ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Ada Berapa Banyak Agama di Dunia Ini? (Sebuah Renungan Filosofis)
Posted by pada Februari 11, 2011
- Catatan: Ditulis oleh seorang pemikir bebas berhaluan agnostik (Skala Dawkins 4, if that helps
Ada sebuah pertanyaan yang pertama kali terlintas bertahun-tahun lalu, kurang lebih ketika saya masih SMA. Waktu itu saya bertanya dalam hati seperti ini: “Sebenarnya, ada berapa banyak agama di dunia ini?”
Sebenarnya ada cerita di balik munculnya pertanyaan di atas. Gara-garanya waktu itu, saya baru selesai membaca buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Ini buku menarik yang mengetengahkan tentang sejarah perjalanan agama-agama di dunia — terutama agama Abrahamik seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Boleh dibilang bahwa buku ini mengenalkan saya pada macam-ragam keyakinan pada Tuhan yang ada di dunia.
Perkara perbedaan agama sendiri bukan hal yang asing bagi saya. Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan multikultur pinggiran Jakarta, saya terbiasa melihat agama dan keyakinan yang berbeda. Teman-teman SD saya dulu boleh dibilang mewakili berbagai agama di Indonesia. Yang Katolik ada; Protestan ada; Hindu juga ada. Mengenai Islam tentu tak usah ditanya — sebagaimana bisa ditebak, statusnya bersifat mayoritas di wilayah tersebut.
Meskipun demikian, pemaknaan akan perbedaan di atas kemudian membuat saya bertanya-tanya. Memangnya ada apa sih, kok bisa agama dan keyakinan orang itu beragam begitu rupa? Di Indonesia kita tahu yang diakui ada lima agama, akan tetapi, itu baru sebagian. Di Iran ada Zoroaster; di Amerika Serikat ada Mormon; di India ada Sikh dan Jainisme. Dan lain sebagainya. Belum lagi kalau menghitung yang bersifat kepercayaan. Sebagai contoh di antaranya Kejawen atau Konghucu.
***
Nah, sekaitan dengan itu, tulisan kali ini akan berupaya membahas aspek filosofis di balik keragaman tersebut. Ada apa di baliknya, dan seperti apa ceritanya, akan segera kita amati berikut ini.
Manusia, Sang Homo Religiosus
Bapak Mircea Eliade — seorang antropolog sekaligus filsuf — pertama kali mengetengahkan gagasan tentang manusia sebagai “makhluk religius” (“Homo religiosus”). Disebut seperti itu karena manusia sejak zaman purba cenderung mengikatkan diri pada kesakralan. Mulai dari menetapkan tempat sakral; waktu-waktu sakral, sampai ritual yang juga sakral.[1] Misalnya contoh berikut.
Ketika manusia generasi awal muncul ke dunia, pikirannya masih sederhana. Ia belum mengetahui ilmu pengetahuan seperti kita kenal sekarang. Semua gejala alam yang dilihat diterjemahkan sebagai aktivitas dewa. Panen yang berhasil dianggap sebagai keberkatan dewa, oleh karena itu mesti dirayakan lewat festival dan tari-tarian. Begitu pula apabila terdapat bencana alam seperti banjir dan petir — disangkanya itu bukti bahwa dewa sedang marah. Oleh karena itu harus disenangkan lewat ritual dan sesajian.
Di sini, Eliade menggariskan satu hal: manusia sejak awalnya cenderung bersifat religius. Manusia ingin bisa bersentuhan dengan Zat Yang Lebih Tinggi. Oleh karena itu mereka bergerak melakukan sakralisasi: menetapkan hal-hal sakral di lingkungan sekitar. Mulai dari “tempat sakral” untuk berkumpul; “waktu sakral” untuk ritual; hingga “ritus sakral” yang harus dilaksanakan. Semua itu bersumber dari keinginan untuk bersinergi dengan Yang Lebih Tinggi.
Stonehenge di atas diduga sebagai “tempat sakral” kaum Druid
(via Wikipedia)
Bahwa manusia punya hasrat bersentuhan dengan Yang Lebih Tinggi, itu tak bisa dipungkiri. Secara psikologis pastilah terdapat keuntungan jika kita merasa terhubung dengan penguasa alam. Sebagaimana diucapkan dalam sebuah peribahasa Inggris: “There is no atheist in a foxhole”. Terlepas dari pernyataannya yang dubious dan menggeneralisir, peribahasa ini menunjukkan bahwa orang (pada umumnya) punya kerinduan pada sosok yang Maha Melindungi.
***
Sampai di sini kita telah melihat pandangan Eliade tentang manusia sebagai Homo religiosus. Atau dengan kata lain: manusia sebagai makhluk yang cenderung religius. Kecenderungan ini bersifat universal di tiap orang; tak peduli asal-usulnya.
Oleh karena itu, tidak heran apabila di dunia kuno terdapat banyak versi mitos dewa-dewi dan sesembahan. Sebab masing-masing berupaya mengekspresikan kecenderungan religius lewat caranya sendiri-sendiri. Sebagai contoh budaya Yunani Kuno menganggap Penghuni Gunung Olympus sebagai sesembahan. Sementara suku Celtic di Britania cenderung pagan yang dekat dengan alam. Adapun di India dan Cina, yang berkembang adalah keyakinan Timur seperti Tao, Buddhisme, dan Konfusianisme.
Boleh dibilang bahwa agama yang berbeda-beda itu ialah perwujudan dari spirit religius manusia. Homo religiosus itu selalu mencari bentuk. Hanya saja, karena lokasi dan kulturnya berbeda-beda, cara mewujudkannya juga ikut berbeda.
