ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna
Posted by pada Maret 29, 2011
Ada hal menarik yang saya temukan kalau sedang baca-baca kisah legenda, baik yang asalnya dari sekitar sini (Indonesia) maupun luar negeri. Bahwasanya banyak pahlawan yang digambarkan sakti mandraguna — pandai bertarung, punya kekebalan tubuh, dan sebagainya — meskipun begitu, karena satu kelemahan, akhirnya terpaksa meregang nyawa. Kelemahannya sendiri kadang ‘ajaib’. Ada yang di punggung; di selangkangan; tumit… malah ada juga yang mati karena dilempar semak!
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Adapun tipe macam ini biasanya jadi pahlawan di kisah yang banyak aksi/melibatkan perang. Sebagai contoh misalnya dalam hikayat Mahabharata atau Iliad. Pokoknya yang melibatkan kesan macho lah. Saya sendiri tidak tahu kenapa. Barangkali karena orang umumnya tidak suka kalau ada pahlawan yang bawaannya menang terus, jadi terpaksa diberi kelemahan fatal. Biar rame, begitu. But I digress…
Seperti apa contoh-contohnya?
Salah satu yang paling saya ingat dan sempat diadopsi jadi nickname berasal dari kebudayaan Jerman Pra-Kristen. Di dunia mitologi ini terdapat sosok yang disebut Ksatria Siegfried. Dalam versi Norse ia bernama Sigurd, akan tetapi di luar itu, kisah hidup mereka sama persis.
Sebagai ksatria sendiri Siegfried digambarkan berkemampuan sakti. Legenda mengatakan bahwa kulitnya tak tembus senjata manusia maupun hewan. Itu karena pada suatu ketika ia berendam darah naga bernama Fafnir; naga yang sebelumnya dihadapi dan dibunuh sendiri. Sebagai akibatnya Siegfried jadi mendapat kekebalan — melengkapi kemampuan fisik yang memang sebelumnya sudah hebat.
Siegfried digambarkan bersama sang istri, Kriemhild
(via Wikipedia)
Sayangnya, ketika sedang berendam darah naga, sebuah daun linden jatuh ke punggung Siegfried. Jatuhnya daun mencegah darah naga meresapi kulit tersebut — menjadikan satu-satunya titik lemah di tubuh Siegfried.
Di kemudian hari kelemahan ini menjadi fatal bagi Siegfried. Dalam satu perselisihan ia mendapat musuh dalam selimut, Hagen, yang mengetahuinya. Hagen yang culas mengajak Siegfried berburu bersama dan — di saat Siegfried hendak minum dari sungai — menombaknya dari belakang. Persis di titik yang tak kebal. Pembunuhan yang tidak hormat ini mengakhiri nyawa sang ksatria. Ditombak seperti hewan buruan, Siegfried akhirnya meregang nyawa di atas rumput.
***
Kisah yang mirip juga terdapat di mitos Yunani Kuno, dan melibatkan sosok prajurit bernama Achilles. Mirip dengan Siegfried, Achilles mempunyai berkah berupa kekebalan. Dan juga seperti Siegfried: ia mempunyai titik lemah yang akhirnya akan berbuah fatal.
Achilles (berkuda di depan) usai duel melawan Hector
(via Wikipedia)
Achilles diceritakan terlahir pada ibu bernama Thetis. Syahdan, ketika Achilles masih bayi, Thetis memandikannya di aliran sungai Styx. Sebagai sungai yang menjembatani dunia orang hidup dan mati, dimandikan di dalamnya membuat Achilles terlindung dari Bahaya Maut.
Sayangnya malang tak dapat ditolak. Dalam proses memandikan Achilles sang ibu memegangi bagian tumitnya — sedemikian hingga bagian tumit itu tidak tersentuh air. Di satu sisi Achilles berhasil mendapat kekebalan. Akan tetapi di sisi lain, tumitnya tetap seperti biasa.
Bisa ditebak, kelemahan itu akhirnya jadi pemungkas nyawa Achilles. Dalam hal ini Paris (prajurit Troya) menjadi biangnya. Dengan bantuan dewa Paris menembakkan panah beracun, tepat ke tumit Achilles — secara efektif akhirnya membunuh Achilles.
***
Sementara itu, lain lagi dengan pendekar legendaris Irlandia, Cú Chulainn. Berbeda dengan dua sebelumnya Cú Chulainn tidak mandi cairan sakti apapun. Kemampuan miliknya didapat lewat pantangan spiritual dalam kultur Celtic (geis).
Cú Chulainn bersama sais (Láeg) dan kudanya (Liath Macha)
(via Wikipedia)
Sepanjang hidupnya Cú Chulainn adalah prajurit yang aktif. Banyak orang tewas menjadi korbannya. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak orang jadi mendendam. Termasuk yang membencinya adalah Lugaid putra Cú Roí — ayahnya dibunuh Cú Chulainn dalam suatu pertempuran.
Lugaid kemudian mengumpulkan orang-orang yang senasib untuk balas dendam. Sayangnya ada satu masalah; Cú Chulainn punya daya fisik dan magis yang luar biasa. Dalam satu pertempuran ia pernah mengalahkan 300 orang. Tidak mungkin bisa dibunuh kalau tidak tahu kelemahannya.
Melihat ini Lugaid mencari tahu kelemahan Cú Chulainn. Ketemu: bahwasanya Cú Chulainn punya pantangan memakan daging anjing. Apabila pantangan ini dilanggar maka akan lemah tajinya. Walhasil, diaturlah agar Cú Chulainn bertemu teman lama. Oleh teman tersebut ia akan dijamu dan disuguhi daging anjing.
Perlu diketahui bahwa — menurut kultur era tersebut — keramahtamahan tuan rumah adalah keramat, tak boleh ditolak. Akhirnya rencana tersebut berhasil. Cú Chulainn terpaksa memakan daging anjing; dengan demikian ia telah mematahkan geis.
Adapun tak lama setelah geis Cú Chulainn patah, Lugaid dan kawan-kawan datang menyerbu. Terjadi pertarungan sengit: pahlawan legendaris Irlandia tidak menyerah walau dikepung banyak orang. Pada akhirnya Cú Chulainn kalah, akan tetapi ia tewas dengan gagah. Di saat terakhir Cú Chulainn mengikat tubuh ke sebuah batu, berdiri di atas kaki hingga maut menjemput. Ia tak mau mati dalam kondisi terkapar atau berlutut.
***
Dan masih banyak contoh lain tentang sosok pahlawan (super) sakti yang akhirnya tewas. Walaupun awalnya disangka tak bisa mati, mereka sering diam-diam punya kelemahan. Kelemahan yang, pada akhirnya, selalu bisa dimanfaatkan musuh secara maksimal.
Dalam epos Mahabharata terdapat karakter Duryudhana; ia memiliki kekebalan kecuali di bagian selangkangan. Sementara dalam mitologi Norse, terdapat kisah Baldur — ibunya dewi Frigg meminta semua benda dan makhluk bersumpah takkan pernah melukai putranya. Sepertinya semua beres… kecuali ada semak mistletoe yang entah bagaimana lupa dimintai tolong. Bisa ditebak: keduanya akhirnya mati setelah diserang titik lemahnya.
Adapun di zaman modern, kita punya ekuivalennya dalam sosok Superman. Superman yang antipeluru dan bisa terbang ternyata punya kelemahan; batu hijau bernama kryptonite. Menariknya Superman belum pernah mati karena kryptonite. Barangkali nanti di masa depan?
*ditimpuki penggemar superman*
And after three days, he was resurrected. This doesn’t count.
(via Wikipedia)
Even Heroes Have Right To Bleed (?)
Jadi… begitulah. Saya sendiri bingung kenapa mesti seperti itu. Maksudnya, ya, kita tahu kalau pahlawan terlalu sakti itu tidak seru — enggak menarik kalau tinggal muncul terus menang. Meskipun begitu tetap saja aneh melihatnya. Sebab kadang kelemahannya ajaib dan tidak biasa. Coba, ada pahlawan bisa mati gara-gara makan daging anjing? It’s stuff of legend!
Bisa jadi, itu karena sosok “pahlawan” di atas memang — in a sense — tidak bermaksud realistis. Dalam bidang kesenian ini disebut Semblance of Reality. Pokoknya segala sudah masuk tataran ide, boleh diaduk-aduk sesuka si penutur. Aneh tidak aneh, urusan belakangan! Yang mana akhirnya mengingatkan soal sinetron. Tapi itu tak usah dibahas di sini…
Adapun kenapa pahlawan mesti punya kelemahan, saya pribadi merasa bahwa alasannya soal penerimaan. Yang namanya pemirsa selalu butuh kemelekatan (attachment) pada tokoh cerita. Memang benar sosok ksatria ideal punya daya tarik yang khas. Akan tetapi, itu melanggar satu hal: orang perlu bisa mengidentifikasi diri dengan pahlawan cerita. Mereka perlu sosok pahlawan yang punya masalah; yang bisa tewas; yang terlibat dalam konflik. Yang mana, elemen nomor dua dicerminkan oleh kelemahan-kecil-tapi-fatal yang diuraikan di atas…
…mungkin begitu. Mungkin lho. Saya kan bukan ahli mitologi.
Barangkali itu juga sebabnya sosok anti-hero seperti Peter Parker dan Tony Stark saat ini cukup populer. Sebab biarpun superhero mereka punya kelemahan; hidupnya tidak serba mulus. Hal yang akhirnya justru menghasilkan daya tarik tersendiri.
So… do heroes have right to bleed? Well, I think we like them to!
——
Referensi Mitos:
Nibelungenlied
– versi ringkas @ TimelessMyths.com
– versi lengkap @ Penn State University (format .pdf) (771 kb)
Iliad
– versi lengkap (HTML) @ Perpustakaan MIT
Cuchulain of Muirthemne: The Death of Cuchulain
– Chapter XX @ sacred-texts.com







karena juga dalam sebuah cerita dibutuhkan sebuah kelemahan,dan semacam tokoh yg kurang baik/jelek/jahat. karena representasi dlm kehidupan ini bahwa semenjak dr bangun tidur hingga malam mau tidur,banyak hal yg di luar pikiran kita dan banyak hal yg tidak sesuai dgn yg dibayangkan karena keterbatasan akal manusia
…CMIIW
@ nurrahman18
Hehe, iya. Saya juga terpikirnya seperti itu. Bagaimanapun, namanya cerita pasti butuh keseimbangan. Jadi yang semacam itu pasti ada. ^^a
Ngomong Mahabaratha, jadi teringat dengan kakek buyutnya para pandawa dan kurawa yaitu Bhishma. Bhishma tak punya kelemahan apapun juga. Biarpun seorang wanita bernama Amba yg terlahir kembali sbg Srikandi dinilai punya andil dalam membunuh Bhishma, tetapi kematian Bhishma hanya bisa terjadi kalau dia sendiri memilih untuk mati. Kalaupun mau dan bisa disebut kelemahan, hanya ada satu hal: Bhishma hanya bisa mati jika dia sendiri ingin mati
Oh ada satu lagi, Kresna titisan Wisnu. Kalau titisan (avatar) dianggap manusia, Kresna juga tak punya kelemahan, toh Baldur juga anaknya dewa Odin ternyata masi dilempar ke semak
Ngomong Mahabaratha, menurut saya kematian Gatotkaca yang paling memprihatinkan. Mati karena sarung senjata yang tertinggal di perutnya?
kalau pahlawannya ga bisa mati ya cerita (seri)nya ga tamat-tamat. Penulisnya capek. Akhirnya bikin plot aneh yang penting selesai.
Tapi sekarang yang lagi ngetrend pahlawan-penjahatnya beda tipis. Mungkin karena akses penonton/pembaca/pendengar ke cerita makin terbuka lebar jadi ada kepuasan tersendiri kalo para tokoh punya banyak kemiripan dengan mereka. Halah.
Tadinya saya kira ada hubungannya dengan The Hero with a Thousand Faces. Ternyata bukan. Pernah baca itu? Harusnya sih topik ini ada terbahas…
pahlawan sempurna sih ,, steven seagal,,, setiap akting hampir tak terluka parah,, paling mulutnya doank berdarah,,, tidak pernah kalah,, @_@ hahahaha
@ AnDo | jensen99
Sejujurnya sih saya baca Mahabharata cuma versi abridged. Itu juga loncat-loncat, jadi banyak detail yang lewat.
