ZENOSPHERE

bungee-jumping from the ivory tower

Arsip Kategori: Culture

Tentang Alkimia dan Bapak Jabir

Semenanjung Arabia, abad kedelapan Masehi, adalah tempat dan waktu yang menarik, terutama di bidang sejarah ilmu. Pada masa ini peradaban Romawi Kuno mulai lemah dan runtuh; kekuasaannya tinggal bersisa di wilayah Timur. Sementara di Asia Barat Islam sedang tumbuh pesat. Boleh dibilang bahwa ini masa transisi negara adidaya. Secara politik dan sejarah ini saja sudah menarik. Meskipun demikian, untuk tulisan kali ini, kita akan lebih fokus pada dampaknya yang terkait ilmiah.

Sebagaimana masih berlaku hingga saat ini, tidak ada negara adidaya yang maju tanpa didukung ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga berlaku pada Kerajaan Romawi. Selama berabad-abad Romawi telah menampung berbagai ilmu pengetahuan Yunani dan Mesir Kuno. Oleh karena itu mereka mempunyai kemajuan teknik yang mumpuni. Mulai dari arsitektur, pembuatan saluran air, hingga larutan semen dan gelas kaca sudah mereka kuasai. Hal itu kemudian tercermin dalam berbagai peninggalan arkeologi. (Taylor, 1957)

botol kaca romawi, courtesy metmuseum

Contoh kemajuan teknologi Romawi: Botol kaca, dari abad ketiga Masehi

(courtesy Metropolitan Museum of Art)

Klik untuk melanjutkan »

“Mengintip” Hakikat Lewat Nasrudin Hoja

    Catatan: Referensi untuk kisah Nasrudin tersedia di bagian akhir tulisan

 

Sepanjang sejarah dunia, ada banyak tokoh yang diceritakan sebagai “tukang bercanda” — atau kalau boleh dibilang, “tidak pernah serius”. Mengenai hal ini ada banyak contohnya. Misalnya, di Jerman terdapat Till Eulenspiegel. Kalau di Arab yang terkenal Abu Nawas, sementara di budaya Yahudi Hershel Ostropol. Orang-orang semacam ini digambarkan hobi mengusili masyarakat sekitar. Saking hobinya, sedemikian hingga mencapai status legendaris… oleh karena itu tidak heran jika di masa kini pun banyak kisah diceritakan tentang mereka.

Nah, salah satu sosok “tukang bercanda” yang masuk dalam sejarah itu adalah Nasrudin Hoja. Beliau digambarkan sebagai guru Sufi yang hidup di Turki pada abad 13 Masehi. :D

nasruddin hodja

Nasruddin Hoja digambarkan sedang menunggang keledai

(via Wikipedia)

Klik untuk melanjutkan »

Bassai Dai

Waktu masih SMA dulu, saya sempat beberapa waktu ikut latihan karate (tidak begitu jauh; cuma setahun dan sampai sabuk hijau). Meskipun cuma sebentar, tetapi latihannya cukup berkesan — sedemikian hingga saya jadi suka iseng jalan-jalan di YouTube dan search video karate. Sekalian menyegarkan ingatan, begitu. :P

Nah, salah satu jenis video karate yang saya suka nonton adalah kata. Atau dalam istilah awamnya: rangkaian gerakan yang harus dihafalkan dan diperagakan oleh seorang karateka. Adapun kerumitan kata dikelompokkan berdasarkan tingkat; semakin tinggi level pelajaran maka akan semakin sulit dan kompleks.

Saya sendiri, berhubung sampai akhir berstatus relatif kroco, cuma pernah belajar sampai kata IV. Akan tetapi berhubung latihannya tidak dipisah, jadinya sering nonton para senior latihan. Dan dari situ jadi tahu sebuah kata yang — entah kenapa — selalu bikin kagum tiap kali saya melihatnya. Sebagaimana bisa ditebak namanya persis seperti yang dijadikan judul posting: Bassai Dai (披塞大).

Klik untuk melanjutkan »

Sunday Book Review: “The Writing Revolution”, by A.E. Gnanadesikan (2009)

A.E. Gnanadesikan - The Writing Revolution (cover)

        • Judul: The Writing Revolution: Cuneiform to the Internet
        • Penulis: Amalia E. Gnanadesikan
        • Penerbit: Wiley-Blackwell
        • Tebal: xx + 310 halaman
        • Tahun: 2009

        Barangkali kalau boleh dibilang, hampir semua cerita, sejarah, dan ilmu pengetahuan kita direkam berbentuk buku. Mulai dari epik Yunani Kuno, drama Shakespeare, sampai Principia Mathematica Isaac Newton, semua dirangkum berbentuk buku. Masalahnya tinggal apakah orang bisa membaca (atau menulis) ilmu-ilmu yang berguna tersebut. Kemampuan membaca dan menulis ibaratnya kunci menuju pengetahuan yang beragam.

        Nah, buku yang hendak saya review kali ini membahas topik yang disebut terakhir. Disadari atau tidak, sebenarnya kemampuan baca-tulis adalah hal yang amat signifikan. Sebagai contoh, dengan menguasai aksara orang dapat merekam perjalanan hidup, administrasi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu wajar jika orang bertanya: “Bagaimana sih ceritanya peradaban manusia berkembang, hingga bisa menemukan ilmu membaca dan menulis?” ;)

        Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh penulis A.E. Gnanadesikan — seorang ahli bahasa lulusan Universitas Massachusetts Amherst. Lewat buku ini beliau seolah mengajak pembacanya bertualang di bidang arkeologi; menelusuri perkembangan aksara dari zaman kuno hingga era modern.

        Klik untuk melanjutkan »

        Kisah Sang Cincinnatus

        Apa yang terbayang di benak Anda jika mendengar kata “Diktator”? Bagi sebagian orang istilah tersebut berkesan negatif — kasar-kasarnya, pemimpin yang berkuasa mutlak dan menyelewengkan untuk kepentingan pribadi. Meskipun begitu lain halnya dengan Jendral Romawi bernama Lucius Quinctius Cincinnatus. Ia adalah sosok diktator yang dicintai masyarakat. Dua kali keadaan darurat, Senat memberinya kekuasaan mutlak memimpin negara, sebab memang dia jendral yang hebat. Berkat kepemimpinannya Republik Romawi selamat dari agresi suku Aequi dan konspirasi Spurius Maelius.

        Akan tetapi menariknya: dua kali Cincinnatus jadi diktator, dua kali pula ia mengundurkan diri. Sesudah tugasnya selesai ia lebih suka melanjutkan hidup bertani di desa — boleh dibilang berkebalikan dengan berbagai diktator yang terdapat di era klasik. Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita bahas di bagian selanjutnya. :D

        cincinnatus-statue

        Lucius Quinctius Cincinnatus (519-438 SM)

        (courtesy of BadassOfTheWeek.com)

        Klik untuk melanjutkan »

        Triquetra dan Celtic Knot

        Triquetra adalah motif ornamen yang berasal dari zaman besi di wilayah Eropa Tengah/Barat. Bentuknya sendiri cukup unik. Sekilas seperti daun berhelai tiga, dan bisa digambar dengan sekali tarik.

        triquetra

        (via Wikipedia)

        Sebagaimana bisa dilihat, bentuknya menyerupai rotan yang dibengkokkan, menghasilkan bentuk simpul yang artistik. Sebenarnya memang itu disengaja. Triquetra adalah bentuk sederhana dari seni ornamen yang lebih kompleks bernama Celtic Knot (“simpul Celtic”). Dinamai seperti itu karena — kalau gambar Celtic Knot ditelusuri — bentuknya seperti simpul-bersimpul yang ujungnya bersambung. :D

        Mengenai asal-mulanya sendiri sebenarnya cukup unik. Di awal tadi disebut bahwa asal motif Triquetra dari Eropa Tengah/Barat. Meskipun begitu, saya juga menyebut bahwa Triquetra bagian dari budaya Celtic (Irlandia-Skotlandia). Pembaca yang awas geografi pasti paham ada yang aneh — dua wilayah itu aslinya terpisah jauh! :-?

        ancient vs modern celtic (map)

        Peta wilayah Celtic kuno dan modern

        Tentunya timbul pertanyaan, kenapa bisa begitu?

        Klik untuk melanjutkan »

        Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna

        Ada hal menarik yang saya temukan kalau sedang baca-baca kisah legenda, baik yang asalnya dari sekitar sini (Indonesia) maupun luar negeri. Bahwasanya banyak pahlawan yang digambarkan sakti mandraguna — pandai bertarung, punya kekebalan tubuh, dan sebagainya — meskipun begitu, karena satu kelemahan, akhirnya terpaksa meregang nyawa. Kelemahannya sendiri kadang ‘ajaib’. Ada yang di punggung; di selangkangan; tumit… malah ada juga yang mati karena dilempar semak! :mrgreen: Lucu juga kalau dipikir-pikir.

        Adapun tipe macam ini biasanya jadi pahlawan di kisah yang banyak aksi/melibatkan perang. Sebagai contoh misalnya dalam hikayat Mahabharata atau Iliad. Pokoknya yang melibatkan kesan macho lah. Saya sendiri tidak tahu kenapa. Barangkali karena orang umumnya tidak suka kalau ada pahlawan yang bawaannya menang terus, jadi terpaksa diberi kelemahan fatal. Biar rame, begitu. But I digress…

         
        Seperti apa contoh-contohnya?
         

        Salah satu yang paling saya ingat dan sempat diadopsi jadi nickname berasal dari kebudayaan Jerman Pra-Kristen. Di dunia mitologi ini terdapat sosok yang disebut Ksatria Siegfried. Dalam versi Norse ia bernama Sigurd, akan tetapi di luar itu, kisah hidup mereka sama persis.

        Klik untuk melanjutkan »

        Let’s Talk About Football

        Peristiwa berikut ini terjadi ketika saya baru masuk kuliah, bertahun-tahun lalu, dan sedang menjalani OSPEK jurusan. Waktu itu salah satu acara yang diadakan adalah kumpul-kumpul dan bakti sosial bersama anak jalanan — atau lebih tepatnya, kumpul bersama anak-anak yang mencari nafkah di jalan. Mengapa begitu, sebab sebenarnya ada di antara mereka punya rumah dan keluarga. Hanya saja karena tuntutan ekonomi, jadi terpaksa mengasong atau mengamen.

        Nah, yang hendak diceritakan di sini berhubungan dengan anak jalanan di atas.

        Layaknya acara OSPEK, setelah kegiatannya selesai, para peserta dikumpulkan oleh panitia untuk melakukan review. Kemudian tiba giliran seorang teman saya — sebutlah namanya berinisal D. Sesudah diberi mikrofon ia bercerita sebagai berikut.

        “Sebelumnya saya boleh dibilang tak pernah berinteraksi dengan anak jalanan. Akan tetapi, hari ini saya melihat bahwa mereka dan kita [anak kuliah] sebenarnya tak jauh beda. Contohnya tadi kita ajak main bola, kita sama-sama senang bola. Biarpun gawangnya sandal ditumpuk tapi tetap asyik.”

        Untuk dicatat, teman saya di atas adalah seorang gila bola yang — kalau boleh dibilang — cukup berada secara materi. Dia sendiri sering bawa mobil ke kampus. Akan tetapi, ketika berinteraksi dengan anak-anak yang kurang mampu, dia tetap bisa nyambung. Hal yang dia atributkan pada sepakbola. Kasar-kasarnya, karena punya kesukaan yang sama, maka perbedaan sosial jadi agak terjembatani.

        bola sepak

        Agen perekat sosial?

        (via Wikipedia)

        Meskipun begitu, jelas tidak tepat kalau mengatakan bahwa aspek sosial sepakbola itu manis belaka. Sama sekali tidak. Siapapun yang serius nonton bola tahu bahwa ada banyak kejadian bentrok karenanya. Mulai dari tawuran Liga Indonesia, tendangan Kung Fu ala Cina, sampai rivalitas berbumbu SARA di Spanyol dan Skotlandia, semua ada. Tentang hal itu ada bahasannya sendiri — akan kita uraikan nanti di tengah tulisan. Untuk saat ini kita bicara dulu tentang aspek sosial bola yang lebih positif. ;)

        Klik untuk melanjutkan »

        Hal-hal yang mendorong saya jadi internasionalis…

            in·ter·na·tion·al·ism (noun)

             
            1 : international character, principles, interests, or outlook

            2
            a : a policy of cooperation among nations
            b : an attitude or belief favoring such a policy

             
            — dari Merriam-Webster Dictionary

           

          Barangkali kalau boleh dibilang, saya adalah orang yang menganggap bahwa batas negara itu semu (penjelasan lebih lanjutnya bisa dibaca di posting lama: [1], [2]). Bukan berarti saya bilang bahwa negara itu tidak penting, sih. Sebagai seorang libertarian saya menilai bahwa negara itu dibutuhkan sebagai suatu badan administrasi (state) — tidak realistis kalau masyarakat diharapkan mengatur dirinya sendiri.

          Akan tetapi, tidak perlulah yang namanya nasionalisme itu digadang-gadang berlebihan. Apalagi sampai menyatakan bahwa negara lain mesti diganyang atau sebagainya.

          malingsia vs indonsial

          Misalnya contoh di atas

          Klik untuk melanjutkan »

          Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung

          “Kita membuat sesuatu hasil karya kita sendiri; dan orang lain bisa jadi sangat senang gara-gara benda itu — atau bisa jadi sangat depresi, gara-gara benda sialan buatan kita sendiri itu!”

          — Richard Feynman
          (dalam terjemahan Indonesia Surely You’re Joking, Mr. Feynman!, Penerbit Mizan, 2004)

           

          Awal mulanya sebenarnya tidak menarik: saya sedang mengecek e-mail, lalu terbaca pemberitahuan trackback dari tulisan barunya Pak Guru Geddoe. Di situ beliau menaut tulisan saya tentang Homo religiosus tempo hari. Oleh karena itu, sebagai blogger yang bertanggung jawab, sudah tentu saya memeriksa ada apa gerangan yang dibahas di sana. (=3=)

          Dan ternyata… eh ternyata… yang dibahas adalah tentang sinetron! :o

          poster-koin-pyd

          Poster yang dipajang di blog tersebut. Homo sinetronosus?

          Klik untuk melanjutkan »

          Ikuti

          Get every new post delivered to your Inbox.

          Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.