ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Pustaka Murah-Meriah di Tahun Baru
Posted by pada Januari 1, 2013
Sebagaimana bisa dibaca di halaman About, saya adalah pendukung Free Culture Movement. Maksudnya bukan budaya bebas-aturan, tentu, melainkan budaya kebebasan informasi. Bahwasanya informasi itu — apalagi yang bersifat krusial seperti pendidikan — harusnya tidak dikekap-kekap, apalagi dipakai mengambil untung. Orang sering bilang bahwa untuk mencerdaskan bangsa, yang pertama dibutuhkan adalah buku. Tapi bagaimana caranya jika buku teks saja harganya selangit. But I digress.
Oleh karena itu, mengawali tahun 2013 ini, ada baiknya kalau saya berbagi resource pustaka gratis (dan legal!) yang saya tahu. Bukan cuma public domain, melainkan juga materi modern yang dibebaskan oleh pembuatnya. Baik itu fiksi, nonfiksi, buku teks, hingga materi lecture notes.
Di Tengah Samudra Bintang
Posted by pada Desember 1, 2012
Pada tahun 1584, seorang pastor pengembara bernama Giordano Bruno mengumumkan sebuah ide spektakuler, kalau tidak boleh dibilang amat-sangat radikal. Baru empat dekade lewat sejak Nicolaus Copernicus menerbitkan gagasan bumi bergerak mengelilingi matahari, menimbulkan gonjang-ganjing intelektual di seluruh Eropa. Meskipun demikian Bruno melangkah lebih jauh: meneruskan pendapat bahwa Planet Bumi tidak istimewa, melainkan sekadar satelit mengelilingi matahari, Bruno menyatakan bahwa terdapat milyaran bintang mirip-matahari di alam semesta, dan masing-masing mempunyai planet yang mengitarinya.
Ide itu dipaparkan dalam buku berbahasa Italia, De l’infinito universo et mondi, dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi On the Infinite Universe and Worlds.
Thus is the excellence of God magnified and the greatness of his kingdom made manifest; he is glorified not in one, but in countless suns; not in a single earth, a single world, but in a thousand thousand, I say in an infinity of worlds.“
(Waller, 1950; cetak tebal ditambahkan)
Sebagaimana bisa dilihat gagasan Bruno amat melampaui zaman. Belum lama Copernicus menyatakan matahari sebagai pusat, kemudian muncul pendapat bahwa tatasurya ada banyak. Tak bisa tidak, sepak-terjang Bruno menimbulkan kecurigaan dari Gereja Katolik.
Siapa itu Bruno, dan mengapa ia begitu berani?
Giordano Bruno (1548-1600)
(gambar diolah dari Wikipedia)
Tentang Alkimia dan Bapak Jabir
Posted by pada November 12, 2012
Semenanjung Arabia, abad kedelapan Masehi, adalah tempat dan waktu yang menarik, terutama di bidang sejarah ilmu. Pada masa ini peradaban Romawi Kuno mulai lemah dan runtuh; kekuasaannya tinggal bersisa di wilayah Timur. Sementara di Asia Barat Islam sedang tumbuh pesat. Boleh dibilang bahwa ini masa transisi negara adidaya. Secara politik dan sejarah ini saja sudah menarik. Meskipun demikian, untuk tulisan kali ini, kita akan lebih fokus pada dampaknya yang terkait ilmiah.
Sebagaimana masih berlaku hingga saat ini, tidak ada negara adidaya yang maju tanpa didukung ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga berlaku pada Kerajaan Romawi. Selama berabad-abad Romawi telah menampung berbagai ilmu pengetahuan Yunani dan Mesir Kuno. Oleh karena itu mereka mempunyai kemajuan teknik yang mumpuni. Mulai dari arsitektur, pembuatan saluran air, hingga larutan semen dan gelas kaca sudah mereka kuasai. Hal itu kemudian tercermin dalam berbagai peninggalan arkeologi. (Taylor, 1957)
Contoh kemajuan teknologi Romawi: Botol kaca, dari abad ketiga Masehi
(courtesy Metropolitan Museum of Art)
The Wibbly-wobbly Tapestry of Being Human
Posted by pada November 1, 2012
— Tulisan bersifat umum untuk menandai kembali ngeblog
Ada sebuah buku yang, kalau saya boleh jujur, berperan sangat besar membentuk diri saya yang sekarang. Bukunya sendiri terbitan tahun 1983, jadi secara umur, masih lebih tua daripada saya. Membayangkannya saja membuat saya rikuh — jadi merasa kecil di tengah perjalanan waktu, begitu. But I digress.
Anyway, yang saya maksud di sini adalah sebuah pengantar filsafat, yang sampulnya bisa Anda lihat di bawah ini.
“Manusia Multi Dimensional”, kumpulan esai terbitan Unika Atmajaya
Galois, Matematikawan di Tengah Revolusi
Posted by pada Februari 12, 2012
Kota Paris biasanya terkesan sebagai latar kisah romantis — meskipun demikian, hal itu tidak berlaku di pagi hari 30 Mei 1832. Di sebuah lapangan, seorang pemuda 20 tahun ditemukan terkapar, bersimbah darah, dengan luka tembak di bagian perut. Entah apa yang melatarinya. Oleh warga yang menemukannya, pemuda tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit.
Sayangnya malang tak dapat ditolak. Hanya selang satu hari, si pemuda kemudian meninggal. Pada tanggal 31 Mei ia menghembuskan nafas terakhir. Tidak banyak yang menyadari bahwa, di hari itu, Prancis kehilangan seorang putra terbaik.
Pemuda itu, yang tidak dihargai sepantarannya, adalah seorang cerdas cendekia. Aktivis politik radikal, pembela Revolusi Prancis, dan matematikawan kelas tinggi. Sosok jenius yang neurotik, romantis tapi keras kepala, dan idealis sampai akhir — pemuda itu bernama Évariste Galois.
Évariste Galois (1811-1832)
(via Wikipedia)
Beberapa orang mungkin asing dengan namanya. Siapa itu Galois, dan mengapa ia disebut jenius? Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita singgung nanti. Untuk sementara cukuplah dikatakan bahwa dia membuka cakrawala baru di dunia matematika, yaitu, melalui temuan besarnya: Teori Galois.
Ötzi and The March of Medicinal Science
Posted by pada September 27, 2011
Suatu hari di tahun 1991, dua orang pendaki gunung asal Jerman menemukan sosok manusia terperangkap dalam es. Peristiwanya terjadi ketika mereka sedang mendaki dekat perbatasan Italia-Austria, dan langsung dilaporkan pada otoritas setempat. Peristiwa ini tidak biasa, meskipun begitu, sebenarnya tidak aneh. Gunung yang mereka daki tersebut termasuk rangkaian Pegunungan Alpen. Sebagai salah satu yang tertinggi di Eropa, pegunungan ini sering memakan korban.
Dengan latar belakang demikian, petugas polisi dan medis mencurigai sosok tersebut sebagai pendaki kecelakaan. Skenario umumnya: pendaki yang kurang ahli mengalami terpeleset, lalu jatuh ke dalam gletser dan meninggal. Meskipun begitu analisis ini cuma separuh benar. Ketika temuan tersebut diperiksa mereka sampai pada kesimpulan mencengangkan: sosok tersebut adalah mayat pendaki berusia 5300 tahun. Boleh dibilang bahwa selama ribuan tahun jasadnya terawetkan dalam lapisan es.
Oleh petugas yang memeriksanya, jasad manusia purba ini kemudian dinamai sebagai “Ötzi“.
Ötzi, yang kadang-kadang disebut juga “The Iceman”
(via Wikipedia)
“Mengintip” Hakikat Lewat Nasrudin Hoja
Posted by pada Mei 25, 2011
- Catatan: Referensi untuk kisah Nasrudin tersedia di bagian akhir tulisan
Sepanjang sejarah dunia, ada banyak tokoh yang diceritakan sebagai “tukang bercanda” — atau kalau boleh dibilang, “tidak pernah serius”. Mengenai hal ini ada banyak contohnya. Misalnya, di Jerman terdapat Till Eulenspiegel. Kalau di Arab yang terkenal Abu Nawas, sementara di budaya Yahudi Hershel Ostropol. Orang-orang semacam ini digambarkan hobi mengusili masyarakat sekitar. Saking hobinya, sedemikian hingga mencapai status legendaris… oleh karena itu tidak heran jika di masa kini pun banyak kisah diceritakan tentang mereka.
Nah, salah satu sosok “tukang bercanda” yang masuk dalam sejarah itu adalah Nasrudin Hoja. Beliau digambarkan sebagai guru Sufi yang hidup di Turki pada abad 13 Masehi.
Nasruddin Hoja digambarkan sedang menunggang keledai
(via Wikipedia)
Sunday Music File: Tangerine Dream, “Melrose” (1990)
Posted by pada Mei 8, 2011
- Album: Melrose
- Musisi: Tangerine Dream
- Label: Private Music
- Tahun: 1990
Kalau boleh jujur, saya orangnya cukup tertarik pada musik instrumental. Alat musiknya sendiri terserah saja — tradisional boleh, klasik boleh; synthesizer juga tak apa. Yang penting eksekusinya bagus saja sih. Akibatnya sendiri cukup jelas: koleksi yang saya punya di harddisk jadi gado-gado nyeleneh. Piano klasik Glenn Gould ada; musik etnik The Chieftains juga ada. Pokoknya semacam itulah. ^^;
Nah, sejalan dengan itu, album yang hendak dibahas kali ini juga memiliki gaya instrumental. Dirilis dengan judul Melrose, album ini merupakan produk musisi Tangerine Dream pada dekade 1990-an.
Bassai Dai
Posted by pada Mei 6, 2011
Waktu masih SMA dulu, saya sempat beberapa waktu ikut latihan karate (tidak begitu jauh; cuma setahun dan sampai sabuk hijau). Meskipun cuma sebentar, tetapi latihannya cukup berkesan — sedemikian hingga saya jadi suka iseng jalan-jalan di YouTube dan search video karate. Sekalian menyegarkan ingatan, begitu.
Nah, salah satu jenis video karate yang saya suka nonton adalah kata. Atau dalam istilah awamnya: rangkaian gerakan yang harus dihafalkan dan diperagakan oleh seorang karateka. Adapun kerumitan kata dikelompokkan berdasarkan tingkat; semakin tinggi level pelajaran maka akan semakin sulit dan kompleks.
Saya sendiri, berhubung sampai akhir berstatus relatif kroco, cuma pernah belajar sampai kata IV. Akan tetapi berhubung latihannya tidak dipisah, jadinya sering nonton para senior latihan. Dan dari situ jadi tahu sebuah kata yang — entah kenapa — selalu bikin kagum tiap kali saya melihatnya. Sebagaimana bisa ditebak namanya persis seperti yang dijadikan judul posting: Bassai Dai (披塞大).
Sunday Book Review: “The Writing Revolution”, by A.E. Gnanadesikan (2009)
Posted by pada Mei 1, 2011
- Judul: The Writing Revolution: Cuneiform to the Internet
- Penulis: Amalia E. Gnanadesikan
- Penerbit: Wiley-Blackwell
- Tebal: xx + 310 halaman
- Tahun: 2009
Barangkali kalau boleh dibilang, hampir semua cerita, sejarah, dan ilmu pengetahuan kita direkam berbentuk buku. Mulai dari epik Yunani Kuno, drama Shakespeare, sampai Principia Mathematica Isaac Newton, semua dirangkum berbentuk buku. Masalahnya tinggal apakah orang bisa membaca (atau menulis) ilmu-ilmu yang berguna tersebut. Kemampuan membaca dan menulis ibaratnya kunci menuju pengetahuan yang beragam.
Nah, buku yang hendak saya review kali ini membahas topik yang disebut terakhir. Disadari atau tidak, sebenarnya kemampuan baca-tulis adalah hal yang amat signifikan. Sebagai contoh, dengan menguasai aksara orang dapat merekam perjalanan hidup, administrasi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu wajar jika orang bertanya: “Bagaimana sih ceritanya peradaban manusia berkembang, hingga bisa menemukan ilmu membaca dan menulis?”
Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh penulis A.E. Gnanadesikan — seorang ahli bahasa lulusan Universitas Massachusetts Amherst. Lewat buku ini beliau seolah mengajak pembacanya bertualang di bidang arkeologi; menelusuri perkembangan aksara dari zaman kuno hingga era modern.











Recent Comments