ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Review: “The Long Tail” by Chris Anderson

Buku yang saya baca sekitar bulan lalu…

Jadi ceritanya, bulan November kemarin, saya dipinjami buku yang cover-nya terpampang di bawah ini. Saya sendiri bisa dibilang agak telat — di negeri asalnya, buku ini keluar tahun 2006, sementara terjemahan Indonesianya oleh Gramedia sekitar tahun 2007. Meskipun begitu, berhubung isinya menarik dan nyambung dengan cakupan blog ini, tak ada salahnya kalau diangkat jadi resensi. So here goes.πŸ˜›

 

indonesian cover - long tail by chris anderson

            • Judul: The Long Tail (terjemahan Indonesia)
            • Penulis: Chris Anderson
            • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
            • Tebal: xxxiv + 287 halaman
            • Tahun: 2007

 
Seperti Apa Ceritanya?
 

Dalam buku ini, penulis Chris Anderson berkisah tentang sebuah konsep statistik yang mendasar tapi tak banyak diketahui orang. Konsep tersebut diberi nama Long Tail (ekor panjang). Dinamai seperti itu karena, kalau digambarkan berbentuk kurva, bentuknya menyerupai ekor terjuntai menuju tak-hingga.

grafik long tail

Penampakan sebuah kurva “Long Tail”

Pak Anderson berpendapat bahwa Kurva Long Tail banyak menyembulkan diri dalam dunia keseharian. Mulai dari penjualan album musik, kunjungan website, hingga perdagangan gadget semacam iPod dan smartphone, semua menunjukkan kecenderungan Long Tail. Di awalnya nilai permintaan amat besar. Setelah beberapa waktu terjadi penurunan permintaan, akan tetapi, permintaan tersebut tidak pernah mencapai nol. Justru semakin ke depan ada arus permintaan yang sedikit-tapi-stabil.

Sebuah contoh yang cukup menggambarkan long tail adalah penjualan album The Beatles. Biarpun penjualan album paling laris pada tahun 60-70’an, akan tetapi hingga abad 21 masih banyak orang membeli karya mereka. Memang tidak sebanyak di saat kejayaan band tersebut. Meskipun begitu permintaan akan album tersebut terus ada dan stabil, biarpun jumlahnya sedikit. Malah hingga 30 tahun selewatnya orang masih membeli album Beatles.

Nah, permintaan yang sedikit-tapi-stabil itu, apabila berakumulasi dalam waktu lama, akan menimbulkan volume yang signifikan. Inilah gagasan utama “ekor panjang” yang disampaikan Pak Anderson.

 
Internet Mempengaruhi Pop Culture dan Niche Market
 

Melanjutkan dari ide di atas, Pak Anderson kemudian mengaitkan dengan fenomena internet. Di masa lalu, orang mendapat informasi dari radio dan televisi. Bisa dibilang orang cuma bisa menerima apa yang “disuapkan” oleh media. Selera musik umumnya mengacu pada acara “Top 40 hits” di radio. Trend fashion dan bacaan juga dipengaruhi oleh apa yang dipopulerkan oleh TV, radio, dan koran. Bisa dibilang “media massa membentuk budaya”.

Akan tetapi di abad 21, kenyataannya berbeda. Sekarang orang punya internet — yang notabene lebih interaktif. Orang tidak lagi ditentukan seleranya oleh media, melainkan, orang mencari yang cocok secara mandiri. Di situs Amazon terdapat komunitas-komunitas pencinta musik dari etnik sampai elektronik. Blog-blog yang membahas gaya hidup dari fashion sampai gadget juga banyak. Perlahan-lahan orang mulai bergeser dari media recommendation menjadi online crowd recommendation.

Rekomendasi online inilah yang membuat produk budaya “sekarat” (i.e. permintaannya sedikit) mendapat exposure lebih besar. Pada akhirnya rekomendasi ini melestarikan sebuah Long Tail — serangkaian produk yang peminatnya sedikit-tapi-stabil sepanjang waktu. Itu karena rekomendasi internet umumnya bersifat timeless. Orang bisa saja google, tersasar ke sebuah blog musik, dan tergugah membeli album yang diulas… sementara artikelnya sendiri sudah lewat dua atau tiga tahun.

Sebagai tambahan, konsep Long Tail Anderson juga menunjukkan internet sebagai alternatif mempromosikan produk yang gagal masuk mainstream. Entah itu karena kendala teknis ataupun nonteknis. Lewat internet, seorang artis/musisi indie dapat memperkenalkan karyanya lewat iTunes atau MySpace — melewati hambatan pemasaran seperti jatah airtime (radio) atau shelftime (apabila lewat toko kaset). Diharapkan seterusnya niche marketing ini dapat memunculkan ekor panjangnya sendiri, yakni lewat online crowd recommendation.

Pada akhirnya, Anderson menilai bahwa internet secara langsung berperan mempengaruhi pertumbuhan budaya pop. Di saat ini terdapat banyak artis dan musisi yang gagal masuk mainstream tapi berkiprah di internet. Mengapa media massa tidak menampung mereka? Karena fanbase mereka terlalu kecil — tergolong Long Tail dibandingkan bintang pop lain. Akan tetapi dengan adanya internet, niche mereka dapat berdiri sendiri dan terekspos ke dunia luar; memberikan warna baru dalam kebudayaan kita.

 
Kesimpulan
 

Sebuah buku menarik yang mengamati interaksi antara tiga hal: internet, pertumbuhan budaya, dan niche market. Pembahasan yang cukup solid, dengan landasan yang khas pada ide statistik, menjadi nilai plus karya yang satu ini. Kekurangannya barangkali karena tidak banyak disertai rujukan baris dan catatan kaki. Meskipun begitu ide yang diajukan relatif segar, koheren, dan mencerahkan.

Rekomendasi: Amat disarankan kalau Anda tertarik seluk-beluk internet, budaya pop, dan/atau niche marketing.

Personal Verdict:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

2 responses to “Review: “The Long Tail” by Chris Anderson

  1. Rifu Januari 17, 2011 pukul 5:54 am

    ngomong2 tentang revisi buku (terkait) statistik, “Berbohong dengan Statistik” udah pernah lo resensi belum sih di blog lama?πŸ˜›

  2. sora9n Januari 17, 2011 pukul 8:00 am

    ^

    Belum… tapi gw sendiri juga ga khatam sih. Cuma pernah numpang baca di manaaa gitu.πŸ˜›

    *lupa*

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: