang mengeluhkan banjir informasi di era digital. Banjir informasi ini lantaran semakin gampangnya memproduksi dan menyimpan via layanan-layanan Internet dan gadget-gadget yang setali tiga uang. Banjir di sini merugikan karena signifikansi masing-masing informasi jadi terkubur di bawah kuantitas yang besar.

    Zaman dulu misalnya potret itu ‘kan serious business: perlu pakai dasilah, membeku sekian lama buat daguerreotypelah, apalagi kalau perlu ditaruh di kanvas. Di era kita, ada terlalu banyak, dan hampir semuanya relatif tidak penting. Foto monyong di kantor, monyong di pantai, monyong di kafe, dan sekian banyak lainnya. Ditto tulisan dan seterusnya. Apalagi resistensi piranti keras yang dipakai sekarang juga bukannya terlalu baik. Kalau tidak dijaga dengan benar usianya lebih pendek daripada kertas.

    Jadi metode penyimpanan fosil budaya juga punya revolusi di sini. Dan belum tahu apa bakal efektif atau tidak. Boleh jadi malah mengawurkan interpretasi orang di masa depan yang mengamati fosil-fosil dari era kita. Sebab bisa dibilang cikal bakal fosil yang ada sekarang semakin tidak padat jijka dibandingkan dengan orang-orang dulu (yang mana mereka meninggalkan hanya yang penting-penting saja; misalnya orang Mesir dengan bangunannya, catatan mengenai bir, arsitektur, atau mumifikasi).

    Trololololo lololo lololo ahahahahaha~

  3. sora9n Januari 12, 2011 pukul 8:28 am

    @ Amd

    Hey now, kalau ada komen seperti itu lagi, bakal langsung saya kirim ke akismet. [-(

    *lupa belum bikin halaman disclaimer & license*

    :::::

    @ Pak Guru

    Nah belum tentu. Dulu (di kelas yang awal sekali) ada disodorkan wacana yang mengeluhkan banjir informasi di era digital. Banjir informasi ini lantaran semakin gampangnya memproduksi dan menyimpan via layanan-layanan Internet dan gadget-gadget yang setali tiga uang. Banjir di sini merugikan karena signifikansi masing-masing informasi jadi terkubur di bawah kuantitas yang besar.

    Ha, benar juga. Dipikir-pikir memang internet itu banyak isinya yang trivial sih.😛 Saya rasa persis yang masbro bilang. Semakin gampang dibuat jadi makin banyak sampahnya, dst.

    Walaupun tentu perlu dicatat bahwa ada satu-dua website yang punya nilai kultur signifikan. As in, lumayan banyak dibaca dan berpengaruh. Gawker/Wired/Slate sepertinya memenuhi? *CMIIW*

    BTW saya tidak pernah mengupload foto monyong. Just saying. (ninja)

    Jadi metode penyimpanan fosil budaya juga punya revolusi di sini. Dan belum tahu apa bakal efektif atau tidak. Boleh jadi malah mengawurkan interpretasi orang di masa depan yang mengamati fosil-fosil dari era kita. Sebab bisa dibilang cikal bakal fosil yang ada sekarang semakin tidak padat jijka dibandingkan dengan orang-orang dulu (yang mana mereka meninggalkan hanya yang penting-penting saja; misalnya orang Mesir dengan bangunannya, catatan mengenai bir, arsitektur, atau mumifikasi).

    Saya kurang tahu bagaimana nantinya, tapi kalau orang abad 23 menilai kita dari komen yutub dan kaskus, saya bakal malu sekali. =))

  4. lambrtz Januari 12, 2011 pukul 10:12 am

    Warning: elitism alert.

    Saya kurang tahu bagaimana nantinya, tapi kalau orang abad 23 menilai kita dari komen yutub dan kaskus, saya bakal malu sekali. =))

    Dengan tren yang seperti ini, bisa jadi keturunan kita malah lebih buruk. :-”

    Anyway, menurut saya sih, potensi (uhuk) low-class talks macam Youtube dan Ka*kus itu sudah ada sejak dulu kala. Bayangan saya langsung menuju ke bar berisi bajak laut dan pelacur pada abad penjelajahan. Cuman, pada zaman modern, dengan jangkauan internet yang sudah sangat meluas dan mudah dijangkau oleh siapa saja, dengan hanya dibutuhkannya dua ribu rupiah untuk menulis komen trolling di Youtube dan Kaskus, perilaku seperti ini jadi terdokumentasi, tidak seperti dulu.

    Jadi, cicitnya cicit-cicit saya, kalau kalian membaca ini, harap dimengerti bahwa sifat seperti ini tidak hanya produk generasi kami, tapi sudah ada ketika engkongnya engkong-engkong kita jadi budak jalan Anyer Panarukan.😎

    Trololololo, lololo, lololo, ahahaha~

  5. sora9n Januari 12, 2011 pukul 7:09 pm

    Bayangan saya langsung menuju ke bar berisi bajak laut dan pelacur pada abad penjelajahan. Cuman, pada zaman modern, dengan jangkauan internet yang sudah sangat meluas dan mudah dijangkau oleh siapa saja […] perilaku seperti ini jadi terdokumentasi, tidak seperti dulu.

    This. (u_u)

    Jadi, cicitnya cicit-cicit saya, kalau kalian membaca ini, harap dimengerti bahwa sifat seperti ini tidak hanya produk generasi kami, tapi sudah ada ketika engkongnya engkong-engkong kita jadi budak jalan Anyer Panarukan.😎

    Jadi, semua salah Daendels?😕

    *plak*

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: