ZENOSPHERE

science, philosophy, and cultural menagerie

Did Social Media Kill My Blog?

    Disclaimer: Tulisan ini banyak mengandung angka dan grafik. Pembaca yang alergi, waspadalah! :evil:

 

Jadi ceritanya, beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan Pak Guru Difo ( :P ) di Facebook. Sebenarnya cuma ngobrol santai biasa — meskipun begitu, topiknya nyerempet soal aktivitas saya di blog ini. Waktu itu beliau bertanya: “Kira-kira di blog baru ini, bakal menulis hal yang personal/keseharian tidak?”

Saya bilang bahwa kemungkinan bakal jarang. Sebab maunya saya, blog ini punya garis besar haluan tersendiri. Blog ini cuma akan membahas soal sains, kultur, filsafat — kecuali kalau ada pengalaman sehari-hari yang masuk lingkup tersebut, bisa saya posting. Kira-kira seperti itulah detailnya.

“Jadi memutuskan cerebral flatulence-nya disalurkan di socmed saja?” :P

“Sebenarnya memang begitu. Socmed itu penyebab tewasnya blog lama saya, sebab, semua yang personal sudah masuk ke plurk/fesbuk…” =))

***

Meskipun begitu, gara-gara obrolan tersebut, saya jadi kepikiran juga sedikit. Sebenarnya, benarkah seperti itu? Did social media kill my blog? And in case it did, how?

Gara-gara itulah, saya kemudian menghabiskan waktu googling ke sana-sini — mencari penjelasan tentang fenomena tersebut. Menariknya, ternyata jawabannya tak sesederhana yang disangka. :P

Berikut ini adalah hal menarik pertama yang saya temukan — data google trends untuk layanan blog dan social media.

google trends 1

Oke, jadi Facebook itu traffic-nya amat besar dan sedang naik. Obviously. Tetapi perhatikan bahwa traffic layanan blog amat stabil — biarpun sedikit, tapi dari tahun ke tahun relatif konstan.

Zooming: perbandingan traffic antar layanan blog (tidak memasukkan Facebook dan Twitter).

google trends 2

Kemudian saya nyasar ke situs PEW Research, dan menemukan dua buah riset yang menarik di bawah ini. Untuk menghemat ruang akan saya kutipkan bagian yang relevan — sisanya bisa Anda telusuri sendiri lewat link. :P

Riset yang pertama, cetak tebal dari saya:

Blogging has declined in popularity among both teens and young adults since 2006. Blog commenting has also fallen among teens.

  • 14% of online teens now say they blog, down from 28% of teen internet users in 2006.
  • This decline is also reflected in the lower incidence of teen commenting on blogs within social networking websites; 52% of teen social network users report commenting on friends’ blogs, down from the 76% who did so in 2006.
  • By comparison, the prevalence of blogging within the overall adult internet population has remained steady in recent years. Pew Internet Project surveys since 2005 have consistently found that roughly one-in-ten online adults maintain a personal online journal or blog.

Dan yang kedua, cetak tebal dari saya (lagi):

Blogging shows a similar pattern; 27% of bloggers Twitter, compared with just 10% of those who do not keep a blog. Overall, 13% of internet users have created a blog.

[…]

Regardless of the platform, Twitter users are also significant consumers of blog content; 21% read someone else’s blog “yesterday” and 57% of Twitterers have ever read a blog. By comparison, 9% of those who go online but do not Twitter read someone else’s blog yesterday, and 29% have ever read a blog. Twitter users also keep blogs at a greater rate than the overall online population; 29% of Twitter users have ever created a blog, and 8% worked on a blog “yesterday.” In contrast, 11% of internet users have created a blog and 3% are working on their blog on any given day.

Terakhir, untuk memastikan relevansi dengan “tewas”-nya blog lama, saya mengecek statistik lewat admin panel.

Perbandingan jumlah update terhadap kunjungan per tahun:

tabel-stats-1

Dengan breakdown data traffic bulanan…

tabel-stats-sum

 
Analisis: Kesimpulan Apa yang Dapat Ditarik?
 

Pertama-tama yang harus dinyatakan adalah: blogging is not dead, at least, not traffic-wise. Sebagaimana bisa dilihat traffic blog memiliki sifat stabil-biarpun-sedikit. Gejala ini berlangsung selama bertahun-tahun. Boleh dibilang bahwa traffic blog menunjukkan ciri-ciri Long Tail.

Yang kedua, setidaknya dalam kasus saya, aktifnya saya di jejaring sosial (2009) berkorelasi dengan frekuensi posting blog jatuh bebas. Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain. Yang jelas begitulah adanya dengan saya. xD

Yang ketiga: meneguhkan pernyataan kedua di atas. Survei membuktikan bahwa memang benar terjadi penurunan minat ke dunia blog (sampel: pengguna Twitter remaja/dewasa muda). Meskipun begitu, itu tidak berlaku pada segmen dewasa in general. Di kelompok terakhir ini aktivitas menangani blog cenderung tetap.

Yang keempat: terdapat sekelompok blogger yang juga aktif di jejaring sosial (dalam hal ini Twitter). Kelompok ini memiliki rutinitas membaca blog (“read someone’s blog yesterday”) dan/atau aktif mengurus sebuah blog (“worked on a blog yesterday/on any given day”).
 

“Did Social Media Kill My Blog?”

 
Sejujurnya kalau Anda tanya saya, perkara ini agak susah dijawab. Biarpun umumnya ada sentimen “blogging sudah mati” atau “ketinggalan zaman”, data traffic menunjukkan sebaliknya. Semakin lama justru aliran kunjungan blog tampak stabil. Saya menduga alasannya begini: traffic itu disebabkan orang melakukan search dan masuk ke blog yang relevan.

Dalam contoh blog pribadi saya, posting paling laris adalah posting yang bertema pelajaran Bahasa Jepang. Rekaman search keyword menunjukkan hal yang tersebut:

search keywords

Jadi bisa dibilang bahwa blog saya itu sekarang statusnya hidup sekaligus mati. Hidup karena orang masih banyak yang berkunjung dan membaca isinya. Mati karena isinya sudah takkan berubah lagi — sebab posting sudah selesai, dan komentar juga sudah ditutup. :o

***

Di sisi lain, data juga menyatakan socmed mengurangi minat orang membaca dan menulis blog. Soal ini saya punya hipotesis tersendiri. :-?

Yang namanya manusia, kemampuannya mengolah informasi terbatas. Tidak mungkin bisa akses internet sepanjang hari sambil nanggepin semua layanan. Mulai dari blogwalking, mengisi jejaring sosial, check in FourSquare, menonton video YouTube… semua butuh waktu dan energi. Konsentrasi juga terpecah. Pada akhirnya orang akan terpaksa melakukan prioritas.

Dalam survei yang saya cuplik di atas, terlihat bahwa orang dewasa-tua lebih rajin mengurus blog daripada remaja/dewasa-muda. Saya pikir itu karena mereka relatif tidak peduli “jejaring sosial sebagai sarana gaul” — hal yang sering jadi motivasi remaja dan dewasa awal. Dewasa-tua adalah segmen yang umumnya lebih rasional dan pragmatis; juga cenderung lambat dalam menerima kemajuan teknologi.

***

Sementara itu, data terakhir adalah yang paling menarik. Ternyata pengguna jejaring sosial cukup sering mengonsumsi blog dibandingkan yang tidak. Soal ini bisa dilihat sebagai efek transisi. Sebagai orang yang dulunya ngeblog tentu lebih familiar dengan microblogging semacam Twitter. Sebab sebenarnya hakikatnya sama — cuma batasannya saja yang berbeda. Yang satu lebih bersifat instan, sementara yang lain membutuhkan pemikiran matang. Dalam kasus blogger yang sekaligus Twitterer, keduanya jadi saling melengkapi.

Melalui feed Twitter mereka mengabarkan apabila ada update blog baru; link berita menarik, atau lain sebagainya. Dalam hal ini grup tersebut adalah overlap antara blogosphere dan Twitterverse. Blog dan Twitter itu digunakan untuk saling menunjang, bukan saling menggantikan.

 
Penutup dan Kesimpulan

 
Saya harus mengakui bahwa saya tidak punya pelatihan formal di bidang survei dan statistik, oleh karena itu, amat mungkin interpretasi saya di atas banyak melesetnya. Dan saya yakin metodologi di atas acak adut. Kalau ada orang statistik yang baca, saya harap ini dimaafkan. ^:)^

Meskipun begitu, saya harus menekankan satu hal: tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai analisis statistik yang rigorous. Sama sekali tidak. Murni tindakan iseng untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan di awal. Did social media kill my blog? In case it did, how?

Saya sendiri akhirnya berkesimpulan bahwa, karena blog saya dulu cenderung personal, akhirnya banyak isinya yang “tercuri” ditumpahkan duluan lewat socmed. Dulu sebelum saya punya Facebook dan Plurk, kalau ada kejadian menarik biasanya diuraikan lewat blog. Foto juga begitu — kalau ada sesuatu yang menarik atau lucu, mesti dimasukkan kategori photoblog. Sekarang tidak lagi. Kejadian menarik bisa diuraikan dua-tiga kalimat; foto bisa langsung di-upload. Perlahan-lahan blog jadi kehilangan nilai personalnya.

Akan tetapi: saya perlu menekankan bahwa pernyataan di atas hanya berlaku untuk blog personal. Apabila seorang blogger menulis dengan niche content, maka mereka tak semudah itu tergusur oleh socmed.

Misalnya, blog bapak-bapak dan ibu kontributor di ScienceBlogs atau Discover. Mereka ini adalah ilmuwan yang ingin menyampaikan bidang keilmuan ke masyarakat luas. Oleh karena itu mereka membutuhkan sarana untuk menulis dan mengungkapkan isi seleluasa mungkin — hal yang tidak dimiliki oleh jejaring sosial. For what it’s worth, Facebook dan Twitter bukan tempat yang cocok untuk menulis panjang-lebar tentang kabar terbaru dunia fisika (misalnya). Di sini saya tidak melihat blog akan tergusur perannya oleh jejaring sosial.

Sama halnya dengan kenapa banyak orang masih mengunjungi blog resep masakan. Atau blog pencinta motor. Atau blog sepakbola, atau lain sebagainya. Sebab yang dicari adalah quality content. Dan yang namanya quality content, sudah tentu tak bisa diringkas dalam 140 karakter. :mrgreen:

Jadi, apakah blog sedang digusur oleh jejaring sosial? You bet! :mrgreen:

 

——

Rada terkait:

5 responses to “Did Social Media Kill My Blog?

  1. Dana Januari 16, 2011 pukul 1:51 am

    Hem… mungkin karena saya sudah tua ya hingga malah makin rajin ngeblog ya? Tapi di lingkungan ngeblog saya sekarang malah social media itu dimanfaatkan untuk memasarkan blog lho.

  2. sora9n Januari 16, 2011 pukul 1:50 pm

    Eh ada mas Dana. :P

    Soal tua/muda, saya ndak tahu juga. Tapi kalau pengalaman mengamati TT bisa diandalkan sih, dunianya memang rada ABG. Sebangsa Bieber & Ke$ha gitulah.

    Re: socmed buat promosi blog, memang ada semacam overlap (link PEW no. 2). Tapi ya, mereka cuma ngasih angka. Ga ada analisisnya. ^^;

    BTW saya termasuk orang yang ngumumin apdet blog lewat socmed :P

  3. Xaliber Januari 16, 2011 pukul 6:41 pm

    Blog IMO masih berfungsi jadi dokumentasi pendapat secara komprehensif… model2 microblog macam Plurk atau Twitter cuma terbatas di 140 huruf sahaja. :? Walau populer tren #kultwit di Twitter, tapi buat melacak seluruh poin2nya rasanya tetep sulit. Sampai-sampai ada beberapa orang yang mendokumentasikan materi2 #kultwit orang lain di blognya sendiri (UUB: ujung2nya blog? :P ).

    Fenomena kultwit IMO juga menarik sih… kayaknya saya jarang menemui yang model ini di akun2 Twitter orang luar negeri. Pelampiasan? :?

    *pertamax di blog mas sora yang baru* :P

  4. sora9n Januari 17, 2011 pukul 1:18 am

    Blog IMO masih berfungsi jadi dokumentasi pendapat secara komprehensif… model2 microblog macam Plurk atau Twitter cuma terbatas di 140 huruf sahaja. :?

    Ya itulah yang saya bilang di atas soal quality content. :mrgreen:

    Betul, memang kelemahannya dia itu amat terbatas dan susah dilacak. Apalagi kalau twitnya sudah lewat berbulan atau bertahun-tahun. Beuh. xP

    Fenomena kultwit IMO juga menarik sih… kayaknya saya jarang menemui yang model ini di akun2 Twitter orang luar negeri. Pelampiasan?

    Kalau menurut saya sih ada kemungkinan mereka (i.e. para naratwit) sekadar ingin mencapai audiens lebih luas. Sementara Twitter kan bisa dianggap sarana gaul, jadi yaa… barangkali begitu. :P

    AFAIK di luar negeri (baca: English-speaking world) orang masih cukup semangat mengunjungi blog. E.g. contoh ScienceBlogs dan Discover yang saya cuplik di atas; sampai sekarang masih ramai komentarnya. :-/

    *pertamax di blog mas sora yang baru* :P

    Berhubung didahului oleh komen yang bermutu, yah, boleh deh. :mrgreen:

  5. Pingback: Blog dan Hal-Hal yang Tak Perlu « Banalitas.org

Posting komentar. Apabila tidak muncul, ada kemungkinan tersaring filter spam. Harap tunggu pemilik blog untuk mengecek dan melepaskan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 72 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: