ZENOSPHERE

bungee-jumping from the ivory tower

Ada Berapa Banyak Agama di Dunia Ini? (Sebuah Renungan Filosofis)

    Catatan: Ditulis oleh seorang pemikir bebas berhaluan agnostik (Skala Dawkins 4, if that helps ;) )

 

Ada sebuah pertanyaan yang pertama kali terlintas bertahun-tahun lalu, kurang lebih ketika saya masih SMA. Waktu itu saya bertanya dalam hati seperti ini: “Sebenarnya, ada berapa banyak agama di dunia ini?”

Sebenarnya ada cerita di balik munculnya pertanyaan di atas. Gara-garanya waktu itu, saya baru selesai membaca buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Ini buku menarik yang mengetengahkan tentang sejarah perjalanan agama-agama di dunia — terutama agama Abrahamik seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Boleh dibilang bahwa buku ini mengenalkan saya pada macam-ragam keyakinan pada Tuhan yang ada di dunia.

Perkara perbedaan agama sendiri bukan hal yang asing bagi saya. Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan multikultur pinggiran Jakarta, saya terbiasa melihat agama dan keyakinan yang berbeda. Teman-teman SD saya dulu boleh dibilang mewakili berbagai agama di Indonesia. Yang Katolik ada; Protestan ada; Hindu juga ada. Mengenai Islam tentu tak usah ditanya — sebagaimana bisa ditebak, statusnya bersifat mayoritas di wilayah tersebut.

Meskipun demikian, pemaknaan akan perbedaan di atas kemudian membuat saya bertanya-tanya. Memangnya ada apa sih, kok bisa agama dan keyakinan orang itu beragam begitu rupa? Di Indonesia kita tahu yang diakui ada lima agama, akan tetapi, itu baru sebagian. Di Iran ada Zoroaster; di Amerika Serikat ada Mormon; di India ada Sikh dan Jainisme. Dan lain sebagainya. Belum lagi kalau menghitung yang bersifat kepercayaan. Sebagai contoh di antaranya Kejawen atau Konghucu. :o

***

Nah, sekaitan dengan itu, tulisan kali ini akan berupaya membahas aspek filosofis di balik keragaman tersebut. Ada apa di baliknya, dan seperti apa ceritanya, akan segera kita amati berikut ini. ;)

 
Manusia, Sang Homo Religiosus
 

Bapak Mircea Eliade — seorang antropolog sekaligus filsuf — pertama kali mengetengahkan gagasan tentang manusia sebagai “makhluk religius” (“Homo religiosus”). Disebut seperti itu karena manusia sejak zaman purba cenderung mengikatkan diri pada kesakralan. Mulai dari menetapkan tempat sakral; waktu-waktu sakral, sampai ritual yang juga sakral.[1] Misalnya contoh berikut.

Ketika manusia generasi awal muncul ke dunia, pikirannya masih sederhana. Ia belum mengetahui ilmu pengetahuan seperti kita kenal sekarang. Semua gejala alam yang dilihat diterjemahkan sebagai aktivitas dewa. Panen yang berhasil dianggap sebagai keberkatan dewa, oleh karena itu mesti dirayakan lewat festival dan tari-tarian. Begitu pula apabila terdapat bencana alam seperti banjir dan petir — disangkanya itu bukti bahwa dewa sedang marah. Oleh karena itu harus disenangkan lewat ritual dan sesajian.

Di sini, Eliade menggariskan satu hal: manusia sejak awalnya cenderung bersifat religius. Manusia ingin bisa bersentuhan dengan Zat Yang Lebih Tinggi. Oleh karena itu mereka bergerak melakukan sakralisasi: menetapkan hal-hal sakral di lingkungan sekitar. Mulai dari “tempat sakral” untuk berkumpul; “waktu sakral” untuk ritual; hingga “ritus sakral” yang harus dilaksanakan. Semua itu bersumber dari keinginan untuk bersinergi dengan Yang Lebih Tinggi.

Stonehenge

Stonehenge di atas diduga sebagai “tempat sakral” kaum Druid

(via Wikipedia)

Bahwa manusia punya hasrat bersentuhan dengan Yang Lebih Tinggi, itu tak bisa dipungkiri. Secara psikologis pastilah terdapat keuntungan jika kita merasa terhubung dengan penguasa alam. Sebagaimana diucapkan dalam sebuah peribahasa Inggris: “There is no atheist in a foxhole”. Terlepas dari pernyataannya yang dubious dan menggeneralisir, peribahasa ini menunjukkan bahwa orang (pada umumnya) punya kerinduan pada sosok yang Maha Melindungi. :)

***

Sampai di sini kita telah melihat pandangan Eliade tentang manusia sebagai Homo religiosus. Atau dengan kata lain: manusia sebagai makhluk yang cenderung religius. Kecenderungan ini bersifat universal di tiap orang; tak peduli asal-usulnya.

Oleh karena itu, tidak heran apabila di dunia kuno terdapat banyak versi mitos dewa-dewi dan sesembahan. Sebab masing-masing berupaya mengekspresikan kecenderungan religius lewat caranya sendiri-sendiri. Sebagai contoh budaya Yunani Kuno menganggap Penghuni Gunung Olympus sebagai sesembahan. Sementara suku Celtic di Britania cenderung pagan yang dekat dengan alam. Adapun di India dan Cina, yang berkembang adalah keyakinan Timur seperti Tao, Buddhisme, dan Konfusianisme.

Boleh dibilang bahwa agama yang berbeda-beda itu ialah perwujudan dari spirit religius manusia. Homo religiosus itu selalu mencari bentuk. Hanya saja, karena lokasi dan kulturnya berbeda-beda, cara mewujudkannya juga ikut berbeda. ;)

 
Para Pemikir Bebas: Tuhan Para Filsuf
 

Menariknya, biarpun di atas dicontohkan bahwa Homo religiosus mengekspresikan diri mereka lewat agama, tidak semua orang menyatakan keimanan lewat agama. Ada juga beberapa pemikir yang meyakini konsep supreme being lewat jalur filsafat.[2]

Ada beberapa alasan mengapa para filsuf ini tidak tertarik pada ide “Tuhan” berdasarkan kitab suci. Sebagian merasa bahwa kitab suci itu diperuntukkan bagi generasi sosial/budaya yang telah lewat. Sebagian lagi merasa bahwa kejadian yang digambarkan dalam kitab suci itu bertentangan dengan penemuan sains. Ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu seharusnya universal; dapat dijangkau oleh orang dengan akal pikiran yang paling murni. Oleh karena itu para filsuf ini merumuskan keyakinannya sendiri-sendiri.

Sebagai contoh di antaranya adalah Thomas Paine. Menilik berbagai problem logika seperti problem of evil, sekaligus juga karena ilmu pengetahuan bertentangan dengan Bibel, ia memilih keyakinan yang disebut Deisme. Bahwasanya Tuhan menciptakan dunia di awal mula. Meskipun begitu, selanjutnya Tuhan tidak turut campur dalam urusan di dunia — semua diserahkan pada hukum alam dan kehendak bebas manusia.[3] Paling banter, Tuhan di sini diilustrasikan sebagai pengamat pasif yang memperhatikan laju peristiwa di Bumi. :o

Yang juga menarik adalah Karl Jaspers, teolog sekaligus psikiater asal Jerman. Jaspers berpendapat bahwa Tuhan itu aslinya bersifat transenden. Akan tetapi ia berpendapat bahwa Tuhan menyisakan jejaknya di muka bumi yang dapat kita persepsi. Apabila orang memperhatikan — menalar simbol-simbol Tuhan di dunia — maka benaknya akan mampu mendekati Hakikat Tuhan. Bagi Jaspers dunia ini ibaratnya serangkaian cipher metafisika yang membungkus Kebenaran. Hanya dengan memecahkan cipher maka orang akan mampu mendekat pada Tuhan; mencapai iman sejati.[4] :D

Karl Jaspers

Karl Jaspers (1883-1969). Entah kenapa saya merasa beliau ini bertampang aristokrat. :P

(courtesy of Uni Heidelberg)

Dan masih banyak contoh-contoh ahli filsafat lain yang mendefinisikan “Tuhan” lewat pemikiran orisinil. Mulai dari Blaise Pascal, Gottfried Leibniz, hingga Rene Descartes masuk ke dalamnya. Walaupun di satu sisi harus diakui: mereka umumnya memiliki sentuhan agama (Kristiani) dalam merumuskan pemikirannya.

 
Perjalanan Mencari Makna: Tidak Ada yang Berhak Sombong
 

Sejauh ini kita telah melihat berbagai versi keyakinan. Mulai dari agama-agama purba hingga keyakinan terhadap Tuhan versi filsuf. Tentunya kemudian timbul pertanyaan: versi yang manakah yang benar? :mrgreen:

Sejujurnya kalau Anda tanya saya, jawabannya agak lebih rumit daripada sekadar “pilih salah satu”. Pada kenyataannya, tidak satupun dari mereka yang benar secara absolut. :-?

Kenapa bisa begitu, ini ada ceritanya lagi.

Di salah satu tulisan di blog lama, saya pernah menulis tentang problem di ilmu teologi (sebaiknya dibaca untuk penjelasan lebih detail). Yang namanya teologi mustahil dibuktikan secara telak di dunia ini. Kita cuma bisa menganalisis lewat kitab suci, pemikiran filsafat, atau sebagainya. Akan tetapi pada akhirnya, tidak ada satupun yang menguatkan duga-dugaan itu. Pada akhirnya kita seperti meraba-raba dalam gelap.

Cara paling ampuh tentu kalau orang “melihat sendiri” kebenarannya sesudah meninggal. Cuma masalahnya, mereka yang sudah meninggal tidak bisa kembali ke dunia. Jadi kita di sini tak punya masukan apapun untuk mengklarifikasi. :|

Jadi, kita ini mau dikirim ke Hades atau alam barzakh?