Para Pemikir Bebas: Tuhan Para Filsuf
Menariknya, biarpun di atas dicontohkan bahwa Homo religiosus mengekspresikan diri mereka lewat agama, tidak semua orang menyatakan keimanan lewat agama. Ada juga beberapa pemikir yang meyakini konsep supreme being lewat jalur filsafat.[2]
Ada beberapa alasan mengapa para filsuf ini tidak tertarik pada ide “Tuhan” berdasarkan kitab suci. Sebagian merasa bahwa kitab suci itu diperuntukkan bagi generasi sosial/budaya yang telah lewat. Sebagian lagi merasa bahwa kejadian yang digambarkan dalam kitab suci itu bertentangan dengan penemuan sains. Ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu seharusnya universal; dapat dijangkau oleh orang dengan akal pikiran yang paling murni. Oleh karena itu para filsuf ini merumuskan keyakinannya sendiri-sendiri.
Sebagai contoh di antaranya adalah Thomas Paine. Menilik berbagai problem logika seperti problem of evil, sekaligus juga karena ilmu pengetahuan bertentangan dengan Bibel, ia memilih keyakinan yang disebut Deisme. Bahwasanya Tuhan menciptakan dunia di awal mula. Meskipun begitu, selanjutnya Tuhan tidak turut campur dalam urusan di dunia — semua diserahkan pada hukum alam dan kehendak bebas manusia.[3] Paling banter, Tuhan di sini diilustrasikan sebagai pengamat pasif yang memperhatikan laju peristiwa di Bumi.
Yang juga menarik adalah Karl Jaspers, teolog sekaligus psikiater asal Jerman. Jaspers berpendapat bahwa Tuhan itu aslinya bersifat transenden. Akan tetapi ia berpendapat bahwa Tuhan menyisakan jejaknya di muka bumi yang dapat kita persepsi. Apabila orang memperhatikan — menalar simbol-simbol Tuhan di dunia — maka benaknya akan mampu mendekati Hakikat Tuhan. Bagi Jaspers dunia ini ibaratnya serangkaian cipher metafisika yang membungkus Kebenaran. Hanya dengan memecahkan cipher maka orang akan mampu mendekat pada Tuhan; mencapai iman sejati.[4]
Karl Jaspers (1883-1969). Entah kenapa saya merasa beliau ini bertampang aristokrat.
![]()
(courtesy of Uni Heidelberg)
Dan masih banyak contoh-contoh ahli filsafat lain yang mendefinisikan “Tuhan” lewat pemikiran orisinil. Mulai dari Blaise Pascal, Gottfried Leibniz, hingga Rene Descartes masuk ke dalamnya. Walaupun di satu sisi harus diakui: mereka umumnya memiliki sentuhan agama (Kristiani) dalam merumuskan pemikirannya.
Perjalanan Mencari Makna: Tidak Ada yang Berhak Sombong
Sejauh ini kita telah melihat berbagai versi keyakinan. Mulai dari agama-agama purba hingga keyakinan terhadap Tuhan versi filsuf. Tentunya kemudian timbul pertanyaan: versi yang manakah yang benar?
Sejujurnya kalau Anda tanya saya, jawabannya agak lebih rumit daripada sekadar “pilih salah satu”. Pada kenyataannya, tidak satupun dari mereka yang benar secara absolut.
Kenapa bisa begitu, ini ada ceritanya lagi.
Di salah satu tulisan di blog lama, saya pernah menulis tentang problem di ilmu teologi (sebaiknya dibaca untuk penjelasan lebih detail). Yang namanya teologi mustahil dibuktikan secara telak di dunia ini. Kita cuma bisa menganalisis lewat kitab suci, pemikiran filsafat, atau sebagainya. Akan tetapi pada akhirnya, tidak ada satupun yang menguatkan duga-dugaan itu. Pada akhirnya kita seperti meraba-raba dalam gelap.
Cara paling ampuh tentu kalau orang “melihat sendiri” kebenarannya sesudah meninggal. Cuma masalahnya, mereka yang sudah meninggal tidak bisa kembali ke dunia. Jadi kita di sini tak punya masukan apapun untuk mengklarifikasi.
Jadi, kita ini mau dikirim ke Hades atau alam barzakh?
(via Wikimedia Commons)
Walhasil, segala yang terdapat “di dunia sana” itu tetap misterius. Apakah yang berlaku itu alam baka versi Islam, Kristen, Yunani, atau Norse, kita tidak tahu. Sebagaimana telah disebut: kita di dunia ini cuma bisa meraba-raba dalam gelap.
***
Oleh karena itulah, sekaitan dengan hal di atas, saya memandang bahwa tidak ada gunanya menanyakan pertanyaan berikut: “agama/keyakinan mana yang paling benar?” Sebab, ya, kenyataannya tidak ada yang benar ataupun salah di sini. Semuanya sama-sama berusaha untuk mengerti tentang Tuhan dan dunia-Nya. Masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan kelebihannya.
Tuhan dan alam-Nya dikatakan bersifat Maha Sempurna. Mungkinkah manusia yang serba terbatas memahami esensi-Nya? Jelas tidak.
Paling bagus kita cuma bisa melakukan pendekatan sebisa mungkin.
Di sinilah orang dididik untuk bersikap rendah hati. Dalam perjalanan untuk menggapai Yang Tak Tergapai, tidak ada satupun di antara kita yang berhak sombong. Apalagi sampai menyalahkan; membodoh-bodohi; atau malah membunuh yang lain atas nama Tuhan! Salah besar kalau orang merasa dirinya paling benar soal teologi. Manusia dalam hal ini sekadar makhluk bodoh yang mencari tahu.
Sebagaimana disinggung di tulisan tentang Plato minggu lalu, kesombongan membuat orang tertutup pada kebenaran. Hanya lewat kerendahan hati intelektual kita dapat maju — menyelidiki mana yang benar, sekaligus tetap awas pada kesalahan-kesalahan kita.
Penutup: Jadi, Ada Berapa Banyaknya Agama di Dunia Ini?
Sebelum menutup uraian ini, saya ingin menengok sekilas pada pertanyaan yang diajukan di awal sekali di tulisan ini. Jadi, ada berapa banyaknya agama di dunia ini?
Dulu, waktu masih agak naif, saya berpikir bahwa ini perkara yang signifikan. Bahwasanya, kalau semakin banyak agama yang mengaku sebagai “jalan Tuhan”, maka peluang saya memilih yang benar juga jadi kecil. Jadi yang mana dong yang harus saya pilih?
Kalau dipikir sekarang rasanya lucu. Masa memilih agama itu macam main lotre?
Meskipun begitu, bertahun-tahun kemudian baru saya menyadari satu hal. Bahwasanya berbagai agama itu tidak untuk dibenarkan atau disalahkan — mereka adalah cerminan jiwa zaman yang ingin memahami Yang Tak Terbatas. Masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan kelebihannya.
Di zaman batu dulu, nenek moyang kita membangun monumen berupa menhir dan obelisk. Dikatakan bahwa itu monumen penyembahan kepercayaan animisme. Dibandingkan dengan agama kita sekarang jelas amat terbelakang. Akan tetapi, salahkah mereka dengan keyakinan itu? Mereka sekadar ingin mencapai Yang Lebih Tinggi semampu mereka. Dengan akal sederhana, serta peralatan yang juga sederhana. Dengan caranya sendiri orang-orang zaman batu itu berusaha “bersentuhan” dengan Yang Lebih Tinggi.
What a row of Menhirs may look like
(via Wikipedia)
Di titik ini saya melihat bahwa yang penting bukan agamanya, filsafatnya, atau apapun sebangsanya. Alih-alih menyatakan benar atau salah, yang harus dihargai adalah upaya untuk mencapai spiritualitas. Keyakinan terbaik adalah yang paling bisa mengantar pada kepuasan batin. Dan untuk itu jelas tidak bisa disamakan dengan setiap orang.
Saya pikir, jikalau Tuhan ada, barangkali Dia akan menerima dan menghargai semua upaya itu. Mungkin… Mungkin lho. Saya kan tidak tahu jalan pikiran Tuhan.
Terkait dengan itu, saya sendiri akhirnya jadi belajar untuk menghargai pada agama dan aliran kepercayaan. Sebab, ya, pada dasarnya itu adalah upaya orang untuk mencapai Yang Tak Tergapai. Entah itu agama Islam, Kristiani, Hindu, Buddha, Zoroaster, Mormon, Pagan — semua bersumber dari hasrat manusia untuk menjadi spiritual. Bukan isinya yang harus dihakimi. Melainkan usahanya untuk bertemuan dengan Yang Maha Sempurna.
Oleh karena itu, salah besar kalau orang berpikir fanatik berlebihan: bahwa ajaran agamanya benar, sementara yang lain masuk neraka. Apalagi kalau disertai memukuli dan bunuh-membunuh. Setiap agama adalah sarana orang untuk mewujudkan kecenderungannya sebagai Homo religiosus. Masing-masing turun di waktu, tempat dan budaya yang berbeda. Masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan kelebihannya.
Tentu, di sisi lain, ada orang-orang yang tak merasa perlu menjadi religius. Sebagai contoh misalnya proponen ateisme semacam Richard Dawkins dan Sam Harris. Mengenai hal ini tidak ada salahnya — barangkali mereka memang tidak merasa perlu? Saya sendiri orang yang tidak beragama. Akan tetapi, itu tidak menghambat saya menghargai orang yang ingin mencapai kedamaian spiritual lewat agama. Walaupun pastinya dengan syarat orang tersebut tidak memaksakan keyakinannya pada yang tak mau. Kalau bawaannya converting mentality sih mati saja
…
…
…
Jadi, singkat cerita…
Selamat akhir pekan Kisanak. Sudahkah Anda belajar menghargai keyakinan tetangga hari ini?
——
Catatan dan Sumber:
[1] ^ Eliade, M. 1968. The Sacred and The Profane: The Nature of Religion. New York: Harvest Book
[2] ^ Meskipun begitu perlu dicatat bahwa banyak di antara filsuf ini yang saripati idenya berlandasan pada agama. Sebagai contoh Jaspers aslinya seorang teolog Katolik; demikian pula dengan Pascal dan Descartes.
[3] ^ Paine, T. The Religion of Deism Compared with the Christian Religion (esai)
[4] ^ Hamersma, H. Eksistensi dan Transendensi dalam Metafisika Karl Jaspers
(esai dalam Manusia Multi Dimensional, ed. M. Sastrapratedja. 1983. Jakarta: Penerbit Unika Atmajaya)







Tulisannya bagus dan tenang. Serasa baca Dunia Sophie, deh
Tapi saya jadi penasaran, dengan isi dan topik seperti ini mengundang banyak troll ga ya?
tadi awalnya mau iseng nge-troll, tapi ga jadi lah
Saya kok malah jarang (belum pernah?) lihat orang yang betul-betul eksplisit merasa paling benar menyoal teologi. Yang membebek buta pada pendeta-pendetanya pun sebetulnya agak jarang—kita di luar memang bisa mengamatinya seperti itu, tapi kalau dikatakan mereka hanya mengikuti agamawan-agamawan juga tidak bakal ada yang merasa.
Yang ada itu merasa memiliki akses ke sumber pengetahuan yang ineran dan tidak bisa diprotes. Perkara ambiguitas interpretasinya besok-besoklah, yang penting the good book says so! Buat saya ini sama saja, merasa paling benar by proxy, tidak langsung, tapi esensinya sama. Malah lebih berbahaya karena seolah-olah lebih merendah.
Tentunya sebagai disclaimer, di kubu nir-agama pun ada yang agak dogmatik.
BTW, tagline “Sebuah Renungan Filosofis” kok di kepala saya nadanya mirip-mirip “Sebuah Novel Pembangun Jiwa” dan sebangsanya ya. #ehHehe cuma di blog sora orang bisa menemukan catatan kaki lengkap dengan sumber bacaan.
Seperti biasa, tulisannya sangat ensiklopedik, seperti baca buku sekolah.
@Pak Guru
Menurut saya tidak selalu begitu. Bukankah “good book” itu adalah panduan bagi mereka yang mempercayainya. Jadi jika kita berbicara dalam satu lingkungan yang perindividunya meyakini “good book” itu maka tak jadi soal siapapun mengutip “good book” bahkan menurut saya itu baik sekali,[apa gunanya panduan jika tidak digunakan] perkara ambiguitas interpretasi ya boleh dibahas langsung atau “besok-besok”
Lain cerita jika kita berbicara pada kelompok yang memang tidak meyakini “good book” atau punya versi “good book” tersendiri, disini kalau ada yang berkata menurut “good book” miliknya ya gak akan kena dan itu memang menunjukkan orang tersebut merasa “good book”-nya yang paling benar sehingga bisa ia pakai untuk orang lain yang bahkan punya “good book” sendiri, kesannya memang merasa dirinya paling benar sich
ehem saya tertarik dengan kalimat ini
Pendekatan sebisa mungkin itu bagus tapi yang paling bagus menurut saya “pendekatan terbaik yang mungkin”. Akan lebih menarik kalau sora membahas lebih lanjut soal “pendekatan sebisa mungkin”
@ grace
Terima kasih.
*siap-siap membuka tutup akismet*
:::::
@ Pak Guru
Er, saya pernah… ^^;;
*csb*
Tergantung. Kultur Islam akar rumput seperti NU setahu saya sangat loyal mengikuti kata kyai-nya? :-/ CMIIW though. Walaupun di satu sisi, mereka lebih ke arah tradisionalis Islam-Jawa. Beda genre lah dengan our usual conservatives.
IMHO sih, ini lebih banyak terjadinya di kaum religius kelas menengah/perkotaan. Kalau di akar rumput saya rasa jarang ada nuance halus begitu rupa. Lha itu Wahhabi dan turunan-turunannya macam MMI seperti itu.
Walaupun memang intinya sama: “the good books says so”. Tapi tetap saja sentimen “paling benar” itu ada dan prevalen. Cuma demografinya saja agak jauh dari kita yang biasa debat di internet.
*IMHO & CMIIW*
Sebenarnya itu dimodifikasi dari tagline buku esai di citation nomor 4. Kedengaran diplomatis soale. (haha):::::
@ Gentole
*terbaaaanggg* xD
Hehe, terima kasih masbro.
:::::
@ secondprince
Ya itu kan perkara wording.
Re: pembahasan lebih lanjut, sebenarnya saya berangkat dari idenya Karl Popper. Esensinya kira-kira: “Kita tidak bisa mencapai kebenaran mutlak; yang bisa dilakukan cuma meminimalkan kesalahan agar lebih dekat ke sana.”
Dalam hal ini Popper bicara tentang metodologi ilmiah. Saya ya, berhubung pendidikannya insinyur, jadi nyambung sama beliau.
Tentang itu sendiri sebenarnya sangat mirip dengan semboyan di dunia teknik: “There is no best but better way”. Tapi itu dibahasnya kapan-kapan saja. Kuatirnya ntar malah OOT.
@ secondprince
Betul juga. Tapi bagi saya tetap coraknya merasa paling benar, yang mestinya gak salah juga. Biasanya pembelaan oleh yang mengacu pada kitab suci ialah; “ya jelas merasa paling benar, kalau tidak saya sudah pindah agama!” Dipikir-pikir memang masuk akal.
Barangkali yang dimaksud Masbung sora9n di sini “merasa paling tahu dan tidak bisa salah” atau sejenisnya? Sebab rasanya kalau sekadar merasa paling benar itu buat saya logis-logis saja. Asal tentu bersedia merevisi pendapatnya apabila menemukan argumentasi atau bukti yang mematahkan posisi yang sekarang dianut. Hidup ‘kan upaya mencari apa yang benar, kemudian mengikutinya. Secara definisi tentu yang sedang dianut sekarang yang dirasa paling benar.
@ sora9n
Ya, citra di kepala saya waktu menulis itu memang konservatif yang tipe itu; I stand corrected.
Wah baunya mirip waktu Masbro dan Masbro Gentole bertukar serangan filsuf v. insinyur dulu…
@ Pak Guru
Iya juga — sepertinya lebih tepat kalau diuraikan seperti itu. ^^a
Saya menulis “merasa paling benar” di atas maksudnya dalam pengertian jumawa, sih. Bandingannya seperti orang merasa diri “paling kaya”, “paling pintar”, atau sebagainya. Cuma kok jadinya semantic failure.
Good times, masbro, good times…
…
Mau tanya aja, sekedar nyokong (?) setan. Pernah ga menyalahkan pandangan spiritual orang lain? Bagaimana pendapatmu terhadap pandangan-pandangan itu, apakah sekedar “cara lain” atau cara yang salah atau gimana? Creationism itu salah to, tapi itu adalah bagian dari belief orang lain, jadi apakah ia “cara lain” juga?
Dan dirimu juga nulis,
Sementara bisa jadi proselitisasi dan menjelek-jelekkan agama lain adalah bagian dari belief orang lain (kita kan secara teknis bisa membuat agama seenak udel sendiri dan mengisinya dengan ajaran-ajaran aneh toh). Saya mengacu ke kasus Antonius Bawenang yang terjadi akhir-akhir ini, dan komiknya Jack Chick. Tentunya yang macam ini bukan “cara lain” toh.
Jujur saja saya masih terjebak di sini. Ada beberapa isme yang saya ga ngerti dan saya ga suka. Pahamnya Taliban itu jelas salah kalau buat saya. Begitu juga ajarannya Westboro Baptist Church. Ada juga pandangan-pandangan mainstream dan non-ekstrim yang saya ga setuju, tapi sebaiknya saya ga tulis di sini, takutnya nyerang orang-orang. Walaupun asal tidak merugikan orang lain ya tidak masalah buat saya.
(ini kaitannya dengan postingan saya yang ini)
Kalau macam Raelisme dan Scientology, gimana? Juga, kalau macam satanisme, gimana? Yang terakhir itu kan mengenal konsep Tuhan juga tuh, tapi mereka nyembahnya setan, i.e. entitas yang menjadi lawannya Tuhan.
(CMIIW)
Erratum:
Antonius Bawenang –> Antonius Bawengan
Yah ini memang paradoks dari cuaca toleransi modern ‘kan? Di satu sisi inginnya terbuka bagi segala ide, di sisi lain ada ide yang mesti ditolak mentah-mentah. Yang abu-abu itu yang sulit. Jalan tengah biasanya menerima hanya kepercayaan yang mau main dengan aturan yang disetujui bersama: apa itu bisa hidup berdampingan dengan damai, menghargai nilai-nilai yang diakui lintas agama, dan seterusnya.
Susahnya lagi kadang orang yang cenderung lebih religius menuduh aturan mainnya terlalu berpihak pada kaum sekuler. Free speech itu memang esensial buat kaum niragama, tapi banyak kaum religius tidak suka, misalnya, dengan Antonius Bawengan atau Andres Serrano. Saya bilang sih mau bagaimana lagi? Kalau mau beraturan netral, tentunya kaum yang kebetulan netral yang ketiban manfaat yang terbesar.
@ lambrtz
Gimana ya? Intinya sebenarnya begini sih: saya memaklumi motivasinya, tapi nggak setuju pada isinya. Seperti halnya saya tak setuju pada dewa-dewi atau animisme. Mereka ya enggak bener — tapi saya bisa menghargai alasannya. (o_0)”\
Re: kreasionisme, saya berprinsip bahwa pendapat yang berbeda bisa dipertimbangkan sejauh tidak ada bukti yang memberatkan. Lah tapi nyatanya bukti ilmiah melawan kreasionisme? Dan tidak cuma sedikit, melainkan banyak. Jadi ya maaf saja. Kreasionisme itu gak bisa diterima.
Bottom line, saya paham motivasi orang di situ. Akan tetapi setuju atau tidak, itu cerita lain. Saya menghargai orang purba bikin menhir bukan berarti saya menerima keyakinan mereka.
Begini, logikanya kira-kira seperti berikut:
(1) Ada banyak jenis agama/keyakinan/teologi
(2) Tetapi kebenarannya mustahil dibuktikan di dunia ini
(3) Maka: manusia di dunia ini tidak berhak merasa paling tahu dan tak bisa salah
Jadi ya, yang namanya proselitisasi/menjelek-jelekkan agama lain itu salah kaprah. Biarpun mungkin terkandung (atau dikira terkandung) dalam ajaran agama. Siapa sih kita yang berhak sombong, merasa paling ngerti kebenaran dunia-akhirat terus memaksa. Kan begitu?
* * *
Agama dan keyakinan sendiri aslinya bisa dipandang dua bagian. Mythos (pemaknaan spiritual) dan Logos (penalaran praktis). Saya tidak masalah dengan agama sebagai mythos. Masalahnya adalah kalau logos agama dipaksakan gegabah ke muka umum. Fatwa halal darah lah, inkuisisi lah, kreasionisme lah… dan sebagainya.
Jadi cukuplah agama itu di ranah personal/spiritual saja IMHO. Dia terlalu subyektif untuk dikenakan ke semua orang.
Ya itu. Seperti saya bilang, agama/kepercayaan itu tak bisa dipaksakan ke muka umum. Belum tentu cocok dengan setiap orang. Ibaratnya memilih istri, yang dianggap jodoh seseorang belum tentu dihargai orang lain.
Mirip dengan waktu mas gentole bilang Scarlett Johansson itu cakep, sementara saya lebih ngefans mbak Andrea. But that’s another story.
Raelisme dan Scientology itu… entah kenapa di mata saya, kesannya lebih dekat ke arah cult. Nggak terlalu fokus spiritual lah. Jadi kurang tepat kalau dihargai lewat basis Homo religiosus. :-/ *CMIIW*
Re: venerasi setan, tergantung versi mana dulu. Kebanyakan ‘kan cuma buat sok-sokan memberontak. Kalau filosofis macam Milton baru layak untuk dikaji.
/kontroversial
//not that I care
///me don’t believe in God or Satan anyway
@ Pak Guru
This. (u_u)
On related note, kemarin saya terpikir begini. Taruhlah ateis garis keras macam Myers dan Jerry Coyne baca — dan ngerti — isi tulisan di atas. Hampir pasti bakal mengkritik habis-habisan. Disebut faitheist lah, wooing superstition lah, rose-tinted glasses lah… (dan seterusnya)
Di satu sisi saya paham skeptisisme tanpa kompromi mereka. Maunya ya masyarakat rasional bebas takhayul. Masalahnya dunia tidak hitam-putih: Orang gak bisa meloncat begitu jauh dari aktivis sayap kanan jadi skeptis kelas wahid. Mesti dibiasakan pelan-pelan lewat wacana dan diplomasi.
*susah memang*
Sebentar.
Wooogakbisamasagamamestikaffahgakbisasetengahsetengahkaloudahdiperintahkandakwahdikitabsampeyanmauapa.BTW, jadi pengen bikin skala bigot skeptis.
Di ujung kiri ada Myers, ujung kanan mungkin Dennett? Kayaknya masih ada yang lebih diplomatis. David Attenborough?
^ Itu mesti intelektual publik ya, kalo gak ya di kiri ada ateis remaja Youtube, dan di kanan ada engkong-yang-ada-di-warung-kopi-langganan, dst.
Phil Plait? Ybs sempat bikin speech mengkritik skeptical dickishness tempo hari. Tapi ya, dia dilalap juga sama Coyne dkk. Capek deh.
Sam Harris IMHO rada ke kanan sedikit — minimal dia masih mengakui spiritualitas Timur. Atau bisa juga duet Chris Mooney/Sheril Kirshenbaum di Intersection. CMIIW though.
Mengenai Attenborough, saya kurang tahu. Musti baca dulu terkait ybs.
BTW, mulai OOT ini. Sudah ah. Balik ke topik. ^^;;
*ini kan intinya soal Homo religiosus etc.*
Ping balik:Homo Sinetronosus « Banalitas.org
Ping balik:Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung « ZENOSPHERE
Ping balik:Hal-hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Anda Percaya Riset Statistik « ZENOSPHERE
Ping balik:Hal-hal yang mendorong saya jadi internasionalis… « ZENOSPHERE
Ijin numpang komentar sora,
Koq saya lebih suka jika manusia bukan homo religius, tetapi semacam terjangkit penyakit atau virus yang di bawa adam. Karena manusia tidak ada yang terisolasi 100% dari pengaruh kebiasaan orang tuanya. Dia akan mengikuti pemikiran ortunya, meski akhirnya membuat persepsi religi yang baru (entah karena waktu, geografi, eksperimen sejarah).
Artinya religius seseorang terjadi karena telah mengalami pemahaman dari pendahulunya tentang entitas yang lebih tinggi. Tanpa virus ini, mungkinkah seseorang bisa berpersepsi tentang ke ghaib an? Dan merubah ketakutan atau kekaguman (harimau, halilintar, pohon besar pemberi air) menjadi sebuah kesakralan?
Tkyu, dah diijinkan komentar.
@ asam
Silakan. ^^
Yup, itu betul.
Nah, ini. Makanya ada bedanya antara religius dengan spiritual. Agama (religi) itu terkungkung oleh struktur budaya. Tetapi spiritualitas itu universal.
Makanya, kadang ada persepsi mistik yang lintas-agama. Misalnya khotbah Yesus (Mat. 6-7) ada paralel dengan Taoisme. Meister Eckhart (mistikus Kristen) juga pandangannya mirip dengan Buddhisme. Jadi di sini ada semacam perhubungan: orang bisa spiritual terlepas dari agama apa yang dianut.
Agama (religi) itu sekadar kendaraan saja. Sementara isinya, “spiritual”-nya, itu lepas dari budaya, ajaran orangtua dsb.
*IMHO & CMIIW*
Saya pikir bisa. Dan itu kembali pada masing-masing.
Sebagai contoh Buddha menolak ajaran-ajaran kuno India (Hindu, Jain, dsb). Tetapi dia menemukan “jalan” spiritualnya sendiri. Nah jadi seperti itu.
Seperti saya bilang sebelumnya, “spiritual” itu sifatnya bebas. Agama itu sekadar “kendaraan” saja untuk spiritualitas.
*mudah-mudahan cukup jelas*
BTW, sekadar menegaskan, siapa tahu orang salah sangka — saya tidak percaya pada Tuhan. Tapi orang bisa spiritual tanpa Tuhan. Nah loh, bingung kan?
*balik baca filsafat Timur*
Tetapi sora, *ijin sharing*
Justru yang terlihat adalah manusia adalah homo materailistis, kebalikan dari religius. Bahkan di saat berbagai spirit dan religi marak pun, manusia membuangnya jauh-jauh kecuali di saat terdesak. Seakan religi dan spirit hanyalah diperuntukkan manusia loser.
Sekarang, berapa banyak manusia membuang waktu untuk ke ghaib an. Seberapa tinggi kualitas spirit kecuali bertujuan untuk egoisme. Dan di filsafat timur, kemana tendensi spirit di gaungkan kecuali untuk kepentingan memanipulasi rakyat dan mengkokohkan kerajaan.
Maka tesis homo religius (eksperimen 100%isolasi dan anti tesis materialistis) tidak bisa dipenuhi.
@ asam
That *is* the point! Agama itu adalah pertahanan alami manusia menghadapi dunia. Dia muncul secara natural, makanya, di dunia ini ada macam-macam agama. Kalau mas/mbak pernah baca karya Daniel Dennett: Breaking The Spell: Religion as a Natural Phenomenon, barangkali paham maksud saya.
(FYI, Bapak Dennett ini ateis garis keras sepantaran dengan Richard Dawkins. Jadi beliau tidak bias agama)
Poin saya adalah, kebutuhan akan agama itu natural. Agama membantu manusia membuat ikatan sosial; memberi rasa kendali terhadap alam, dsb. Baru beberapa abad terakhir manusia mulai mengembangkan rasionalitas Pencerahan. Oleh karena itu peran agama sebagai sooth-sayer mulai ditinggalkan. Semakin kita modern, kita semakin maju. Menyingkirkan takhayul. Perlahan-lahan kita makin tidak butuh pada agama.
Nah ini sejalan dengan pendapat Richard Dawkins. Agama itu mekanisme natural, penting buat survival orang zaman dulu. Maka Homo religiosus. Di zaman sekarang Homo religiosus kurang relevan, tetapi sisa kecenderungannya masih ada, karena itu tendensi natural. Walhasil di zaman modern ini pun banyak orang masih taat beragama.
