ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Karikatur Filsafat Lewat Spongebob
Posted by pada Desember 28, 2010
Salah satu hobi saya tiap sore — kalau sedang ngopi di rumah — adalah nonton serial Nickelodeon, Spongebob SquarePants. Serial ini pastinya tidak asing lagi bagi pembaca. Setiap pagi dan sore, makhluk kuning berbentuk spon ini mengisi jadwal acara di GlobalTV.
Spongebob Squarepants dalam salah satu adegan yang terkenal. “I-Ma-Ji-Na-Si~!”
(note: skrinsut ini dan seterusnya dipulung dari YouTube
)
Sepintas lalu kelihatannya Spongebob cuma film animasi untuk anak-anak, jadi orang dewasa agak malas menontonnya. Meskipun begitu kenyataan sebenarnya agak jauh panggang dari api: Spongebob bisa dibilang serial kartun yang amat cerdas. Sembari menertawakan kekonyolan di Bikini Bottom, para pembuatnya memasukkan alegori yang — kalau boleh dibilang — mengkarikaturkan ide-ide “berat” di dunia filsafat. Di antaranya adalah absurditas, eksistensialisme, dan kritik terhadap modernisme.
Seperti apa ceritanya, here goes.
Pengenalan: Suatu Hari di Krusty Krab…
Spongebob Squarepants adalah seorang seekor hewan laut berpori yang tinggal di dasar laut Bikini Bottom. Sehari-harinya ia bekerja sebagai koki di “Krusty Krab”, restoran hamburger terkenal yang dimiliki Tuan Krabs, dan menjawab pesanan pelanggan. Di restoran tersebut ia bekerja bersama Squidward Tentacles (penjaga kasir) dan Tuan Krabs (pemilik restoran). Adapun di luar pekerjaan, sahabat terbaiknya adalah bintang laut Patrick Star dan siput peliharaan bernama Gary.
Spongebob adalah sosok yang naif dan kekanak-kanakan. Biarpun sering diperlakukan buruk oleh Tuan Krabs dan rekan kerjanya Squidward, ia percaya bahwa menjadi koki di Krusty Krabs adalah pekerjaan terbaik. Spongebob amat mencintai memasak burger Krabby Patty dan menganggapnya sebuah kehormatan.
Sementara itu di sisi lain, terdapat rival dagang Tuan Krabs yang bernama Plankton. Plankton dikisahkan selalu berupaya mencuri resep rahasia Krabby Patty: ia punya kebencian mendalam terhadap Tuan Krabs dan ingin menghancurkan bisnisnya. Berulangkali dalam cerita, Spongebob dan kawan-kawan harus berjibaku menghadapi ide-ide Plankton demi mencegah jatuhnya resep rahasia Patty…
Filsafat: Absurditas Spongebob
Tokoh utama kita, Spongebob Squarepants, adalah sosok yang unik; kalau tidak boleh dibilang aneh sama sekali. Sebagaimana sudah dijelaskan di awal, dia menganggap “pemasak burger Krusty Krab” sebagai pekerjaan ideal. Alasannya adalah bahwa itu pekerjaan yang dia suka dan membuatnya bahagia — di samping juga bahwa dia pemasak yang berbakat. Bagi Spongebob, memasak Krabby Patty adalah sebentuk ekspresi diri.
Spongebob bersama Krabby Patty buatannya
Spongebob di sini bisa dibilang sosok yang absurd. Biarpun pekerjaannya nyaris tak dibayar dan sering dicela Squidward, tidak sekalipun ia terpikir untuk mengundurkan diri. Ia mencintai Krabby Patty sebagai pekerjaan. Semangatnya dalam hal ini hampir-hampir sejalan dengan ide Karl Marx: pekerjaan yang baik memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri, bukan mengalienasi (Marx, 1844). Rasa memiliki pekerjaan itu membuatnya terus melaju dan tidak merasa tercerabut, benci pada tempat kerjanya, atau lain seterusnya.
Akan tetapi, apakah Spongebob itu Marxis? Jawabannya… tidak juga.
Sebagaimana sudah disebut Spongebob adalah sosok yang absurd. Biarpun dia berulangkali menampakkan sentimen pro-pekerja (“I’m adding the love!”; “Kita akan mogok kerja!”)[1] [2], hal-hal itu justru menjadi kelucuan yang ditertawakan. Dalam satu episode ia digambarkan sebagai aktivis anarkis yang — secara brilian ditunjukkan kemudian — tidak mengerti sedikitpun tentang mogok kerja dan mekanismenya. Ia cuma ikut-ikutan setelah terpesona mendengar orasi Squidward.
“Kita akan mogok kerja!!”
Kenaifan Spongebob lebih seperti kritik dua arah. Di satu sisi ia menyindir cacat modernisme yang diwakili “mesin produksi” Krusty Krab. Akan tetapi di sisi lain, ia juga menunjukkan bahwa idealisme Marxis itu juga aneh; absurd; cocok untuk dia saja, sementara orang lain tidak paham. Malah dia sendiri pun tidak paham!
Spongebob adalah sebuah sosok absurd di dunia yang juga absurd.
Barangkali kalau boleh dibandingkan, keabsurdan Spongebob bisa dianggap versi ceria dari Mitos Sisyphus uraian Albert Camus. Setiap hari membolak-balik burger, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja, sambil dimarahi teman dan atasan. Lalu besoknya begitu lagi. Dan besoknya juga begitu lagi, dan begitu seterusnya. Sepintas tampak rutinitas yang kosong. Akan tetapi, berbeda dengan Sisyphus, Spongebob selalu memandangnya sebagai kepositifan. One must imagine Spongebob happy.
Filsafat: Eksistensialisme Squidward
Sementara itu, lain lagi dengan Squidward, rekan Spongebob yang bekerja sebagai kasir. Dalam hidupnya ia sering dilanda kesialan. Pandangan hidupnya kelam dan pesimistik; ia punya rival yang berulangkali mempermalukannya bernama Squilliam. Cita-citanya menjadi seniman masyhur, akan tetapi, seninya tidak pernah dimengerti orang. Bisa dibilang ia bekerja di Krusty Krab sekadar mengisi hidup.
“Oke, Spongebob. Spongebob. Spoooongebooooobb!!!”
Squidward selalu memandang negatif konsumen yang datang dan, hingga taraf tertentu, rekan kerja serta bosnya sendiri. Dalam aspek ini dia benar-benar cerminan dari analogi pelayan yang diuraikan filsuf Jean-Paul Sartre. Pelayan yang sehari-harinya cuma “berakting sebagai pelayan”. Dia hidup dengan semata menjalani tugas. Sementara dalam hatinya, tugas itu tidak ada kepuasannya.[3]
Dalam hal menjalani hidup Squidward benar-benar berkebalikan dari Spongebob. Apabila Spongebob meng-embrace hidup yang absurd dengan sifat naif dan keceriaan, maka Squidward sebaliknya: ia memandangnya sebagai suatu kehampaan yang Sartre-esque. Ditambah lagi Squidward amat terkenal dengan sifat grumpy dan tak suka berinteraksi. Hal ini mengakibatkan dia relatif tak disukai di Bikini Bottom.
Maka bolehlah dibilang bahwa Squidward merupakan parodi kartun dari eksistensialisme Sartre. Bukan saja dia cenderung berpandangan negatif dan ‘sekadar berakting’ di masyarakat — pekerjaan sehari-harinya pun pelayan restoran!