Krisna, ya, sudah tentu supersakti. Wong aslinya dia itu Tuhan.
Kematian Gatotkaca saya kurang tahu — katanya ada perbedaan antara versi Jawa dan India, gitu? *CMIIW* (o_O)”\
*balada orang yang cuma jawa di luar sahaja*:::::
@ Takodok!
Ndak, lebih buruk lagi, jadinya serial tiada ujung. Lah itu Superman dari awal abad 20… XD
#eaaaa
Sebentar, ini menarik. Iya juga ya?
:::::
@ Pak Guru
Belum pernah baca… tapi tahu nama pengarangnya sih (ada e-book ybs yang “Power of Myth”). Sepertinya menarik.
:::::
@ Oseng”
Kalau James Bond?
@ om Jensen
hmm… Bukannya Gatotkaca mati gara-gara menggantikan Arjuna memimpin Perang dan akhirnya tertusuk senjata Konta milik Karna yg dia dapat dari Dewa Indra ya (thinking) *keknya kemarin bacanya gitu deh*
dan Krishna mati juga kok, walau dengan keinginannya sendiri. Dia mati dipanah di telapak kaki kirinya justru oleh pemanah biasa yg tidak mempunyai kekuatan apapun. Btw, ada yang punya buku kisah hidup Krishna dari kecil sampe besar ga? Soalnya punya temen2ku dsini semuanya Purana yang ga bisa dibaca sembarangan dan bahasanya itu bukan bahasa Indonesia tapi Sansekerta
@ rukia
Somehow, konon katanya senjata kontawijaya itu (sekali dilepaskan -dan cuma bisa sekali-) bergerak seperti guided missile mencari sarungnya yang tertanam di perut Gatotkaca.
Rukia baca kisahnya dimana? Kalo tidak ingat kenapa sarung kontawijaya ada di Gatotkaca, versi ringkasnya ada disini.
@ Rukia
Seperti Achilles?
*plak*
BTW, saya barusan baca e-book versi full. Sepertinya yang mbakyu bilang di atas versi India? Barangkali itu bedanya dengan yang dibilang mas Jensen. Yang ybs bilang seperti diceritakan Pakde saya soale.
*selanjutnya bisa dibaca di bawah*
AFAIK di sacred-texts.com ada terjemah Inggris kitab2 Hindu. Coba search aja. Siapa tahu ada. ^^a
:::::
@ jensen99
Entahlah, barangkali yang masbro bilang versi Jawa? :-/ Saya ada cek e-book versi full (India, terj. C. Rajagopalachari). Menurut di situ senjata maut Karna niatnya buat lawan Arjuna. Cuma berhubung didesak Duryudhana akhirnya dipakai ke Gatotkaca — waktu itu dia sedang menggila bantai pasukan Kurawa.
Kalau di versi abridged nggak ada penjelasan detailnya sih. Sekadar diceritakan Karna ujug-ujug datang, trus membunuh Gatotkaca.
@ om Jensen & om Sora
Saya baca versi Nyoman S. Pendit terbitan 1981, versi C. Rajagopalachari (ga tw tahun terbitnya, buku rampokan soalnya) & versi Komiknya RA. Kosasih
cuma di versinya S. Pendit memang ga disebut nama senjatanya, tapi saya rasa senjatanya sama, karena di sana disebutkan senjata itu didapat dari Dewa Indra setelah Dewa Indra meminta baju besi milik Karna & kalo di RA. Kosasih senjata Konta itu gambarnya tombak, makanya agak ragu kalo senjata itu bersarung
dan om Sora, tolong betulkan itu kalimat quote saya, hape saya sedang tidak bisa diajak kerjasama buat meng-copy & mem-paste.
Tapi yang paling kasihan di cerita Mahabaratha itu ya kematiannya Abimanyu (walaupun saya nggak suka bapaknya) saya nggak terima dia mati dikeroyokin, kalo saya ada di sana pengen banget gitu pentungin yang ngeroyok Abimanyu.
Oh ya soal link e-booknya, semoga dsna lengkap *walo lebih enak baca bukunya* bahkan para pengikut ajaran Krishna pun ga punya buku kisah hidupnya.
Seperti bakal bikin hetrik
*plak*
@ om Jensen
sudah saya baca link-nya, dan banyak yang beda *bingung*
di link yang om kasih disebutkan kalo Gatotkaca bayi = Jabang Tetuka, Karna bertapa untuk mencari senjata pusaka (konta), & anak Gatotkaca benama Sasikirana.
Kalau menurut 3 buku yang sudah saya baca :
1. di sana ga ada cerita tentang Gatotkaca bayi (Jabang Tetuka) *jd saya baru tau soal ini*
2. Karna tidak mencari senjata pusaka, tapi Konta di dapat karena bisikan Dewa Surya yang bilang kalau akan datang seorang Rsi (Dewa Indra yang menyamar) yang akan meminta baju besi Karna (karena Karna lahir dalam keadaan menggunakan baju besi Dewa Surya) dan Karna harus meminta Pusaka paling hebat dari Rsi itu sebagai gantinya.
3. Anak Gatotkaca yang akhirnya jadi panglima di Hastina pada masa Parikesit benama Bangbangkaca dan bukan Sasikirana.
Nah lo, saya jadi pusing bacanya, kok bisa beda-beda ya *thinking*
@ sora9n | Rukia
Ah, maaf membingungkan. Cerita yang saya kutip sepertinya memang versi Jawa sih. Di versi India memang gak ada kisah bayi Gatotkaca (Tetuko) dan kasus tali pusarnya.
Kebetulan Rukia dan Sora sudah baca banyak soal Mahabharata, apa mungkin tautan ini bisa membantu? Bagian soal Gatotkaca kalo gak salah mulai paragraf 20. Tentu soal Karna dll juga ada. (saya belum baca semua sih)
kali di indonesia ada si pitung … sakti mandraguna… tapi akhirnya mati karena kelamahannya ketauan, jimatnya dicuri
http://id.wikipedia.org/wiki/Si_Pitung
@ jensen99 | rukia
Sudah cek, dan sepertinya memang begitu sih. Saya sendiri nggak baca kitab Jawa, cuma diceritakan Pakde saya saja. Jadi tak bisa dibilang ahli. :-/
Barangkali ada baiknya ditanya ke yang lebih mendalami — e.g. Mas Joe atau Mas Gun.
:::::
@ adit
Iya, legenda Pitung juga termasuk. Mengenai kelemahannya saya dengar banyak versi, sih. Ada yang bilang kalau dilempar telur busuk; ada yang bilang ditembak peluru emas; ada juga soal jimat yang mas sebut.
Soal mana yang benar, saya juga nggak tahu. Namanya juga legenda, ya… enggak jelas.
/Wallahu a’lam
@Rukia dan Sora
Betul. Namanya juga dewa, kalau Wisnu udah bosen jadi Krishna dan pengen pindah avatar, begitulah jadinya
Mirip sih, walau dalam kasus Krishna bagian kaki bukan kelemahan, tapi emang dia pengen mati doang
Oh iya, ada kisah Krishna dikutuk oleh ibunya para kurawa Gandhari yg mengutuk agar seluruh keluarga Krishna bakalan bernasib seperti Kurawa. Sebenarnya Krishna bisa saja menolak kutukan, tapi entah kenapa dia menyetujui kutukan Gandhari. Jadilah seluruh kaum Yadava musnah bersama matinya Krishna.
Itulah akibatnya, kalau dewa udah bosen jadi manusia
Bagiku, kisah hidup paling tragis dan menyedihkan itu kisah Karna. Dari lahir hingga dewasa ntah kenapa nasibnya sial melulu, padahal orangnya hampir selalu mengikuti dharma. Mulai dari dibuang sejak kecil, dihina banyak orang, sampai berkali-kali kena kutuk (aku sampai ngakak dgn beberapa kutukan aneh yg diperoleh Karna), hingga akhirnya mati ketika sedang mendorong kereta perangnya yg rodanya terjerumus kedlm lumpur, dan yg membunuh adiknya sendiri.
Koq saya jadi bingung, baru tau kalau orang India ada yg bernama Bambang
Jangan2 itu cm versi cerita jawa doang? Kalaupun ada anak Gatotkaca yg ada di berbagai versi adalah Barbarika.
*terpanggil*
saya nggak begitu mendalami sastra jawa kok yaa.
kebetulan banget baca ini habis nyelesain tugas tentang “culture heroes”
tepatnya nulis tentang bias gender dalam konstruksi pahlawan kebudayaan tiap sukubangsa. jadi ini otak makin dipenuhi oleh pahlawan, pahlawan, dan pahlawan… u_uahahaha, versi jawa sama versi india memang beda kok. bahkan di jawanya sendiri, gagrag jawa timuran, surakarta, yogyakarta, atau banyumasan juga beda. itu belum kalo ngomongin daerah di pulau jawa yang disebut sunda. yang lain lagi? versi bali juga ada perbedaan cerita. bahkan, di srilanka, rahwana adalah pahlawan, sementara rama cuma satria pengecut.
karna sendiri, kapan dia dapat panah kuntawijayadanu juga beda-beda versinya. umumnya di versi jawa dia dapatnya sewaktu lakon “gatotkaca lahir” dari batara narada yang salah ngira karna sebagai arjuna (ceritanya mukanya mirip), tapi di komiknya ra kosasih, yang mahabarata, karna dapat kunta menjelang baratayuda dari batara indra, hasil barter sama anting plus rompi pemberian batara surya yang melekat sejak di badannya sejak dia bayi. konon malah ada versi di mana karna mencabik2 kulitnya sendiri buat melepas rompinya.
bambangkaca juga gitu. di komiknya kosasih memang dia patihnya parikesit. tapi bisa saja bambangkaca adalah sebutan umum buat anaknya gatotkaca di daerah sunda untuk menggantikan nama sasikirana yang ngepop sebagai patihnya parikesit di jawa bagian tengah dan timur, seperti halnya cepot dan dawala di sunda untuk bagong dan petruk di jawa. bisa saja begitu, sih
dan, anaknya gatotkaca – kalo di versi jawa – bukan cuma sasikirana. dia punya anak lagi tapi nggak satu ibu sama sasikirana. namanya jayasumpena
well, memang kalo duluan mbaca karya aslinya yang dari india baru kemudian tau versi jawanya maka bakal timbul banyak pertanyaan. wajar, di jawa sudah banyak modifikasi, sih. ini erat kaitannya dengan akluturasi budaya jawa-hindu dan islam pas jamannya walisanga. makanya di versi jawa, puntadewa punya jimat yang namanya jamus kalimasada, yang asal katanya adalah kalimat syahadat.
btw, di buku sejarah mesjid demak justru ada cerita kalo puntadewa tidak akan bisa berpisah roh dan badan kasarnya kalo belum ketemu sama orang yg bisa menjabarkan isi dari jamus kalimasada. dan tebak dengan siapa akhirnya dia ketemu? yak, jawabannya adalah sunan kalijaga
sebagai balasannya, sama puntadewa, sunan kalijaga diwarisi baju antakusuma, caping basunanda, sama terompah padakacarna yang dulu selalu dipakai sama gatotkaca
yang jelas kita nggak bakal nemu cerita tentang “pandawa gugat”, “aji narantaka”, atau “mustakaweni maling”, dsb di cerita yang versi india
btw, ini kok malah jadi ngomongin wayang gini, sih?
@ om Ando
oh kalau yang itu versi Jawa dari komiknya RA. Kosasih di legenda Parikesit
@ AnDo | joesatch
Terima kasih banyak para suhu untuk pencerahannya… ^:)^
#eaaaa
Ya itulah, pertamanya mulai dari mbahas pahlawan (Gatotkaca) yang susah mati. Lalu…
…ceritanya panjang.
*plak*
:::::
@ gunawanrudy
Lho, salah ya? ^^; Habis sepertinya mas Gun suka ngurus pernak-pernik kejawaan. Jadi mungkin ada sedikit tahu.
wayang india itu wayang wahhabi!