(mudah-mudahan cukup jelas)
(link terkait: http://xkcd.com/836/ )
Layaknya mekanisme alami, memang coraknya will for power. Dalam banyak kasus agama lebih dipakai untuk ‘penawar’ di saat menderita. Kalau sudah lewat menderitanya, ya, taatnya hilang.
You sure? Ada referensi?
Saya disclaim dulu sebelum lanjut: yang saya pelajari sejauh ini baru Buddhisme Zen dan Tao. Dan mereka cenderung asketik, hampir ga ada aturan moralnya malah. Jadi, jujur — klaim di atas rada asing buat saya.
Kalau memang ada referensinya, saya mau baca. Otherwise this sounds like the usual Western critique toward religion.
Begini deh, untuk mudahnya saya uraikan dlm bentuk poin.
(1) Waktu planet bumi masih muda, belum ada manusia dan agama.
(2) Kemudian manusia muncul di muka bumi. (let’s say from evolution)
(3) Sekarang ada banyak agama di bumi.
Mengesampingkan tesis “religion as a natural phenomenon” yang saya sebut di atas. Bisa tidak menjelaskan hubungan antara 2 dan 3?
Itulah mengapa sora-san, *no allergy warranty*
Mengesampingkan tesis “religion as a natural phenomenon” yang saya sebut di atas. Bisa tidak menjelaskan hubungan antara 2 dan 3?
Bahwa tesis homo religius hanyalah sebagai pelengkap penderita bagi kelemahan teori evolusi manusia adalah benar adanya. Dan secara sadar atau tidak telah melenakan, baik bagi cendekiawan yang pro maupun agamawan yang kontra, di sepanjang masa kemodernitasan dunia.
Dan bahwa pengakuan anti tesisnya yaitu manusia sebagai mahkluk materialis, justru akan menyadarkan dan membuktikan bahwa agama adalah sebuah wahyu yang berada di luar jangkauan indera, emosi, jiwa, dan akal manusia.
Tanpa agama yang berupa wahyu, -ikatan sosial, rasa kendali alam, hukum, takhayul- hanya berwujud persepsi keagamaan yang kering bernama spiritual (ini pun masih terpapar virus ‘agama’). Sedangkan pertahanan terhadap kekuatan dan ketakutan hanya akan terjawab secara natural berkat adanya egoisme. Seleksi antara lemah dan kuat akan berjalan seperti hukum rimba yang dialami oleh binatang, meski produk hukum itu dibuat karena sebab eksperimen sejarah yang panjang.
Bisa pula diterjemahkan bahwa persepsi sebagai produk akal non materi, tidak akan tercerahkan tanpa hadirnya wahyu, dan akhirnya hanya berujung pada egoism.
Itulah mengapa saya mengkritisi homo relegius dan spiritualism -secara tidak langsung-. CMIIW
@ asam
Ehm… melihat arah diskusi sejauh ini, ada baiknya kita clearing dulu sebelum lanjut. Sepertinya kok ada yang meleset.
Pertama-tama soal posisi saya. Seperti sudah ditulis di awal posting, saya agnostik (angka 4 di Skala Dawkins). Saya imparsial antara teisme/ateisme atau religion/irreligion. Betul-betul di tengah — boleh dibilang tidak memihak mana-mana.
Akan tetapi, saya membedakan antara agama (religi) dengan spiritualitas. Kenapa? Sebab spiritualitas itu sifatnya filosofis. Tidak mesti melibatkan agama dan keyakinan. Seorang ateis sekalipun bisa merasakan yang namanya gelora spiritual, tanpa membawa-bawa Tuhan dan agama: sebagai contoh Sam Harris, Carl Sagan, Niels Bohr.
Oleh karena itulah, saya agak bisa menghargai orang yang “mengejar” spiritualitas lewat agama. Biarpun sebenarnya itu agak salah kaprah. I don’t agree much with them, but I can understand. OK? Mudah-mudahan cukup jelas.
Sekarang masuk ke isi komentar…
Er, no. Sebenarnya maksud saya, tesis Homo religiosus itu bukan pelengkap penderita — melainkan konsekuensi logis dari evolusi. Apa yang membantu untuk survive, itulah yang dipakai.
Telah diuraikan di komentar sebelumnya, agama sukses membantu survival manusia. Agama muncul bukan sebagai pelengkap, melainkan, sebagai bagian tak terpisahkan dari evolusi manusia.
Mengenai hal itu sih, maaf saja, bukan urusan saya. Seperti sudah ditulis di awal: saya ini agnostik. Tidak ada leaning ke mana-mana soal itu.
Um, sepertinya pengertian kita tentang spritualitas agak beda. Bisa dirujuk di atas. IMHO, kalau dari persepsi itu, agak susah untuk dibilang ‘kering’.
Saran saya, coba deh cari e-book Carl Sagan, terus dibaca. Jangan langsung beli asli — lebih baik unduh dulu buat ngetes.
He may be atheist, but nobody can say that he’s not spiritual.
Ini ada benarnya… walaupun sejujurnya, saya agak merasa gimanaaa gitu dengan kata “wahyu”. Kesannya kok terlalu bertendensi religius. :-/
Saya pribadi melihatnya lebih cocok disebut “inspirasi”. Tapi yah, itu kan permainan kata saja.
Well, that’s our problem. Saya selalu memandang bahwa “religius” ≠ “spiritual”, sih. Barangkali mas/mbak selama ini cenderung mencampurkan. Jadinya kita kurang nyambung.
nongol lagi sora-san, (Ahihi…sabar ya)
Dari post terakhir sora, tersirat seakan saya telah menyudutkan. Maafkan saya kalau begitu. Tetapi pokok bahasannya memang akan membuat alergi bagi agnoster *halah*. Sealergi pentagon pada pencari kata-kata spesifik agama tertentu.
Dan sepertinya saya masih dalam track meng-kritisi salah satu alasan persebaran beragamnya agama, yaitu homo religius. Bagi saya, bila alasan utama ini sudah tidak benar, maka kajian dan pola pikir pencarian hipotesa tentu mengalami kendala. Bahkan akan mengarah pada cocok cinucok (cucologi bo..;).
Nah, bila sora-san berkenan mengembangkan tesis atau hipotesa, tentulah tidak akan menolak kemungkinan-kemungkinan selain yang telah pakem terjadi. Bukankah menolak bahwa manusia adalah pusat semesta adalah sesuatu yang gila pada masanya. Musykil?
Di sini saya menyodorkan bahasan bahwa manusia adalah materialistis -bila memang itu lawan kata homo religius. Dan agama yang mendorong rasa religius adalah sesuatu yang dipaksakan dari sononya melalui paradigma-paradigma yang berbentuk wahyu. Yang diwariskan berulang pada keturunan tokoh utama, lalu berkembang atau meleset seiiring dengan waktu, jarak, bahkan peradaban. Sehingga diperlukannya lagi pengingat atau pemberi kabar pada selang waktu kemudian.
That’s it. Tidak lebih.
Coba bandingkan dengan pola pikir homo religius, dimana manusia dianggap memilikinya secara alami seperti rasa lapar akan makanan maupun hasrat seksual. Bagaimana manusia berusaha keras menciptakan khayalan-khayalan pada entitas yang lebih tinggi. Jika tak cukup umur, maka diwariskan pada keturunannya untuk mencari lebih lanjut. Benarkah demikian? Jadi agama sebagai produk, sampai kini belum berakhir. Inikah spiritual?
Entahlah sora-san, bagi saya …”ini kering”. Sekering penjelasan musnahnya kaum berperadapan tinggi sekedar akibat bencana alam yang tak terduga semata.
@ asam
Sebenarnya enggak juga sih. Justru saya orangnya benar-benar imparsial — makanya apakah teis/ateis, religius/irreligius, saya gak masalah.
Dan agnostik sendiri tak punya alasan buat alergi. Sebab apanya yang dialergikan, wong posisinya di tengah-tengah.
Lho, saya tidak mengembangkan hipotesa. Ide Homo religiosus itu pemikiran Mircea Eliade. Yang kemudian, analisis terkait evolusinya dilakukan oleh Daniel Dennett.
Seriously, kalau masnya ingin mendebat ide tersebut, saya enggak masalah. Tapi jangan dianggap bahwa semua murni gagasan saya. Saya di sini sekadar menyampaikan.
Lah, dua hal itu tidak berlawanan. Kan penjelasan saya dari dulu materialistis?
Begini lho maksud saya. Seperti saya uraikan kemarin dulu, Homo religiosus itu terjadinya proses alami. Wired by evolution. Perasaan religius itu tidak mesti disebabkan Tuhan, melainkan terbentuk oleh alam. Prosesnya benar-benar materialistik. (baca juga: komen2 saya yang sebelum ini)
As it is, sensasi religius itu… ya sensasi. Tidak membuktikan apa-apa tentang kebenaran Tuhan dan agama, sebab memang cuma sensasi. Sama seperti rasa keindahan terhadap seni dan sebagainya.
Sensasi religius *tidak berarti sebagai* bukti kebenaran religius. Oke?
* * *
BTW, saya pikir ada baiknya masnya baca/unduh karya Daniel Dennett yang sudah disebut. Banyak dari pertanyaan sejauh ini yang sudah diuraikan di situ. May be worth your time.
Euh, itu sebutannya konsep meme. Agak beda dengan Homo religiosus (yang disebabkan evolusi) yang kita bicarakan.
BTW, saya setuju agama yang mendorong rasa religius itu sesuatu yang dipaksakan. Tetapi — seperti sudah kita diskusikan panjang lebar — sensasi religius dan spiritualitas tidak cuma soal agama. Secara big picture agama itu cuma sekunder.
Memang agama itu produk. Kan saya bilang, secara big picture, dia itu sekunder. Agama cuma “tampak luar” dari sebuah kompleksitas.
Nope. Spiritual itu lebih ke arah sini.
Untuk dibandingkan: John Keats vs. Newton (format Flash). ^^
ada kemungkinan gak kalo agama/Tuhan/Dewa-dewa itu hadir untuk merepresentasikan makhluk ekstraterrestrial dari planet lain yang hadir ke bumi di masa purba yang ‘membimbing’ manusia menuju pencerahan ilmu pengerahuan,
secara semua agama-agam besar di dunia punya kaitan yg tinggi sama makhluk2 non-Bumi yg berasal dari langit.
@ Septian Hadi Nugraha
Sori agak telat, dua hari terakhir saya nggak online.
Itu sebutannya Teori Ancient Astronaut. Kalau menurut teori ybs, kisah-kisah agama di dunia sebetulnya menggambarkan makhluk asing yang lebih advanced dan mengajari manusia. Sedemikian hingga dianggap sebagai sosok “Tuhan” atau “Malaikat”. (lebih lanjut bisa dibaca di link)
Tapi yaa, walaupun secara konsep sangat menarik, teori itu boleh dibilang kurang ilmiah. Sebab tidak (belum?) ada bukti kuat bahwa berbagai agama itu memang betul dari alien. Jadi mungkin dianggap ‘ide pinggiran’ saja.
Adapun sejauh ini, para ilmuwan/antropolog menilai penjelasan Homo religiosus/mekanisme natural sudah cukup menjelaskan kehadiran agama. Selanjutnya bisa dibaca di posting dan komen-komen di atas. ^^
yany jelas kita sebagai manusia adalah mahluk yang tidak sempurna
bagus, tx atas pencerahannya..
ber’islam’ku antara pikir, hati dan doktrin. chaos antara aspek itu kupahami sebagai proses peningkatan kualitas diri. Gelisah, gairah, frustasi, optimisme jadi satu.