ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Arsip Kategori: Science
Di Tengah Samudra Bintang
Posted by pada Desember 1, 2012
Pada tahun 1584, seorang pastor pengembara bernama Giordano Bruno mengumumkan sebuah ide spektakuler, kalau tidak boleh dibilang amat-sangat radikal. Baru empat dekade lewat sejak Nicolaus Copernicus menerbitkan gagasan bumi bergerak mengelilingi matahari, menimbulkan gonjang-ganjing intelektual di seluruh Eropa. Meskipun demikian Bruno melangkah lebih jauh: meneruskan pendapat bahwa Planet Bumi tidak istimewa, melainkan sekadar satelit mengelilingi matahari, Bruno menyatakan bahwa terdapat milyaran bintang mirip-matahari di alam semesta, dan masing-masing mempunyai planet yang mengitarinya.
Ide itu dipaparkan dalam buku berbahasa Italia, De l’infinito universo et mondi, dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi On the Infinite Universe and Worlds.
Thus is the excellence of God magnified and the greatness of his kingdom made manifest; he is glorified not in one, but in countless suns; not in a single earth, a single world, but in a thousand thousand, I say in an infinity of worlds.“
(Waller, 1950; cetak tebal ditambahkan)
Sebagaimana bisa dilihat gagasan Bruno amat melampaui zaman. Belum lama Copernicus menyatakan matahari sebagai pusat, kemudian muncul pendapat bahwa tatasurya ada banyak. Tak bisa tidak, sepak-terjang Bruno menimbulkan kecurigaan dari Gereja Katolik.
Siapa itu Bruno, dan mengapa ia begitu berani?
Giordano Bruno (1548-1600)
(gambar diolah dari Wikipedia)
Tentang Alkimia dan Bapak Jabir
Posted by pada November 12, 2012
Semenanjung Arabia, abad kedelapan Masehi, adalah tempat dan waktu yang menarik, terutama di bidang sejarah ilmu. Pada masa ini peradaban Romawi Kuno mulai lemah dan runtuh; kekuasaannya tinggal bersisa di wilayah Timur. Sementara di Asia Barat Islam sedang tumbuh pesat. Boleh dibilang bahwa ini masa transisi negara adidaya. Secara politik dan sejarah ini saja sudah menarik. Meskipun demikian, untuk tulisan kali ini, kita akan lebih fokus pada dampaknya yang terkait ilmiah.
Sebagaimana masih berlaku hingga saat ini, tidak ada negara adidaya yang maju tanpa didukung ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga berlaku pada Kerajaan Romawi. Selama berabad-abad Romawi telah menampung berbagai ilmu pengetahuan Yunani dan Mesir Kuno. Oleh karena itu mereka mempunyai kemajuan teknik yang mumpuni. Mulai dari arsitektur, pembuatan saluran air, hingga larutan semen dan gelas kaca sudah mereka kuasai. Hal itu kemudian tercermin dalam berbagai peninggalan arkeologi. (Taylor, 1957)
Contoh kemajuan teknologi Romawi: Botol kaca, dari abad ketiga Masehi
(courtesy Metropolitan Museum of Art)
Galois, Matematikawan di Tengah Revolusi
Posted by pada Februari 12, 2012
Kota Paris biasanya terkesan sebagai latar kisah romantis — meskipun demikian, hal itu tidak berlaku di pagi hari 30 Mei 1832. Di sebuah lapangan, seorang pemuda 20 tahun ditemukan terkapar, bersimbah darah, dengan luka tembak di bagian perut. Entah apa yang melatarinya. Oleh warga yang menemukannya, pemuda tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit.
Sayangnya malang tak dapat ditolak. Hanya selang satu hari, si pemuda kemudian meninggal. Pada tanggal 31 Mei ia menghembuskan nafas terakhir. Tidak banyak yang menyadari bahwa, di hari itu, Prancis kehilangan seorang putra terbaik.
