ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Kisah Sang Cincinnatus
Posted by pada April 26, 2011
Apa yang terbayang di benak Anda jika mendengar kata “Diktator”? Bagi sebagian orang istilah tersebut berkesan negatif — kasar-kasarnya, pemimpin yang berkuasa mutlak dan menyelewengkan untuk kepentingan pribadi. Meskipun begitu lain halnya dengan Jendral Romawi bernama Lucius Quinctius Cincinnatus. Ia adalah sosok diktator yang dicintai masyarakat. Dua kali keadaan darurat, Senat memberinya kekuasaan mutlak memimpin negara, sebab memang dia jendral yang hebat. Berkat kepemimpinannya Republik Romawi selamat dari agresi suku Aequi dan konspirasi Spurius Maelius.
Akan tetapi menariknya: dua kali Cincinnatus jadi diktator, dua kali pula ia mengundurkan diri. Sesudah tugasnya selesai ia lebih suka melanjutkan hidup bertani di desa — boleh dibilang berkebalikan dengan berbagai diktator yang terdapat di era klasik. Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita bahas di bagian selanjutnya.
Lucius Quinctius Cincinnatus (519-438 SM)
(courtesy of BadassOfTheWeek.com)
Mengenai Cincinnatus sendiri, kehidupannya bisa dibilang cukup berwarna. Putranya (bernama Caeso) adalah politisi yang berseteru dengan faksi Plebeian; menghalang-halangi mereka di bidang politik. Aksi Caeso ini kemudian membuatnya diadili dan dijatuhi hukuman mati in absentia. Hampir-hampir ia dieksekusi, kalau saja Cincinnatus tidak ikut campur. Demi menebus sang anak, Cincinnatus terpaksa menjual tanah milik keluarga, menyisakan sepetak tanah yang — untungnya — masih cukup dipakai bertani.
Ini bukan berarti Cincinnatus tidak terpandang, tentu. Sebagaimana sudah disebut di awal, ia adalah orang besar yang dipercaya Senat. Biarpun kekayaannya berkurang, di tahun berikutnya ia dipercaya jadi konsul Republik. Mengingat putranya sendiri juga politisi, boleh dibilang Cincinnatus bukan orang asing di dunia politik. Posisi ini tak lama ia pegang. Meskipun begitu, karir Cincinnatus cukup untuk membuat Senat mengingat dirinya di saat genting — ketika Republik Romawi terancam oleh suku Sabine dan Aequi.
***
Waktu berlalu. Cincinnatus, absen dari politik, menyambung hidup bertani bersama sang istri. Semua tampak normal ketika tiba-tiba utusan Senat datang menghampiri dengan berkuda — menyampaikan kabar terbaru pada Cincinnatus. Bahwasanya Tentara Romawi di perbatasan berhasil mengalahkan suku barbar Sabine. Akan tetapi di sisi lain: pasukan Minucius yang menghadapi suku Aequi telah terkepung. Apabila pasukan Minucius kalah, maka akan membuka jalan untuk masuk dan menaklukkan Roma.
Cincinnatus berdiskusi dengan utusan senat
(via Wikipedia)
Utusan kemudian menyampaikan sebuah permintaan. Senat menyadari besarnya potensi bahaya, dan mereka tahu Cincinnatus jendral yang berkualitas. Bersediakah ia memimpin sebagai Diktator melewati masa genting?
Hati Cincinnatus terbelah. Sebentar lagi musim tanam, lahan tani harus disemai untuk persediaan musim dingin. Akan tetapi Roma sedang menghadapi musuh. Oleh karena itu ia memutuskan: ia bersedia menjadi diktator. Adapun sejarahwan Livy mencatat sebagai berikut: ketika Cincinnatus meninggalkan lahan tani, ia disambut oleh sejumlah besar masyarakat, termasuk di antaranya tiga putranya yang tinggal di kota.[1] Barangkali tepat kalau dibilang bahwa masyarakat menumpukan harapan pada sang Diktator?
The Order(s) of Cincinnatus
Cincinnatus tahu, sebagai seorang Diktator, waktunya tak banyak. Oleh karena itu ia bertindak cepat: dalam 24 jam ia mengumpulkan masyarakat di alun-alun Campus Martius. Semua laki-laki yang sehat dimasukkan sebagai prajurit. Sementara wanita dan yang kurang sehat diberi tugas: siapkan jatah untuk lima kali makan. Siang harinya mereka berangkat; malam harinya tiba di batas kota. Suku Aequi tidak sadar mereka akan diserang dari dua arah. Pasukan Cincinnatus bergerak mengepung Aequi yang mengepung Minucius, bernyanyi dan berteriak, mengabari rekan yang terjebak di dalam. Bisa ditebak bahwa hal ini meningkatkan moral pasukan yang tadinya lesu.
Pagi hari tiba. Cincinnatus memberi komando: pasukannya menekan dari luar, sementara Minucius menyerang bagian dalam. Rencana ini sukses besar, membuat pasukan Aequi berakhir kocar-kacir. Begitu dahsyatnya kemenangan ini sampai-sampai pemimpin suku Aequi menyerah dan minta disisihkan nyawanya. Cincinnatus menyetujui dengan dua syarat: (a) pasukannya berhak mengambil semua harta-benda Aequi, dan (b) semua prajurit Aequi harus merangkak di bawah tombak Romawi. Secara simbolis Cincinnatus telah menyatakan menang dan mempermalukan musuh.
***
Akan tetapi, tahukah pembaca apa yang menarik? Hanya enam belas hari berselang, sang pahlawan Cincinnatus kembali berada di sawah. Ia memilih untuk kembali bertani di desa. Alih-alih melanjutkan kekuasaan mutlak yang diberikan oleh Senat, ia menyatakan bahwa tugasnya telah usai — meninggalkan jabatan, politik, dan balatentara yang sudah dibangun.
Tentunya timbul pertanyaan, kenapa seperti itu?
Sebagai orang yang percaya pada nilai luhur Republik, Cincinnatus percaya bahwa pemerintahan terbaik berada di tangan rakyat. Dalam hal ini ia mempercayai Senat sebagai perwujudan pemerintah yang demokratis. Senat memberinya tugas menyelamatkan Roma. Telah ia lakukan hal itu. Oleh karena itu, langkah selanjutnya adalah mengembalikan Kekuasaan pada yang memberi.
Tak pelak, keputusan Cincinnatus ini menimbulkan respon positif yang luar biasa. Masyarakat mencintainya sebagai pahlawan, tetapi, lebih dari itu, mereka menghargai niat mulia Cincinnatus menghargai Republik. Tak kurang dari sejarahwan Livy — yang karyanya jadi rujukan utama tarikh Romawi — mencatat reaksi sezamannya atas kualitas diri Cincinnatus.[2]
“What was wanted was not only a strong man, but one who was free to act, unshackled by the laws. He should therefore nominate Lucius Quinctius as Dictator, for he had the courage and resolution which such great powers demanded.”
Adapun kelak di kemudian hari, empat puluh tahun kemudian, nama besar Cincinnatus akan membawanya pada sesi kedua sebagai Diktator, biarpun yang kali ini lebih sebagai administratur. Dalam hal ini Romawi sedang dipecah-belah oleh kelaparan dan manipulasi harga gabah. Oleh karena itu: menimbang pengalaman dan kebijaksanaan Cincinnatus, ia kembali ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi.
Tak banyak yang bisa diceritakan dari sesi kedua Cincinnatus sebagai Diktator, selain bahwa ia menenangkan kekisruhan yang melibatkan administrasi.[3]. Akan tetapi, yang menarik adalah bahwa ia menanggapi kekuasaan mutlak persis seperti ia menanggapinya di masa lalu. Sesudah tugasnya selesai ia kembali menyerahkan pada Senat, lantas menyingkir ke desa. Tidak ada niat untuk memanjang-manjangkan, apalagi menyalahgunakan kekuasaan. Benar-benar luar biasa!
Bolehlah dibilang menunjukkan kualitas kepemimpinan yang elegan.
Jadi, singkat cerita…
Selamat hari Selasa Kisanak. Sudahkah Anda belajar untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan hari ini?
——
Referensi:
[1] ^ Livy, Ab Urbe Condita (3:26)
[2] ^ ibid., (4:13)
[3] ^ ibid., (4:14-20)
——
Link Terkait:
Ab Urbe Condita (The History of Rome)
— terjemahan Inggris @ ForumRomanum.org
Lucius Quinctius Cincinnatus
— About.com
Lucius Quinctius Cincinnatus
— BadassOfTheWeek.com





Saya kok bingung. Di mana kediktatorannya? Buat saya kok beliau sekedar pemimpin yang cerdas nan berkarisma, sehingga dicintai rakyat. Apa karena beliau diberi hak untuk nrabas segala macam peraturan dan undang-undang?
Anyway, tentang diktator sendiri, sepertinya Anda memandang kejauhan dan melewatkan tetangga negara Anda yang tini wini biti ini… (ninja)
@ lambrtz
Memang itu maksudnya. “Diktator” kan sekadar jabatan yang bersifat above the law, tidak mesti dikaitkan dengan kekejaman/penyelewengan dsb. Ada juga diktator yang baik dan berkarisma.
Link wikipe: [Roman dictator]
Mbok ya sampeyan yang tinggal di sana yang mengisi topik. Saya kan ndak tahu referensi sejarah sono yang mumpuni… (=3=)/
Ab urbe singapura?saya tak punya kekuasaan untuk disalahgunakan…..
*malah curcol*
sayangnya sekarang power tends to corrupt dan segala cara dilakukan agar diri sendiri dan keluarga tetap berkuasa…
Tadinya gara2 postingan ini aku jadi teringat dengan kasus Permadi yang menyebut kata diktator dalam pidatonya, gara2 itu beliau harus mendekam 1 tahun dlm penjara. Eh, pas nyari2 info ketemu sama postingan ini
@ itikkecil
Udah jadi aksioma itu sepertinya… ^^;
:::::
@ AnDo
Wah menarik!
Julius Caesar! Dan tamatnya riwayat republik romawi…
Konsep “diktator” pada masa Romawi berbeda ya dengan yang dipahami sekarang
Penasaran, dari mana awal peyorasi makna ini muncul?
@ jensen99
E itu Kaisar Romawi paling terkenal.
*bongkar2 koleksi ebook Asterix*
:::::
@ Xaliber von Reginhild
Barangkali karena belakangan banyak yang menyalahgunakan, makanya jadi begitu. Ada baiknya ditanyakan ke budayawan dan/atau yang bergelut di linguistik.
Faksi rakyat jelata? Bukannya plebs itu tuan tanah ya?
Salam
@ HiggsBoson
*cek sekilas di wikipedia*
Eits, iya betul. Sepertinya saya tertukar makna kata Plebs di bahasa Inggris waktu nulis.
Terima kasih koreksinya. ^^
[UPDATE]
Setelah baca-baca lagi, sepertinya kok pengertian Plebs sebagai tuan tanah agak kurang pas. Benar sih bahwa mereka itu land owner, tetapi secara hak sebenarnya rakyat biasa. Banyak juga yang hidupnya pas-pasan. :-/
Walaupun kalau dibilang “jelata” kurang cocok juga — soalnya ada kaum budak. Ditulis “faksi Plebeian” sajalah.
*halah*