ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Kisah Sang Cincinnatus
Posted by pada April 26, 2011
Apa yang terbayang di benak Anda jika mendengar kata “Diktator”? Bagi sebagian orang istilah tersebut berkesan negatif — kasar-kasarnya, pemimpin yang berkuasa mutlak dan menyelewengkan untuk kepentingan pribadi. Meskipun begitu lain halnya dengan Jendral Romawi bernama Lucius Quinctius Cincinnatus. Ia adalah sosok diktator yang dicintai masyarakat. Dua kali keadaan darurat, Senat memberinya kekuasaan mutlak memimpin negara, sebab memang dia jendral yang hebat. Berkat kepemimpinannya Republik Romawi selamat dari agresi suku Aequi dan konspirasi Spurius Maelius.
Akan tetapi menariknya: dua kali Cincinnatus jadi diktator, dua kali pula ia mengundurkan diri. Sesudah tugasnya selesai ia lebih suka melanjutkan hidup bertani di desa — boleh dibilang berkebalikan dengan berbagai diktator yang terdapat di era klasik. Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita bahas di bagian selanjutnya.
Lucius Quinctius Cincinnatus (519-438 SM)
(courtesy of BadassOfTheWeek.com)
Quick Note + News
Posted by pada April 11, 2011
Karena adanya satu dan lain hal, peristiwa dunia nyata, dua minggu terakhir ini saya jarang online. Akibatnya sendiri cukup jelas: saya jadi menghilang dari socmed, dan update blog ini jadi tak sesuai jadwal. Jadi, daripada kesannya saya menghilang tanpa pamit, lebih baik diumumkan sekilas lewat blog.
Ada kemungkinan menghilangnya saya dari belantara web akan berlanjut sampai dua minggu lagi. Mudah-mudahan sih bisa lebih cepat, tapi baiknya jangan terlalu diharapkan…
Mohon maaf jadi tidak sempat main/komentar di blog dan akun socmed teman-teman. Beberapa orang suka bilang bahwa persahabatan di internet itu maya; kurang efektif; susah dibandingkan dengan dunia nyata — but I disagree.
Bagi saya kalian sama berharganya dengan orang-orang yang saya kenal langsung. Ditambah lagi sebagian dari kita sudah ketemu dan ngobrol bareng di dunia nyata. Jadi… saya tak percaya batas antara “nyata” dan “maya” sekaku itu. Tapi itu cerita lain untuk saat ini.
Normal blog service to be resumed on April 26. Thanks for reading.
Triquetra dan Celtic Knot
Posted by pada April 2, 2011
Triquetra adalah motif ornamen yang berasal dari zaman besi di wilayah Eropa Tengah/Barat. Bentuknya sendiri cukup unik. Sekilas seperti daun berhelai tiga, dan bisa digambar dengan sekali tarik.
(via Wikipedia)
Sebagaimana bisa dilihat, bentuknya menyerupai rotan yang dibengkokkan, menghasilkan bentuk simpul yang artistik. Sebenarnya memang itu disengaja. Triquetra adalah bentuk sederhana dari seni ornamen yang lebih kompleks bernama Celtic Knot (“simpul Celtic”). Dinamai seperti itu karena — kalau gambar Celtic Knot ditelusuri — bentuknya seperti simpul-bersimpul yang ujungnya bersambung.
Mengenai asal-mulanya sendiri sebenarnya cukup unik. Di awal tadi disebut bahwa asal motif Triquetra dari Eropa Tengah/Barat. Meskipun begitu, saya juga menyebut bahwa Triquetra bagian dari budaya Celtic (Irlandia-Skotlandia). Pembaca yang awas geografi pasti paham ada yang aneh — dua wilayah itu aslinya terpisah jauh!
Peta wilayah Celtic kuno dan modern
Tentunya timbul pertanyaan, kenapa bisa begitu?
Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna
Posted by pada Maret 29, 2011
Ada hal menarik yang saya temukan kalau sedang baca-baca kisah legenda, baik yang asalnya dari sekitar sini (Indonesia) maupun luar negeri. Bahwasanya banyak pahlawan yang digambarkan sakti mandraguna — pandai bertarung, punya kekebalan tubuh, dan sebagainya — meskipun begitu, karena satu kelemahan, akhirnya terpaksa meregang nyawa. Kelemahannya sendiri kadang ‘ajaib’. Ada yang di punggung; di selangkangan; tumit… malah ada juga yang mati karena dilempar semak!
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Adapun tipe macam ini biasanya jadi pahlawan di kisah yang banyak aksi/melibatkan perang. Sebagai contoh misalnya dalam hikayat Mahabharata atau Iliad. Pokoknya yang melibatkan kesan macho lah. Saya sendiri tidak tahu kenapa. Barangkali karena orang umumnya tidak suka kalau ada pahlawan yang bawaannya menang terus, jadi terpaksa diberi kelemahan fatal. Biar rame, begitu. But I digress…
Seperti apa contoh-contohnya?
Salah satu yang paling saya ingat dan sempat diadopsi jadi nickname berasal dari kebudayaan Jerman Pra-Kristen. Di dunia mitologi ini terdapat sosok yang disebut Ksatria Siegfried. Dalam versi Norse ia bernama Sigurd, akan tetapi di luar itu, kisah hidup mereka sama persis.
Sunday Music File: Various Artists, “Cafe Del Mar XVI” (2009)
Posted by pada Maret 20, 2011
- Album: Cafe Del Mar XVI
- Musisi: (various)
- Label: Cafe Del Mar Music
- Tahun: 2009
Saya pertama kali berkenalan dengan produk Cafe Del Mar waktu masih SMA, lewat koleksi mp3 kepunyaan tante saya. Kesannya sendiri waktu itu cukup positif. Saya suka instrumental dan easy listening, sementara Cafe Del Mar menyuguhkan kombinasi keduanya. Walhasil: sampai sekarang saya jadi salah satu penggemar kompilasi mereka.
Beberapa pembaca mungkin kurang akrab dengan asal-usul Cafe Del Mar, jadi ada baiknya kalau diceritakan sedikit sebagai pengantar.
Kompilasi Cafe Del Mar adalah produk dari sebuah kafe bernama sama yang berlokasi di Ibiza, Spanyol. Kafe ini terkenal dengan musik latar yang mengombinasikan elemen ambient-downtempo dan easy listening. Hasilnya sendiri cukup unik — berbagai musik yang classy tapi tetap memiliki sentuhan pop. Seiring dengan kepopuleran musik tersebut di kalangan pengunjung, manajemen kafe kemudian merilisnya dalam album komersial.
Let’s Talk About Football
Posted by pada Maret 17, 2011
Peristiwa berikut ini terjadi ketika saya baru masuk kuliah, bertahun-tahun lalu, dan sedang menjalani OSPEK jurusan. Waktu itu salah satu acara yang diadakan adalah kumpul-kumpul dan bakti sosial bersama anak jalanan — atau lebih tepatnya, kumpul bersama anak-anak yang mencari nafkah di jalan. Mengapa begitu, sebab sebenarnya ada di antara mereka punya rumah dan keluarga. Hanya saja karena tuntutan ekonomi, jadi terpaksa mengasong atau mengamen.
Nah, yang hendak diceritakan di sini berhubungan dengan anak jalanan di atas.
Layaknya acara OSPEK, setelah kegiatannya selesai, para peserta dikumpulkan oleh panitia untuk melakukan review. Kemudian tiba giliran seorang teman saya — sebutlah namanya berinisal D. Sesudah diberi mikrofon ia bercerita sebagai berikut.
“Sebelumnya saya boleh dibilang tak pernah berinteraksi dengan anak jalanan. Akan tetapi, hari ini saya melihat bahwa mereka dan kita [anak kuliah] sebenarnya tak jauh beda. Contohnya tadi kita ajak main bola, kita sama-sama senang bola. Biarpun gawangnya sandal ditumpuk tapi tetap asyik.”
Untuk dicatat, teman saya di atas adalah seorang gila bola yang — kalau boleh dibilang — cukup berada secara materi. Dia sendiri sering bawa mobil ke kampus. Akan tetapi, ketika berinteraksi dengan anak-anak yang kurang mampu, dia tetap bisa nyambung. Hal yang dia atributkan pada sepakbola. Kasar-kasarnya, karena punya kesukaan yang sama, maka perbedaan sosial jadi agak terjembatani.
Agen perekat sosial?