(via Wikimedia Commons)

Walhasil, segala yang terdapat “di dunia sana” itu tetap misterius. Apakah yang berlaku itu alam baka versi Islam, Kristen, Yunani, atau Norse, kita tidak tahu. Sebagaimana telah disebut: kita di dunia ini cuma bisa meraba-raba dalam gelap. :|

***

Oleh karena itulah, sekaitan dengan hal di atas, saya memandang bahwa tidak ada gunanya menanyakan pertanyaan berikut: “agama/keyakinan mana yang paling benar?” Sebab, ya, kenyataannya tidak ada yang benar ataupun salah di sini. Semuanya sama-sama berusaha untuk mengerti tentang Tuhan dan dunia-Nya. Masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan kelebihannya.

Tuhan dan alam-Nya dikatakan bersifat Maha Sempurna. Mungkinkah manusia yang serba terbatas memahami esensi-Nya? Jelas tidak. :mrgreen: Paling bagus kita cuma bisa melakukan pendekatan sebisa mungkin.

Di sinilah orang dididik untuk bersikap rendah hati. Dalam perjalanan untuk menggapai Yang Tak Tergapai, tidak ada satupun di antara kita yang berhak sombong. Apalagi sampai menyalahkan; membodoh-bodohi; atau malah membunuh yang lain atas nama Tuhan! Salah besar kalau orang merasa dirinya paling benar soal teologi. Manusia dalam hal ini sekadar makhluk bodoh yang mencari tahu.

Sebagaimana disinggung di tulisan tentang Plato minggu lalu, kesombongan membuat orang tertutup pada kebenaran. Hanya lewat kerendahan hati intelektual kita dapat maju — menyelidiki mana yang benar, sekaligus tetap awas pada kesalahan-kesalahan kita. :)

 
Penutup: Jadi, Ada Berapa Banyaknya Agama di Dunia Ini?
 

Sebelum menutup uraian ini, saya ingin menengok sekilas pada pertanyaan yang diajukan di awal sekali di tulisan ini. Jadi, ada berapa banyaknya agama di dunia ini?

Dulu, waktu masih agak naif, saya berpikir bahwa ini perkara yang signifikan. Bahwasanya, kalau semakin banyak agama yang mengaku sebagai “jalan Tuhan”, maka peluang saya memilih yang benar juga jadi kecil. Jadi yang mana dong yang harus saya pilih? :|

Kalau dipikir sekarang rasanya lucu. Masa memilih agama itu macam main lotre? :mrgreen: Meskipun begitu, bertahun-tahun kemudian baru saya menyadari satu hal. Bahwasanya berbagai agama itu tidak untuk dibenarkan atau disalahkan — mereka adalah cerminan jiwa zaman yang ingin memahami Yang Tak Terbatas. Masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan kelebihannya.

Di zaman batu dulu, nenek moyang kita membangun monumen berupa menhir dan obelisk. Dikatakan bahwa itu monumen penyembahan kepercayaan animisme. Dibandingkan dengan agama kita sekarang jelas amat terbelakang. Akan tetapi, salahkah mereka dengan keyakinan itu? Mereka sekadar ingin mencapai Yang Lebih Tinggi semampu mereka. Dengan akal sederhana, serta peralatan yang juga sederhana. Dengan caranya sendiri orang-orang zaman batu itu berusaha “bersentuhan” dengan Yang Lebih Tinggi.

batu menhir sardinia

What a row of Menhirs may look like

(via Wikipedia)

Di titik ini saya melihat bahwa yang penting bukan agamanya, filsafatnya, atau apapun sebangsanya. Alih-alih menyatakan benar atau salah, yang harus dihargai adalah upaya untuk mencapai spiritualitas. Keyakinan terbaik adalah yang paling bisa mengantar pada kepuasan batin. Dan untuk itu jelas tidak bisa disamakan dengan setiap orang.

Saya pikir, jikalau Tuhan ada, barangkali Dia akan menerima dan menghargai semua upaya itu. Mungkin… Mungkin lho. Saya kan tidak tahu jalan pikiran Tuhan. :mrgreen:

 
Terkait dengan itu, saya sendiri akhirnya jadi belajar untuk menghargai pada agama dan aliran kepercayaan. Sebab, ya, pada dasarnya itu adalah upaya orang untuk mencapai Yang Tak Tergapai. Entah itu agama Islam, Kristiani, Hindu, Buddha, Zoroaster, Mormon, Pagan — semua bersumber dari hasrat manusia untuk menjadi spiritual. Bukan isinya yang harus dihakimi. Melainkan usahanya untuk bertemuan dengan Yang Maha Sempurna. :D

Oleh karena itu, salah besar kalau orang berpikir fanatik berlebihan: bahwa ajaran agamanya benar, sementara yang lain masuk neraka. Apalagi kalau disertai memukuli dan bunuh-membunuh. Setiap agama adalah sarana orang untuk mewujudkan kecenderungannya sebagai Homo religiosus. Masing-masing turun di waktu, tempat dan budaya yang berbeda. Masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan kelebihannya.

Tentu, di sisi lain, ada orang-orang yang tak merasa perlu menjadi religius. Sebagai contoh misalnya proponen ateisme semacam Richard Dawkins dan Sam Harris. Mengenai hal ini tidak ada salahnya — barangkali mereka memang tidak merasa perlu? Saya sendiri orang yang tidak beragama. Akan tetapi, itu tidak menghambat saya menghargai orang yang ingin mencapai kedamaian spiritual lewat agama. Walaupun pastinya dengan syarat orang tersebut tidak memaksakan keyakinannya pada yang tak mau. Kalau bawaannya converting mentality sih mati saja :evil:

Jadi, singkat cerita…

Selamat akhir pekan Kisanak. Sudahkah Anda belajar menghargai keyakinan tetangga hari ini? :mrgreen:

 

 

——

Catatan dan Sumber:

 
[1] ^ Eliade, M. 1968. The Sacred and The Profane: The Nature of Religion. New York: Harvest Book

[2] ^ Meskipun begitu perlu dicatat bahwa banyak di antara filsuf ini yang saripati idenya berlandasan pada agama. Sebagai contoh Jaspers aslinya seorang teolog Katolik; demikian pula dengan Pascal dan Descartes.

[3] ^ Paine, T. The Religion of Deism Compared with the Christian Religion (esai)

[4] ^ Hamersma, H. Eksistensi dan Transendensi dalam Metafisika Karl Jaspers
(esai dalam Manusia Multi Dimensional, ed. M. Sastrapratedja. 1983. Jakarta: Penerbit Unika Atmajaya)

58 responses to “Ada Berapa Banyak Agama di Dunia Ini? (Sebuah Renungan Filosofis)

  1. grace Februari 12, 2011 pukul 12:22 am

    Tulisannya bagus dan tenang. Serasa baca Dunia Sophie, deh :-P
    Tapi saya jadi penasaran, dengan isi dan topik seperti ini mengundang banyak troll ga ya?
    tadi awalnya mau iseng nge-troll, tapi ga jadi lah :mrgreen:

  2. Pak Guru Februari 12, 2011 pukul 12:54 am

    Saya kok malah jarang (belum pernah?) lihat orang yang betul-betul eksplisit merasa paling benar menyoal teologi. Yang membebek buta pada pendeta-pendetanya pun sebetulnya agak jarang—kita di luar memang bisa mengamatinya seperti itu, tapi kalau dikatakan mereka hanya mengikuti agamawan-agamawan juga tidak bakal ada yang merasa.

    Yang ada itu merasa memiliki akses ke sumber pengetahuan yang ineran dan tidak bisa diprotes. Perkara ambiguitas interpretasinya besok-besoklah, yang penting the good book says so! Buat saya ini sama saja, merasa paling benar by proxy, tidak langsung, tapi esensinya sama. Malah lebih berbahaya karena seolah-olah lebih merendah.

    Tentunya sebagai disclaimer, di kubu nir-agama pun ada yang agak dogmatik.

  3. Pak Guru Februari 12, 2011 pukul 12:57 am

    BTW, tagline “Sebuah Renungan Filosofis” kok di kepala saya nadanya mirip-mirip “Sebuah Novel Pembangun Jiwa” dan sebangsanya ya. #eh

  4. Gentole Februari 12, 2011 pukul 4:18 am

    Hehe cuma di blog sora orang bisa menemukan catatan kaki lengkap dengan sumber bacaan. :) Seperti biasa, tulisannya sangat ensiklopedik, seperti baca buku sekolah. :)

  5. secondprince Februari 12, 2011 pukul 9:13 am

    @Pak Guru

    Yang ada itu merasa memiliki akses ke sumber pengetahuan yang ineran dan tidak bisa diprotes. Perkara ambiguitas interpretasinya besok-besoklah, yang penting the good book says so! Buat saya ini sama saja, merasa paling benar by proxy, tidak langsung, tapi esensinya sama. Malah lebih berbahaya karena seolah-olah lebih merendah.

    Menurut saya tidak selalu begitu. Bukankah “good book” itu adalah panduan bagi mereka yang mempercayainya. Jadi jika kita berbicara dalam satu lingkungan yang perindividunya meyakini “good book” itu maka tak jadi soal siapapun mengutip “good book” bahkan menurut saya itu baik sekali,[apa gunanya panduan jika tidak digunakan] perkara ambiguitas interpretasi ya boleh dibahas langsung atau “besok-besok” :mrgreen:

    Lain cerita jika kita berbicara pada kelompok yang memang tidak meyakini “good book” atau punya versi “good book” tersendiri, disini kalau ada yang berkata menurut “good book” miliknya ya gak akan kena dan itu memang menunjukkan orang tersebut merasa “good book”-nya yang paling benar sehingga bisa ia pakai untuk orang lain yang bahkan punya “good book” sendiri, kesannya memang merasa dirinya paling benar sich :)

  6. secondprince Februari 12, 2011 pukul 9:22 am

    ehem saya tertarik dengan kalimat ini

    Paling bagus kita cuma bisa melakukan pendekatan sebisa mungkin.

    Pendekatan sebisa mungkin itu bagus tapi yang paling bagus menurut saya “pendekatan terbaik yang mungkin”. Akan lebih menarik kalau sora membahas lebih lanjut soal “pendekatan sebisa mungkin” :)

  7. sora9n Februari 12, 2011 pukul 11:15 am

    @ grace

    Tulisannya bagus dan tenang. Serasa baca Dunia Sophie, deh :-P

    Terima kasih. :mrgreen:

    tadi awalnya mau iseng nge-troll, tapi ga jadi lah :mrgreen:

    *siap-siap membuka tutup akismet* :evil:

    :::::

    @ Pak Guru

    Saya kok malah jarang (belum pernah?) lihat orang yang betul-betul eksplisit merasa paling benar menyoal teologi.

    Er, saya pernah… ^^;;

    *csb*

    Yang membebek buta pada pendeta-pendetanya pun sebetulnya agak jarang—kita di luar memang bisa mengamatinya seperti itu, tapi kalau dikatakan mereka hanya mengikuti agamawan-agamawan juga tidak bakal ada yang merasa.

    Tergantung. Kultur Islam akar rumput seperti NU setahu saya sangat loyal mengikuti kata kyai-nya? :-/ CMIIW though. Walaupun di satu sisi, mereka lebih ke arah tradisionalis Islam-Jawa. Beda genre lah dengan our usual conservatives.

    Yang ada itu merasa memiliki akses ke sumber pengetahuan yang ineran dan tidak bisa diprotes. Perkara ambiguitas interpretasinya besok-besoklah, yang penting the good book says so!

    IMHO sih, ini lebih banyak terjadinya di kaum religius kelas menengah/perkotaan. Kalau di akar rumput saya rasa jarang ada nuance halus begitu rupa. Lha itu Wahhabi dan turunan-turunannya macam MMI seperti itu. :-?

    Walaupun memang intinya sama: “the good books says so”. Tapi tetap saja sentimen “paling benar” itu ada dan prevalen. Cuma demografinya saja agak jauh dari kita yang biasa debat di internet. :P

    *IMHO & CMIIW*

    BTW, tagline “Sebuah Renungan Filosofis” kok di kepala saya nadanya mirip-mirip “Sebuah Novel Pembangun Jiwa” dan sebangsanya ya. #eh

    Sebenarnya itu dimodifikasi dari tagline buku esai di citation nomor 4. Kedengaran diplomatis soale. (haha)

    :::::

    @ Gentole

    *terbaaaanggg* xD

    Hehe, terima kasih masbro. :D

    :::::

    @ secondprince

    Pendekatan sebisa mungkin itu bagus tapi yang paling bagus menurut saya “pendekatan terbaik yang mungkin”. Akan lebih menarik kalau sora membahas lebih lanjut soal “pendekatan sebisa mungkin” :)

    Ya itu kan perkara wording. :lol:

    Re: pembahasan lebih lanjut, sebenarnya saya berangkat dari idenya Karl Popper. Esensinya kira-kira: “Kita tidak bisa mencapai kebenaran mutlak; yang bisa dilakukan cuma meminimalkan kesalahan agar lebih dekat ke sana.”

    Dalam hal ini Popper bicara tentang metodologi ilmiah. Saya ya, berhubung pendidikannya insinyur, jadi nyambung sama beliau. :mrgreen:

    Tentang itu sendiri sebenarnya sangat mirip dengan semboyan di dunia teknik: “There is no best but better way”. Tapi itu dibahasnya kapan-kapan saja. Kuatirnya ntar malah OOT. :lol:

  8. Pak Guru Februari 12, 2011 pukul 6:37 pm

    @ secondprince

    Betul juga. Tapi bagi saya tetap coraknya merasa paling benar, yang mestinya gak salah juga. Biasanya pembelaan oleh yang mengacu pada kitab suci ialah; “ya jelas merasa paling benar, kalau tidak saya sudah pindah agama!” Dipikir-pikir memang masuk akal.

    Barangkali yang dimaksud Masbung sora9n di sini “merasa paling tahu dan tidak bisa salah” atau sejenisnya? Sebab rasanya kalau sekadar merasa paling benar itu buat saya logis-logis saja. Asal tentu bersedia merevisi pendapatnya apabila menemukan argumentasi atau bukti yang mematahkan posisi yang sekarang dianut. Hidup ‘kan upaya mencari apa yang benar, kemudian mengikutinya. Secara definisi tentu yang sedang dianut sekarang yang dirasa paling benar.

    @ sora9n

    Ya, citra di kepala saya waktu menulis itu memang konservatif yang tipe itu; I stand corrected.

  9. Pak Guru Februari 12, 2011 pukul 6:39 pm

    Tentang itu sendiri sebenarnya sangat mirip dengan semboyan di dunia teknik: “There is no best but better way”.

    Wah baunya mirip waktu Masbro dan Masbro Gentole bertukar serangan filsuf v. insinyur dulu…

  10. sora9n Februari 12, 2011 pukul 7:17 pm

    @ Pak Guru

    Barangkali yang dimaksud Masbung sora9n di sini “merasa paling tahu dan tidak bisa salah” atau sejenisnya?

    Iya juga — sepertinya lebih tepat kalau diuraikan seperti itu. ^^a

    Saya menulis “merasa paling benar” di atas maksudnya dalam pengertian jumawa, sih. Bandingannya seperti orang merasa diri “paling kaya”, “paling pintar”, atau sebagainya. Cuma kok jadinya semantic failure. :P

    Wah baunya mirip waktu Masbro dan Masbro Gentole bertukar serangan filsuf v. insinyur dulu…

    Good times, masbro, good times… :mrgreen:

  11. lambrtz Februari 13, 2011 pukul 1:26 am

    :?

    Mau tanya aja, sekedar nyokong (?) setan. Pernah ga menyalahkan pandangan spiritual orang lain? Bagaimana pendapatmu terhadap pandangan-pandangan itu, apakah sekedar “cara lain” atau cara yang salah atau gimana? Creationism itu salah to, tapi itu adalah bagian dari belief orang lain, jadi apakah ia “cara lain” juga? :?

    Dan dirimu juga nulis,

    Kalau bawaannya converting mentality sih mati saja

    Sementara bisa jadi proselitisasi dan menjelek-jelekkan agama lain adalah bagian dari belief orang lain (kita kan secara teknis bisa membuat agama seenak udel sendiri dan mengisinya dengan ajaran-ajaran aneh toh). Saya mengacu ke kasus Antonius Bawenang yang terjadi akhir-akhir ini, dan komiknya Jack Chick. Tentunya yang macam ini bukan “cara lain” toh. :?

    Jujur saja saya masih terjebak di sini. Ada beberapa isme yang saya ga ngerti dan saya ga suka. Pahamnya Taliban itu jelas salah kalau buat saya. Begitu juga ajarannya Westboro Baptist Church. Ada juga pandangan-pandangan mainstream dan non-ekstrim yang saya ga setuju, tapi sebaiknya saya ga tulis di sini, takutnya nyerang orang-orang. Walaupun asal tidak merugikan orang lain ya tidak masalah buat saya.

    (ini kaitannya dengan postingan saya yang ini)

    Entah itu agama Islam, Kristiani, Hindu, Buddha, Zoroaster, Mormon, Pagan — semua bersumber dari hasrat manusia untuk menjadi spiritual. Bukan isinya yang harus dihakimi.

    Kalau macam Raelisme dan Scientology, gimana? Juga, kalau macam satanisme, gimana? Yang terakhir itu kan mengenal konsep Tuhan juga tuh, tapi mereka nyembahnya setan, i.e. entitas yang menjadi lawannya Tuhan. :P (CMIIW)

  12. lambrtz Februari 13, 2011 pukul 1:27 am

    Erratum:
    Antonius Bawenang –> Antonius Bawengan

  13. Pak Guru Februari 13, 2011 pukul 2:08 am

    Yah ini memang paradoks dari cuaca toleransi modern ‘kan? Di satu sisi inginnya terbuka bagi segala ide, di sisi lain ada ide yang mesti ditolak mentah-mentah. Yang abu-abu itu yang sulit. Jalan tengah biasanya menerima hanya kepercayaan yang mau main dengan aturan yang disetujui bersama: apa itu bisa hidup berdampingan dengan damai, menghargai nilai-nilai yang diakui lintas agama, dan seterusnya. :)

    Susahnya lagi kadang orang yang cenderung lebih religius menuduh aturan mainnya terlalu berpihak pada kaum sekuler. Free speech itu memang esensial buat kaum niragama, tapi banyak kaum religius tidak suka, misalnya, dengan Antonius Bawengan atau Andres Serrano. Saya bilang sih mau bagaimana lagi? Kalau mau beraturan netral, tentunya kaum yang kebetulan netral yang ketiban manfaat yang terbesar.

  14. sora9n Februari 13, 2011 pukul 1:04 pm

    @ lambrtz

    Creationism itu salah to, tapi itu adalah bagian dari belief orang lain, jadi apakah ia “cara lain” juga? :?

    Gimana ya? Intinya sebenarnya begini sih: saya memaklumi motivasinya, tapi nggak setuju pada isinya. Seperti halnya saya tak setuju pada dewa-dewi atau animisme. Mereka ya enggak bener — tapi saya bisa menghargai alasannya. (o_0)”\

    Re: kreasionisme, saya berprinsip bahwa pendapat yang berbeda bisa dipertimbangkan sejauh tidak ada bukti yang memberatkan. Lah tapi nyatanya bukti ilmiah melawan kreasionisme? Dan tidak cuma sedikit, melainkan banyak. Jadi ya maaf saja. Kreasionisme itu gak bisa diterima. ;)

    Bottom line, saya paham motivasi orang di situ. Akan tetapi setuju atau tidak, itu cerita lain. Saya menghargai orang purba bikin menhir bukan berarti saya menerima keyakinan mereka. :mrgreen:

    Sementara bisa jadi proselitisasi dan menjelek-jelekkan agama lain adalah bagian dari belief orang lain (kita kan secara teknis bisa membuat agama seenak udel sendiri dan mengisinya dengan ajaran-ajaran aneh toh). Saya mengacu ke kasus Antonius Bawenang yang terjadi akhir-akhir ini, dan komiknya Jack Chick. Tentunya yang macam ini bukan “cara lain” toh. :?

    Begini, logikanya kira-kira seperti berikut:

     
    (1) Ada banyak jenis agama/keyakinan/teologi

    (2) Tetapi kebenarannya mustahil dibuktikan di dunia ini

    (3) Maka: manusia di dunia ini tidak berhak merasa paling tahu dan tak bisa salah
     

    Jadi ya, yang namanya proselitisasi/menjelek-jelekkan agama lain itu salah kaprah. Biarpun mungkin terkandung (atau dikira terkandung) dalam ajaran agama. Siapa sih kita yang berhak sombong, merasa paling ngerti kebenaran dunia-akhirat terus memaksa. Kan begitu? :mrgreen:

    * * *

    Agama dan keyakinan sendiri aslinya bisa dipandang dua bagian. Mythos (pemaknaan spiritual) dan Logos (penalaran praktis). Saya tidak masalah dengan agama sebagai mythos. Masalahnya adalah kalau logos agama dipaksakan gegabah ke muka umum. Fatwa halal darah lah, inkuisisi lah, kreasionisme lah… dan sebagainya.

    Jadi cukuplah agama itu di ranah personal/spiritual saja IMHO. Dia terlalu subyektif untuk dikenakan ke semua orang. ;)

    Jujur saja saya masih terjebak di sini. Ada beberapa isme yang saya ga ngerti dan saya ga suka. Pahamnya Taliban itu jelas salah kalau buat saya. Begitu juga ajarannya Westboro Baptist Church. Ada juga pandangan-pandangan mainstream dan non-ekstrim yang saya ga setuju, tapi sebaiknya saya ga tulis di sini, takutnya nyerang orang-orang. Walaupun asal tidak merugikan orang lain ya tidak masalah buat saya.

    Ya itu. Seperti saya bilang, agama/kepercayaan itu tak bisa dipaksakan ke muka umum. Belum tentu cocok dengan setiap orang. Ibaratnya memilih istri, yang dianggap jodoh seseorang belum tentu dihargai orang lain. :mrgreen:

    Mirip dengan waktu mas gentole bilang Scarlett Johansson itu cakep, sementara saya lebih ngefans mbak Andrea. But that’s another story. :P

    Kalau macam Raelisme dan Scientology, gimana? Juga, kalau macam satanisme, gimana?

    Raelisme dan Scientology itu… entah kenapa di mata saya, kesannya lebih dekat ke arah cult. Nggak terlalu fokus spiritual lah. Jadi kurang tepat kalau dihargai lewat basis Homo religiosus. :-/ *CMIIW*

    Re: venerasi setan, tergantung versi mana dulu. Kebanyakan ‘kan cuma buat sok-sokan memberontak. Kalau filosofis macam Milton baru layak untuk dikaji. :P

    /kontroversial
    //not that I care
    ///me don’t believe in God or Satan anyway

  15. sora9n Februari 13, 2011 pukul 1:05 pm

    @ Pak Guru

    Di satu sisi inginnya terbuka bagi segala ide, di sisi lain ada ide yang mesti ditolak mentah-mentah. Yang abu-abu itu yang sulit. Jalan tengah biasanya menerima hanya kepercayaan yang mau main dengan aturan yang disetujui bersama: apa itu bisa hidup berdampingan dengan damai, menghargai nilai-nilai yang diakui lintas agama, dan seterusnya.

    This. (u_u)

    On related note, kemarin saya terpikir begini. Taruhlah ateis garis keras macam Myers dan Jerry Coyne baca — dan ngerti — isi tulisan di atas. Hampir pasti bakal mengkritik habis-habisan. Disebut faitheist lah, wooing superstition lah, rose-tinted glasses lah… (dan seterusnya)

    Di satu sisi saya paham skeptisisme tanpa kompromi mereka. Maunya ya masyarakat rasional bebas takhayul. Masalahnya dunia tidak hitam-putih: Orang gak bisa meloncat begitu jauh dari aktivis sayap kanan jadi skeptis kelas wahid. Mesti dibiasakan pelan-pelan lewat wacana dan diplomasi. :|

    *susah memang*

  16. Pak Guru Februari 13, 2011 pukul 9:49 pm

    Sebentar.

    Jadi ya, yang namanya proselitisasi/menjelek-jelekkan agama lain itu salah kaprah. [...] Jadi cukuplah agama itu di ranah personal/spiritual saja IMHO.

    Wooogakbisamasagamamestikaffahgakbisasetengahsetengahkaloudahdiperintahkandakwahdikitabsampeyanmauapa.

    ateis garis keras macam Myers dan Jerry Coyne

    BTW, jadi pengen bikin skala bigot skeptis. :mrgreen: Di ujung kiri ada Myers, ujung kanan mungkin Dennett? Kayaknya masih ada yang lebih diplomatis. David Attenborough?

  17. Pak Guru Februari 13, 2011 pukul 9:51 pm

    ^ Itu mesti intelektual publik ya, kalo gak ya di kiri ada ateis remaja Youtube, dan di kanan ada engkong-yang-ada-di-warung-kopi-langganan, dst.

  18. sora9n Februari 13, 2011 pukul 10:25 pm

    Phil Plait? Ybs sempat bikin speech mengkritik skeptical dickishness tempo hari. Tapi ya, dia dilalap juga sama Coyne dkk. Capek deh. :lol:

    Sam Harris IMHO rada ke kanan sedikit — minimal dia masih mengakui spiritualitas Timur. Atau bisa juga duet Chris Mooney/Sheril Kirshenbaum di Intersection. CMIIW though.

    Mengenai Attenborough, saya kurang tahu. Musti baca dulu terkait ybs. :P

  19. sora9n Februari 13, 2011 pukul 10:28 pm

    BTW, mulai OOT ini. Sudah ah. Balik ke topik. ^^;;

    *ini kan intinya soal Homo religiosus etc.*

  20. Ping balik:Homo Sinetronosus « Banalitas.org

  21. Ping balik:Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung « ZENOSPHERE

  22. Ping balik:Hal-hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Anda Percaya Riset Statistik « ZENOSPHERE

  23. Ping balik:Hal-hal yang mendorong saya jadi internasionalis… « ZENOSPHERE

  24. asam Mei 17, 2011 pukul 6:59 am

    Ijin numpang komentar sora,

    Koq saya lebih suka jika manusia bukan homo religius, tetapi semacam terjangkit penyakit atau virus yang di bawa adam. Karena manusia tidak ada yang terisolasi 100% dari pengaruh kebiasaan orang tuanya. Dia akan mengikuti pemikiran ortunya, meski akhirnya membuat persepsi religi yang baru (entah karena waktu, geografi, eksperimen sejarah).

    Artinya religius seseorang terjadi karena telah mengalami pemahaman dari pendahulunya tentang entitas yang lebih tinggi. Tanpa virus ini, mungkinkah seseorang bisa berpersepsi tentang ke ghaib an? Dan merubah ketakutan atau kekaguman (harimau, halilintar, pohon besar pemberi air) menjadi sebuah kesakralan?

    Tkyu, dah diijinkan komentar.

  25. sora9n Mei 17, 2011 pukul 1:32 pm

    @ asam

    Ijin numpang komentar sora

    Silakan. ^^

    Karena manusia tidak ada yang terisolasi 100% dari pengaruh kebiasaan orang tuanya. Dia akan mengikuti pemikiran ortunya, meski akhirnya membuat persepsi religi yang baru (entah karena waktu, geografi, eksperimen sejarah).

    Yup, itu betul.

    Artinya religius seseorang terjadi karena telah mengalami pemahaman dari pendahulunya tentang entitas yang lebih tinggi.

    Nah, ini. Makanya ada bedanya antara religius dengan spiritual. Agama (religi) itu terkungkung oleh struktur budaya. Tetapi spiritualitas itu universal. :)

    Makanya, kadang ada persepsi mistik yang lintas-agama. Misalnya khotbah Yesus (Mat. 6-7) ada paralel dengan Taoisme. Meister Eckhart (mistikus Kristen) juga pandangannya mirip dengan Buddhisme. Jadi di sini ada semacam perhubungan: orang bisa spiritual terlepas dari agama apa yang dianut.

    Agama (religi) itu sekadar kendaraan saja. Sementara isinya, “spiritual”-nya, itu lepas dari budaya, ajaran orangtua dsb. :)

    *IMHO & CMIIW*

    Tanpa virus ini, mungkinkah seseorang bisa berpersepsi tentang ke ghaib an? Dan merubah ketakutan atau kekaguman (harimau, halilintar, pohon besar pemberi air) menjadi sebuah kesakralan?

    Saya pikir bisa. Dan itu kembali pada masing-masing.

    Sebagai contoh Buddha menolak ajaran-ajaran kuno India (Hindu, Jain, dsb). Tetapi dia menemukan “jalan” spiritualnya sendiri. Nah jadi seperti itu.

    Seperti saya bilang sebelumnya, “spiritual” itu sifatnya bebas. Agama itu sekadar “kendaraan” saja untuk spiritualitas. ;)

    *mudah-mudahan cukup jelas*

  26. sora9n Mei 17, 2011 pukul 1:52 pm

    BTW, sekadar menegaskan, siapa tahu orang salah sangka — saya tidak percaya pada Tuhan. Tapi orang bisa spiritual tanpa Tuhan. Nah loh, bingung kan? :lol:

    *balik baca filsafat Timur*

  27. asam Mei 22, 2011 pukul 6:18 am

    Tetapi sora, *ijin sharing*

    Justru yang terlihat adalah manusia adalah homo materailistis, kebalikan dari religius. Bahkan di saat berbagai spirit dan religi marak pun, manusia membuangnya jauh-jauh kecuali di saat terdesak. Seakan religi dan spirit hanyalah diperuntukkan manusia loser.

    Sekarang, berapa banyak manusia membuang waktu untuk ke ghaib an. Seberapa tinggi kualitas spirit kecuali bertujuan untuk egoisme. Dan di filsafat timur, kemana tendensi spirit di gaungkan kecuali untuk kepentingan memanipulasi rakyat dan mengkokohkan kerajaan.

    Maka tesis homo religius (eksperimen 100%isolasi dan anti tesis materialistis) tidak bisa dipenuhi.

  28. sora9n Mei 22, 2011 pukul 1:45 pm

    @ asam

    Justru yang terlihat adalah manusia adalah homo materailistis, kebalikan dari religius. Bahkan di saat berbagai spirit dan religi marak pun, manusia membuangnya jauh-jauh kecuali di saat terdesak. Seakan religi dan spirit hanyalah diperuntukkan manusia loser.

    That *is* the point! Agama itu adalah pertahanan alami manusia menghadapi dunia. Dia muncul secara natural, makanya, di dunia ini ada macam-macam agama. Kalau mas/mbak pernah baca karya Daniel Dennett: Breaking The Spell: Religion as a Natural Phenomenon, barangkali paham maksud saya.

    (FYI, Bapak Dennett ini ateis garis keras sepantaran dengan Richard Dawkins. Jadi beliau tidak bias agama)

    Poin saya adalah, kebutuhan akan agama itu natural. Agama membantu manusia membuat ikatan sosial; memberi rasa kendali terhadap alam, dsb. Baru beberapa abad terakhir manusia mulai mengembangkan rasionalitas Pencerahan. Oleh karena itu peran agama sebagai sooth-sayer mulai ditinggalkan. Semakin kita modern, kita semakin maju. Menyingkirkan takhayul. Perlahan-lahan kita makin tidak butuh pada agama.

    Nah ini sejalan dengan pendapat Richard Dawkins. Agama itu mekanisme natural, penting buat survival orang zaman dulu. Maka Homo religiosus. Di zaman sekarang Homo religiosus kurang relevan, tetapi sisa kecenderungannya masih ada, karena itu tendensi natural. Walhasil di zaman modern ini pun banyak orang masih taat beragama. ;)

    (mudah-mudahan cukup jelas)

    (link terkait: http://xkcd.com/836/ )

    Sekarang, berapa banyak manusia membuang waktu untuk ke ghaib an. Seberapa tinggi kualitas spirit kecuali bertujuan untuk egoisme.

    Layaknya mekanisme alami, memang coraknya will for power. Dalam banyak kasus agama lebih dipakai untuk ‘penawar’ di saat menderita. Kalau sudah lewat menderitanya, ya, taatnya hilang. :mrgreen:

    Dan di filsafat timur, kemana tendensi spirit di gaungkan kecuali untuk kepentingan memanipulasi rakyat dan mengkokohkan kerajaan.

    You sure? Ada referensi? :-?

    Saya disclaim dulu sebelum lanjut: yang saya pelajari sejauh ini baru Buddhisme Zen dan Tao. Dan mereka cenderung asketik, hampir ga ada aturan moralnya malah. Jadi, jujur — klaim di atas rada asing buat saya.

    Kalau memang ada referensinya, saya mau baca. Otherwise this sounds like the usual Western critique toward religion.

    Maka tesis homo religius (eksperimen 100%isolasi dan anti tesis materialistis) tidak bisa dipenuhi.

    Begini deh, untuk mudahnya saya uraikan dlm bentuk poin.

     
    (1) Waktu planet bumi masih muda, belum ada manusia dan agama.

    (2) Kemudian manusia muncul di muka bumi. (let’s say from evolution)

    (3) Sekarang ada banyak agama di bumi.

     
    Mengesampingkan tesis “religion as a natural phenomenon” yang saya sebut di atas. Bisa tidak menjelaskan hubungan antara 2 dan 3? :mrgreen:

  29. asam Mei 26, 2011 pukul 2:44 pm

    Itulah mengapa sora-san, *no allergy warranty*

    Mengesampingkan tesis “religion as a natural phenomenon” yang saya sebut di atas. Bisa tidak menjelaskan hubungan antara 2 dan 3?

    Bahwa tesis homo religius hanyalah sebagai pelengkap penderita bagi kelemahan teori evolusi manusia adalah benar adanya. Dan secara sadar atau tidak telah melenakan, baik bagi cendekiawan yang pro maupun agamawan yang kontra, di sepanjang masa kemodernitasan dunia.

    Dan bahwa pengakuan anti tesisnya yaitu manusia sebagai mahkluk materialis, justru akan menyadarkan dan membuktikan bahwa agama adalah sebuah wahyu yang berada di luar jangkauan indera, emosi, jiwa, dan akal manusia.

    Tanpa agama yang berupa wahyu, -ikatan sosial, rasa kendali alam, hukum, takhayul- hanya berwujud persepsi keagamaan yang kering bernama spiritual (ini pun masih terpapar virus ‘agama’). Sedangkan pertahanan terhadap kekuatan dan ketakutan hanya akan terjawab secara natural berkat adanya egoisme. Seleksi antara lemah dan kuat akan berjalan seperti hukum rimba yang dialami oleh binatang, meski produk hukum itu dibuat karena sebab eksperimen sejarah yang panjang.

    Bisa pula diterjemahkan bahwa persepsi sebagai produk akal non materi, tidak akan tercerahkan tanpa hadirnya wahyu, dan akhirnya hanya berujung pada egoism.

    Itulah mengapa saya mengkritisi homo relegius dan spiritualism -secara tidak langsung-. CMIIW

  30. sora9n Mei 26, 2011 pukul 7:43 pm

    @ asam

    Ehm… melihat arah diskusi sejauh ini, ada baiknya kita clearing dulu sebelum lanjut. Sepertinya kok ada yang meleset. :-?

    Pertama-tama soal posisi saya. Seperti sudah ditulis di awal posting, saya agnostik (angka 4 di Skala Dawkins). Saya imparsial antara teisme/ateisme atau religion/irreligion. Betul-betul di tengah — boleh dibilang tidak memihak mana-mana. ;)

    Akan tetapi, saya membedakan antara agama (religi) dengan spiritualitas. Kenapa? Sebab spiritualitas itu sifatnya filosofis. Tidak mesti melibatkan agama dan keyakinan. Seorang ateis sekalipun bisa merasakan yang namanya gelora spiritual, tanpa membawa-bawa Tuhan dan agama: sebagai contoh Sam Harris, Carl Sagan, Niels Bohr.

    Oleh karena itulah, saya agak bisa menghargai orang yang “mengejar” spiritualitas lewat agama. Biarpun sebenarnya itu agak salah kaprah. I don’t agree much with them, but I can understand. OK? Mudah-mudahan cukup jelas. :)

    Sekarang masuk ke isi komentar…

    Bahwa tesis homo religius hanyalah sebagai pelengkap penderita bagi kelemahan teori evolusi manusia adalah benar adanya. Dan secara sadar atau tidak telah melenakan, baik bagi cendekiawan yang pro maupun agamawan yang kontra, di sepanjang masa kemodernitasan dunia.

    Er, no. Sebenarnya maksud saya, tesis Homo religiosus itu bukan pelengkap penderita — melainkan konsekuensi logis dari evolusi. Apa yang membantu untuk survive, itulah yang dipakai.

    Telah diuraikan di komentar sebelumnya, agama sukses membantu survival manusia. Agama muncul bukan sebagai pelengkap, melainkan, sebagai bagian tak terpisahkan dari evolusi manusia.

    Dan bahwa pengakuan anti tesisnya yaitu manusia sebagai mahkluk materialis, justru akan menyadarkan dan membuktikan bahwa agama adalah sebuah wahyu yang berada di luar jangkauan indera, emosi, jiwa, dan akal manusia.

    Mengenai hal itu sih, maaf saja, bukan urusan saya. Seperti sudah ditulis di awal: saya ini agnostik. Tidak ada leaning ke mana-mana soal itu. ;)

    Tanpa agama yang berupa wahyu, -ikatan sosial, rasa kendali alam, hukum, takhayul- hanya berwujud persepsi keagamaan yang kering bernama spiritual

    Um, sepertinya pengertian kita tentang spritualitas agak beda. Bisa dirujuk di atas. IMHO, kalau dari persepsi itu, agak susah untuk dibilang ‘kering’.

    Saran saya, coba deh cari e-book Carl Sagan, terus dibaca. Jangan langsung beli asli — lebih baik unduh dulu buat ngetes. :P He may be atheist, but nobody can say that he’s not spiritual.

    Bisa pula diterjemahkan bahwa persepsi sebagai produk akal non materi, tidak akan tercerahkan tanpa hadirnya wahyu, dan akhirnya hanya berujung pada egoism.

    Ini ada benarnya… walaupun sejujurnya, saya agak merasa gimanaaa gitu dengan kata “wahyu”. Kesannya kok terlalu bertendensi religius. :-/

    Saya pribadi melihatnya lebih cocok disebut “inspirasi”. Tapi yah, itu kan permainan kata saja. :lol:

    Itulah mengapa saya mengkritisi homo relegius dan spiritualism -secara tidak langsung-. CMIIW

    Well, that’s our problem. Saya selalu memandang bahwa “religius” ≠ “spiritual”, sih. Barangkali mas/mbak selama ini cenderung mencampurkan. Jadinya kita kurang nyambung. ;)

  31. asam September 12, 2011 pukul 7:32 pm

    nongol lagi sora-san, (Ahihi…sabar ya)

    Dari post terakhir sora, tersirat seakan saya telah menyudutkan. Maafkan saya kalau begitu. Tetapi pokok bahasannya memang akan membuat alergi bagi agnoster *halah*. Sealergi pentagon pada pencari kata-kata spesifik agama tertentu.

    Dan sepertinya saya masih dalam track meng-kritisi salah satu alasan persebaran beragamnya agama, yaitu homo religius. Bagi saya, bila alasan utama ini sudah tidak benar, maka kajian dan pola pikir pencarian hipotesa tentu mengalami kendala. Bahkan akan mengarah pada cocok cinucok (cucologi bo..;).

    Nah, bila sora-san berkenan mengembangkan tesis atau hipotesa, tentulah tidak akan menolak kemungkinan-kemungkinan selain yang telah pakem terjadi. Bukankah menolak bahwa manusia adalah pusat semesta adalah sesuatu yang gila pada masanya. Musykil?

    Di sini saya menyodorkan bahasan bahwa manusia adalah materialistis -bila memang itu lawan kata homo religius. Dan agama yang mendorong rasa religius adalah sesuatu yang dipaksakan dari sononya melalui paradigma-paradigma yang berbentuk wahyu. Yang diwariskan berulang pada keturunan tokoh utama, lalu berkembang atau meleset seiiring dengan waktu, jarak, bahkan peradaban. Sehingga diperlukannya lagi pengingat atau pemberi kabar pada selang waktu kemudian.

    That’s it. Tidak lebih.

    Coba bandingkan dengan pola pikir homo religius, dimana manusia dianggap memilikinya secara alami seperti rasa lapar akan makanan maupun hasrat seksual. Bagaimana manusia berusaha keras menciptakan khayalan-khayalan pada entitas yang lebih tinggi. Jika tak cukup umur, maka diwariskan pada keturunannya untuk mencari lebih lanjut. Benarkah demikian? Jadi agama sebagai produk, sampai kini belum berakhir. Inikah spiritual?

    Entahlah sora-san, bagi saya …”ini kering”. Sekering penjelasan musnahnya kaum berperadapan tinggi sekedar akibat bencana alam yang tak terduga semata.

  32. sora9n September 13, 2011 pukul 3:00 pm

    @ asam

    Dari post terakhir sora, tersirat seakan saya telah menyudutkan.

    Sebenarnya enggak juga sih. Justru saya orangnya benar-benar imparsial — makanya apakah teis/ateis, religius/irreligius, saya gak masalah. ;) Dan agnostik sendiri tak punya alasan buat alergi. Sebab apanya yang dialergikan, wong posisinya di tengah-tengah. :mrgreen:

    Nah, bila sora-san berkenan mengembangkan tesis atau hipotesa, tentulah tidak akan menolak kemungkinan-kemungkinan selain yang telah pakem terjadi.

    Lho, saya tidak mengembangkan hipotesa. Ide Homo religiosus itu pemikiran Mircea Eliade. Yang kemudian, analisis terkait evolusinya dilakukan oleh Daniel Dennett.

    Seriously, kalau masnya ingin mendebat ide tersebut, saya enggak masalah. Tapi jangan dianggap bahwa semua murni gagasan saya. Saya di sini sekadar menyampaikan. :|

    Di sini saya menyodorkan bahasan bahwa manusia adalah materialistis -bila memang itu lawan kata homo religius.

    Lah, dua hal itu tidak berlawanan. Kan penjelasan saya dari dulu materialistis? :-?

    Begini lho maksud saya. Seperti saya uraikan kemarin dulu, Homo religiosus itu terjadinya proses alami. Wired by evolution. Perasaan religius itu tidak mesti disebabkan Tuhan, melainkan terbentuk oleh alam. Prosesnya benar-benar materialistik. (baca juga: komen2 saya yang sebelum ini)

    As it is, sensasi religius itu… ya sensasi. Tidak membuktikan apa-apa tentang kebenaran Tuhan dan agama, sebab memang cuma sensasi. Sama seperti rasa keindahan terhadap seni dan sebagainya. ;)

    Sensasi religius *tidak berarti sebagai* bukti kebenaran religius. Oke?

    * * *

    BTW, saya pikir ada baiknya masnya baca/unduh karya Daniel Dennett yang sudah disebut. Banyak dari pertanyaan sejauh ini yang sudah diuraikan di situ. May be worth your time.

    Dan agama yang mendorong rasa religius adalah sesuatu yang dipaksakan dari sononya melalui paradigma-paradigma yang berbentuk wahyu. Yang diwariskan berulang pada keturunan tokoh utama, lalu berkembang atau meleset seiiring dengan waktu, jarak, bahkan peradaban. Sehingga diperlukannya lagi pengingat atau pemberi kabar pada selang waktu kemudian.

    Euh, itu sebutannya konsep meme. Agak beda dengan Homo religiosus (yang disebabkan evolusi) yang kita bicarakan. :P

    BTW, saya setuju agama yang mendorong rasa religius itu sesuatu yang dipaksakan. Tetapi — seperti sudah kita diskusikan panjang lebar — sensasi religius dan spiritualitas tidak cuma soal agama. Secara big picture agama itu cuma sekunder.

    Coba bandingkan dengan pola pikir homo religius, dimana manusia dianggap memilikinya secara alami seperti rasa lapar akan makanan maupun hasrat seksual. Bagaimana manusia berusaha keras menciptakan khayalan-khayalan pada entitas yang lebih tinggi. Jika tak cukup umur, maka diwariskan pada keturunannya untuk mencari lebih lanjut. Benarkah demikian? Jadi agama sebagai produk, sampai kini belum berakhir.

    Memang agama itu produk. Kan saya bilang, secara big picture, dia itu sekunder. Agama cuma “tampak luar” dari sebuah kompleksitas.

    Inikah spiritual?

    Nope. Spiritual itu lebih ke arah sini. :P

    Entahlah sora-san, bagi saya …”ini kering”. Sekering penjelasan musnahnya kaum berperadapan tinggi sekedar akibat bencana alam yang tak terduga semata.

    Untuk dibandingkan: John Keats vs. Newton (format Flash). ^^

  33. Septian Hadi Nugraha Oktober 30, 2011 pukul 11:43 am

    ada kemungkinan gak kalo agama/Tuhan/Dewa-dewa itu hadir untuk merepresentasikan makhluk ekstraterrestrial dari planet lain yang hadir ke bumi di masa purba yang ‘membimbing’ manusia menuju pencerahan ilmu pengerahuan,
    secara semua agama-agam besar di dunia punya kaitan yg tinggi sama makhluk2 non-Bumi yg berasal dari langit.

  34. sora9n November 1, 2011 pukul 4:52 pm

    @ Septian Hadi Nugraha

    Sori agak telat, dua hari terakhir saya nggak online. :P

    ada kemungkinan gak kalo agama/Tuhan/Dewa-dewa itu hadir untuk merepresentasikan makhluk ekstraterrestrial dari planet lain yang hadir ke bumi di masa purba yang ‘membimbing’ manusia menuju pencerahan ilmu pengerahuan

    Itu sebutannya Teori Ancient Astronaut. Kalau menurut teori ybs, kisah-kisah agama di dunia sebetulnya menggambarkan makhluk asing yang lebih advanced dan mengajari manusia. Sedemikian hingga dianggap sebagai sosok “Tuhan” atau “Malaikat”. (lebih lanjut bisa dibaca di link)

    Tapi yaa, walaupun secara konsep sangat menarik, teori itu boleh dibilang kurang ilmiah. Sebab tidak (belum?) ada bukti kuat bahwa berbagai agama itu memang betul dari alien. Jadi mungkin dianggap ‘ide pinggiran’ saja.

    Adapun sejauh ini, para ilmuwan/antropolog menilai penjelasan Homo religiosus/mekanisme natural sudah cukup menjelaskan kehadiran agama. Selanjutnya bisa dibaca di posting dan komen-komen di atas. ^^

  35. hastariyadi Januari 3, 2012 pukul 8:15 pm

    yany jelas kita sebagai manusia adalah mahluk yang tidak sempurna

  36. untoro Februari 15, 2012 pukul 2:42 pm

    bagus, tx atas pencerahannya..
    ber’islam’ku antara pikir, hati dan doktrin. chaos antara aspek itu kupahami sebagai proses peningkatan kualitas diri. Gelisah, gairah, frustasi, optimisme jadi satu.

  37. pencari kebenaran Juni 27, 2012 pukul 6:39 am

    Manusia tidak hanya membutuhkan teori Tentang Tuhan manusia membutuhkan Tuhan yang real hidup didalam jiwa,bila Tuhan hanya gambaran teori belaka walau Ia digambarkan melalui ribuan halaman buku maka itu sebenarnya tidak akan cukup untuk mengobati jiwa manusia yang hampa dan gersang.
    Tuhan yang hidup dalam jiwa seorang penggembala kambing yang mencintaiNya sepenuh hati mungkin masih lebih baik ketimbang Tuhan yang hanya teori dan prediksi yang tinggal di kepala para teoritikus yang menuliskannya dalam ribuan halaman buku.
    ‘aku merindukan Tuhanku’ itu kata jiwaku bukan kata otakku sebab otak hanya bisa membayangkan dan berteori tentang Tuhan tapi hati betul betul menangkapnya secara utuh sebab hati diciptakan sebagai penangkap Tuhan yang paling baik dan paling peka.
    Dan harus diingat bahwa mencari Tuhan tanpa panduan kitab suci maka kebenaran yang akan didapat akan teramat relative bisa jatuh kepada benar dan juga bisa jatuh kepada bisa salah,Tuhan yang ditemukan diluar kitab suci bisa jadi Tuhan yang belum memiliki konsep beda dengan Tuhan yang kita kenali melalui kitab suci yang memiliki konsep yang jelas dan terang.apa yang akan terjadi bila mengenal Tuhan tanpa mengenal konsepNya (?) kemungkinannya adalah ‘Tuhan’ hanya hidup dikepala sebagai ‘wacana’ semata.
    Dan sepertinya sia sia memprediksi masa depan Tuhan sebab Ia dzat yang berkepribadian,yang maha hidup,memiliki visi dan pengertian yang tidak bisa didikte oleh fikiran manusia,rencanaNya untuk masa depan tidak bisa di peta kan oleh otak manusia manusia,seperti hal nya manusia generasi pertama yang hidup didunia tidak mengetahui rencana skenario Tuhan terhadap sejarah dunia hingga hari ini.kitapun yang hari ini hidup tidak mengetahui apa yang akan dibuat Tuhan terhadap sejarah dunia dimasa depan.
    Semua argumentasi tentang Tuhan memang selalu berharga setidaknya sebagai pengetahuan untuk menambah wawasan dan ruang lingkup berfikir,tidak terkecuali karya Karen Armstrong,tetapi saya masih yakin Tuhan sebenarnya lebih suka dicari dan lalu dicintai ketimbang hanya digambarkan melalui teori teori……………..
    Bukan berarti saya tidak menghargai seluruh gambaran-persepsi manusia tentang Tuhan yang digambarkan melalui ribuan buku termasuk karya Karen Armstrong,sebab itu merupakan bagian dari kekayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan.hanya saja saya selalu ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak cukup dan Tuhan pasti tidak suka bila untuk hanya disimpan didalam kepala sebagai koleksi ilmu pengetahuan belaka,sebab Tuhan bukan benda mati.
    Manusia memang memerlukan ilmu sebanyak mungkin tentang Tuhan,tetapi setelah itu langkah selanjutnya ……..(?)

