ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Sunday Music File: Jean Michel Jarre, “Revolutions” (1988)
Posted by pada Februari 13, 2011
Musisi: Jean Michel Jarre
Album: Revolutions
Label: Disques Dreyfus
Tahun: 1988
Apa yang terbayang tiap kali mendengar kata “Orkestra”? Kalau bagi saya, kata tersebut identik dengan serombongan musisi berbaju formal yang bermain di atas panggung. Di bawah arahan seorang konduktor, para musisi ini — dengan alat musik yang berbeda-beda — akan bergabung memainkan komposisi yang rumit. Di satu bagian ada yang memainkan piano; lalu ditingkahi oleh biola dan sebagainya. Boleh dibilang bahwa sebuah musik orkestra memiliki penyajian yang ‘wah’.
Akan tetapi, lain halnya dengan pendapat Jean Michel Jarre. Ia adalah musisi dengan pengaruh klasik yang kuat. Ayahnya sendiri, Maurice Jarre, seorang komposer pemenang Academy Awards.[1] Meskipun begitu Jean Michel punya jalannya sendiri. Apabila sang ayah menyalurkan jiwa klasik lewat orkestra tradisional, maka sang putra sebaliknya. Ia mengekspresikan gaya klasik orkestra lewat synthesizer.
Beberapa pembaca mungkin bingung, seperti apa jadinya orkestra lewat synthesizer. Oleh karena itu berikut ini saya tampilkan salah satu contohnya.
Jean Michel Jarre – Industrial Revolutions Pt. II
Nah, semangat perpaduan klasik vs. modern di atas adalah tulang punggung karya Jean Michel Jarre di tahun 1980-an.[2] Salah satunya adalah album Revolutions — lewat album ini Jarre mengetengahkan komposisi megah dengan suara berlapis-lapis. Boleh dibilang ia berusaha menghadirkan nuansa klasik lewat media elektronik. Malah track-track-nya pun diberi nama menurut kaidah musik klasik!
Lagu di atas berjudul “Overture to Industrial Revolution”. Serius.
Secara total album ini mempunyai sepuluh track. Sayangnya, walaupun amat solid bergaya orkestra di empat track pertama, selanjutnya Jarre cenderung ‘rehat’ memasukkan lagu-lagu yang agak ringan. Bukan berarti jelek sih. Saya sendiri senang saja. Cuma kok kesannya ybs “menginjak rem” habis ngebut.
“London Kid”, salah satu track yang agak lebih ngepop
***
All in all, sebagai fans JMJ, saya merasa cukup senang dengan album ini. Walaupun bukan yang paling favorit akan tetapi punya nilai unik tersendiri. Barangkali karena fusion-nya yang ‘menembus batas’? Atau mungkin juga karena saya dari awalnya tertarik musik klasik. Meskipun begitu itu cerita lain untuk saat ini.
Other Sample from This Album:
Rekomendasi:
Boleh dicoba kalau Anda penyuka musik klasik yang penasaran dengan penyajian eksperimental. Walaupun perlu dicatat bahwa suara techno-nya mungkin kurang cocok untuk sebagian orang.[3] Benar-benar kontras dengan alat musik tradisional soalnya. ^^;
——
Catatan:
[1] ^ Maurice Jarre mendapat Academy Awards untuk musical scores dalam film Lawrence In Arabia (1962), Doctor Zhivago (1965), dan A Passage to India (1984).
[2] ^ Sejauh yang saya lihat, gaya bermusik Jarre umumnya dapat dibagi per dekade. Di tahun 1970-an agak dekat ke ambient, lalu kembali ke root klasik pada 1980-an. Sementara di era 1990 dan 2000 cenderung mengakomodasi elemen pop.
[3] ^ Untuk album Jarre yang lebih kental nuansa klasiknya, saya merekomendasikan Rendez-Vous (1986). Sekadar alternatif kalau Anda merasa penyajian di Revolutions terlalu ‘ajaib’.




Ping balik:Sunday Music File: Suzie Villeneuve, “Suzie Villeneuve” (2008) « ZENOSPHERE
Ping balik:Sunday Music File: Tangerine Dream, “Melrose” (1990) « ZENOSPHERE