Pemuda itu, yang tidak dihargai sepantarannya, adalah seorang cerdas cendekia. Aktivis politik radikal, pembela Revolusi Prancis, dan matematikawan kelas tinggi. Sosok jenius yang neurotik, romantis tapi keras kepala, dan idealis sampai akhir — pemuda itu bernama Évariste Galois.
Évariste Galois (1811-1832)
(via Wikipedia)
Beberapa orang mungkin asing dengan namanya. Siapa itu Galois, dan mengapa ia disebut jenius? Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita singgung nanti. Untuk sementara cukuplah dikatakan bahwa dia membuka cakrawala baru di dunia matematika, yaitu, melalui temuan besarnya: Teori Galois.
Ötzi and The March of Medicinal Science
Posted by pada September 27, 2011
Suatu hari di tahun 1991, dua orang pendaki gunung asal Jerman menemukan sosok manusia terperangkap dalam es. Peristiwanya terjadi ketika mereka sedang mendaki dekat perbatasan Italia-Austria, dan langsung dilaporkan pada otoritas setempat. Peristiwa ini tidak biasa, meskipun begitu, sebenarnya tidak aneh. Gunung yang mereka daki tersebut termasuk rangkaian Pegunungan Alpen. Sebagai salah satu yang tertinggi di Eropa, pegunungan ini sering memakan korban.
Dengan latar belakang demikian, petugas polisi dan medis mencurigai sosok tersebut sebagai pendaki kecelakaan. Skenario umumnya: pendaki yang kurang ahli mengalami terpeleset, lalu jatuh ke dalam gletser dan meninggal. Meskipun begitu analisis ini cuma separuh benar. Ketika temuan tersebut diperiksa mereka sampai pada kesimpulan mencengangkan: sosok tersebut adalah mayat pendaki berusia 5300 tahun. Boleh dibilang bahwa selama ribuan tahun jasadnya terawetkan dalam lapisan es.
Oleh petugas yang memeriksanya, jasad manusia purba ini kemudian dinamai sebagai “Ötzi“.
Ötzi, yang kadang-kadang disebut juga “The Iceman”
(via Wikipedia)
Emile Durkheim: Memetakan Bunuh Diri
Posted by pada Maret 4, 2011
“There is but one truly serious philosophical problem, and that is suicide. Judging whether life is or is not worth living amounts to answering the fundamental question of philosophy.”
Bapak Emile Durkheim (1858-1917), pelopor ilmu sosiologi asal Prancis, boleh dibilang seorang pemikir yang komplet. Sepanjang hidupnya ia menulis karya-karya berpengaruh terkait kehidupan bermasyarakat: mulai dari perkara religiusitas, perburuhan, hingga teknik penelitian sosial, semua tak lepas dari pengaruhnya.[1]
Adapun di Indonesia, nama Durkheim paling terkenal lewat pelajaran sosiologi SMA. Dalam buku pelajaran biasanya nama beliau disebut bersamaan dengan pelopor ilmu sosiologi sezamannya: Auguste Comte dan Max Weber.
Emile Durkheim (1858-1917)
(courtesy of Wikipedia)
Meskipun begitu, dalam tulisan kali ini, kita tidak akan membahas Durkheim sebagaimana umum dijumpai di buku sekolah. Yang akan dibicarakan di sini adalah gagasan Durkheim yang agak lebih ‘gelap’ dan serius, yaitu “bunuh diri sebagai gejala sosial”.
Hal-hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Anda Percaya Riset Statistik
Posted by pada Februari 25, 2011
- Catatan: Semua data yang disajikan bersifat fiktif untuk kepentingan ilustrasi
Salah satu iklan yang menarik perhatian saya, kalau sedang nonton TV, adalah iklan shampoo Pantene. Iklan tersebut mempunyai slogan unik sebagai berikut: “Dalam pengujian tanpa memberitahu mereknya, 91% wanita hendak memakai lagi.”
Sayangnya, walaupun sudah ngubek-ngubek YouTube, saya tidak berhasil menemukan videonya. Jadi, sebagai pengganti, berikut ini saya tampilkan iklan still image versi Bahasa Inggris.