(via Wikipedia)
Meskipun begitu, jelas tidak tepat kalau mengatakan bahwa aspek sosial sepakbola itu manis belaka. Sama sekali tidak. Siapapun yang serius nonton bola tahu bahwa ada banyak kejadian bentrok karenanya. Mulai dari tawuran Liga Indonesia, tendangan Kung Fu ala Cina, sampai rivalitas berbumbu SARA di Spanyol dan Skotlandia, semua ada. Tentang hal itu ada bahasannya sendiri — akan kita uraikan nanti di tengah tulisan. Untuk saat ini kita bicara dulu tentang aspek sosial bola yang lebih positif.
Sunday Music File: Suzie Villeneuve, “Suzie Villeneuve” (2008)
Posted by pada Maret 13, 2011
Album: Suzie Villeneuve
Musisi: Suzie Villeneuve
Label: Dell’Arte Musique
Tahun: 2008
Biasanya, kalau menulis tentang musik di blog ini, saya membicarakan album yang secara genre agak kurang mainstream. Sebagai contoh misalnya world music, tetapi, ada juga yang elektronika seperti JMJ atau Kraftwerk. Alasannya sendiri ada dua: Pertama, karena umumnya sudah banyak yang membahas genre seputar mainstream; yang kedua, karena saya suka mendengarkan musik yang bergaya unik dan/atau eksperimental. Buat saya nilai plus seorang musisi adalah kalau bisa menyajikan lagu yang enak sambil tetap khas.
Meskipun begitu, untuk kali ini, saya ingin rehat sebentar dengan membahas album yang gayanya agak mainstream-ish. Dalam hal ini genre album tersebut adalah soft rock — dibawakan oleh penyanyi asal Kanada Suzie Villeneuve.
Kiamat dan Seni Menakuti Diri
Posted by pada Maret 12, 2011
Cerita berikut ini terjadi pada tahun 1844, dan melibatkan salah satu sekte Kristiani di Amerika Serikat. Peristiwanya sendiri boleh dibilang cukup unik. Melalui analisis kitab Bibel, pemimpin sekte bernama William Miller mengumumkan: bahwasanya Yesus Kristus akan turun ke bumi paling lambat bulan Oktober 1844. Yesus akan turun ke bumi bersama para santo, membersihkan kejahatan dan kekotoran yang ada. Lalu sesudah itu… kiamat. End of the world as we know it.
William Miller, sang pemimpin sekte
(via wikipedia)
Sepanjang tahun 1844, pengikut Miller — dikatakan berjumlah antara 30.000-100.000 orang[1] — bekerja keras menyebarkan lewat publikasi misionaris. Mengabari bahwa akhir zaman sudah dekat. Awalnya ditetapkan bahwa tanggal turunnya Yesus pada 22 Maret 1844, akan tetapi ketika tanggal itu lewat, dilakukan perhitungan ulang. Akhirnya ditetapkan tanggal “sebenarnya” adalah 22 Oktober.
Emile Durkheim: Memetakan Bunuh Diri
Posted by pada Maret 4, 2011
“There is but one truly serious philosophical problem, and that is suicide. Judging whether life is or is not worth living amounts to answering the fundamental question of philosophy.”
Bapak Emile Durkheim (1858-1917), pelopor ilmu sosiologi asal Prancis, boleh dibilang seorang pemikir yang komplet. Sepanjang hidupnya ia menulis karya-karya berpengaruh terkait kehidupan bermasyarakat: mulai dari perkara religiusitas, perburuhan, hingga teknik penelitian sosial, semua tak lepas dari pengaruhnya.[1]
Adapun di Indonesia, nama Durkheim paling terkenal lewat pelajaran sosiologi SMA. Dalam buku pelajaran biasanya nama beliau disebut bersamaan dengan pelopor ilmu sosiologi sezamannya: Auguste Comte dan Max Weber.
Emile Durkheim (1858-1917)
(courtesy of Wikipedia)
Meskipun begitu, dalam tulisan kali ini, kita tidak akan membahas Durkheim sebagaimana umum dijumpai di buku sekolah. Yang akan dibicarakan di sini adalah gagasan Durkheim yang agak lebih ‘gelap’ dan serius, yaitu “bunuh diri sebagai gejala sosial”.












Recent Comments