ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Arsip Kategori: Opinion
Let’s Talk About Football
Posted by pada Maret 17, 2011
Peristiwa berikut ini terjadi ketika saya baru masuk kuliah, bertahun-tahun lalu, dan sedang menjalani OSPEK jurusan. Waktu itu salah satu acara yang diadakan adalah kumpul-kumpul dan bakti sosial bersama anak jalanan — atau lebih tepatnya, kumpul bersama anak-anak yang mencari nafkah di jalan. Mengapa begitu, sebab sebenarnya ada di antara mereka punya rumah dan keluarga. Hanya saja karena tuntutan ekonomi, jadi terpaksa mengasong atau mengamen.
Nah, yang hendak diceritakan di sini berhubungan dengan anak jalanan di atas.
Layaknya acara OSPEK, setelah kegiatannya selesai, para peserta dikumpulkan oleh panitia untuk melakukan review. Kemudian tiba giliran seorang teman saya — sebutlah namanya berinisal D. Sesudah diberi mikrofon ia bercerita sebagai berikut.
“Sebelumnya saya boleh dibilang tak pernah berinteraksi dengan anak jalanan. Akan tetapi, hari ini saya melihat bahwa mereka dan kita [anak kuliah] sebenarnya tak jauh beda. Contohnya tadi kita ajak main bola, kita sama-sama senang bola. Biarpun gawangnya sandal ditumpuk tapi tetap asyik.”
Untuk dicatat, teman saya di atas adalah seorang gila bola yang — kalau boleh dibilang — cukup berada secara materi. Dia sendiri sering bawa mobil ke kampus. Akan tetapi, ketika berinteraksi dengan anak-anak yang kurang mampu, dia tetap bisa nyambung. Hal yang dia atributkan pada sepakbola. Kasar-kasarnya, karena punya kesukaan yang sama, maka perbedaan sosial jadi agak terjembatani.
Agen perekat sosial?
(via Wikipedia)
Meskipun begitu, jelas tidak tepat kalau mengatakan bahwa aspek sosial sepakbola itu manis belaka. Sama sekali tidak. Siapapun yang serius nonton bola tahu bahwa ada banyak kejadian bentrok karenanya. Mulai dari tawuran Liga Indonesia, tendangan Kung Fu ala Cina, sampai rivalitas berbumbu SARA di Spanyol dan Skotlandia, semua ada. Tentang hal itu ada bahasannya sendiri — akan kita uraikan nanti di tengah tulisan. Untuk saat ini kita bicara dulu tentang aspek sosial bola yang lebih positif.
Kiamat dan Seni Menakuti Diri
Posted by pada Maret 12, 2011
Cerita berikut ini terjadi pada tahun 1844, dan melibatkan salah satu sekte Kristiani di Amerika Serikat. Peristiwanya sendiri boleh dibilang cukup unik. Melalui analisis kitab Bibel, pemimpin sekte bernama William Miller mengumumkan: bahwasanya Yesus Kristus akan turun ke bumi paling lambat bulan Oktober 1844. Yesus akan turun ke bumi bersama para santo, membersihkan kejahatan dan kekotoran yang ada. Lalu sesudah itu… kiamat. End of the world as we know it.
William Miller, sang pemimpin sekte
(via wikipedia)
Sepanjang tahun 1844, pengikut Miller — dikatakan berjumlah antara 30.000-100.000 orang[1] — bekerja keras menyebarkan lewat publikasi misionaris. Mengabari bahwa akhir zaman sudah dekat. Awalnya ditetapkan bahwa tanggal turunnya Yesus pada 22 Maret 1844, akan tetapi ketika tanggal itu lewat, dilakukan perhitungan ulang. Akhirnya ditetapkan tanggal “sebenarnya” adalah 22 Oktober.