Modernitas Rasional Tuan Krabs
Berbeda dengan para pekerjanya yang hidup pas-pasan, Tuan Krabs hidup sambil mengumpulkan uang. Ia adalah seorang yang sangat mengutamakan efisiensi dan pendapatan diatas segalanya. Dalam hal ini ia mencerminkan semangat modernitas yang amat-rasional (Ritzer, 2004).[4]
“Ay-ay-ay-ay-ay-ay-ay…”
Tuan Krabs diceritakan sebagai manajer yang selalu mementingkan kehadiran uang, biarpun nilainya cuma satu atau dua sen. Ia adalah perwujudan jiwa modern Barat yang — kalau boleh dibilang — ruthlessly capitalistic. Bagi seorang Tuan Krabs batas moral menjadi abu-abu apabila sudah berurusan dengan harta. (ia digambarkan pernah mencuri mutiara dari tiram di kebun binatang)
Galibnya satir tentang modernisme, Tuan Krabs digambarkan sebagai orang yang sangat rasional. Akan tetapi, sebagaimana sering disampaikan oleh para kritik modernisme: rasionalitas itu sering dijadikan sarana menegakkan hal yang irasional (Bauman, 1989; Slater, 1997). Dalam kasus Tuan Krabs ia punya obsesi irasional terhadap uang. Begitu besarnya obsesi ini, sampai-sampai ia pernah menjual jiwa pada hantu Flying Dutchman agar dapat berbicara dengan uang. Usahanya melindungi resep rahasia Krabby Patty tak lain agar penghasilannya tidak hilang.
Barangkali bukan suatu kebetulan bahwa Tuan Krabs digambarkan sebagai pemilik restoran. Dalam dunia sosiologi, terdapat metafora modernisme yang dikenalkan oleh Bapak Ritzer yang saya sebut di atas. Metafora itu adalah McDonaldization — Ritzer berpendapat bahwa restoran cepat-saji pada dasarnya sungguh tepat mencerminkan jiwa zaman modern. Akan tetapi itu takkan kita bahas lebih dalam di sini. Sebaiknya dibaca di link yang bersangkutan.
Penutup: “Who is the Postmodernist from Under The Sea?”
Sebagaimana sudah diuraikan di atas, serial Spongebob Squarepants memiliki bumbu filosofis yang dalam. Salah satu yang sering jadi target kritiknya adalah jiwa zaman modern: serial ini memparodikan sisi modernitas yang absurd, ruthless dan cenderung hampa. Bisa dibilang bahwa serial kartun ini bercorak postmodern.
Di dunia Spongebob hal-hal yang kita anggap baik kadang didekonstruksi jadi tampak konyol dan bodoh. Idealisme Spongebob, misalnya, sering jadi tertawaan Tuan Krabs dan Squidward. Sifatnya yang mudah percaya pada orang sering disalahartikan — Spongebob barangkali adalah sosok yang paling sering dibodohi di Bikini Bottom. Lalu kita bertanya: apakah optimisme dan idealisme yang dibawa Spongebob itu bagus, atau tidak? Sebab sepertinya kok hidupnya nelangsa betul.
Sifat Squidward yang terlalu serius menanggapi hidup juga dijadikan lawak: sifat sinisnya, kepercayaannya pada high culture dan eksistensialismenya ditampar habis oleh keceriaan Spongebob dan Patrick. Lagi-lagi di sini timbul pertanyaan: apakah lebih baik kita menjadi orang bodoh yang bahagia (Spongebob), atau orang pintar yang menderita (Squidward)? Nah yang macam ini susah untuk dijawab.
Dan masih banyak aspek kehidupan modern lain yang didekonstruksi serial ini. Apakah kapitalisme itu baik? Apakah kelakuan Tuan Krabs masuk akal? Adakah yang namanya “seni agung” seperti diyakini Squidward? Hal-hal semacam ini terus dipertanyakan dan digugat keabsahannya.
Menonton serial Spongebob, pada akhirnya, bisa menjadi semacam wisata mental. Kita memperhatikan ide-ide yang kita anut dibahas, dibongkar, dan ditertawakan habis-habisan lewat satir. Jangan heran kalau setelah menontonnya kita jadi bertanya-tanya: sebenarnya, maksud utama pembuat serial ini apa sih?
Sooo… who is the postmodernist from under the sea? Spongebob Squarepants! \m/
——
Catatan Kaki:
[1] Season 5 episode 82; “The Original Fry Cook”. Tulisan terkait: Spongebob’s Golden Dream (The Atlantic).
[2] Season 2 episode 40; “Squid on Strike”. Yang ini salah satu episode favorit saya.
[3] Ibaratnya orang menjalankan sesuatu hanya sebagai tugas; tidak memiliki keterikatan mental apapun. Sartre menilai bahwa manusia selalu terkungkung oleh “tugas” memenuhi tanggung jawab sosial. (i.e. “sekadar berakting”).
[4] Soal ini pernah saya angkat sebagai tulisan di blog lama: [link]
——
-
(utama)
- Marx, K. Estranged Labour. Economic and Philosophical Manuscripts, 1844 (esai)
- Sartre, JP. Essays in Existentialism. Citadel Press, New Jersey, 1993
- Ritzer, G. Sociological Theory. McGraw-Hill, New York, 2004
- Bauman, Z. Modernity and The Holocaust. Cornell University Press, New York, 1989
- Slater, D. Consumer Culture & Modernity. Polity, Cambridge, 1999
(sekunder)








Kalau Patrick gimana?
Gentole. (ninja)
OK here comes the more serious part.
Ah I’d like to a bit argue about this point.
). Dari sini saya berpikir bahwa Tuan Krabs itu “ndak segitunya” ngefan sama so-called mesin produksi. Dia seperti masih mempunyai nilai-nilai, entah apa, dan tidak sekedar mengagungkan keinstanan. Buat saya sih, dia ini semacam bisnismen old-school yang, kalau tidak hati-hati, bisa tergerus McDonaldisation. Untungnya dia hati-hati. Contoh nyata: kalau pernah lihat video klip Blink 182 yang First Date, salah satu adegannya di-shoot di Lost at The 50′s drive in di Burnaby, BC, Canada (this, this), yang konon kabarnya masa jayanya sudah lewat.
Di salah satu episode Spongebob yang (bisa dikatakan) baru (ndak hapal judulnya), ada sebuah kongsi yang ingin mengakuisisi Krusty Krab. Awalnya Tuan Krabs tergoda dengan duit segunung, lalu merasa bosan, melamar menjadi tukang bersih-bersih di situ, menemukan kebobrokan restoran yang baru, melawan bosnya, dan akhirnya sukses merebut kembali Krusty Krab (lupa caranya
Jadi pertanyaannya, apa ya Krusty Krab itu cocok dibilang mesin produksi?
BTW, sekedar saran, ada baiknya kalau footnotenya dikasih backlink (apa ya istilahnya?) kaya di Wikipedia itu, biar yang baca bisa mudah menemukan teks yang mengacu.
Wait… itu nontonnya di Indonesia atau Singapore? Saya kok rasanya belum pernah lihat. ^^’
*me cuma nonton yang ada di global*
Hmm, gimana ya? Mengenai Krusty Krab sendiri saya melihatnya metafora dari McDonaldization. Esensinya dia perusahaan yang menghasilkan makanan cepat-saji. Biarpun tidak literally mesin, akan tetapi prinsip yang dianutnya mirip. Cepat pesan, cepat masak, dsb.
Granted, Krusty Krab masih punya elemen individu yang mencegah dia murni ter-McDonaldisasi (ie. kekhasan koki, cuma Spongebob yang bisa masak patty). Akan tetapi dari kelakuan Mr. Krabs sepertinya ada keinginan ke arah situ? :-/
Well, mungkin? Walaupun kalau dilihat dari episode summary di bawah ini, rasanya kok… ^^;;
[The Original Fry Cook]
Saya sendiri memandangnya Tuan Krabs lebih sebagai ruthless businessman. Walau mungkin di satu-dua episode ada pengecualian, penggambaran utama ybs sepertinya fokus pada keuntungan/efisiensi/manajemen dsb.
*CMIIW*
Tadinya memang saya mau ngasih itu. Cuma ngetik HTML-nya kok cuapeek… XD
*ntar dieditlah kalo sempet*
Sebetulnya saya ada kecenderungan alergi dengan filsafat pop yang menjukstaposisikan (aduh apa sih padanannya?) budaya dengan filsafat. Persisnya kenapa kurang jelas. Boleh jadi salahnya memang di saya saja. Misalnya kolom-kolom yang premisnya ada nama selebritas/peristiwa terkini yang masih awam, tapi mulai paragraf kesepuluh sekonyong-konyong ada Fromm dan Engels. Tapi sekali ini bolehlah, saya baca sampai habis.
Tapi jadi ingat dengan kultur self-help, baik dari Dalai Lama, Mario Teguh, sampai Rhonda Byrne. Garis tebalnya di situ ditekankan pada kebahagiaan. What with the whole “duit banyak gak ada gunanya kalau gundah gulana” and everything. Sudah hapallah kita quips yang seperti ini; “the secret of happiness is simply, be happy,” “happiness is a decision,” dan kawan-kawannya. Lucu karena si spons ini ‘kan ceritanya bahagia, tapi apabila diperhatikan dari luar, maka agak terasa kemeranaannya. Jadi ya seperti yang Masbro bilang itu, misalkan ada manusia yang fokusnya membahagiakan diri, dan mencapainya — baik lewat meditasi, sikap positif (“mindless optimism” kata Blackadder), atau gas ketawa — itu apa bisa dikatakan bahagia secara sejati apa tidak?
^
Oh, I know that. Kalo ndak salah kritik yang sama pernah dibilang mas Gentole soal lagunya *siapagitu* yang bawa-bawa Camus? CMIIW. Kesannya sok pretensius, begitu.
Saya pribadi ndak terlalu keberatan dengan jukstaposisi filsafat-budaya macam itu — asalkan relevan. Pernah baca sekilas di toko buku, something like “belajar filsafat lewat film”. Ada sedikit menyinggung The Matrix juga. Berhubung memang relevan, ya, jadinya nggak terlalu ‘kosong’ IMHO.
Terima kasih.
Nah makanya, itu dia. Spongebob itu penyajiannya sangat dekonstruktif. Paling banter pembagian “baik”/”buruk”, “bahagia”/”merana” itu sifatnya abu-abu. Saya sendiri nggak yakin moralnya serial ini apa.
Enggak tahu. Kan saya juga nanya di atas: lebih baik jadi bodoh tapi bahagia (Spongebob) atau ‘pintar’ tapi menderita (Squidward)? Lah lalu kebahagiaan hakiki itu apa? Dan seterusnya…
Sejujurnya ini pertanyaan berat yang saya pikir saya juga nggak bisa jawab. Jadi sebaiknya ditinggal open sajalah. ^^;;
Ps: di salah satu draft awal tulisan ini (kemudian dihapus) sebenarnya saya sempat terlintas soal itu. “Kebahagiaan” Spongebob/Patrick itu kok seolah rada Zen-like (non-thinking etc). Tapi, berhubung gak nemu kesimpulan yang pas, akhirnya terpaksa kena cut…
Yang diomeli Mas Gentole waktu itu Homicide kalo gak salah.
Dia ngomel OOT di kolom komen IIRC.Ya, itu ada serialnya. Dari sinetron sampai Final Fantasy
Soal pertanya besarnya itu ya mari angkat bahu berjamaah saja.
Haha…nanti saya komen.
)
aku lebh suka onepiece atau bleach
Like This lah..
~~~\(@_@)/~~~
@ Gentole
Silahken.
@ dian
Saya udah lama nggak ngikutin dunia animanga… ^^;;
*terakhir aktif kira2 tahun 2009*
@ afirahma
Terima kasih. ^^
wahaahahahha~
nemu blognya pas ada yang nge-link posting ini di FB.. soalnya ngomongin spongebob, langsung aja aku klik,, soalnya aku juga sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ xD
pertama, koq spongebob dibilang hewan air sih? padahal namanya udah jelas SPONGEbob.. dia itu spons kan? inget episod yang dia sakit terus obatnya ternyata dibersihin??? sangat spons sekali.. hehe~ :pp
terus kedua, cuman compliment aja sih.. keren yaaaa nyambung2in cerita spongebob sama ilmu2 filsafat.. aku mah nggak ngerti ^^, *gusrag*
pokonya cerita spongebob yang bikin rame tuh Patrick Star-nya..
he’s kinda LUCKY idiot.. and i love him so..
so far, this posting is really great! xD 2 thumbs up~
@ L
Katanya sih Spongebob itu beneran hewan laut. Nih penjelasannya di bawah ini.
http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/spongebob-pun-jadi-media-pembelajaran/
Terima kasih. ^^
Komen perdana di blog baru ah, salam kenal
*halah*
Waduh, sebenarnya saya rada was-was juga nih, soalnya Dira kalo nonton spongebob itu serius banget, tidak ada ketawa sama sekali…
Anyway, saya ingat versi movienya yang menyindir pandangan umum mengenai ‘kedewasaan’, yang disimbolkan di sana dengan kumis…
@ Amd
Salam kenal juga mas. Sungguh bangga rumah saya dikunjungi blogger senior…
*plak*
Hehe, entah kenapa saya selalu merasa Dira itu gedenya bakal pinter. Serius. Sepertinya sejak kecil banyak ide dan ga takut berpendapat. Tapi ini yang kelihatan dari blog/plurk/status mas amed aja sih.
E tapi pastilah itu berkat didikan bapaknya yang nyuapin Pixar dkk… (u_u) *uhuk*
Iya, soal kedewasaan itu memang sering ditertawakan. Ada juga pas Spongebob akrab sama neneknya terus dibilang “seperti anak kecil” di Bikini Bottom. Saya kok ya mau ketawa juga susah… XD
Ping balik:Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung « ZENOSPHERE
Ping balik:“Membaca” (Kembali) Sinetron Putri yang Ditukar « Esensi
Saya tidak paham film animasi Spongebob karena saya teramat sangat jarang (mendekati tidak pernah) menonton film ini.
Dengan susah payah saya berusaha memahami tulisan ini, tidak hanya karena ketidaktahuan saya tentang film ini tapi juga karena muatan filsafat yang memusingkan.
Saya tidak paham dengan kata “melaju” di sini. Yang terlintas dalam benak saya kata “melaju” menyiratkan adanya suatu progress (minimal perubahan jarak pada konteks gerak). Namun, pada gambaran tentang Spongebob di atas, sepertinya Spongebob tidak melaju (dari sudut pandang definisi melaju menurut saya tadi). Spongebob tidak lebih hanya jalan di tempat saja, sehingga kesan yang saya dapat adalah Spongebob seperti mesin dengan keotomatisannya. Apalagi kalau dikaitkan dengan kebahagiaan sejati yang ditanyakan Pak Guru … sepertinya semakin sulit untuk melihatnya.
*baca dari post sampe komen saya kehilangan kata2* #alesan
@ deKing
Wogh, ada mas deKing. Apa kabar mas? ^^b
Euh, sebenarnya kata “melaju” di situ maksudnya bukan progress, melainkan lebih ke “menjalani hidup”. Hari berganti hari, umur bertambah, tapi dia tetap semangat. Tidak ada niat berhenti menjalaninya, begitu.
Dari segi kualitas memang hidupnya Spongebob itu stagnan/jalan di tempat. Tetapi dia semangat menjalani hari demi hari — kurang lebih mirip slogan “menyongsong hari esok”. ^^a
*mudah-mudahan cukup jelas*
Nah itu dia menariknya. Benar bahwa Spongebob itu seperti mesin, semua dijalani dengan nrimo. Tapi dia bahagia. Aneh kan?
@ almascatie
Sori, komennya tertelan akismet. Baru sempat dibebaskan.
Errr…
mantap ulasannya bung, sebenarnya pengin bisa nulis kaya gini juga, tetapi anda lebih hebat.
btw sesekali mampir ke lapak saya bung.
http://cerpenusang.wordpress.com/
saya sangat terbantu sekali, dengan tema blog ini sehingga bisa, saya ajarkan kepada anak didik di sekolah
yeah, dan spongebob adalah satu tokoh kartun yang pernah melakukan “stand up comedy” haha