Balada gagal nyari di YouTube — tiada rotan, akar pun jadi
Menariknya adalah bahwa iklan tersebut menyinggung dua elemen penting pengujian ilmiah, yakni statistik dan pengujian buta (blind test). Jadi bolehlah dibilang termasuk promosi yang berkualitas.
Meskipun begitu, yang namanya iklan, sudah pasti ada kepentingannya. Oleh karena itu pemirsa harus membacanya dengan agak skeptis. Memang benar itu data riset, akan tetapi, benarkah cuma segitu?
Nah, tulisan kali ini bertujuan untuk mengenalkan beberapa konsep di balik penyajian statistik. Ada hal-hal yang perlu diketahui sebelum Anda terjebak mempercayai riset statistik, dan berikut ini adalah uraiannya.
Review: “The Origin of Humankind” by Richard Leakey
Posted by pada Februari 18, 2011
- Judul: The Origin of Humankind (Indonesia: Asal-usul Manusia)
- Penulis: Richard Leakey
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tebal: 189 halaman
- Tahun: 2003
Soundscape Engineering
Posted by pada Februari 8, 2011
Waktu masih kuliah dulu, salah satu bidang keahlian yang tersedia di jurusan saya adalah Fisika Bangunan. Boleh dibilang bahwa ini pekerjaan teknik yang bersilangan dengan arsitektur. Apabila arsitek merancang bangunan secara garis besar — semisal tata ruang dan eksterior — maka insinyur Fisika Bangunan membahas aspek fisika dari bangunan tersebut. Sebagai contoh di antaranya adalah properti akustik dan pencahayaan.
Bagaimana caranya supaya auditorium menghasilkan kualitas musik yang optimal?
(via Wikimedia Commons)
Sebagaimana umum diketahui, kualitas pencahayaan (lighting) dan akustik berperan besar dalam mengatur suasana. Sebuah kafe yang bagus, misalnya, tidak akan memasang lampu neon putih 40-watt di ruang pengunjung. Begitu pula dengan auditorium dan teater — akustiknya harus diatur sedemikian rupa agar pengunjung merasakan suasana yang ‘wah’.
Boleh dibilang bahwa Fisika Bangunan berurusan dengan “bagaimana mengoptimalkan aspek fisika dalam ruangan”.
Nah, yang hendak dibicarakan di tulisan ini adalah sekilas tentang sisi akustik bangunan. Melalui prinsip-prinsip fisika seperti pemantulan, penyerapan, dan difusi, para ahli berusaha mendesain agar suatu ruang memiliki kualitas akustik yang mumpuni.
Quotefest + Comment
Posted by pada Januari 25, 2011
Berhubung saya sedang dalam masa penyembuhan, maka hari ini belum menulis serius dulu (cerita agak lengkapnya bisa dibaca di plurk). Oleh karena itu, untuk mengisi jadwal, posting kali ini hanya berisi kutipan dan komentar ringan sahaja.
Catatan: Konteks semua kutipan dari bidang sains/engineering.
Seni Mencocok-cocokkan Diri
Posted by pada Januari 18, 2011
Suatu hari di tahun 1940-an, ahli psikologi Bertram Forer melakukan sebuah eksperimen dalam kelas. Ia menyatakan pada murid-muridnya bahwa ia sedang mengembangkan metode baru analisis kepribadian. Oleh karena itu diharapkan agar mereka turut berpartisipasi mengujinya.
Singkat cerita para murid pun diberi kuesioner. Setelah beberapa hari hasilnya akan diberikan, lalu mereka diminta menilai seberapa akurat hasilnya. Skor ditentukan antara 0 (“tidak akurat”) sampai 5 (“sangat akurat”).
Hasil akhirnya? Tercatat bahwa 87% siswa memberikan nilai 4 (“akurat”) atau 5 (“sangat akurat”). Luar biasa bukan? Meskipun begitu cerita ini belum selesai.











Recent Comments