Hal-hal yang mendorong saya jadi internasionalis…
Posted by pada Maret 1, 2011
-
in·ter·na·tion·al·ism (noun)
1 : international character, principles, interests, or outlook
2
a : a policy of cooperation among nations
b : an attitude or belief favoring such a policy
— dari Merriam-Webster Dictionary
Barangkali kalau boleh dibilang, saya adalah orang yang menganggap bahwa batas negara itu semu (penjelasan lebih lanjutnya bisa dibaca di posting lama: [1], [2]). Bukan berarti saya bilang bahwa negara itu tidak penting, sih. Sebagai seorang libertarian saya menilai bahwa negara itu dibutuhkan sebagai suatu badan administrasi (state) — tidak realistis kalau masyarakat diharapkan mengatur dirinya sendiri.
Akan tetapi, tidak perlulah yang namanya nasionalisme itu digadang-gadang berlebihan. Apalagi sampai menyatakan bahwa negara lain mesti diganyang atau sebagainya.
Misalnya contoh di atas
Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung
Posted by pada Februari 15, 2011
“Kita membuat sesuatu hasil karya kita sendiri; dan orang lain bisa jadi sangat senang gara-gara benda itu — atau bisa jadi sangat depresi, gara-gara benda sialan buatan kita sendiri itu!”
— Richard Feynman
(dalam terjemahan Indonesia Surely You’re Joking, Mr. Feynman!, Penerbit Mizan, 2004)
Awal mulanya sebenarnya tidak menarik: saya sedang mengecek e-mail, lalu terbaca pemberitahuan trackback dari tulisan barunya Pak Guru Geddoe. Di situ beliau menaut tulisan saya tentang Homo religiosus tempo hari. Oleh karena itu, sebagai blogger yang bertanggung jawab, sudah tentu saya memeriksa ada apa gerangan yang dibahas di sana. (=3=)
Dan ternyata… eh ternyata… yang dibahas adalah tentang sinetron!
Poster yang dipajang di blog tersebut. Homo sinetronosus?
Ada Berapa Banyak Agama di Dunia Ini? (Sebuah Renungan Filosofis)
Posted by pada Februari 11, 2011
- Catatan: Ditulis oleh seorang pemikir bebas berhaluan agnostik (Skala Dawkins 4, if that helps
Ada sebuah pertanyaan yang pertama kali terlintas bertahun-tahun lalu, kurang lebih ketika saya masih SMA. Waktu itu saya bertanya dalam hati seperti ini: “Sebenarnya, ada berapa banyak agama di dunia ini?”
Sebenarnya ada cerita di balik munculnya pertanyaan di atas. Gara-garanya waktu itu, saya baru selesai membaca buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Ini buku menarik yang mengetengahkan tentang sejarah perjalanan agama-agama di dunia — terutama agama Abrahamik seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Boleh dibilang bahwa buku ini mengenalkan saya pada macam-ragam keyakinan pada Tuhan yang ada di dunia.
Perkara perbedaan agama sendiri bukan hal yang asing bagi saya. Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan multikultur pinggiran Jakarta, saya terbiasa melihat agama dan keyakinan yang berbeda. Teman-teman SD saya dulu boleh dibilang mewakili berbagai agama di Indonesia. Yang Katolik ada; Protestan ada; Hindu juga ada. Mengenai Islam tentu tak usah ditanya — sebagaimana bisa ditebak, statusnya bersifat mayoritas di wilayah tersebut.
Plato dan Gua (alias: Menanam Kerendahan Hati Intelektual)
Posted by pada Februari 5, 2011
Secara kebetulan melanjutkan tema Yunani Kuno. Setelah minggu lalu Zeno, sekarang Plato.
Barangkali kalau boleh dibilang, Plato (428-348 SM) adalah filsuf Yunani Kuno yang paling terkenal. Lewat karya besar seperti Republik dan Dialog gagasannya membentuk fondasi peradaban Barat. Mulai dari bidang pemerintahan, etika, hingga ilmu logika, semua tak lepas dari pengaruh pemikirannya.
Plato sebagaimana digambarkan dalam sebuah lukisan Renaissance
(courtesy of Wikipedia)
Layaknya filsuf Yunani sezamannya, Plato sering menggunakan analogi dan ilustrasi untuk menjelaskan ide-idenya. Tujuannya tentu supaya orang lebih mudah memahami maksudnya. Lewat analogi dan ilustrasi inilah orang-orang awam — yang tidak terlatih ilmu filsafat — dapat membayangkan argumen Plato.
Did Social Media Kill My Blog?
Posted by pada Januari 14, 2011
- Disclaimer: Tulisan ini banyak mengandung angka dan grafik. Pembaca yang alergi, waspadalah!
Jadi ceritanya, beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan Pak Guru Difo (
) di Facebook. Sebenarnya cuma ngobrol santai biasa — meskipun begitu, topiknya nyerempet soal aktivitas saya di blog ini. Waktu itu beliau bertanya: “Kira-kira di blog baru ini, bakal menulis hal yang personal/keseharian tidak?”
Saya bilang bahwa kemungkinan bakal jarang. Sebab maunya saya, blog ini punya garis besar haluan tersendiri. Blog ini cuma akan membahas soal sains, kultur, filsafat — kecuali kalau ada pengalaman sehari-hari yang masuk lingkup tersebut, bisa saya posting. Kira-kira seperti itulah detailnya.
“Jadi memutuskan cerebral flatulence-nya disalurkan di socmed saja?”
“Sebenarnya memang begitu. Socmed itu penyebab tewasnya blog lama saya, sebab, semua yang personal sudah masuk ke plurk/fesbuk…” =))
***
Meskipun begitu, gara-gara obrolan tersebut, saya jadi kepikiran juga sedikit. Sebenarnya, benarkah seperti itu? Did social media kill my blog? And in case it did, how?
Sepakbola dan Permutasi Kewarganegaraan
Posted by pada Januari 4, 2011
Pre-script Note:
Cerita awalnya sebenarnya tidak menarik — saya sedang melamun, lalu berpikir tentang sepakbola. Lalu kemudian ide itu berkembang dan melimpah ruah jadi tulisan di bawah ini. Kejadiannya sendiri tadi siang menjelang sore, dan langsung saya tuliskan di notepad… singkat cerita, tulisan ini benar-benar baru selesai. Jadi mohon maaf kalau hasilnya agak berantakan.
Di dunia sepakbola — terutama liga Eropa — banyak sekali contoh pemain yang eligible untuk berpindah kewarganegaraan. Sebenarnya ini hal biasa; namanya juga orang tinggal di bumi. Meskipun begitu yang hendak saya bahas di sini bukan pindah negaranya, melainkan jumlah negara yang bisa dipilihnya. Dalam kasus ekstrim seorang pemain bola dapat eligible untuk memilih kewarganegaraan antara tiga hingga empat negara. Misalnya contoh berikut.
Filosofi Kurva Diskrit
Posted by pada Desember 22, 2010
Di bidang teknik, terdapat sebuah metode yang disebut konversi analog ke digital. Sekilas namanya terdengar seram, meskipun begitu, sebenarnya intinya cukup sederhana: bagaimana menerjemahkan data fisika — yang bersifat analog — supaya bisa diolah secara digital. Contoh penerapannya misalnya pada speedometer digital atau termometer kopel.
Nah, data digital tersebut kemudian akan diolah oleh komputer. Tujuannya tentu untuk memudahkan kerja insinyur. Sebagai contoh kita ambil kegiatan dalam pabrik — di dalamnya terdapat puluhan tangki yang tekanan, suhu, dan level cairannya harus dimonitor 24 jam nonstop. Berhubung data dan perhitungannya rumit, maka hampir mustahil dilakukan secara manual. Oleh karena itu lebih baik diserahkan pada komputer.
Meskipun begitu, proses menggunakan komputer ini bukannya tanpa cacat. Dalam melakukan konversi analog ke digital sudah pasti ada data yang hilang. Penjelasannya kira-kira seperti berikut.








Recent Comments