  38. alvin Juli 11, 2012 pukul 6:11 pm

    gak krenzzzz gk aa brapa agama :P :D

  39. Sutoshi akita manalu Juli 25, 2012 pukul 10:00 pm

    Yoshi

  40. Maya Rosita September 21, 2012 pukul 4:01 pm

    wah ya kl di fikir2 lg kita gak bisa menyalah kan agama lain toh kita sama2 mencari tw kebenaran nya dan sm2 meyakinin apa yang kita yakinin saat ini

  41. chairul daniel September 26, 2012 pukul 10:13 am

    mau tahu tuhan itu ada, yaitu lihatlah pada tubuh manusia,tubuh manusia itu luar biasa tercipta beda dengan mesin benda mati,tubuh manusia kita tahu tak ada artinya bila tidak ada roh yang menghidupkan, intelektual atau kecerdasan yang tidak dimiliki oleh binatang.dengan kecerdasan ini kita tahu yang benar dan salah dari mana? belajar dari peninggalan sejarah, sehingga kita tahu asal mula tuhan menciptakan adam dan hawa.dengan hikmat atau kecerdasan kita dapat menjelajahi luar angkasa sekalipun . yang mana sesuatu yang tak mungkin bisa mungkin.Luar bisa manusia ciptaan tuhan itu, maka itu berapakah harga manusia jika tidak ada akal budi dan hikmat?Sehingga manusia itu menjadi rumah tuhan?jawabnya ada didalam hati sanubari masing masing.

  42. King Romy Januari 11, 2013 pukul 12:37 pm

    Dari sinilah pada akhirnya manusia berfikir secara rasional, tanpa perlu mempermasalahkan keyakinan/agama lain,,cukup dipelajari dan di mengerti,,syukur2 kalo mau mempelajari lebih dalam sifat keyakinan,budayanya,dll. tanpa membandingkan dari segi melcehkan.. :D

    artikel anda yang sangat maknyuss Bang,,, (Y)
    GBU

  43. Dewi Anggraini Februari 3, 2013 pukul 4:44 pm

    Salam senyum dari saya
    terimakasih banyak atas tulisannya, semoga bermanfaat untuk kita smua yang membacanya, dan menambah pengetahuan kita semua, sekilahnya bisa saling silaturahmi, silahkan kunjung ke blog saya. terimakasih

  44. efaendy Februari 11, 2013 pukul 9:08 am

    salam knal d agama islam ini

  45. Munawar Februari 12, 2013 pukul 12:31 am

    Masih banyak agam yang belum manusia ketahui, seperti islam, kitab sebenarnya ada 20 kitab. tapi hanya 4 kitab yang perlu kita ketahui, injil, jabur, taurat, alquran

  46. alvie Februari 28, 2013 pukul 5:36 am

    Akal manusia terbatas, kemampuan manusia terbatas, sepintar dan sejenius apa pun org itu, yg namanya manusi tetap terbatas! Panca inderanya aja terbatas, punya mata tp kemampuan melihatnya sudh tidak berfungsi ketika gelap tanpa dibantu alat yg memberi cahaya, penglihatan manusia jg tidak berfungsi lagi ketika ditutup dgn kain atau dinding, ini merupakan satu contoh kecil ttg keterbatasan manusia! Apalah artinya akal dan perasaan manusia yg terbatas, utk mencari kebenaran ttg Tuhan itu tidak bisa dari akal manusia, harus diberitahu oleh Tuhan sendiri! Soal pencarian Tuhan oleh manusia, bukan Tuhan yg diciptakan oleh manusia dan alam, tp sebaliknya manusia dan Alam lah sejatinya yg diciptakan Tuhan! Kita hanya tau ttg kebenaran Tuhan dgn mati dulu itu betul, masalahnya klo kita sudh mati kita tidak akan bisa lagi kembali ke dunia dan kembali menjadi manusia spritual, karena kita sudh mati dan melihat kebenaran sejati! Atomatis alat pendekatan paling sempurna untuk menemukan Tuhan adalah AGAMA! Di dalam agama ada konsep ketuhanan dan kitab suci! Ketuhanan dan kitab suci adalah nilai spritual paling tinggi dalam sebuah agama! Ketuhanan dan kitab suci itu tidak boleh terlalu banyak dicampur tangan oleh tulisan2 dr pemikiran2-hayalan dan halusinasi serta misi tertentu oleh tangan manusia! Sekali lagi akal pikiran manusia terbatas dan dengan keterbatasannya itu tidak pantas manusia membuat konsep ttg Tuhan dan Kitab suci dgn akal pikirannya! Dulu Saya sudh mengalami kebimbangan perjalanan spritual ttg Tuhan, dan saya menganggap smua penganut agama pasti mengatakan agama dan kitab sucinya yg paling benar! Saya berkeyakinan hrs mencari literatur dan mempelajari isi2 kitab dr stiap agama karna kitab lah elemen terpenting dlm sebuah agama! Mohon maaf, saya akhirnya memilih dan meyakini Islam! Saya akhirnya kembali memilih dan meyakini Alquran dan Islam, karena saya yakin Muhammad yg menyampaikan Alquran seorang yg Buta Huruf! Tidak mungkin seorang buta huruf memiliki kemampuan belajar baca dan tulis, kemampuan sastra dan syair atau seorg buta huruf mampu mempelajari kitab2 dan buku2 sebelum ada alquran, sehingga membuat alquran dgn sempurna hasil dari kesimpulan buku2 dan kitab sebelumnya! Tidak mungkin bagi saya sebuah kitab seperti alquran menyatakan dan menantang orang untuk membuat satu surah saja yg semisal atau persis dgn alquran, dan kemudian alquran menyatakan manusia pasti tidak mampu membuatnya walau dikumpulkan penolong2nya, dan alhasil sampai saat ini terbukti belum ada yg mampu membuat tulisan yg sebanding dgn alquran! Bukankah sejak turunnya alquran sampai tahun dan abad sekarang, dunia sudah melahirkan banyak orang2 pintar dan jenius dalam segala bidang dan banyak ahli2 teolog dunia, kenapa untuk mencoba membuat satu surah saja rasanya begitu sulit utk menandingi alquran! Inilah yg meyakinkan saya jika Alquran benar dr sang Pencipta, sebuah petunjuk ttg masa lampau-sekarang dan masa depan! Peristiwa yg digambarkan di alquran selalu sesuai yg saya lihat dgn kejadian2 di bumi, itu pula yg menambah keyakinan saya tentang sejarah kelakuan manusia yg berulang2 dari zaman dahulu sampai sekarang modelnya ya tetap gitu2 aja, udah terekam dalam ayat2 di alquran! Anda tidak perlu sombong dgn atheis yg anda anut sekarang,alam dan manusia tidak ada dgn begitu saja, ada yg menciptakan! Begitu juga dengan kejadian anda yg sekarang mampu membaca, mampu mempelajari dan mengkaji buku2, mampu berpikir dan menulis, tentu anda harus ingat bahwa kejadian adanya anda itu tidak serta merta anda ada begitu saja di dunia sekarang ini, anda bisa sampai ke dunia ini kan karena ada aktivitas ayah biologis anda yg melakukan suatu kegiatan terhadap ibu biologis anda sehingga jadi benih anda dan dalam prosesnya membesar dan lahirlah anda ke dunia ini! Coba bayangkan jika ayah anda tak melakukan aktivitas sex terhadap ibu anda, apa anda ada ke dunia ini??? Sebab ayah anda beraktivitas dgn ibu anda, maka keluarlah anda! Hehehhehhe

  47. abatasyah romadhon adhon Maret 6, 2013 pukul 11:28 pm

    assalamualaikum wrwb… disini saya berpendapat bahwa “engkau tak akan tau siapa tuhanmu bila engkau tak tau siapa dirimu”.saling harga menghargai adalah bentuk kecintaan kita pada sang pencipta…amin

  48. truth-seeker Maret 25, 2013 pukul 5:21 pm

    Salam kenal & hormat utk semua ..
    Maaf, numpang nimbrung ya, Sora
    Saya senang membaca banyak pandangan terbuka tentang konsep Tuhan. Ibarat spt 1 batang lidi mudah dipatahkan, ratusan batang lidi terikat erat akan susah dipatahkan org. 1 konsep yang (mungkin) tdk sempurna ttg Tuhan akan mjd sempurna/ menjurus kpd “kebenaran sejati” jika disatukan dg konsep Tuhan lainnya. Sah-sah saja koq .. dan tidak ada yang berhak melarang manusia, sebagai ciptaan utk mencari tahu ttg penciptanya.
    1.@Alvie: “Tidak mungkin seorang buta huruf memiliki kemampuan belajar baca dan tulis, kemampuan sastra dan syair atau seorg buta huruf mampu mempelajari kitab2 dan buku2 sebelum ada alquran ??” Kenapa tidak? Bukankah nabi Muhammad memiliki banyak istri (12?) yang sanggup membaca -menulis? Bukankah Siti Khadijah, salah seorang istri Nabi adalah wanita terpelajar, punya paman yang pendeta Nasrani? Mungkinkah istrinya membacakan surah-surah Taurat, Injil, Zabur untuknya setiap hari? Mungkinkah Nabi kemudian mengatakan apa yang telah beliau dengar dari istrinya kepada sahabat-sahabatnya dan memintanya untuk merangkumnya lagi? Teori relativitas kemungkinan.
    2. @Alvie: “Anda bisa sampai ke dunia ini kan karena ada aktivitas ayah biologis anda yg melakukan suatu kegiatan terhadap ibu biologis anda” Agama vs Science? .. jika Anda, penganut Islam sejati, tentu Anda tahu persis “proses diciptanya Adam dan Hawa” BUKAN-lah dari ayah dan ibu biologis !! :) Peace !

  49. adil muhammadisa April 27, 2013 pukul 11:17 pm

    U said: “Saya pikir, jikalau Tuhan ada, barangkali Dia akan menerima dan menghargai semua upaya itu. Mungkin… Mungkin lho. Saya kan tidak tahu jalan pikiran Tuhan”

    I Said”…Siapa saja yang bersungguh sungguh menuju jalan Tuhan, pasti Dia menunjuki jalan itu. Tuhan telah menciptakan manusia, memberikan kehidupan dan kemudahan, jika menusia ingin sungguh sungguh mengenal Tuhannya, sesungguhnya Dia telah mengkaruniakan mata, telinga, dan akal untuk berfikir, kemudian Dia menurunkan keterangan mengenai “DiriNya” melalui Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Telaah kritis atas ajaran orang orang “hebat” ini pasti mengantar para filsuf sampai pada kemantapan hati mereka tentang Tuhan. Sayangnya dari hasil kajian sejarah, buku buku ajaran Ibrahim, Musa dan Isa tidak lagi bisa ditemukan versi aslinya. Beberapa penelitian internal yang dilakukan sarjana terhadap bible dan taurat justru memperkuat kenyataan bahwa telah banyak perubahan dan tambahan yang terdapat di dalamnya bahkan cukup banyak dari tambahan tersebut yang kontradiktif. Seseorang bisa saja merujuk bible sebagai guidance dalam usahanya mengenal Tuhan akan tetapi merujuk pada kitab bible yang sudah diteliti dan di marking oleh ahli sejarah bible tentu lebih mudah. Semacam mengolah data, mesin pengolah akan lebih efektif bekerja ketia data yang masuk sudah lebih dulu disortir dengan ketelitian yang memadai. Tanpa bermaksud mengunggulkan Islam,….. Quran merupakan satu satunya buku tentang Tuhan yang masih terjaga otentisitasnya, sama persis dengan yang dihafal oleh Muhammad dan murid muridnya kala itu (coba cek artikel tentang sejarah pembukuan Quran). Quran adalah ajaran Tuhan yang disampaikan pada manusia melalui Jibril (Malaikat), melalui Muhammad. Quran ini dihafal keseluruhannya oleh Muhammad dan murid2nya. Setelah Muhammad meninggal, karena khawatir makin sedikit orang yang hafal Quran, akhirnya Quran pun dituliskan dan dibukukan. Tak satupun sejarawan modern yang meragukan keaslian Quran. Oleh karenanya Quran menjadi “jalan” termudah untuk mengenal Tuhan yang masih terus dibingungkan dan didefinisikan nafsi nafsi oleh para filsuf.

    Anda mengatakan agama bertentangan dengan sains, itu hanya berlaku pada ayat ayat tambahan yang ada dalam bible maupun Taurat. Tapi kalau kita merujuk Quran, tak akan pernah seseorang mendapati ayat yang bertentangan dengan sains modern.

    Beberapa statement Tuhan dalam Quran diantaranya adalah ,”Inilah buku yang tak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bakal pasti sampai pada Tuhannya”
    “Dan sekiranya Quran ini datang bukan dari Tuhanmu, tentu kamu temukan didalamnya banyak pertentangan antar ayat”
    “Dan jika kamu masih ragu tentang Quran yang Aku turunkan atas hambaku (Muhammad), maka buatlah satu surat saja yang setara(qualitasnya) dengan Quran, dan serulah penolong2mu untuk membantu membuatnya, jika kamu memang orang yang benar,…. kemudian jika kamu tak dapat membuatnya, dan pasti kamu tak kan dapat melakukannya (karena kualitasmu tak kan mungkin menyamai Tuhan yang menciptakanmu),..maka hendaklah kamu takut akan neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang dikhususkan bagi orang yang mengingkari ayat ayat Tuhan (Quran)”

    Saya kagum dengan anda, dan saya melihat ada nuansa kesungguhan dalam diri anda untuk menemukan kebenaran. Saya sendiri memang benar beragama Islam tetapi pertanyaan tentang Tuhan yang anda bahas dengan menarik ini sebenarnya juga pernah saya alami. Dan Quran memuat semua jawabannya. Saya bahkan sering kali keceplosan, “Any question?”….pertanyaan tentang apa saja yang sulit,.. sesulit yang dirasakan para filsuf,… semua ada jawabannya. Tentu bukan saya yang menjawab tapi saya bisa menunjukkan jawabannya.

    BTW : cara berfikir anda sangat bagus, jika anda dapatkan data yang valid, maka kebenaran tak akan jauh dari anda

  50. sora9n April 28, 2013 pukul 1:10 pm

    @ adilmuhammadisa,

    Anda mengatakan agama bertentangan dengan sains, itu hanya berlaku pada ayat ayat tambahan yang ada dalam bible maupun Taurat. Tapi kalau kita merujuk Quran, tak akan pernah seseorang mendapati ayat yang bertentangan dengan sains modern.

    Saya tidak bilang bahwa sains mesti bertentangan dengan kitab. Kalau mau dibikin titik temu pasti ada nyambungnya. Cuma, kalau hendak ilmiah, kita juga harus bertanya: apakah kitab itu memang benar, atau terasa benar karena dicocok-cocokkan oleh kita

    Beberapa statement Tuhan dalam Quran diantaranya adalah ,”Inilah buku yang tak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bakal pasti sampai pada Tuhannya”
    “Dan sekiranya Quran ini datang bukan dari Tuhanmu, tentu kamu temukan didalamnya banyak pertentangan antar ayat”

    [...]

    BTW : cara berfikir anda sangat bagus, jika anda dapatkan data yang valid, maka kebenaran tak akan jauh dari anda

    Trust me, I was there. I was like you. I was saying that too…

  51. Poside Juni 14, 2013 pukul 11:01 pm

    Klo dirasa rasa, kayaknya saya ni agnostik juga kali, atau apatism. Bukan karena banyak mikir, justru karena nggak banyak mikirin kayaknya. Males tadinya mikir gituan, wong lahir juga saya nggak minta…

    Agama bervariasi, orang juga bervariasi, termasuk mereka yg fanatik. Yg tidak fanatik mengatakan mereka mungkin salah besar dengan pemikiran mereka, tapi kembali ke variasi, pendapat mereka tentu beda. Mereka bertindak menurut kebenaran mereka. Dengan kata lain, eksistensi mereka jadi bagian keragaman manusia.

    Saya sendiri sebenarnya sedang dalam pencarian (makanya sampai di blog ini ^_^), karena saya mikirnya agnostik tu kok kayak hewan. Emang benar sih manusia tu secara biologis spt hewan, cuman otaknya lebih canggih. Tapi klo dipikir2, kalo otaknya lebih canggih knapa endingnya kayak hewan juga? Lahir, beranak pinak, mati. Nggak keren gitu kayaknya….:D

    Saya melakukan pencarian karena ada kemungkinan Tuhan itu ada, dan akhirat itu mungkin. Kayaknya berfikir ke arah itu lebih menantang, karena selain sourcenya banyak, diperlukan imajinasi dalam perjalanannya…, yah disamping tetap pake logika tentunya.

  52. chairul daniel Agustus 2, 2013 pukul 4:18 pm

    menurut pendapat saya bahwa perna saya mendengar ceritera di injil mengenai orang kaya yang meninggal masuk di neraka kepanasan , tetapi lasarus yang miskin masuk disurga. kemudian illustrasi itu sikaya memohon kepada lasarus untuk meneteskan air, dan memohon supaya dapat sperti lasarus duduk dipangkuan ibrahim di surga , kalau boleh dia dibangkit kan lagi dan dia akan berceritera kepada anak dan isterinya supaya dia dan sekeluarga dapat masuk surga sperti lazarus. Lalu jawab lazarus yg miskin yang duduk dipangkuan ibrahim ,sekalipun orang mati dibangkitkan, sudah banyak orang mati yang dibangkitkan, dan sudah banyak kesaksian nabi dan kitab nabi nabi dan rasul yang tertulis di kitab suci. pelajarilah disitulah jalan kepada keselamatan.
    jadi masalahnya janganlah manusia yang mengatakan agamamu atau keyakinanmu salah , biarlah firman tuhan saja yang mengatakan dan memberi petunjuk mengenai salah dan benarnya. “Bukankah sudah banyak orang yang mati dibangkitkan, dan sudah banyak kesaksian para nabi di dalam kitab suci, pelajarilah dan itulah sumber iman yang benar.”

  53. Ping balik:Ada Berapa Banyak Agama di Dunia Ini? (Sebuah Renungan Filosofis) « wilyam martono

  54. halim-chairul November 19, 2013 pukul 4:58 pm

    untuk lebih menyakini akan agama yang benar atau agama yang salah itu terletak daripada iman kita masing masing, suara hati manusia adalah jawabnya , suara hati tidak bisa bohong, yang salah itu salah yang benar itu benar. tetapi iman tidak bisa datang begitu saja kalau kita tidak mau belajar, belajar bukan untuk sok pintar atau untuk diperdebatkan, tetapi untuk menguatkan iman kita masing2 sesuai dengan suara hati yang murni yang tuhan sudah berikan kepada kita.Saya beri contoh kalau kita mempelajari firman tuhan atau kitab suci, itu mungkin susah kalau kita menaksirkan ayat ayat itu berdasarkan akal kita , tetapi kalau kita berdoa mohon diberikan penjelasan makna dan arti tulisan tersebut, maka suara hati akan menerima dan menyatakan itu benar.Jadi suara hati dan akal harus sama sama menimbang akan kebenaran tulisan tulisan yang ada di kitab suci.(firman tuhan itu).

  55. Mscpop Desember 3, 2013 pukul 9:24 pm

    Min… Loe udah pernah blajar ttang islam blum.. Klo blum loe blajar dulu lh jdi loe tw arti agama yg sbnernya,biar gax nyesel sblum loe mati…

  56. michael tiopan Desember 16, 2013 pukul 8:43 am

    Seberapa pentingkah agama ketika kita sudah memiliki hati nurani yang dapat membedakan mana yang salah dan yang benar?

  57. Ping balik:Valentine | deathlock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: