ZENOSPHERE
bungee-jumping from the ivory tower
Galois, Matematikawan di Tengah Revolusi
Posted by pada Februari 12, 2012
Kota Paris biasanya terkesan sebagai latar kisah romantis — meskipun demikian, hal itu tidak berlaku di pagi hari 30 Mei 1832. Di sebuah lapangan, seorang pemuda 20 tahun ditemukan terkapar, bersimbah darah, dengan luka tembak di bagian perut. Entah apa yang melatarinya. Oleh warga yang menemukannya, pemuda tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit.
Sayangnya malang tak dapat ditolak. Hanya selang satu hari, si pemuda kemudian meninggal. Pada tanggal 31 Mei ia menghembuskan nafas terakhir. Tidak banyak yang menyadari bahwa, di hari itu, Prancis kehilangan seorang putra terbaik.
Pemuda itu, yang tidak dihargai sepantarannya, adalah seorang cerdas cendekia. Aktivis politik radikal, pembela Revolusi Prancis, dan matematikawan kelas tinggi. Sosok jenius yang neurotik, romantis tapi keras kepala, dan idealis sampai akhir — pemuda itu bernama Évariste Galois.
Évariste Galois (1811-1832)
(via Wikipedia)
Beberapa orang mungkin asing dengan namanya. Siapa itu Galois, dan mengapa ia disebut jenius? Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita singgung nanti. Untuk sementara cukuplah dikatakan bahwa dia membuka cakrawala baru di dunia matematika, yaitu, melalui temuan besarnya: Teori Galois.
Ötzi and The March of Medicinal Science
Posted by pada September 27, 2011
Suatu hari di tahun 1991, dua orang pendaki gunung asal Jerman menemukan sosok manusia terperangkap dalam es. Peristiwanya terjadi ketika mereka sedang mendaki dekat perbatasan Italia-Austria, dan langsung dilaporkan pada otoritas setempat. Peristiwa ini tidak biasa, meskipun begitu, sebenarnya tidak aneh. Gunung yang mereka daki tersebut termasuk rangkaian Pegunungan Alpen. Sebagai salah satu yang tertinggi di Eropa, pegunungan ini sering memakan korban.
Dengan latar belakang demikian, petugas polisi dan medis mencurigai sosok tersebut sebagai pendaki kecelakaan. Skenario umumnya: pendaki yang kurang ahli mengalami terpeleset, lalu jatuh ke dalam gletser dan meninggal. Meskipun begitu analisis ini cuma separuh benar. Ketika temuan tersebut diperiksa mereka sampai pada kesimpulan mencengangkan: sosok tersebut adalah mayat pendaki berusia 5300 tahun. Boleh dibilang bahwa selama ribuan tahun jasadnya terawetkan dalam lapisan es.
Oleh petugas yang memeriksanya, jasad manusia purba ini kemudian dinamai sebagai “Ötzi“.
Ötzi, yang kadang-kadang disebut juga “The Iceman”
(via Wikipedia)
“Mengintip” Hakikat Lewat Nasrudin Hoja
Posted by pada Mei 25, 2011
- Catatan: Referensi untuk kisah Nasrudin tersedia di bagian akhir tulisan
Sepanjang sejarah dunia, ada banyak tokoh yang diceritakan sebagai “tukang bercanda” — atau kalau boleh dibilang, “tidak pernah serius”. Mengenai hal ini ada banyak contohnya. Misalnya, di Jerman terdapat Till Eulenspiegel. Kalau di Arab yang terkenal Abu Nawas, sementara di budaya Yahudi Hershel Ostropol. Orang-orang semacam ini digambarkan hobi mengusili masyarakat sekitar. Saking hobinya, sedemikian hingga mencapai status legendaris… oleh karena itu tidak heran jika di masa kini pun banyak kisah diceritakan tentang mereka.
Nah, salah satu sosok “tukang bercanda” yang masuk dalam sejarah itu adalah Nasrudin Hoja. Beliau digambarkan sebagai guru Sufi yang hidup di Turki pada abad 13 Masehi.
Nasruddin Hoja digambarkan sedang menunggang keledai
(via Wikipedia)
Sunday Music File: Tangerine Dream, “Melrose” (1990)
Posted by pada Mei 8, 2011
- Album: Melrose
- Musisi: Tangerine Dream
- Label: Private Music
- Tahun: 1990
Kalau boleh jujur, saya orangnya cukup tertarik pada musik instrumental. Alat musiknya sendiri terserah saja — tradisional boleh, klasik boleh; synthesizer juga tak apa. Yang penting eksekusinya bagus saja sih. Akibatnya sendiri cukup jelas: koleksi yang saya punya di harddisk jadi gado-gado nyeleneh. Piano klasik Glenn Gould ada; musik etnik The Chieftains juga ada. Pokoknya semacam itulah. ^^;
Nah, sejalan dengan itu, album yang hendak dibahas kali ini juga memiliki gaya instrumental. Dirilis dengan judul Melrose, album ini merupakan produk musisi Tangerine Dream pada dekade 1990-an.
Bassai Dai
Posted by pada Mei 6, 2011
Waktu masih SMA dulu, saya sempat beberapa waktu ikut latihan karate (tidak begitu jauh; cuma setahun dan sampai sabuk hijau). Meskipun cuma sebentar, tetapi latihannya cukup berkesan — sedemikian hingga saya jadi suka iseng jalan-jalan di YouTube dan search video karate. Sekalian menyegarkan ingatan, begitu.
Nah, salah satu jenis video karate yang saya suka nonton adalah kata. Atau dalam istilah awamnya: rangkaian gerakan yang harus dihafalkan dan diperagakan oleh seorang karateka. Adapun kerumitan kata dikelompokkan berdasarkan tingkat; semakin tinggi level pelajaran maka akan semakin sulit dan kompleks.
Saya sendiri, berhubung sampai akhir berstatus relatif kroco, cuma pernah belajar sampai kata IV. Akan tetapi berhubung latihannya tidak dipisah, jadinya sering nonton para senior latihan. Dan dari situ jadi tahu sebuah kata yang — entah kenapa — selalu bikin kagum tiap kali saya melihatnya. Sebagaimana bisa ditebak namanya persis seperti yang dijadikan judul posting: Bassai Dai (披塞大).
Sunday Book Review: “The Writing Revolution”, by A.E. Gnanadesikan (2009)
Posted by pada Mei 1, 2011
- Judul: The Writing Revolution: Cuneiform to the Internet
- Penulis: Amalia E. Gnanadesikan
- Penerbit: Wiley-Blackwell
- Tebal: xx + 310 halaman
- Tahun: 2009
Barangkali kalau boleh dibilang, hampir semua cerita, sejarah, dan ilmu pengetahuan kita direkam berbentuk buku. Mulai dari epik Yunani Kuno, drama Shakespeare, sampai Principia Mathematica Isaac Newton, semua dirangkum berbentuk buku. Masalahnya tinggal apakah orang bisa membaca (atau menulis) ilmu-ilmu yang berguna tersebut. Kemampuan membaca dan menulis ibaratnya kunci menuju pengetahuan yang beragam.
Nah, buku yang hendak saya review kali ini membahas topik yang disebut terakhir. Disadari atau tidak, sebenarnya kemampuan baca-tulis adalah hal yang amat signifikan. Sebagai contoh, dengan menguasai aksara orang dapat merekam perjalanan hidup, administrasi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu wajar jika orang bertanya: “Bagaimana sih ceritanya peradaban manusia berkembang, hingga bisa menemukan ilmu membaca dan menulis?”
Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh penulis A.E. Gnanadesikan — seorang ahli bahasa lulusan Universitas Massachusetts Amherst. Lewat buku ini beliau seolah mengajak pembacanya bertualang di bidang arkeologi; menelusuri perkembangan aksara dari zaman kuno hingga era modern.
Kisah Sang Cincinnatus
Posted by pada April 26, 2011
Apa yang terbayang di benak Anda jika mendengar kata “Diktator”? Bagi sebagian orang istilah tersebut berkesan negatif — kasar-kasarnya, pemimpin yang berkuasa mutlak dan menyelewengkan untuk kepentingan pribadi. Meskipun begitu lain halnya dengan Jendral Romawi bernama Lucius Quinctius Cincinnatus. Ia adalah sosok diktator yang dicintai masyarakat. Dua kali keadaan darurat, Senat memberinya kekuasaan mutlak memimpin negara, sebab memang dia jendral yang hebat. Berkat kepemimpinannya Republik Romawi selamat dari agresi suku Aequi dan konspirasi Spurius Maelius.
Akan tetapi menariknya: dua kali Cincinnatus jadi diktator, dua kali pula ia mengundurkan diri. Sesudah tugasnya selesai ia lebih suka melanjutkan hidup bertani di desa — boleh dibilang berkebalikan dengan berbagai diktator yang terdapat di era klasik. Mengenai hal ini ada ceritanya lagi, dan akan kita bahas di bagian selanjutnya.
Lucius Quinctius Cincinnatus (519-438 SM)
(courtesy of BadassOfTheWeek.com)
Quick Note + News
Posted by pada April 11, 2011
Karena adanya satu dan lain hal, peristiwa dunia nyata, dua minggu terakhir ini saya jarang online. Akibatnya sendiri cukup jelas: saya jadi menghilang dari socmed, dan update blog ini jadi tak sesuai jadwal. Jadi, daripada kesannya saya menghilang tanpa pamit, lebih baik diumumkan sekilas lewat blog.
Ada kemungkinan menghilangnya saya dari belantara web akan berlanjut sampai dua minggu lagi. Mudah-mudahan sih bisa lebih cepat, tapi baiknya jangan terlalu diharapkan…
Mohon maaf jadi tidak sempat main/komentar di blog dan akun socmed teman-teman. Beberapa orang suka bilang bahwa persahabatan di internet itu maya; kurang efektif; susah dibandingkan dengan dunia nyata — but I disagree.
Bagi saya kalian sama berharganya dengan orang-orang yang saya kenal langsung. Ditambah lagi sebagian dari kita sudah ketemu dan ngobrol bareng di dunia nyata. Jadi… saya tak percaya batas antara “nyata” dan “maya” sekaku itu. Tapi itu cerita lain untuk saat ini.
Normal blog service to be resumed on April 26. Thanks for reading.
Triquetra dan Celtic Knot
Posted by pada April 2, 2011
Triquetra adalah motif ornamen yang berasal dari zaman besi di wilayah Eropa Tengah/Barat. Bentuknya sendiri cukup unik. Sekilas seperti daun berhelai tiga, dan bisa digambar dengan sekali tarik.
(via Wikipedia)
Sebagaimana bisa dilihat, bentuknya menyerupai rotan yang dibengkokkan, menghasilkan bentuk simpul yang artistik. Sebenarnya memang itu disengaja. Triquetra adalah bentuk sederhana dari seni ornamen yang lebih kompleks bernama Celtic Knot (“simpul Celtic”). Dinamai seperti itu karena — kalau gambar Celtic Knot ditelusuri — bentuknya seperti simpul-bersimpul yang ujungnya bersambung.
Mengenai asal-mulanya sendiri sebenarnya cukup unik. Di awal tadi disebut bahwa asal motif Triquetra dari Eropa Tengah/Barat. Meskipun begitu, saya juga menyebut bahwa Triquetra bagian dari budaya Celtic (Irlandia-Skotlandia). Pembaca yang awas geografi pasti paham ada yang aneh — dua wilayah itu aslinya terpisah jauh!
Peta wilayah Celtic kuno dan modern
Tentunya timbul pertanyaan, kenapa bisa begitu?
Pahlawan yang (Nyaris) Sempurna
Posted by pada Maret 29, 2011
Ada hal menarik yang saya temukan kalau sedang baca-baca kisah legenda, baik yang asalnya dari sekitar sini (Indonesia) maupun luar negeri. Bahwasanya banyak pahlawan yang digambarkan sakti mandraguna — pandai bertarung, punya kekebalan tubuh, dan sebagainya — meskipun begitu, karena satu kelemahan, akhirnya terpaksa meregang nyawa. Kelemahannya sendiri kadang ‘ajaib’. Ada yang di punggung; di selangkangan; tumit… malah ada juga yang mati karena dilempar semak!
Lucu juga kalau dipikir-pikir.
Adapun tipe macam ini biasanya jadi pahlawan di kisah yang banyak aksi/melibatkan perang. Sebagai contoh misalnya dalam hikayat Mahabharata atau Iliad. Pokoknya yang melibatkan kesan macho lah. Saya sendiri tidak tahu kenapa. Barangkali karena orang umumnya tidak suka kalau ada pahlawan yang bawaannya menang terus, jadi terpaksa diberi kelemahan fatal. Biar rame, begitu. But I digress…
Seperti apa contoh-contohnya?
Salah satu yang paling saya ingat dan sempat diadopsi jadi nickname berasal dari kebudayaan Jerman Pra-Kristen. Di dunia mitologi ini terdapat sosok yang disebut Ksatria Siegfried. Dalam versi Norse ia bernama Sigurd, akan tetapi di luar itu, kisah hidup mereka sama persis.











Recent Comments